15 Oktober 2018

Kanker Menghancurkan Segalanya, Tapi...

Bulan Oktober adalah bulan peduli kanker payudara. Saya memang bukan penderita, tapi kanker sangat akrab dalam keluarga besar saya. Salah satunya kanker payudara. Beberapa diantara orang-orang terkasih yang dekat dengan saya pergi untuk selamanya karena kanker.

Perjuangan melawan penyakit ini yang dilalui orang-orang terkasih tidak hanya dirasakan para penderita, tapi keluarga. Itu artinya termasuk saya. Saya yang tadinya heran mengapa ada instalasi khusus keluarga penderita di salah satu rumah sakit rujukan kanker nasional, kini merasakan benar arti kehadiran instalasi itu sekarang.

11 Oktober 2018

Kunjungan Wisata Ke Kampoeng Wisata Cinangneng

Perjalanan edukasi Adek dan saya kali ini adalah sebuah tempat wisata di kawasan Bogor. Tempat wisata ini merupakan sebuah kampung atau desa yang terintegrasi menjadi wadah edukasi sekaligus hiburan dan wisata.

Ketika masuk kita telah disambut dengan udara sejuk khas desa dan hamparan taman-taman hijau yang menyejukkan mata. Sebelum masuk, ada pengaturan rombongan. Adek dan teman-temannya masuk lebih dulu bersama para ‘teteh’[1] yang akan menjadi guide mereka sesuai paket wisata yang dipilih. Sedangkan orangtua dan guru yang mendampingi masuk setelah mendapatkan kalung kecil yang nanti bisa ditukarkan dengan makan malam.

Setelah masuk, Adek dan rombongan dibawa ke hall besar di mana sudah menanti para Teteh dan Mamang[2] yang memainkan gendang. Ini adalah awal dari tur edukasinya. Anak-anak diajarkan cara memainkan angklung, yaitu alat musik khas Sunda, Jawa Barat yang kebetulan adalah suku asal Ayah. Setiap anak memegang angklung dengan nada yang berbeda, dan Adek memegang angklung nada kelima atau ‘sol’.

21 Juni 2018

Pengen Istri Jadi Penurut?

Bingung ketika ada yang meminta menulis dengan tema ‘kekerasan dalam rumah tangga’. Tentu harus ada contoh, tapi siapa?? Akhirnya malah ganti tema, jadi rahasia di balik istri penurut.

Padahal banyaaak banget contoh kekerasan rumah tangga di sekitar Emak. Para pelakunya banyak yang gak sadar kalo itu sudah tergolong pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi kalo Emak buka kan namanya bikin dosa ngegosip. Bener sih, tapi kan aib orang. Padahal sebagai muslim, kita diwajibkan menjaga aib baik diri sendiri maupun orang lain.

Baru juga kita maaf-maafan…

Tapi mau beri contoh, entar disangka pamer lagi. Sekarang jagat dunia maya lagi sensi sama urusan pamer. Apa-apa diprotes. Dianggap pamer. Lah ini medsos ya? Media sosial itu sebenarnya kan kepanjangan lain dari media pamer. But sutralah, skip for that now, different theme. Take the risk deh!

Oke, Emak ceritain dengan nada pamer dulu ya. Tapi baca dulu deh... mau tahu gimana caranya ngubah istri jadi penurut kan?

Salam kenal dulu dengan Emak buat yang baru jadi teman, salam kangen buat teman-teman lama. Yang udah lama kenal pasti tahu teman mereka yang satu ini adalah anak Papanya yang manja dan dibesarkan bagai porselen cina, yang kalo minta izin maen keluar sudah susah eh pake dibuntutin segala kalo yang ngajaknya menor-menor (Upss!), yang sampe gurunya nulis di raport supaya bisa dikasih kebebasan dikiiit aja buat ekspresi diri karena gak pernah boleh ikut kegiatan apapun di luar sekolah, yang pas nginep untuk camping malah ujung-ujungnya nginep di mobil Papa karena (katanya) banyak nyamuk nanti sakit.

Ok, intinya sih jangan tanya lagilah ukuran keras kepala dan manjanya si Emak ini. Tapi, Emak sendiri takjub, kok ya mau-maunya patuh sama suami? Suami pendiam, jarang komen dan jarang bicara itu loh.

Tau gak alasannya? Karena Ayah gak pernah satu kalipun menyentak, membentak, memukul bahkan bersuara keras di depan Emak. Ia tahu semua itu percuma, karena karakter Emak itu keras. Makin dikerasi, ya makin keras. Dimarahi, ya malah balik marah.

Memang pernah Ayah yang suka bercanda itu menggunakan candaan yang menyakitkan hati. Emak gak suka dengernya, ya udah tinggal ngomong. Baik-baik negurnya. Sejak itu Ayah gak pernah membahasnya lagi. Makin ke sini, Emak cukup melotot saja, Ayah udah ngerti kalo Emak gak suka. Ayah juga sama. Negur kalo nada canda itu mulai gak sehat.

Nah istri yang diperlakukan sebegini manis, mau dianya dulu sekeras batu pun ya pasti berubah lah. Emak jadi terikut gaya Ayah. Negur anak-anak ya meski tegas, tapi pelan. Gak pake ngomel lama, tapi langsung ke intinya. Marahnya karena apa, dan apa yang harus dilakukan anak-anak serta konsekuensinya kalo mereka tetap ngelakuin. Wes gitu aja.

Makanya, jangan ngeluh kalo istri kok kepala batu, suka ngomel, gak menurut, jahat sama anak, suka mukulin anak, dan sebagainya. Cek deh cara dia diperlakukan suami. Jangan-jangan selama ini sang istri dikenyangi oleh bentakan, sindiran melecehkan, bahkan suara keras meski maksudnya bercanda.

Ini yang masih sering dilupakan para pasangan. Baik istri maupun suami. Pelecehan itu rupanya sangat banyak loh. Memarahi istri dan suami di depan umum, mempermalukannya dengan candaan menyakitkan, menilai penampilan dengan hinaan frontal, meminta dengan cara perintah memaksa (termasuk saat berhubungan badan), berbicara dengan nada keras, mencubit/memukul/menepuk tubuh hingga membuat tidak nyaman dan sebagainya. Pokoknya yang menimbulkan ketidaksukaan bisa dianggap sebagai pelecehan, meski pada pasangan sendiri. Oh satu lagi hampir lupa, mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu. Sumpah deh, ini bener-bener paling nyakitin!

Tapi ya jangan pasrah aja nerima kalau justru digituin. Katakan terus terang kalo tak nyaman dengan perlakuan seperti itu. Kalo dibiarkan ya gak bakal berhenti sampai maut atau KUA memisahkan.



Trus Emak sendiri kalo masalah dimanja, ya dulu sama orangtua, sekarang mah sama suami. Itu karena kata Ayah, “I couldn’t buy everything like your parents did, but I can do everything for you as much as you want.”

Naah, para suami nih, coba dicek lagi... bagaimana kehidupan istri di masa lalu? Wajar kalo istri protes, ketika dulu ia dibesarkan bagai putri kerajaan, eh tetiba diubah sang suami jadi upik abu plus plus.

Kalo gak bisa memberikan kehidupan yang sama dengan saat ia dibesarkan dulu, sewajarnya ganti dengan perlakuan yang senilai untuk itu. Cinta itu sangaaat luas prakteknya, jadi jelas kesempatannya pun jauh lebih besar.

Tapi untuk yang satu ini, maaf ya… Emak gak bisa ngasih contoh. Aib ini mah. Hahaha… Aib banget. Pokoknya, manjanya Emak itu level 30 kalo diukur pake pedasnya boncabe. Super duper manja. Dan Ayah mengimbangi dengan melakukan banyak hal untuk Emak.

Timbal balik ke Ayah apa? Ya ada doong.

B.A.N.Y.A.K

Seimbang dengan cara berbeda. Emak pernah loh ikhlas biarin Ayah menikah lagi, selagi kami dulu sempat nunggu anak gak kunjung hadir. Dulu tapi ini ya… dulu banget! Sekarang anak kami banyak, pake banget. Jadi gak ada peluang buat siapapun di sini.

Kesininya, Emak malah sering nyuruh Ayah ikutan jalan-jalan dengan rekan-rekannya, mau keluar negeri, mau sekedar nongkrong, mau mancing atau sekedar ketemuan saja. Boleh banget, selama Emak tahu gak ada perempuan binal ikutan.

Gak kuatir, Mak?

Enggaklah! Wong mantan sekretaris ini anaknya Pak Polisi. Jelas keahlian dan pengalamannya menjadi tameng bagus meski tanpa ikut sang suami.

Emak juga rela kalo sesekali pecahin celengan demi membuat Ayah senang. Tau kan kalo uang istri artinya uang istri, uang suami adalah uang istri? Itu artinya tabungan Emak lebih gendut dari milik Ayah. Kedobel sama pemberian suami dan pendapatan diri sendiri. Bahkan rasanya itu ya... Emak sangat seneng nyediain apapun untuk Ayah, dibandingkan manjain diri sendiri. Berasa egois malah.

Tapi kata Ayah, hadiah paling menyenangkan buat Ayah, ya itu tadi… istrinya ini sangat patuh padanya. Meski kadang-kadang ada juga sih ngelawannya, tapi biasanya Emak memilih diskusi dulu. Lagian, semua perintah Ayah itu kebanyakan demi kebaikan Emak kok. Kayak gak boleh makan tape Cirebon yang enak itu (Hiks!! My GERD penyebabnya) atau saat nyuruh nerusin S2 lagi.
Jadi, rumah tangga itu adalah sebuah hubungan timbal balik. Tanggung jawab bersama, dilakukan bersama, untuk kepentingan bersama.

Mulailah melihat dari sudut pandang pasangan, jika merasa hubungan rumah tangga mulai tak sehat. Jangan-jangan kesalahan bukan pada pasangan kita, tapi justru kita sendiri.

Ada banyak sekali gangguan yang mungkin hadir di antara pasangan, misalnya saja ponsel. Ayah aja masih sering nih negur Emak karena urusan yang satu ini, meski Ayah juga sering melakukannya dan kami akhirnya sampe harus membuat kesepakatan.

Yang kedua adalah kehadiran orang ketiga. Orang ketiga itu gak hanya selingkuhan loh. Bisa saja itu anggota keluarga lain. Entah itu saudara ipar, bapak ibu mertua, tetangga yang hobi adu domba bahkan anak!

Orang terakhir inilah yang sering jadi bahan debat Emak dan Ayah. Ayah yang ternyata 11 12 dengan Papanya Emak dulu VS Emak yang ngerasain dikungkung orangtua.

Yang ketiga adalah karakter, kebiasaan dan tingkah laku masing-masing. Ini jurang terdalam yang harus diatasi sepanjang masa pernikahan. Syukur-syukur kalo bisa saling menyesuaikan dan mengubah sifat buruk, tapi kalau tidak?

Mungkin bisa seperti Ayah dan Emak. Saling menerima dan justru menganggap sifat buruk itu sebagai keunikan.

Minta contohnya?

Mmm… Emak itu paling males mandi, apalagi kalo lagi libur kerja dan kuliah. Maklum turunan Korea, mandi cuma sekali sehari. #Alasan. Dulu sering banget diprotes Ayah. Tapi lama kelamaan, malah jadi bahan candaan aja. Ayah seperti pasrah nerima kelakuan Emak, malah kalo mandi tanpa diingetin, suka kaget. “Eh, Emak kesambet jin mana tumben rajin mandi?” See?

Dan kebiasaan Ayah yang engga Emak suka adalah makan makanan berlemak. Ayah tuh punya penyakit kolesterol, darah tinggi dan asam urat. Kombinasi komplit yang bikin Ayah bisa masuk rumah sakit dalam hitungan jam setelah makan. Itu sebabnya dulu saat kami sempat berumah tangga LDR, Ayah dirawat 3 kali di rumah sakit dalam setahun.

Lama lama, Emak nyerah ngelarang, tapi gak pernah lelah mengingatkan. Toh, Ayah juga mulai perhatian pada dirinya sendiri. Kalo Ayah makan, Emak memastikan ada obat dan makanan penetral yang tersedia. Kebiasaan Emak ini mulai menulari anak-anak juga. Kalo Emak gak ada di rumah, merekalah yang jadi satpam menu Ayah.
Intinya sebelum dicintai, belajarlah mencintai dulu

Jadi, pengen punya istri penurut, sebenarnya gampang kok. Dimulai dari diri sendiri dulu, Hanya memang disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan masing-masing pasangan. Tak ada hubungan yang benar-benar sama. Emak hanya bisa memberi contoh, tapi bukan berarti cara yang sama bisa dipraktekin dalam hubungan pasangan lain. Tapi bersabarlah jika hal itu dirasa berat. Allah gak tidur, Allah sayang pada hambaNya yang selalu berjalan dijalanNya. Karena itu, tujukan pernikahan ke arah kebahagiaan dunia akhirat, bukan demi ego semata. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai bagian dari keluarga yang sakinah ma waddah wa rohmah. Aamiin.





Rumah tangga adalah…

Aku adalah dia, dia adalah aku

Ia pakaianku, aku perhiasannya

Hatiku miliknya, hatinya milikku

Tapi…

Kepala kami masing-masing

Wajah kami selamanya tak serupa

Keinginan kami tak selalu sama

Karenanya…

Tatapan kami ke arah yang sama

Tangan bertaut saling menjaga

Langkah berjalan kompak agar tak goyah

Sembari memegang tonggak yang sama

Agar sakinah mawaddah wa rohmah,

Bukan sekedar doa.

21 April 2018

Anak Tak Pernah Mendengar, Mereka Meniru!

"Mak, Kakak boleh ambil teknik pertambangan gak?"

Benak saya langsung dipenuhi  sosok-sosok wanita perkasa yang pernah saya kenal saat bekerja di daerah tambang dulu. Meski job description kami berbeda, tapi melihat para pekerja tambang adalah hal yang biasa, termasuk para wanita yang saat saya bekerja di sana dulu masih bisa dihitung jari.

Tapi ada salah satu perempuan berkulit gelap yang saya kenal baik. Lulusan teknik pertambangan. Kami cukup akrab, saling kenal dan sering curhat satu sama lain ketika masih sama-sama belum menikah. Jelas saya tahu sedikit soal pekerjaannya.

Jadi ketika Kakak meminta izin seperti itu, hati saya langsung berdebum jatuh ke bawah. Hanya satu kata menggambarkan jurusan yang ia inginkan itu. Pekerjaan itu berat bagi seorang perempuan.

19 April 2018

Kunjungan Edukatif ke Among Putro Sky World Taman Mini Indonesia Indah

Sekitar pertengahan Januari 2018 lalu, putri bungsu melakukan perjalanan edukatif ke sebuah wahana bertema luar angkasa di Taman Mini Indonesia Indah. Sebenarnya ia mengunjungi dua lokasi, yang satu ke Lubang Buaya dan yang ke dua di Among Putro SkyWorld Taman Mini Indonesia Indah ini.

[caption id="" align="alignleft" width="643"] Pintu Depan Gedung SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="alignleft" width="648"] Pelataran Depan SkyWorld[/caption]

Saya sih belum pernah ke Lubang Buaya (Duh, ini orang Jakarta kurang piknik ya) tapi putra dan suami sudah sering ke sana. Seperti adiknya juga, dengan kunjungan edukatif. Akhirnya kami sepakat, langsung ke Taman Mini tanpa singgah ke Lubang Buaya.

Nah, di wahana ini sebenarnya kami bisa saja langsung masuk. Berhubung baru selesai hujan dan suasana mendung, saya meminta untuk istirahat sebentar. Perjalanan segitu buat saya udah cukup melelahkan kalau langsung diteruskan, meski hanya bermain. Saya memilih duduk-duduk di lobby luar, menunggu putri saya. Sementara Abang sibuk bereksplorasi dengan kamera, termasuk motret Emaknya.

Lobby[/caption]

Saat menunggu, ada rombongan beberapa sekolah yang tiba ke lokasi tersebut. Gedung yang tadinya sunyi senyap, mendadak ramai dengan rombongan anak SMP dengan jumlah besar (sekitar 5 bis) dan semuanya masuk ke dalam. Rombongan itu juga diramaikan dengan para guru dan beberapa orangtua. Tak lama, datang lagi rombongan anak TK. Jumlahnya hanya belasan dan lebih banyak orangtuanya.

Waduh, membayangkan kalau nanti rombongan anak saya datang jadi rada parno. Putri saya masih SD, dengan segitu banyak orang di dalam, apa jadinya mereka?

Tapi ternyata saya tak perlu kuatir, area di dalam cukup luas. Mereka masuk itu juga sudah diatur secara bergantian, termasuk menggunakan berbagai wahana di bagian dalam.

Pihak SkyWorld menyediakan dua paket tiket yaitu pribadi dan rombongan. Pilihan paket rombongan pun dibagi dua lagi, termasuk yang dilengkapi dengan makan siang (100 ribu Rupiah per orang). Sementara harga tiket biasa Rp. 60.000/orang.

[caption id="" align="aligncenter" width="728"] Pintu Masuk Among Putro SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="723"] Jajaran Tokoh-Tokoh Astronomi Dunia[/caption]





Wahana yang ada di dalam itu antara lain Planetarium (ada keterangan waktu main di salah satu foto), Nonton video 3D dengan kapasitas tak sampai 20 orang, kolam renang anak, area bermain anak (panjat dinding, mandi bola, bouncer dsbnya).

[caption id="" align="aligncenter" width="681"] Jadwal Planetarium[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="680"] Planetarium[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="774"] Kolam renang anak[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="764"] Arena Bermain Anak[/caption]



Di area ini, ada juga kantin dan toko souvenir kecil bagi yang ingin beristirahat makan dan minum sejenak sebelum masuk Planetarium. Sementara di belakang tempat permainan anak, ada ruang makan besar untuk rombongan (lesehan) dan ruang visual mengenai semua hal tentang luar angkasa dari kakak-kakak petugas SkyWorld.

[caption id="" align="aligncenter" width="300"] Salah satu menu yang dijual: Nasi Goreng (kalau tak salah harganya sekitar Rp. 15.000)[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="749"] Kantin & Toko Souvenir[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="762"] Tempat Duduk Santai[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="779"] Area Istirahat IPlayground, Kolam Renang, Taman, Miniatur Roket, Kantin & Toko Souvenir)[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="751"] Ruang Visual Untuk Rombongan[/caption]

Ada juga wahana Sky Laser, yang letaknya di bagian luar sebelah kanan Lobby. Harga tiketnya untuk penggunaan wahana yang satu ini berbeda dengan tiket masuk Among Putro Sky World. Sky Laser ini kayak perang-perangan pake senjata ala Star Wars.

[caption id="" align="aligncenter" width="324"] Ruang SkyLaser : Lupakan yang lagi gaya alay itu yaaa, anggap gak lihat >_<[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="728"] Wahana Sky Laser (Harus bayar tiket lagi untuk menggunakan wahana ini dan ada minimal pemain)[/caption]

Pintu keluar SkyWorld sendiri berada di belakang, jadi berbeda dengan pintu masuknya.

[caption id="" align="aligncenter" width="754"] Bagian belakang SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="283"] Jalan menuju pintu keluarnya[/caption]

Oh iya, ada beberapa miniatur roket, baik di luar maupun di dalam gedung SkyWorld. Lumayan bagus untuk spot foto.





[caption id="" align="aligncenter" width="448"] Miniatur Roket[/caption]

Jadi untuk yang belum pernah ke sana, bagus untuk mengenalkan putra-putri terhadap perkembangan ilmu astronomi, pengetahuan tentang luar angkasa dan tentu saja bersenang-senang di akhir kunjungan.

Selamat merencanakan bersenang-senang!

Seluruh foto dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi hasil dokumentasi putra saya, jadi mohon cantumkan namanya "Koleksi Pribadi FZ Reza" jika mengambil untuk keperluan non komersial. Terima kasih. 

09 April 2018

Penerjemahan Karya Fiksi: Contoh Anotasi

Contoh Anotasi

Ada dua onomatope yang penerjemahannya menarik untuk dibahas.

No.
TSu
TSa
Par.
1.
She didn’t want to wake Becky. However, she worried that Miss Minchin might come in and find her there. Just then, a piece of burning coal fell onto the fireplace screen with a thud. Becky opened her eyes, saw Sara, and sprang up out of her chair.
Dia tidak ingin membangunkan Becky. Namun, dia khawatir Miss Minchin mungkin datang dan menemukannya di sana. Tepat pada saat itu, sepotong arang yang terbakar jatuh di pelindung depan perapian dengan bunyi “degar”. Becky membuka matanya, melihat Sara, dan melompat dari kursinya.
[2.95]

A thud :: dengan bunyi “degar”
   Thud adalah bunyi yang ditimbulkan oleh pecahan arang ketika mengenai pelindung depan perapian. Menurut OALD (2010, offline), thud adalah “a sound like the one which is made when a heavy object hits something else”. Bunyi yang keras yang dihasilkan oleh pecahan arang itu berhasil membangunkan Becky yang sedang tertidur nyenyak.
Meskipun perapian arang tidak ditemukan di dalam budaya BSa, bunyi yang semacam itu diasumsikan mirip dengan bunyi yang keras yang ditimbulkan oleh benda berat yang lain seperti bunyi kayu dipukul.  Menurut KBBI (2008, hlm. 304), degar adalah tiruan bunyi petir, meriam, kayu dipukul, pintu didobrak, dan sebagainya. Dalam menerjemahkan thud itu, prosedur penerjemahan yang digunakan adalah  padanan budaya.

No.
TSu
TSa
Par.
2.
“Why, enchanting roofs and railings covered in soot,” Sara began, “and chimneys with smoke curling up out of them in wonderful designs. And friendly sparrows, chirping for crumbs. And the rain’s big fat drop falling from the sky and going pitter-patter upon the slate roof like  gumdrops.
“Ya, karena ada atap yang memesona dan teralis yang tertutup jelaga,” Sara mulai, “dan cerobong asap dengan asapnya yang meliuk-liuk indah. Dan burung pipit yang ramah, berkicau mencari remah-remah. Dan rintik hujan lebat yang jatuh dari langit dan berbunyi getak-getuk di atas atap bagaikan permen jeli.
[6.25]

Pitter-patter :: getak-getuk
Pitter-patter adalah tiruan bunyi butiran hujan lebat di atas atap kamar Sara. Menurut OALD (2010, offline), pitter-patter sama dengan pit-a pat yang bermakna “a quick light steps or beats”. Di dalam BSu, selain tiruan bunyi hujan di atas atap, pitter-patter juga meniru bunyi degup jantung yang keras atau bunyi langkah kaki di lantai.
Contohnya:
·         The heart went pit-a-pat.
·         I could hear the pit-a-pat of feet in the corridor.
           
Di dalam BSa, untuk menyatakan bunyi hujan adalah tik. Menurut KBBI (2008, hlm. 1461), “tik adalah tiruan untuk bunyi arloji, hujan, dan sebagainya. Untuk memperoleh bunyi yang keras sebagaimana yang dimaksud oleh TSu, bunyi titik-titik air hujan tik  tidak cocok dalam konteks hujan lebat.

Tiruan bunyi yang dianggap cocok untuk titik-titik air hujan yang lebat adalah bunyi getak-getuk. Menurut KBBI (2008, hlm. 450), getak-getuk adalah bunyi ketukan berulang-ulang secara teratur. Bunyi ketukan itu dapat disamakan dengan bunyi hujan yang jatuh secara teratur. Padanan itu dipilih karena dua alasan. Pertama, tiruan bunyi itu terasa wajar digunakan sebagai tiruan bunyi hujan lebat yang mengetuk di atas atap. Kedua, getak-getuk di dalam TSa dan pitter-patter di dalam TSu dibentuk dari pengulangan kata. Pemadanan itu menggunakan prosedur penerjemahan padanan budaya.

02 April 2018

Penerjemahan Karya Fiksi Inisiasi 1


Teks Sumber
Teks Sasaran
Be kind, for everyone you meet is fighting a harder battle.
Jadilah seseorang yang baik, pada setiap orang yang kau temui karena mereka mengalamiperjuanganyang lebih sulit.
Catatan:
-        Dengan penambahan kata untuk memperjelas pernyataan tersebut.
-        Battle dipadankan dengan ‘pertempuran, perjuangan, konflik, usaha (keras)’
Teks Sumber
Teks Sasaran
I’m not sure how Jesse got to my clinic. He didn’t look old enough to drive, although his body had begun to broaden and he moved with the grace of young manhood. His face was direct and open.

Aku tak yakin bagaimana Jesse sampai ke klinikku. Ia tak terlihat cukup umur untuk mengemudi, walaupun dadanya mulai bidangdan pembawaan yang luwes seperti seorang lelaki muda yang mulai tumbuh dewasa. Raut wajahnya masih tampak jujur dan lugu.
Catatan:
-        His body had begun to broaden, kalau diterjemahkan secara harfiah adalah tubuhnya telah mulai melebar. Secara konteks, bagian tubuh yang melebar atau menjadi bidang bagi anak laki-laki adalah dada. Agar sesuai, maka menggunakan padanan kata dadanya mulai bidang.
-        he moved with the grace of young manhood, diterjemahkan menjadi ia bergerak dengan keluwesan lelaki muda yang mulai tumbuh dewasa (the state of being a man). Secara semantis, gerakan yang dimaksud adalah pembawaannya.
-        Direct and open, salah satu makna direct adalah jujur/terusterang (honest)danopen bermakna terbuka, yang kalau diterjemahkan maknanya sama dengan lugu atau polos.

Teks Sumber
Teks Sasaran
When I walked into the waiting room, Jesse was lovingly petting his cat through the open door of the carrier on his lap. With a schoolboy’s faith in me,he had brought his sick cat in for meto mend.

Ketika aku memasuki ruang tunggu, Jesse sedang membelai kucingnya dengan penuh kasih sayang melalui pintu kandang yang terbuka di atas pangkuannya. Karena keluguannya, ia membawa kucingnya yang sakit padaku untuk diobati.
Catatan:
-        A schoolboy’s faith, bermakna harfiah keyakinan seorang anak sekolah, secara konteks dimaknai sebagai keluguan seorang anak. direduksi dan kata ‘with’ juga bisa diterjemahkan sebagai sebab (Cambridge).
-        Sedangkan to mend padanannya adalah dipulihkan, menjadi sehat kembali sehingga bisa diterjemahkan menjadi untukdiobati.


Source : Cambridge Dictionary

31 Maret 2018

Latihan Mandiri UAS : Analisis Teks Penerjemahan

Pedoman Penskoran
Setiap soal uraian (1-4) diberi skor maksimal 15 (1–15) sehingga skor total untuk keempat soal itu adalah 60 (4 x 15).
Khusus untuk soal nomor 5 dan 6, masing-masing diberi skor 20 karena bobot soal lebih tinggi (daripada soal 1-4) dengan berpedoman pada lima kriteria penilaian terjemahan berikut. Setiap kriteria diberi bobot nilai 4 sehingga nilai total untuk soal no. 5 (5 x 4 = 20) dan no. 6 (5 x 4 = 20) masing-masing  adalah 20.
Kriteria Penilaian TSa:
  • Meanings in the source language must be conveyed accurately in the target language, without loss of meanings. [Bobot nilai: 8]
  • Pay attention to the readership of your translation (i.e. clarity). [Bobot nilai: 8]
  • Be aware of the notion of register (i.e. vocabulary, style, grammatical featuresand collocation both in the source language and the target language. [Bobot nilai: 8]
  • Make sure that your translation is NOT read like a translation (i.e. naturalness). [Bobot nilai: 8]
  • There are no such things as “free translation”. [Bobot nilai: 8]
Dengan demikian, maka skor total untuk kelima pertanyaan (1–5) adalah 100 (60 + 40).
Task
Bacalah TSu berikut dengan cermat, kemudian lakukan analisis secara komprehensif terhadap TSu itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Tulis jawaban Anda di file/kertas terpisah sebelum Anda cocokkan dengan Kunci Jawaban yang tersedia.

I am a British citizen – not a second-class citizen
Coming through passport control is an ordeal, I am followed on the street and hassled by security services. Not all citizens enjoy the same rights.
By Jamal Osman

'I have been detained, questioned and harassed almost every time I have passed through Heathrow airport.
In 10 years, only one of my colleagues has been stopped.' Photograph: David Franklin/Getty Images

If you are British and think that every British citizen enjoys the same rights, my story and those of thousands of others should convince you otherwise.
I arrived in Britain in 1999 having fled the civil war in my home country, Somalia. My asylum application was approved a year later. During that time I was given accommodation and a weekly food voucher worth £35. For this I will always be grateful.
As soon as I was permitted to seek employment I started looking for a job. I worked in a laundry, a warehouse and as a taxi driver – simply to survive. Later I trained to become a journalist.
I joined Channel 4 News as a reporter, largely covering Africa – a role that required frequent travelling. And that is when my nightmare at the hands of Britain's security services began. I have been detained, questioned and harassed almost every time I have passed through Heathrow airport. In 10 years, only one of my colleagues has been stopped.
During the past five years I have also been repeatedly approached by security services trying to "recruit" me. The incentives they offer range from a "handsome salary" or a "nice car" to a "big house". I have even been told that they "could help me marry four wives". I have declined all their offers. Their psychological tactics include telling me how easy it is for them to take away my British passport and destroy my career – and even my life.
I have received regular phone calls from people I believe to be Special Branch, who invite me for a "chat over coffee". "No thanks, I don't drink coffee," I reply.
As someone who appears on television regularly it is not unusual for strangers to greet you in the street or even ask questions about a particular story you've done. But the people who follow me on the street – the spies (I call them "the Vauxhall guys") – have a different approach. After introducing themselves by their first names they declare their interest. Would I like a chat and a coffee. It won't take long. Their hunting ground is London's Victoria station, which I use regularly.

I go to the EU and British passport holders' queue when returning through Heathrow airport; I observe with interest as fellow travellers file smoothly past border control. Yet when I approach, trouble always follows. "Where are you from?", "How did you obtain a British passport?", "Have you ever been in trouble with immigration?" I answer all their questions courteously and respectfully until the inevitable happens and the official says: "Take a seat, I will be back."

Returning from my most recent trip, I took my regular seat near the control desk. Half an hour later a grey-suited man sat next to me."Hello, how are you?" he asked. "Are you from Somalia? I hear from other Somalis that things are improving now. That is what I would like to talk to you about."

I told him that I didn't particularly want to talk about Somalia and that I just wanted to go home. "Don't try and be difficult," he snapped at me. "I'll detain you if you don't answer my questions." And so it continued for another 15 minutes, during which he continued with his threats and with calling me an "idiot" and a "bad person", claiming "you will die angry and the world would be a better place without people like you". Finally he compared me to "the racist thugs we are fighting".

If there is one thing I've learned from such encounters, it is that carrying a British passport doesn't necessarily make you feel British. I came to this country to seek sanctuary. I am a multi-award winning journalist. I am an immigrant and a refugee – but I am still made to feel like an asylum seeker.

I am a Muslim, an African and a Somali. And should the security services be reading this: I am a British citizen. Please treat me like one.
(http://www.theguardian.com/commentisfree/2014/may/26/british-citizen-passport-control, diakses tgl 26/5/2014)

Pertanyaan:
        1.   Menurut Anda, termasuk jenis teks (discourse genre) apakah TSu tersebut di atas? Jelaskan!
        2.   Apa tujuan dan fungsi sosial TSu tersebut? Jelaskan!
        3.   Jelaskan secara detail tentang ciri-ciri kebahasaan TSu tersebut!
        4.   Jelaskan struktur/tata organisasi TSu tersebut!
        5.   Sekarang terjemahkan empat paragraf yang digarisbawahi ke bahasa Indonesia secara akurat, jelas, dan wajar dengan memperhatikan
        Perhatikan beberapa kriteria penilaian teks terjemahan berikut:
  • Meanings in the source language must be conveyed accurately in the target language, without loss of meanings.
  • Pay attention to the readership of your translation (i.e. clarity)
  • Be aware of the notion of register (i.e. vocabulary, style, grammatical featuresand collocation both in the source language and the target language.
  • Make sure that your translation is NOT read like a translation (i.e. naturalness)
  • There are no such things as “free translation”.

        6.  Bagaimana Anda memecahkan masalah-masalah penerjemahan yang terdapat dalam setiap paragraf  TSu vs TSa? Berikan alasan Anda.

Petunjuk Jawaban:
1)  Teks sumber (TSu) tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam jenis teks naratif karena menceritakan serangkaian peristiwa yang terjadi pada penulis TSu pada masa lampau. [Skor maksimal 15 (1–15)]
2)   Teks naratif tersebut bertujuan untuk menceritakan kepada para pembaca tentang pengalaman pribadi penulis TSu ketika ybs berurusan dengan pihak imigrasi Inggris terkait paspor yang dimilikinya.
Dilihat dari fungsi sosial TSu di atas, penulis TSu bertindak sebagai orang pertama (first person) yang menempatkan dirinya sebagai pihak yang berada di dalam teks atau sebagai tokoh yang terlibat secara langsung dalam cerita. Dengan kata lain, ia memainkan dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai penulis TSu (source text writer) dan juga sebagai tokoh dalam cerita tersebut dengan menyebut dirinya I[Skor maksimal 15 (1–15)]
3) Teks naratif tersebut di atas (TSu) memiliki sejumlah ciri kebahasaan berikut : [Skor maksimal 15 (1–15)]

No
Ciri-ciri Gramatikal
Contoh
1
Past tense




- I arrived in Britain in 1999 ...
- My asylum application was approved a year later.
- ... I was given accommodation and a weekly food ...
- As soon as I was permitted to seek employment I started looking for a job.
- I worked in a laundry, ...
- ... I trained to become a journalist.
- dll.
2
Action verb
to come through, to arrive, to work, to train, to join, to pass through, dll.
3
Chronological order
a year later, during that time, as soon as, later, during the past five years,

4)  Analisis tata organisasi teks naratif di atas (TSu) dapat digambarkan sebagai berikut. [Skor maksimal 15 (1–15)]

Setting
If you are British and think that every British citizen enjoys the same rights, my story and those of thousands of others should convince you otherwise.
Orientation
As soon as I was permitted to seek employment I started looking for a job. I worked in a laundry, a warehouse and as a taxi driver – simply to survive. Later I trained to become a journalist.
I joined Channel 4 News as a reporter, largely covering Africa – a role that required frequent travelling. And that is when my nightmare at the hands of Britain's security services began. I have been detained, questioned and harassed almost every time I have passed through Heathrow airport. In 10 years, only one of my colleagues has been stopped.
During the past five years I have also been repeatedly approached by security services trying to "recruit" me. The incentives they offer range from a "handsome salary" or a "nice car" to a "big house". I have even been told that they "could help me marry four wives". I have declined all their offers. Their psychological tactics include telling me how easy it is for them to take away my British passport and destroy my career – and even my life.
I have received regular phone calls from people I believe to be Special Branch, who invite me for a "chat over coffee". "No thanks, I don't drink coffee," I reply.
As someone who appears on television regularly it is not unusual for strangers to greet you in the street or even ask questions about a particular story you've done. But the people who follow me on the street – the spies (I call them "the Vauxhall guys") – have a different approach. After introducing themselves by their first names they declare their interest. Would I like a chat and a coffee. It won't take long. Their hunting ground is London's Victoria station, which I use regularly.
Conflication

I go to the EU and British passport holders' queue when returning through Heathrow airport; I observe with interest as fellow travellers file smoothly past border control. Yet when I approach, trouble always follows. "Where are you from?", "How did you obtain a British passport?", "Have you ever been in trouble with immigration?" I answer all their questions courteously and respectfully until the inevitable happens and the official says: "Take a seat, I will be back."
Returning from my most recent trip, I took my regular seat near the control desk. Half an hour later a grey-suited man sat next to me."Hello, how are you?" he asked. "Are you from Somalia? I hear from other Somalis that things are improving now. That is what I would like to talk to you about."
I told him that I didn't particularly want to talk about Somalia and that I just wanted to go home. "Don't try and be difficult," he snapped at me. "I'll detain you if you don't answer my questions." And so it continued for another 15 minutes, during which he continued with his threats and with calling me an "idiot" and a "bad person", claiming "you will die angry and the world would be a better place without people like you". Finally he compared me to "the racist thugs we are fighting".
Resolution

If there is one thing I've learned from such encounters, it is that carrying a British passport doesn't necessarily make you feel British. I came to this country to seek sanctuary. I am a multi-award winning journalist. I am an immigrant and a refugee – but I am still made to feel like an asylum seeker.
Reorientation
I am a Muslim, an African and a Somali. And should the security services be reading this: I am a British citizen. Please treat me like one.

5)  Berikut adalah satu versi terjemahan teks naratif tersebut. Ada lima kriteria yang digunakan ketika menilai terjemahan tersebut. Setiap kriteria diberi bobot nilai 4 sehingga nilai total untuk soal no. 5 sendiri adalah 20 (5 x 4).
TSu
TSa
I go to the EU and British passport holders' queue when returning through Heathrow airport; I observe with interest as fellow travellers file smoothly past border control. Yet when I approach, trouble always follows. "Where are you from?", "How did you obtain a British passport?", "Have you ever been in trouble with immigration?" I answer all their questions courteously and respectfully until the inevitable happens and the official says: "Take a seat, I will be back."

Returning from my most recent trip, I took my regular seat near the control desk. Half an hour later a grey-suited man sat next to me."Hello, how are you?" he asked. "Are you from Somalia? I hear from other Somalis that things are improving now. That is what I would like to talk to you about."
I told him that I didn't particularly want to talk about Somalia and that I just wanted to go home. "Don't try and be difficult," he snapped at me. "I'll detain you if you don't answer my questions." And so it continued for another 15 minutes, during which he continued with his threats and with calling me an "idiot" and a "bad person", claiming "you will die angry and the world would be a better place without people like you". Finally he compared me to "the racist thugs we are fighting".
If there is one thing I've learned from such encounters, it is that carrying a British passport doesn't necessarily make you feel British. I came to this country to seek sanctuary. I am a multi-award winning journalist. I am an immigrant and a refugee – but I am still made to feel like an asylum seeker.
Aku pergi ke Uni Eropa dan antrian para pemegang paspor Inggris ketika kembali melalui Bandara Udara Heathrow. Aku mengamati betul ketika orang-orang yang sedang malakukan perjalanan dapat melewati pemeriksaan paspor di perbatasan. Namun, ketika giliranku tiba, selalu saja ada masalah. 'Anda berasal dari mana?', 'Bagaimana Anda mendapatkan paspor Inggris?', 'Apakah Anda pernah berurusan dengan pihak imigrasi?' Aku menjawab semua pertanyaan mereka dengan sopan dan hormat hingga hal yang tak terduga terjadi dan petugas imigrasi itu berkata kepadaku: 'Silakan duduk, saya akan kembali.'
  
Sekembali dari perjalanan yang terakhir, aku selalu disuruh duduk dekat meja pemeriksaan. Setengah jam kemudian, seorang pria menggenakan jas berwana abu-abu duduk di sampingku 'Halo, apa kabar?' ia bertanya. 'Anda dari Somalia? Saya dengar dari orang-orang Somalia bahwa sekarang situasi di sana sudah berangsur-angsur membaik. Masalah itu yang ingin saya bicarakan dengan Anda.'
 Aku katakan kepadanya bahwa aku sama sekali tidak ingin membicarakan tentang Somalia. Aku hanya ingin pulang ke rumah. 'Saya minta Anda tidak mempersulit,' ia menggertakku. 'Saya dapat menahan Anda jika Anda tidak menjawab pertanyaan saya.' Interogasi itu berlanjut selama 15 menit kemudian. Ia selalu mengancam dan memanggilku  'idiot' dan 'orang jahat'. 'Anda akan mati kelaparan dan tanpa orang seperti Anda dunia ini akan lebih baik'. Terakhir, ia membandingkanku dengan 'kekerasan berbau rasis yang sedang kami hadapi'.
Ada sebuah pelajaran yang aku dapat dari kejadian tersebut, yaitu membawa paspor Inggris tidak selalu membuat Anda merasa sebagai orang Inggris. Kedatanganku ke negara ini adalah untuk mencari perlindungan. Aku adalah seorang wartawan yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan. Aku seorang imigran dan pengungsi – tetapi aku masih merasa seperti seorang pencari suaka.
6) Berikut adalah beberapa masalah penerjemahan yang mungkin timbul ketika Anda menerjemahkan beberapa paragraf teks naratif tersebut serta strategi penerjemahan yang dapat Anda terapkan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Penerapan teknik-teknik penerjemahan TSu yang tepat untuk paragraf 8—11 berikut dan alasan pemilihannya diberi bobot nilai maksimal 20 (5 x 4 = 20).
Paragraf 8:
Dalam paragraf ke-8, terdapat enam masalah penerjemahan yang perlu dicarikan strategi penerjemahannya ke bahasa Indonesia.
(1)   Pemilihan laras bahasa/register berdasarkan situasi berbahasa, melalui pemadanan: ... :: aku [ragam bahasa non formal]; Where are you from? :: Anda berasal dari mana?How did you obtain a British passport? :: Bagaimana Anda mendapatkan paspor Inggris? [ragam bahasa formal]
(2)   Teknik deskripsi (descriptivedengan cara memberi penjelasan singkat, melalui pemadanan: fellow travellers ::orang-orang yang sedang malakukan perjalanan;
(3)   Teknik modulasi (modulation) yang ditandai dengan perbedaan sudut pandang secara semantis, melalui pemadanan: Yet when I approach, trouble always follows :: Namun, ketika giliranku tiba, selalu saja ada masalah;
(4)   Teknik transposisi (transposisiiton/shift) yaitu perubahan konstruksi kalimat TSu dalam TSa menurut kaidah BSa, melalui pemadanan: Have you ever been in trouble with immigration? :: Apakah Anda pernah berurusan dengan pihakimigrasi?;
(5)   Teknik penambahan (addition/contextual conditioningmelalui penambahan kata ‘imigrasi’ pemadanan: the official says :: petugas imigrasi itu berkata kepadaku.

Paragraf 9:
Dalam paragraf ke-9, terdapat dua masalah penerjemahan yang perlu dicarikan strategi penerjemahannya ke bahasa Indonesia.
(1)   Teknik transposisi, melalui pemadanan: ... Returning from my most recent trip, I took my regular seat near the control desk :: Sekembali dari perjalanan yang terakhir, aku selalu disuruh duduk dekat meja pemeriksaanI hear from other Somalis that things are improving now :: Saya dengar dari orang-orang Somalia bahwa sekarang situasi di sana sudah berangsur-angsur membaik;
(2)   Teknik eksplisitasi (explicitation) yaitu mengungkapkan sesuatu yang implisit dalam TSu secara eksplisit dalam TSa, melalui pemadanan: That is what I would like to talk to you about :: Masalah itu yang ingin saya bicarakan denganAnda.

Paragraf 10:
Dalam paragraf ke-10, terdapat empat masalah penerjemahan yang perlu dicarikan strategi penerjemahannya ke bahasa Indonesia.
(1)   Laras bahasa/register melalui penggunaan adverbia particularly  dalam TSu ... I didn't particularly want to talk about Somalia. :: ... aku sama sekali tidak ingin membicarakan tentang Somalia [ragam bahasa non formal];
(2)   Teknik transposisi, melalui pemadanan: Don't try and be difficult :: Saya minta Anda tidak mempersulit’;
(3)   Teknik modulasi, melalui pemadanan: I'll detain you if you don't answer my questions :: Saya dapat menahan Anda jika Anda tidak menjawab pertanyaan saya;
(4)   Teknik transposisi, melalui pemadanan: And so it continued for another 15 minutes, during which he continued with his threats and with calling me an "idiot" and a "bad person", claiming "you will die angry and the world would be a better place without people like you" :: Interogasi itu berlanjut selama 15 menit kemudian. Ia selalu mengancam dan memanggilku  'idiot' dan 'orang jahat'Anda akan mati kelaparan dan tanpa orang seperti Anda dunia ini akan lebih baik.

Paragraf 11:
Pada paragraf ke-11, terdapat beberapa fenomena penerjemahan yang menarik yang dapat diatasi dengan menerapkan sebuah teknik penerjemahan.
(1)   Teknik transposisi melalui penerjemahan kalimat majemuk (complex sentence) dan kalimat pengandaian (conditional sentence) menggunakan ‘if’ dalam TSu If there is one thing I've learned from such encounters, it is that carrying a British passport doesn't necessarily make you feel British menjadi kalimat majemuk dan tidak lagi berupa kalimat pengandaianAda sebuah pelajaran yang aku dapat dari kejadian tersebut, yaitu membawa paspor Inggris tidak selalu membuat Anda merasa sebagai orang Inggris.
Salah satu alasan kenapa hal tersebut dilakukan adalah untuk menghindari keterikan TSa pada konstruksi kalimat TSu sehingga aspek kewajaran (naturalness) dalam TSa dapat terpenuhi.
Fenomena kedua adalah penerjemahan frase a multi-award winning journalist ke bahasa Indonesia. Salah satu teknik penerjemahannya adalah dengan memecah-mecah frase itu menjadi komponen-komponen pembentunya yang lebih kecil, yaitu a journalist :: seorang wartawan; a winning journalist :: seorang wartawan yang berhasil memenangkan; a multi-award winning journalist :: seorang wartawan yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan. Perlu diingat bahwa adjektiva (winning) yang paling dekat dengan nomina journalist diterjemahkan lebih dulu, diikuti dengan adjektiva multi-award, dst.
Fenomena penerjemahan yang sama juga terjadi pada penerjemahan frase British passport holders' queue :: antrian parapemegang paspor Inggris.