Tampilkan postingan dengan label Writer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writer. Tampilkan semua postingan

18 Juli 2017

Misi Manis Untuk Chang (2)

Cerita Sebelumnya


Sahabat yang Kembali


“Maaf, Mas. Maafkan kami. Teman saya terkena hiperglikemia. Diabetes. Mungkin karena kebanyakan makan kue, makanya kadar gulanya naik. Maaf kalau membuat Mas mengira kue buatan Mas beracun. Maafkan kami! Ini saya tambahkan uangnya. Kalau kurang, Mas tinggal bilang,” ujar gadis bernama Kirana yang tadi bersama si ’pencuri kue’ sambil menyodorkan beberapa lembaran uang seratus ribu. Bahu Luthfi merosot turun, menggeleng pelan sembari berusaha memaksakan bibirnya tersenyum. Samar.

Penjelasan gadis berambut pendek bernama Kirana itu telah menjawab pertanyaan Luthfi. Ia terdiam, memandangi gadis berwajah pucat yang kini terbaring di tempat tidur rumah sakit itu. Kirana menghela napas dan duduk di sisi tempat tidur itu.

“Kemarin ulang tahun Joan. Sepanjang hidupnya, selama delapan belas tahun, ia tak pernah makan kue ulangtahun yang biasa seperti yang lain. Dari kemarin, Joan memaksa untuk membeli kue tapi semua orang selalu melarang. Tadi malam ia memaksa saya untuk pergi diam-diam ke toko kue milik Mas dan saya terpaksa ngikut.”

Wajah gadis itu seputih krim, terlihat begitu halus tapi rapuh. Nafasnya naik turun dengan teratur mengikuti bunyi dari selang oksigen yang melingkar di wajahnya. Matanya yang bulat besar tertutup rapat dan memamerkan sepasang bulu mata lentik yang tebal. Meski tubuh kurus dan mungil itu tertutup selimut bergambar boneka besar, gadis ini bukanlah anak remaja SMP seperti yang ia duga sebelumnya.   

“Ia tahu toko kue Mas, karena tiap kali ke rumah sakit, selalu lewat dan ia selalu bilang kalau ingin makan kue yang dipajang di etalase toko Mas. Saya tahu, cara Joan salah, tapi saya pikir tak apa-apa kalau hanya sedikit. Saya tak tahu, kalau Joan makan terlalu banyak. Dia mungkin terlalu senang.”

Mata Kirana berkaca-kaca saat menggenggam salah satu tangan Joan. Gadis itu menoleh pada Luthfi lagi, membuat Luthfi merasa tak enak. Ia ingat tadi pagi sempat membentak Joan. Mungkin saat itu Joan sedang berjuang untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Mulut Luthfi terbuka, siap meminta maaf.

Draak! Pintu kamar itu terbuka. Seorang wanita dan pria setengah baya masuk. Wajah mereka terlihat panik. Mereka langsung melewati Luthfi dan mendekati tempat tidur Joan. Sekali tebak, Luthfi langsung tahu kalau mereka adalah orangtua Joan. Tak ingin mengganggu saat-saat pribadi itu, Luthfi berjalan mundur, hendak keluar. Namun tepat di depan pintu, seorang pria berdiri. Nyaris tubuh mereka bertabrakan. Sedetik kemudian keduanya bertatapan.

“Luthfi?” Pria yang baru menabraknya, termangu di hadapan Luthfi menyebut namanya. Tampak bingung sekaligus tak percaya.

Kening Luthfi berkerut, berusaha merestorasi kenangan wajah pemuda di hadapannya itu. “Alan?” ragu-ragu Luthfi menyebut sebuah nama yang dulu pernah sangat akrab dalam kehidupannya.

“Kenapa kamu ada di sini? Kau jenguk adikku?” tanya Alan meruntut.

Pertanyaan itu seketika membuat Luthfi terperangah. Lagi. Ia kembali menoleh ke tempat tidur tempat gadis bernama Joan, terbaring. Adik? Adik Alan?

Alan, sahabat baiknya. Lelaki yang menolongnya saat ia hampir dipukuli geng sekolah dan mereka mulai berteman sejak saat itu. Berbagi keisengan, bolos bersama, dan menggoda gadis-gadis. Alan yang selalu bercerita tentang adiknya, tentang kebencian Alan pada penyakit bernama Diabetes Mellitus. Penyakit yang merenggut Kakeknya dan membuat adiknya tak pernah merasakan sekolah apalagi kehidupan normal seorang gadis biasa. Adiknya yang selalu merengek meminta permen dan kue, tapi tak pernah bisa memakannya sebanyak yang ia inginkan. Adik yang setiap saat kambuh dan membuat Alan berhari-hari tak masuk sekolah. Setelah masuk, Alan pun hanya diam dengan wajah murung. Tepat setelah lulus sekolah menengah, Alan menghilang tanpa meninggalkan jejak.

“Apa kabar, Lan?” senyum Alan berkembang. Kini ia mengerti. Ini memang sahabatnya dan ia benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya lagi. 

Dengan tulus Luthfi bergerak mendekati sahabatnya. Alan mengangguk dan menyodorkan tangan. Alih-alih membalas salamnya, Luthfi merangkulnya. Mereka saling menepuk punggung, seperti dulu. Ada rindu sekaligus tanda tanya memenuhi sanubari kedua sahabat lama itu.

Dari balik punggung sahabatnya, Luthfi kembali menatap gadis bernama Joan. Itukah gadis kecil yang dulu sering menyambutnya saat berkunjung ke rumah sahabatnya? Tipis, senyuman Luthfi kembali mengembang sekaligus terasa pahit. Gadis kecil, lucu dan menggemaskan itu kini sangat berubah.

Bersambung ...

Cerita Selanjutnya : Misi Manis Untuk Chang (3) - Cincin Untuk Joan (Publish date : 25 Juli 2017)

06 Juli 2017

Pamer Pekerjaan Anak Saat Lebaran

Aku lelah...

Sepanjang hari sejak Subuh, aku sudah beraktifitas menyambut hari kemenangan bagi umat Islam yang berpuasa ini.

Sholat Idul Fitri berjamaah bersama warga di kampung halaman suamiku, lalu saling bermaaf-maafan dengan ibu mertua, suami, adik-adik ipar serta suami atau istri mereka, putra-putriku dan keponakan-keponakanku. Tak sampai setengah jam, kami juga diajak Ibu berziarah ke makam Ayah mertua yang baru berpulang kurang setahun yang lalu.

Tak sampai di situ, kami masih harus menyambut para tamu yang berdatangan, bersilaturahmi. Ketika seluruh anggota keluarga yang lain beristirahat, suamiku malah mengajakku mengunjungi keluarganya yang lain di desa-desa sebelah.

Maka, saat malam datang, aku lebih suka berbaring di kamar sembari membalas ucapan selamat dan permohonan maaf dari teman-teman di ponselku, meski para tamu masih terus datang. It's me time... 

Tapi, sayup-sayup dari kamar, aku masih bisa mendengar obrolan Ibu mertua dengan tamu-tamu yang datang.

Ah, aku hafal jenis obrolan ala mereka yang putra-putrinya berada di kota. Cerita pamer tentang anaknya yang sekolah atau universitas bergengsi, bekerja di perusahaan ternama atau properti terbaru yang anaknya beli.

Seperti biasa, seperti sebelumnya, seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu hanya diam mendengarkan dan sesekali memuji atau berkomentar. Tak sedikitpun informasi yang sama keluar dari bibir perempuan yang melahirkan suamiku itu. Satu-satunya informasi tentang putra-putrinya, terutama suamiku, hanya kota tempat mereka bekerja. Itu saja. Tidak lebih dari itu.

Aku ingin tertawa mendengar cerita bernada sombong yang kudengar dari tamu itu.

Gaji anaknya sekian, aaah... Itu hanya setengah gaji suamiku. Perusahaannya memberi fasilitas ini dan itu, aku langsung ingin bilang bahwa suamiku memegang deretan kunci mobil dinas yang bisa dipilihnya, atau saat kami berobat hingga ke luar negeri dan semuanya ditanggung perusahaan, atau saat suami berkeliling bertugas ke daerah bahkan keluar negara dan semuanya disediakan perusahaan, termasuk fasilitas untuk keluarga. Ibu tahu semua itu... Tapi dia diam tak membalas.

Aku ingin sekali keluar dan mengakhiri kesombongan itu saat tamu ibu menawarkan ibu untuk ikut menggunakan keuntungan dari pekerjaan putra sang tamu. Tidak perlu! Kalau ibu mau, suamiku memiliki keuntungan yang jauh lebih banyak untuk itu semua. Tapi justru tawa ibu yang terdengar diiringi ucapan terima kasih dan malah bertanya kabar tamunya yang ia dengar sekarang sakit-sakitan.

Lalu, sebelum kakiku benar-benar melangkah keluar, aku kembali mendengar. Sang tamu juga bercerita tentang anaknya yang susah sekali dihubungi saat ia sedang sakit. Ibu dengan bijak berkata mungkin karena kesibukan saja.

Aku meringis. Itu juga dialami Ibu, karena suamiku bukanlah tipe anak yang suka bicara apalagi di telpon. Setiap waktu, selalu Ibu yang menelpon suamiku. Meski selalu direspon dengan baik.

Kembali Ibu mengatakan bahwa begitulah setiap putra-putri saat mereka punya tanggung jawab tak hanya pada orangtua mereka, tapi juga pada istri atau suami dan anak-anak mereka. Seorang ibu harus memahami situasi itu meski ia juga punya situasi yang buruk.

Tamu Ibu menjawab, ibu bisa berkata seperti itu karena semua putra-putrinya selalu menghormati dan menghargai ibu meski semua telah berkeluarga. Saat Ibu sakit, semua anaknya mengambil peran masing-masing. Yang mampu, dengan materi. Yang punya waktu, dengan merawatnya. Sementara itu berbeda padanya... Sampai harus menunggu lama hanya agar bisa dirawat di rumah sakit... Itupun oleh orang lain.

Obrolan itu membuatku merenung. Mungkin itu sebabnya Ibu diam tentang pekerjaan anaknya. Ibu tak perlu memamerkan hal-hal yang tak penting seperti itu.

Ibu sudah punya hal-hal yang membanggakannya setiap waktu. Anak-anak yang berbakti padanya. Anak-anak yang selalu menyayanginya, sebanyak apapun cinta yang mereka berikan untuk yang lain. Bahkan permintaan Ibu seperti perintah Tuhan yang lain bagi suamiku.

Aku tersenyum, memutuskan kembali berbaring. Aku tak perlu membalas kesombongan tamu Ibu. Ibu sudah melakukannya dengan pelajaran penting. Tanpa Ibu sadari, ia juga mengajariku bagaimana seharusnya aku bersikap saat menjadi dirinya nanti.

Aku bahkan melupakan satu hal penting. Hal yang tak bisa dibeli dimanapun. Hal yang tak bisa diberikan perusahaan sebesar apapun. Hal yang tak bisa diperoleh dari pekerjaan sebaik manapun. . Yaitu kasih sayang dan perhatian seorang anak.
*****

26 Juni 2017

Tiket Pesawat Terakhir

“Sudah dipesan, Mas?” tanya Anisa tepat setelah ia melihat suaminya selesai makan. Reno melirik dan menggeleng tak peduli.

“Kok belum? Nanti kehabisan. Harus dibooking dari sekarang,” dengan nada sabar, Anisa kembali mengingatkan.

Tapi Reno tak bergeming. Terlihat jelas keengganan di matanya.

“Mas gak mau pulang ya?” tebak Anisa lagi.

“Hmm… Entahlah, aku malas menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara-saudaraku, Neng.” Anita terdiam. Ia paham maksud suaminya. Bahkan kalau dipikir-pikir, dialah yang paling sedih tiap kali mendengar pertanyaan itu. Meski dilempar dengan candaan, pertanyaan itu justru semakin mengingatkan mereka pada sesuatu yang sampai sekarang belum didapatkan.

“Aku udah bilang ke Ibu kalau kita belum tentu pulang tahun ini. Sudahlah, di sini saja kita lebaran. Tak perlu pulang.”

“Tapi Mas… tahun ini sudah empat kali ibu keluar masuk rumah sakit. Apa Mas gak kuatir kalau tahun depan kita tak bertemu ibu lagi?” Reno menatap Anisa. Sorot mata perempuan yang telah mendampinginya lebih dari lima tahun itu sungguh memelas. Hatinya melunak. Sorot mata itulah yang membuat Reno ragu memesan tiket pesawat untuk pulang ke kampung halamannya yang berbeda pulau. Pertanyaan khas Lebaran yang menanyakan soal anak yang belum mereka miliki, dibarengi oleh sorot mata sedih Anisa yang membuatnya melakukan itu. Tapi, Ibu juga sangat penting.

“Apa kau tidak apa-apa kalau mereka tanya-tanya nanti?”

Anisa tersenyum kecil. “Gak papa, Mas. Aku sudah biasa. Biarin saja. Yang penting kita bisa berlebaran dengan Ibu.”

Tapi mungkin Allah mendengar keinginan kecil Reno yang tak ingin pulang. Setelah mencari secara online, memesan pada agen travel langganan bahkan langsung datang ke kantornya, tiket pesawat yang ingin mereka pesan telah habis. Semuanya. Seluruh flight yang terbang ke kota kelahiran Reno.

Anisa termangu di meja makan usai berbuka puasa saat mendengar berita itu. “Jadi… kita batal pulang? Ibu sudah tahu?” tanya Anisa. Ada nada kecewa dalam suaranya yang lirih.

Reno mengangguk. “Aku sih sudah mesen agar mereka info ke kita kalau ada tiket pesawat. Berapapun harganya, aku akan beli selama aku mampu. Tapi kata mereka semua sudah habis dipesan, karena setelah Lebaran ada acara tradisional di sana.”

“Lalu Kakak-kakakmu gimana? Mereka sudah pasti pulang?”

Reno menggeleng. “Hanya Kak Rena dan Reni yang sudah pasti bisa pulang. Kak Rena dan keluarganya memesan tiket kereta ke Surabaya dan dari sana mereka langsung pakai kapal feri. Kalau Kak Reni terpaksa memesan tiket pesawat yang berbeda supaya bisa memboyong semua anak-anaknya. Aku belum tahu gimana Kak Roni dan Rino.”

“Berarti Ibu hanya bersama anak-anak perempuannya, Mas. Kalau begitu, kita ikuti saja cara Kak Rena. Siapa tahu berhasil.” Terdengar suara helaan napas panjang Reno. Ia tahu Anisa telah bertekad. Apapun itu, mereka harus menemukan cara agar bisa pulang.

“Atau begini saja, aku mengajukan cuti lebih cepat ke kantor, Neng?”

Mata Anisa melebar. “Bisa? Ya sudah, lakukanlah!”

“Tapi itu artinya kau akan menghadapi pertanyaan itu lebih la… “

“Sudah, Mas. Jangan pikirkan itu lagi! Yang penting Ibu!” kata Anisa dengan yakin. Lalu, tak sampai sepuluh menit kemudian, Reno sudah sibuk dengan ponselnya. Tiket pesawat yang mereka inginkan akhirnya didapatkan.

***

Reno benar-benar tak mengira kalau kepulangannya justru membuka semua rahasia yang dipendam sang Ibu. Lima hari menjelang Lebaran, Reno menemukan rumah Ibu yang kosong tak ada siapapun.

“Nyari Bu Retno ya Mas?” tanya seorang pria muda dari sebelah rumah Ibu. Reno mengangguk cepat.

“Bu Retno di rumah sakit daerah, Mas. Udah tiga hari dirawat di sana!” kata pria muda itu lagi.

Wajah Reno memucat. “Rumah sakit? Memangnya Ibu saya sakit apa Mas?”

Pria muda itu tampak terkejut. “Ooh, Mas ini putranya Bu Retno ya? Oalaaa, udah kita tungguin loh Mas! Ini Mas Roni ya?”

Reno menggeleng, “Bukan! Saya Reno, Mas! Sakit jantung Ibu kambuh lagi?”

Pria muda itu mendekati Reno, menyalaminya dan lalu dengan penjelasan singkat ia memberikan informasi tentang Ibu mereka. Ibu sudah sering masuk rumah sakit, Reno pun tahu soal ini. Ia selalu pulang tiap kali mendengar berita sakitnya sang Ibu. Tapi kali ini Bu Retno meminta semua orang, pembantu setianya dan tetangga-tetangga yang ikut mengurusnya, untuk tidak menyampaikan informasi apapun pada putra-putri mereka. Alasannya, mereka sibuk dengan keluarganya, kasihan kalau kalau ditambahi urusan ibu mereka.

Hati Reno benar-benar remuk mendengar pesan Ibu itu. Padahal, ia tak pernah mengatakan apapun soal beratnya mengurus Ibu. Tidak pernah. Tidak satu kalipun. Apalah yang diberatkan. Ia tak punya siapapun yang harus diurus selain Ibu dan istrinya. Kakak-kakaknya mungkin memang sibuk karena urusan anak, tapi ia tidak.

Reno dan Anisa langsung berangkat ke rumah sakit bersama pria muda tadi. Anisa terus bertanya mengenai kondisi Ibu dan pria itu menjelaskan dengan sabar sepanjang perjalanan.

Intinya, Ibu mereka sudah tak ingin melalui operasi lagi dan memilih untuk menunggu kedatangan putra-putrinya di lebaran ini.

Minggu itu terasa bergerak sangat cepat bagi Reno dan Anisa. Sekedip mata baru kemarin mereka melihat Ibu berada di ruang ICU, dengan semua selang kehidupan menyambung napasnya. Namun di hari terakhir Ramadan, Ibu berpulang ke pangkuan Ilahi. Hanya ada Reno dan Anisa yang memeluknya saat itu. Meski dengan penuh senyuman, dari kelima putra-putrinya, Ibu hanya bisa memandang sayang pada satu anaknya. Hanya pada Reno.

Usai memakamkan Ibu, ketika seluruh keluarganya telah berkumpul di rumah Ibu, ketika seluruh saudara dan saudari Reno  d datang dan menangis menyesali kepergian Ibu tanpa kehadiran mereka, Reno Anisa memilih duduk di dalam kamar Ibu. Mereka membereskan barang-barang sesuai pesan terakhirnya sebelum berpulang.

“Itu tiket pesawat terakhir yang kupesan hari itu,” bisik Reno pelan. Tangan Anisa yang sedang melipat pakaian-pakaian Ibu berhenti. Ia mendongak menatap suaminya.

“Aku membelinya dua kali lipat harga biasa. Tapi aku tetap membelinya,” kata Reno lagi. Kening Anisa berkerut. Ia tak mengerti maksud suaminya.

“Kalau kita punya anak, aku belum tentu mampu membeli tiket semahal itu untuk kita berdua. Kalau kita punya anak, mungkin aku akan seperti kakak-kakakku yang hanya bisa datang setelah Ibu dimakamkan. Kalau kita punya anak, aku tak yakin akan bisa menomorsatukan kepentingan ibu seperti saat ini.”

Mendengar itu, airmata Anisa kembali merebak di pelupuk matanya. Ia mengangguk-angguk dengan senyum di bibirnya. Yah, mungkin inilah rencana Allah SWT menunda memberikan keturunan pada mereka.

Anisa tak tahu harus tetap bersyukur atau justru sedih. Ia sedih tak bisa memperlihatkan cucu pada almarhumah Ibu mertuanya, tapi ia bersyukur bisa bersama Ibu di saat-saat terakhirnya. Nanti saja. Nanti ketika semua sudah kembali tersenyum. Nanti ketika suaminya sudah bisa menerima kepergian Ibu. Nanti…

Tangan Anisa meraba perutnya. Masih rata. Janin kecil dalam rahimnya belum terlihat. Masih lama. Tapi Anisa tahu, almarhumah Ibu telah memberinya restu. Malam sebelum Ibu pergi, Anisa sudah berbisik memberitahukannya soal kehadiran janin kecil itu. Bibir Ibu tersenyum dan setitik airmata mengalir di pipinya saat itu.

*****

23 Juni 2017

Misi Manis Untuk Chang

Gadis Pencuri Kue




Lutfi bergegas masuk ke dalam gedung yang didominasi warna hitam, sambil menekan salah satu tombol di kunci mobil otomatisnya. Suara denyut dua kali bertepatan dengan bantingan pintu yang terbuka dan tertutup lagi. Aroma vanila bercampur madu menyerbu hidungnya. Dua karyawati di belakang etalase menunduk hormat padanya. Tapi Luthfi hanya menganggukkan kepala dan langsung masuk ke area dapur. Makin masuk ke dalam, wajahnya semakin merah padam tapi bukan akibat udara dapur yang panas karena beberapa oven kue sedang beroperasi, ada hal lain yang mengganggunya.

“Siapa yang berani masuk ke dapur semalam?” tanyanya marah, begitu melihat beberapa karyawan berdiri di sudut dapur.

Mata Luthfi menyapu sudut dapur. Karyawan-karyawannya yang tadi berdiri di sekitar sudut itu, mulai membuka jalan untuknya. Luthfi mulai melihat apa yang sedang mereka lihat. Ada dua gadis duduk meringkuk di situ. Gadis-gadis itu tampak kaget melihat kehadirannya. Gadis pertama yang ia lihat berambut panjang hitam, matanya tertutup kacamata dan menatap Luthfi dengan berani. Gadis yang lain, rambutnya lebih pendek dan mengenakan topi menutupi kepalanya. Gadis ini bersembunyi di balik tubuh gadis berambut hitam panjang itu.

“Kalian siapa? Apa yang kalian mau?” tanya Luthfi sambil berkacak pinggang.

“Ooh, Anda bossnya?” Gadis berambut hitam itu berdiri. Temannya ikut berdiri, meski masih berusaha menutupi wajahnya. “Ini hanya salah paham, aku hanya ingin membeli satu,” jelas gadis itu lagi sambil mengangkat dagunya.

Luthfi tersenyum sinis. “Benarkah? Lalu mengapa kalian ada di sini? Di jam lima pagi?”

Gadis itu terlihat tenang. “Tentu saja untuk beli kue. Tapi kalian masih tutup. Karena itu aku membuka pintu dapur dan bukan salahku kalau pintu itu tidak terkunci.”

“Itu artinya kalian bebas masuk dan mengambil kue seenaknya?” Luthfi menahan geram.

“Aku tidak mengambilnya, aku meninggalkan uang. Apa uangnya kurang? Bukankah lima ratus ribu terlalu banyak untuk sepotong kue?”

Uggh, gadis ini! Benar-benar pandai berkelit. Luthfi melirik kue bertingkat tiga yang semalam dibuatnya dengan sepenuh hati. Kue itu sudah tak utuh lagi. Untaian mutiara dari coklat yang mengelilingi kue itu sudah tercerai berai di atas meja, lubang berbentuk segitiga terbentuk di salah satu lingkaran di kue yang berada di tingkat kedua. Pita di kue ketiga, yang ia buat dari coklat putih kini tinggal separuh. Sementara bagian teratas kue sekaligus bagian tersulit yang membuat Luthfi terpaksa bekerja semalaman, kini sudah tak lagi membentuk rangkaian mawar-mawar indah yang cantik tapi berubah menjadi gumpalan-gumpalan krim tak karuan. Sekarang, takkan mungkin baginya untuk mengikuti perlombaan wedding cake tahunan yang selama dua tahun berturut-turut selalu ia menangkan.

“Jo...  Jo... kamu kenapa?” Suara itu membuat Luthfi menoleh cepat. Gadis yang berambut hitam panjang yang dipanggil Jo itu kini berlutut di sudut, berjuang keras menutupi mulutnya, ia sedang menahan muntah. Tapi sedetik gadis itu mendongak menatap Luthfi, sendu dan sedih, sebelum akhirnya mata itu tertutup perlahan dan tubuhnya mulai limbung. Dua karyawan Luthfi yang berada di dekatnya menangkap tubuh gadis itu sebelum benar-benar terjatuh ke lantai dapur. Luthfi terkesiap.

“Kenapa dia?” Luthfi ikut berjongkok, memeriksa gadis bernama Jo itu dengan seksama. Sisa-sisa krim berwarna putih masih terlihat di sudut bibirnya. Apa gadis ini keracunan?

“Jo... Jo.. Bangun!” Gadis berambut pendek itu tampak panik. Lalu dengan tergesa-gesa ia memeriksa tas bawaan mereka. Dengan gugup ia mengambil handphone dan menekan tombol angka 1. “Kak, Jo pingsan.... Ya... ya... Ini.. Ini toko kue dekat rumah sakit... iya aku tunggu!”

Gadis berambut pendek itu menatap Luthfi. “Maaf, Mas... teman saya harus ke rumah sakit sekarang, sebentar lagi ambulan datang. Soal kerugian Mas, nanti saya akan urus. Tapi saya mohon, tolong biarkan saya bawa teman saya dulu.”

Lidah Luthfi mendadak kelu. Ia tak tahu harus berkata atau melakukan apa. Melihat gadis yang beberapa menit lalu menatapnya dengan mata marah, sekarang terbaring dengan wajah pucat dalam pelukan sahabatnya membuatnya mulai merasa bersalah. Tak lama kemudian, terdengar suara ambulan datang. Saat gadis yang pingsan itu dibawa keluar meninggalkan dapur dibantu karyawan-karyawannya, Luthfi hanya berdiri di dapur. Bingung bercampur kaget.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ambulan telah membawa kedua gadis itu pergi, Luthfi masih memandangi kue pernikahan yang sudah tak berbentuk itu. Hatinya penuh tanda tanya. Dari sudut mata karyawan-karyawannya yang mulai bekerja pagi itu, ada pertanyaan yang sama. Luthfi kuatir, ada campuran yang salah saat ia membuat kue. Dengan ragu, ia mengambil sendok dan menyendok potongan kue itu, sebelum memakannya pelan. Hal itu membuat semua karyawan menatapnya kuatir. Luthfi tak peduli. Kalaupun ia ikut keracunan, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Satu kunyahan, dua kunyahan sampai Luthfi menelan semuanya. Tak ada yang salah. Rasa kue itu sesuai yang ia bayangkan. Vanila yang terasa lembut di lidah dengan wangi semerbak memancing selera melalui hidungnya. Untuk sesaat Luthfi menunggu. Barangkali respon yang seperti dialami gadis itu akan dialaminya juga. Tapi Luthfi tak merasakan apapun. Ia kembali mengambil potongan lain, mulai mengunyahnya lagi.

Hingga separuh kue itu ia habiskan, tak ada yang terjadi. Luthfi duduk di meja besar tempat ia biasa menjejerkan kue-kue buatannya. Menunggu. Tetap saja tak ada reaksi berarti. Luthfi makin bingung. Jawabannya hanya satu. Ia harus ke rumah sakit dan bertanya pada dokter atau siapapun yang bisa memberitahunya. Mengapa gadis yang tadinya baik-baik saja bisa jatuh pingsan setelah makan kue buatannya?



Bersambung: Misi Manis Untuk Chang 2 - Sahabat yang Kembali

20 Juni 2017

Kabar dari Paman

Begitu peserta rapat lain keluar satu persatu, aku langsung mengeluarkan ponsel. Membaca sms dari paman …

Apa kabar, Nak? Paman lagi sakit. Harus operasi lagi ini.

Mendadak dadaku terasa berat. Sakit lagi? Apa kankernya datang lagi? Aku mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi, mengetik lagi, dan akhirnya menghapus lagi. Beberapa menit aku hanya memandangi layar ponsel. Tak tahu harus menjawab apa.

Pikiranku melayang. Mengingat pamanku yang satu itu. Pamanku yang paling dekat. Paman terbaik di antara semua saudara ibuku. Paman yang pernah mengasuh dan mengurusku saat masih kecil. Paman yang seperti ayah, kakak dan sahabat untukku.

Sudah beberapa tahun ini ia, sama seperti ibuku, berjuang melawan kanker. Setahun lalu, sejak ia mengabariku kalau ia baik-baik saja, tiba-tiba Paman muncul dengan tubuh tegap. Sayangnya, aku masih melihat rokok terselip di jemarinya.

“Sudah sehat pamanmu ini bah, Nak. Janganlah kau kuatir,” ujarnya saat aku menegur. Lalu ia bercerita tentang sasana tinju, lari pagi dan tentang kanker di tenggorokannya yang telah dioperasi.

Aku lebih banyak diam. Mendengarnya berbicara tentang kabar kedua putranya, tentang istrinya, tentang kampung halaman yang nyaris tak pernah lagi kudatangi sejak menikah. Tapi, ia juga bertanya tentang banyak hal padaku. Aku menjawab seadanya. Bahwa keponakannya kini hanyalah seorang ibu biasa, yang masih suka menulis dan masih suka baca komik berjilid-jilid. Ia menambahkan sambil tertawa terbahak-bahak, Iin-nya masih manja, masih cengeng dan masih berbicara apapun yang ia pikirkan begitu saja.

Menjelang tengah malam, di teras lantai dua rumahku, kami melanjutkan obrolan. Saat itu, ia bercerita tentang apa yang ia bayangkan tiap kali menjalani kemoterapi dan perawatan di rumah sakit. Dia memahami mengapa aku berubah banyak setelah merawat ibuku saat sakit dulu. Dia juga mengerti mengapa aku begitu diam dan tak banyak bicara tiap kali ia mengeluh tentang sakitnya. Dia tahu, aku akan mulai menangis dan sulit berhenti tiap kali bicara tentang kanker.

“Paman tahu, In. Kanker itu memang hanya untuk orang terpilih kayak kita. Paman rasakan gimana sakitnya ditinggal dan dicuekin. Paman juga ngerasa banget sendirian terus selama menjalani semua itu. Tapi, kau betul, Nak. Orang boleh cuekin kita, tapi kita gak boleh dendam. Sulit memang ngejalaninnya, tapi kalo ikhlas, insya Allah dimudahkan Allah semua urusan kita. Macam paman ni, alhamdulillah ada ja rezeki bisa ke rumah sakit.”

Saat itu, aku hanya bisa menangis meminta maaf padanya. Aku tak bisa menemaninya mengurus rumah sakit, tak bisa menjenguknya saat ia sakit, tak bisa sering-sering menelponnya ketika ia berjuang. Andai jarak ribuan kilometer antara dua pulau ini bisa kulalui dengan mudah. Paman hanya tersenyum. Ia mengerti diriku, mengerti keterbatasanku, mengerti bahwa aku bukanlah tipe orang yang hanya duduk diam dan menunggu tanpa melakukan sesuatu andai kami dekat.

Esoknya, ia pulang. Meninggalkan pesan yang masih sama, menjaga cucu-cucunya, anak-anakku. Paman sempat berbalas canda dengan putriku yang jahil. Katanya, si sulung itu begitu mengingatkannya pada aku saat masih remaja dulu. Saat itu aku berjanji, tahun depan insya Allah setelah wisuda, aku akan pulang menjenguknya.

Tapi aku belum diwisuda… Ketika ada sms masuk darinya.

Memang kuliah sudah selesai, tapi aku belum mengikuti upacara wisuda. Baru April tahun berikutnya. Atau mungkin suamiku sudah mengabarinya. Entahlah.

Karena aku tak tahu harus menulis apa, kuputuskan untuk langsung menelpon saja.

“Halo, ponakanku sayang!”

Aku tersenyum. Tanpa perlu bertanya aku tahu itu suaranya. Agak sedikit berbeda. Tapi ini benar-benar pamanku.

“Paman tadi nelpon, maaf ya… Iin tadi lagi rapat.”

Ah, ini kebiasaanku yang tak pernah bisa berubah. Setua apapun usiaku kini, aku selalu menyebut namaku sendiri tiap kali berbicara dengan suami atau orang-orang yang kuhormati ketimbang memakai saya atau aku.

“Iya, paman yang minta maaf sudah gangguin. Sibukkah?”

“Engga, pamanku sayang… Eeeng, tadi paman bilang mau operasi lagi?”

“Yah begitulah, Nak. Kumat lagi kanker paman. Ini paman lagi dirawat di rumah sakit, tiba-tiba pengen bicara sama kamu. Kamu gimana, In? anak-anak gimana?”

Mataku mulai berair. “Paman kaan… iin sudah bilang jangan ngerokok. Tuh kan kambuh lagi! Terus gimana? Kapan operasinya?” lalu suaraku menghilang. Kugigit bibirku agar isakku tak meledak. Aku teringat kata-kata dokter yang menangani ibu saat dulu kami berdiskusi panjang lebar soal kanker. Otakku langsung memutar ulang persentase hidup yang pernah dijabarkannya. Ketakutanku muncul.

“Sudah, sudah, tenang saja… gak papa kok. Ini cuma sisa-sisa yang lama. Kau tenang ajalah, Nak. Nanti malah keganggu kerjaanmu. Anakmu bagaimana kabarnya?” tanyanya lagi. Tapi aku tak menjawab.

Aku menekan dadaku, terus menahan isakku. Jangan menangis, In! Jangan menangis, In! Kekuatan mereka yang sakit itu ada pada yang sehat.

“Nangis ya?” tebak Paman dari ujung telepon.

“Enggak, apaan nangis kayak anak kecil aja!” jawabku dengan suara aneh.

Terdengar kekeh tawa Paman dari ujung telpon, “Yaah, sudah tua masih aja cengeng. Tetap sama aja kayak dulu-dulu. Iin-nya Paman ternyata masih sama ya, hahaha… “

Mendengar tawanya, aku tak bisa menahan isakku lagi. Tangisku pecah tanpa menutup telepon. Tawa Paman berhenti. Kubiarkan paman mendengar suara tangisan dan isakanku. Di ujung telepon, Paman terus berbisik, menenangkan, membujuk… seperti dulu, seperti saat aku kecil dulu, seperti saat aku merengek mengadu padanya kalau besok Lebaran dan aku belum punya baju baru.

Telepon berakhir karena pulsa telponku habis. Obrolan hanya satu arah, karena hanya Paman yang bicara sementara aku terus menangis. Tapi, aku mendengar nada riangnya yang begitu yakin, Paman akan melewati semuanya semudah yang pertama.

Sementara aku, kembali menerima kabar duka yang lain. Saat itu, Ayah mertuaku juga sakit keras. Kesibukan mengurus keperluan beliau dari sakit hingga akhirnya berpulang, membuatku melupakan masalah Paman. Sesekali aku mencoba menelponnya, tapi tak pernah dijawab. Dengan pikiran positif, kuanggap Paman baik-baik saja dan hanya sedang sangat sibuk.

Sampai beberapa bulan kemudian…

Pagi hari itu aku bersiap ke kantor dan baru selesai mengunci pagar rumah, saat sebuah sms masuk. Kubuka dengan tangan sebelah. Membacanya dengan cepat. Tapi perlu sekitar 10 menit untuk memahami isinya.

Begitu menyadarinya, aku menelpon ke kantor, meminta izin untuk tidak masuk kerja dan menelpon suamiku, memintanya pulang. Segera. Darurat. Lalu aku duduk di ruang tamu selama setengah jam dengan mata menerawang. Sesekali kembali membuka sms yang tadi kuterima. Membacanya lagi. Lalu teringat sesuatu. Aku menelpon ke nomor ponsel Paman. Tak ada jawaban. Kucoba nomor telepon putranya, tidak dijawab juga. Kutekan nomor-nomor keluarga terdekat yang kutahu, semua tak menjawab. Sampai aku teringat, media sosial yang digunakan keluarga. Kali ini, berita itu tak lagi kuragukan.

Tiba-tiba rasa panas menjalar di tangan kiri, menyebar hingga ke dada. Sakit sekali. Aku teringat penyakitku sendiri, dan langsung menekan angka 1 di ponselku. Tersambung atau tidak, aku tak ingat lagi.

Saat tersadar, aku sudah berada di ruangan yang didominasi warna oranye. Salah satu perawat memberitahu, suamiku sedang berbicara di luar. Tak lama, suamiku masuk dengan wajah murung. Satu anggukannya membuatku tahu kalau semua yang terjadi bukanlah mimpi. Paman tersayangku sudah tiada.

Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukan suamiku, membiarkan para perawat dan orang-orang dalam UGD itu memperhatikan kami berdua penuh tanda tanya. Aku kehilangan paman terbaikku, satu-satunya orang yang memahami lebih dari apapun selain suamiku, dan lelaki yang kuanggap sebagai sahabat terbaikku. Duniaku terpotong sebagian. Kini, aku merasa benar-benar sendirian …

Ramadan tahun ini …

Hampir setahun sejak ia pergi. Wisuda telah kulalui beberapa minggu lalu. Suamiku juga sudah mengingatkan tentang rencanaku kembali ke kampung halamanku. Tapi aku membatalkannya tepat setelah wisuda.

Aku tak lagi ingin pulang. Tak ada senyuman lebar, sebutan panggilan ‘Oh, ponakanku sayang!’ dan tatapan yang masih memandangiku bagai anak lima tahun itu. Aku takut merindukannya, aku takut memberatkan langkahnya, aku takut airmataku mengalir mengotori jejak sucinya. Lebih baik aku tetap jauh di sini, dan tetap berpikir, jauh di sana, di suatu tempat, Paman masih ada. Tertawa lebar, sehat walafiat memamerkan otot-otot yang ia latih dengan tinju dan lari, dan masih siap bercanda dengan siapapun. Suatu hari nanti... ketika airmataku telah mengering, ketika sesalku telah berkurang, ketika senyumku mengingat semua yang berlalu telah semakin lebar... aku akan pulang. (iin/2017)


*****

16 Juni 2017

Kisah Si Haji Medit


Kawan ini terkenal dengan kepelitannya. Bahkan julukan Haji Medit pun akhirnya ia peroleh dengan sukses, setelah berulang kali sesama teman merasakan kepelitannya itu. Ia tak pernah mentraktir teman, juga tak pernah keluar makan siang di luar kantor. Ia tak pernah mau diajak kongkow-kongkow di klub malam, apalagi sekedar nongkrong di kafe. Setiap pulang bekerja, dia selalu pulang ke rumah tepat teng! tidak lebih dan tidak kurang.

Sempat beberapa teman lain mengira, orang ini pasti kaya karena sifatnya itu. Tidak! Dia sama sekali tidak kaya. Rumahnya memang ada, tapi ukurannya sederhana. Anaknya juga berpakaian biasa-biasa saja. Jika setiap pria berkeluarga bangga memamerkan foto-foto liburan ke tempat-tempat mewah atau paling tidak ke restoran bersama keluarga, tidak dengan teman yang satu ini. Akun Facebooknya ‘kering’ dari foto-foto seperti itu. Ya memang ada sih foto anak-anak dan istrinya, tapi tak ada satupun di tempat yang seperti restoran atau mal atau bahkan tempat wisata. Kalaupun ada beberapa foto dengan tempat spesial seperti itu, selidik punya selidik ternyata diambil ketika pihak kantor mengadakan acara karyawan bersama keluarganya.

Sebagian dari kami menganggap pelitnya orang itu benar-benar keterlaluan. Bahkan sampai harus membuat keluarga duh… maaf tampak seperti orang miskin dengan pakaian seadanya.

Suatu hari, teman ini mengajukan pinjaman kantor. Kami mengernyitkan kening ketika sekretaris kami yang sama sekali tidak bisa menjaga secret, mengungkapkannya terang-terangan saat makan siang. Hah? Bukankah rekor yang kami tahu selama ini, Bapak Haji Medit tak pernah berutang sama sekali di kantor? Kenapa sekarang? Setelah kami baru saja menerima bonus tahunan berlipat-lipat gaji…

Sampai usai sholat magrib, ketika ia tergesa-gesa pulang hingga menabrak saya. Bapak ini kelihatan bersalah melihat muka hingga jilbab saya basah kuyup akibat es teh gelas saya tumpah menciprati muka. Padahal saya sudah mau pulang. Yaaah… kan jadi tidak cantik lagi deh….

Bapak ini menawari saya pulang. Dalam mobilnya, bersama tiga orang teman lain, saya beruntung duduk di depan karena sambil mengusap puluhan tisu ke wajah dan jilbab. Tak sengaja saya membuka kotak dekat dasbor Pak Haji Medit itu dan menjatuhkan secarik kertas. Ternyata itu billing kartu kredit. Dan mata saya yang tajam menangkap sebaris tulisan nama sebuah rumah sakit dengan tagihan 5 juta rupiah.

Saat itu saya memilih diam. Berpikir. Apa karena ini si Bapak jadi orang yang pelit begitu ya? Karena harus membayar biaya rumah sakit, hingga ia terpaksa berhemat. Mau tanya langsung jelas tak enaklah… itu kan bukan urusan saya.

Namun, penasaran saya terjawab kemudian. Saya tahu, itu tagihan biaya perawatan untuk dokter gigi. Bapak Haji Medit itu membayar tagihan untuk pemasangan kawat gigi anaknya. Dari Nona sekretaris-yang-tidak-secret itulah saya jadi tahu, karena 20% dari tagihan itu ditagihkan ke kantor sebagai salah satu fasilitas. Bahkan kemudian saya juga tahu, dari seliweran para broker penawar kartu kredit, tabungan dan asuransi kalau mereka merasa kedatangan mereka percuma setelah bertemu si Haji Medit. Bagaimana tidak? Ternyata ia telah menabung untuk anak-anaknya bahkan sebelum mereka lahir dan setiap bulan gajinya hanya pas untuk kebutuhan bulanan.

Dan yang terakhir ini, saya baru saja tahu kalau si Haji Medit juga selalu rutin mengirimkan pada ibu kandungnya karena ketika ibunya berpulang, uang itu ia isikan ke tabungan anak yatim yang kebetulan menjadi tugas saya di kantor. Katanya itu uang hak ibunya, sampai kapanpun, jika ia mampu ia akan terus menyedekahkannya atas nama ibunya.

Jadi apa yang bisa kita ambil dari storylife ini?
Bahwa pelit dan irit adalah dua kata yang hampir mirip, namun prakteknya sangat berbeda. Haji Medit adalah satu dari sekian banyak orang yang berusaha menyikapi kebaikan dan kesulitan dengan sikap yang mungkin tak dapat dimengerti banyak orang dan memang sebenarnya tak perlu.

Pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan, sama seperti memanfaatkan sebaik-baiknya rezeki yang didapatkan dengan jalan mengatur keuangan dengan baik. Mari menimbang pengeluaran yang penting dan tidak penting, mana yang perlu dihemat dan mana yang dijaga agar tak terlalu boros. Hidup itu tidak sebentar, tapi juga tidak lama. Kapanpun kita harus siap, menghadapi saat-saat ketika roda kehidupan berputar di bawah.

*****

Foto oleh: debt.org

A Y A H


Aku duduk di ruang tamu, menatap ruang tamu yang terasa begitu luas. Jejeran foto-foto yang menempel di dinding menarikku untuk berdiri. Tanpa sadar, sudut bibirku tertarik ke atas saat memandangi foto-foto tersebut. Foto kami sekeluarga. Saat berlibur, saat berulangtahun, saat hari raya dan saat kami berada di rumah ini. Di semua foto itu, selalu ada lelaki itu. Salah satu foto terbaik darinya terpajang sendiri di tengah-tengah foto-foto yang lain. Senyuman lebar yang mirip dengan senyumanku tampak di foto dirinya yang diambil suamiku enam bulan lalu.

Lelaki yang tersenyum di dalam foto itu bernama Andi Rahman. Sebagian teman baiknya memanggilnya Andi, yang lain memanggilnya Pak Rahman. Ibuku, istrinya, lebih sering memakai sebutan “ayahnya Nori” saat bicara dengan orang lain, namun selalu memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Aku dan adik-adikku memanggilnya Ayah.

Ketika aku menikah, suamiku juga memanggilnya seperti itu. Paman dan bibiku, adik-adik ayah, semua memanggilnya Kak Rahman. Lalu ketika putra-putri mereka lahir, mereka memanggilnya Uwa Rahman. Satu demi satu saat anak-anakku lahir, mereka menyebutnya sebagai Akung Aman. Dia, seorang suami, ayah, kakak, uwa dan akung yang kami cintai.

Saat Arrie dan Raka, adik-adikku mulai bermain sepakbola di sekolah dasar, ayah menjadi pelatih bola mereka. Walaupun ia lebih suka bermain bola dengan adik-adikku, Ayah tak pernah lupa mengantarku les menyanyi dan latihan marching band. Ayah tak malu duduk bersama para ibu-ibu yang juga mengantar anak mereka, karena ayah bilang melihat dan mendengarku menyanyi atau bermain terompet selalu membuat hatinya bahagia.

Ayah juga yang mengajari aku dan adik-adikku bersepeda, naik motor hingga menyetir mobil. Sebagai anak perempuan, ia tak izinkan aku menyetir mobil. Takut sesuatu terjadi padaku. Tapi ibu berhasil membujuknya. Ia mengajariku menyetir ketika aku telah siap berkendara dan ia juga mengajariku untuk selalu menyetir dengan aman. Tak ada tugas yang ringan bagi seorang ayah yang selalu ada untuk putra-putrinya itu!

Dari kecil hingga saat ini, setiap saat kami bertiga selalu meributkan banyak hal. Tapi ayah selalu berada di antara kami. Ia wasit yang adil untuk kami yang sering tidak akur.

Ia adalah ayah yang dengan bangga menyalami dan menyerahkanku pada calon suamiku. Bagiku, Ayah sangat hebat saat menunjukkan pada suami bahwa aku adalah putri dari ayah yang penuh cinta. Diyakinkannya suamiku, bahwa ia tak membesarkan seorang anak, tapi membesarkan seorang putri paling berharga di dunia. Tak hanya aku, tapi pada ketiga adikku yang lain. Satu persatu adik-adikku memberinya menantu, dan ayah selalu berhasil meyakinkan mereka bahwa mereka menjadi bagian dari keluarga yang menerima mereka setulus hati.

Ayah, orang yang selalu tepat waktu. Tapi ia tetap selalu pengertian. Kami tidak dibesarkan sebagai anak nakal yang manja dan bisa selalu memiliki segalanya. Hanya saja, apapun yang kami perlukan selama ini selalu tersedia.
Bersama Ibu, mereka berdua melakukan banyak hal hebat untuk kami bertiga sampai sekarang. Kami bahkan tak mampu menyamai setengahnya. Tiap kali masalah datang pada kami, Ayah memberiku nasihat, entah diterima atau tidak, ia selalu ada saat kami membutuhkannya.

Ia menganggap suamiku seperti anak laki-lakinya sendiri. Kadang-kadang ia justru lebih sering membelanya daripada membelaku ketika kami berdua berselisih paham. Tapi seperti suamiku, ia sangat jarang mengatakan tidak saat aku meminta tolong, mengantarku ke manapun atau membeli sesuatu yang sebenarnya tak terlalu diperlukan.

Aku bisa bayangkan hari-hari yang bakal kurindukan, saat ia menelpon dan bertanya di mana suamiku… karena ia menekan sesuatu yang tidak ia tahu dan membuat sesuatu di laptopnya berubah. Aku akan merindukan hari belanja kami berdua di Sabtu sore ketika ia mencoba untuk bersembunyi di antara lorong rak-rak supermarket namun berusaha mendekat untuk membuatku kaget. Aku pasti rindu gelak tawanya yang terkekeh, ketika kami berbicara tentang kelucuan anak-anakku. Aku akan rindu komentar sarkas ala dirinya, tiap kali menonton berita di televisi. Aku akan ingat semua keluhannya saat mengetahui tim bola kesayangannya kalah.

Egoisnya, aku ingin bersamanya selamanya. Walau sejujurnya, aku sadari betapa beruntungnya aku memilikinya selama ini. Ia punya senyum yang sanggup menghangatkan seluruh ruangan, apalagi saat bercanda tentang sesuatu yang konyol pada dirinya sendiri. Dirinya adalah bagian dari keutuhan keluarga kami.

Saat ini aku benar-benar patah hati. Aku berusaha menerima kepergiannya. Meyakinkan diriku bahwa ayah kini berbahagia bersama ibu di surga dan ia tak lagi sendirian. Aku belum bisa membayangkan hidupku tanpa dirinya. Ia pahlawanku, ia pria pertama dalam hidupku yang kusayangi… ia adalah ayahku. Ia dulu lampu pijar penunjuk arah hidupku dan kini selamanya… ia bintang yang selalu bersinar di langit hatiku.

Ayah, Selamat Jalan!

 *****
Foto oleh : tcartermusic.com

14 Juni 2017

Bukan Salahmu, Sayang!


Ketika seseorang menyakiti seorang anak, baik secara verbal maupun fisik. Tahukah mereka bahwa setiap anak yang tak pernah diajari mengenai pemahaman kasih sayang, akan menganggap kalau diri merekalah yang bersalah?

Setiap orangtua mengomel atau marah, lalu mengeluarkan kata-kata kasar hingga sumpah serapah yang menyudutkan anak... saat itu dalam memori anak sedang terbentuk sebuah penyalahan terhadap dirinya sendiri. Walaupun kesalahan itu sangat besar kemungkinan tanpa disengaja, karena anak-anak adalah manusia yang sedang hidup dalam proses pembentukan karakter dan sifat.

Apalagi sampai dipukul... disakiti secara fisik... Bahkan kalau itu hanya cubitan kecil yang katanya ditujukan untuk membuat si anak mengerti kalau orangtuanya marah.

(Duh... saya sebenarnya gak mau nulis ini... airmata jadi jatuh kalau ingat kasus-kasus child abused. Tapi jika tidak diingatkan, bagaimana nasib anak-anak lain?)

Anak pasti tahu, kalau orangtuanya marah. Bahkan ketika kemarahan itu hanya terlihat dari tatapan saja. Mengapa? Karena anak hanya melihat pada kita sejak ia lahir, baru setelah menjadi anak hingga dewasa, ia akan melihat orang selain orangtuanya. Buat mereka, segala hal tentang orangtuanya, termasuk bahasa tubuh mereka, adalah sesuatu yang melekat erat dengan baik dalam otak kecil anak-anaknya. Karena itu... marah atau sedih adalah beberapa emosi yang akan mudah terbaca oleh mereka.

Kita sering menganggap bahwa orangtua adalah manusia yang paling pandai membaca putra-putri mereka. Tapi kita jarang memikirkan apakah anak kita pandai membaca diri orangtuanya atau tidak. Bahkan sebagian besar memilih tidak peduli tentang hal itu.

Jujur... sedih rasanya melihat anak yang mengalami kekerasan fisik di masa kecilnya, berkembang menjadi pribadi yang menganggap dirinya memang orang yang selalu berbuat salah.

Kekerasan pada anak di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini yang kemudian membentuk banyak sekali pribadi dewasa yang biasanya kurang percaya diri, mudah marah, cengeng dan gampang menyerah. Selain itu, mereka adalah pribadi yang mungkin akan menyelesaikan sebuah masalah kelak dengan cara yang sama, alias efek domino.
Kalau Anda (jujurlah...) pernah menyakiti anak secara fisik, maka tanyalah pada mereka. Menurut mereka, pada saat Anda marah dan memukulnya saat itu, apa yang ada dalam pikiran mereka?

Mengagetkan bukan? Mereka menganggap dirinya salah.. Padahal yang salah adalah Anda, karena tidak menjelaskan bagian kesalahannya dan menghukum dengan kekerasan selalu merupakan kesalahan. Tapi bukan salah mereka, itu salah Anda... salah orangtuanya.

Kalau kalian, anak-anak yang dulu disakiti secara fisik. Maka jangan pernah bilang itu kesalahanmu. Kalian anak-anak, dan anak-anak akan membuat jutaan kesalahan sampai mereka menjadi pribadi dewasa. Tapi dari kesalahan itu anak-anak akan belajar untuk bertindak benar. Memukul lebih dulu sama dengan menyerang dan itu salah.

Setiap anak terlahir untuk dicintai, diajari dengan kasih sayang dan menjadi pribadi yang menyenangkan. Setiap orangtuapun berharap anak-anaknya menjadi pribadi yang percaya diri, bahagia dan mampu menghadapi sekeras apapun halangannya di dunia serta selalu sukses dimanapun ia berasa.

Tapi... bisakah anak-anak menjadi pribadi yang seperti itu kalau ia dibesarkan untuk menjadi seseorang yang sebaliknya?

Jangan pernah menggunakan kekerasan. Bahkan ketika harus memperbaiki kesalahannya dengan kata-kata. Kekerasan fisik memang kejam, tapi kadang-kadang kekerasan verbal jauh lebih kejam dan melukai lebih dalam.

Kalau pun tanpa sengaja, sebagai orangtua, Anda melakukannya karena dulunya juga mengalami. Maka ubahlah segera. Akhiri dengan penjelasan bahwa tindakan Anda juga salah, dan minta maaf pada mereka. Minta mereka untuk membantu Anda agar jangan sampai melakukan hal itu lagi, dengan sama-sama saling memperbaiki sikap. Selalu tekankan bahwa memukul sebagai hukuman adalah salah, dan jangan kuatir kalau karena itu suatu hari Anda dikritik. Justru dengan kritik itu, pola pengasuhan yang benar bisa Anda capai.



Dan anak-anakku dimanapun berada... Terlahir dari rahim seorang ibu manapun di dunia, membuat kalian punya hak lahir yang sama. Berhak dicintai dan berhak dihujani kasih sayang.


Ketika seseorang memukul kalian dengan alasan kalian berbuat salah... jangan dengarkan! Sungguh itu bukan salah kalian... Bahkan polisi saja harus memproses secara hukum ketika seorang pembunuh atau pencuri atau bahkan koruptor sebelum memutuskan hukuman mereka.

Saat kalian salah... maka maaf adalah kata-kata yang tepat dan memperbaiki kesalahan dengan bersikap lebih baik adalah hukuman yang lebih tepat.

Kata-kata orangtua adalah doa yang paling mujarab bagi seorang anak. Maka berkatalah yang baik soal apapun jika menyangkut anak-anak kita...

Jika sebuah kata dianggap doa, apalagi tindakan sebagai orangtua.

Jadilah orangtua bijak dengan selalu belajar memahami putra-putrinya dengan hati dan rasa yang terlatih sejak anak masih sebagai janin.

*****

Foto oleh: wallpaperbetter.com

13 Juni 2017

Cinta, Mimpi dan Percaya


Aku temukan…

Lewat tatap matamu, kutemukan teduh di mata elang itu

Dalam genggam tanganmu, kurasakan tulus di jemari kokoh itu.

Aku terjerat… Benang cinta yang kau belitkan di hatiku

Aku terikat…. tali kasih yang kau sematkan di dadaku

Aku tahu itu... Aku mengerti rasa itu...

Itu cinta...

Kutulis impian satu demi satu,

bukan tentang aku, tapi tentang aku dan kamu

tentang aku, kamu dan buah cinta kita.

Aku bermimpi tentang sebuah cerita indah

yang ingin kurajut bersama asa dan cinta di hati ini selamanya

Bersamamu...

Malam ini… di tengah asa menanti

Kuukir namamu di hati, kusebut namamu dalam resah membara…

Malam ini… kucari bayangmu di langit hitam, kulukis wajahmu di pelupuk mata…

Malam ini… kubuka catatan, kutulis namamu dengan pena jingga… karna aku rindu kamu

Aku percaya, suatu waktu di tengah hari yang indah

Ada cinta kembali padaku

Bawa asaku kembali, rajut benang mimpi bersama

Karena aku percaya padamu, kekasihku...

Al Qur'an yang Usang


Panas menyengat tak diindahkan oleh Ummi Syifa. Ia terus berjalan dengan bergegas menaiki tangga demi tangga hingga ke lantai empat. Suasana sudah sepi, sepanjang lorong lantai empat sudah tak ada lagi murid-murid yang berkeliaran. Bel masuk sudah terdengar sejak sepuluh menit yang lalu dan Ummi Syifa terlambat karena tadi ia harus menemui Kepala Sekolah.

Pikiran Ummi sedang bercabang. Kabar yang ia dengar sungguh mengejutkan. Tapi saat ini ia harus mengajar dan ia tak mungkin meninggalkan murid-muridnya begitu saja. Apapun yang terjadi, Ummi ingin tetap tenang. Ummi tiba di depan pintu kelas 7, satu helaan napas keras terdengar sebelum ia berdehem dan mengucap salam sembari membuka pintu, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh,” jawab anak-anak di dalam kelas. Mereka sedikit terkejut melihat kedatangan Ummi Syifa yang tiba-tiba. Ada yang bergegas memperbaiki duduknya, dan beberapa anak yang berkeliaran langsung berlarian kembali ke kursinya masing-masing. Ummi meletakkan tas di kursi serta buku-buku dalam pelukannya ke atas meja.

“Apa kabar, Nak? Seminggu ini kalian sudah masuk di bulan Ramadan. Bagaimana puasa kalian? Hayo siapa yang sudah pernah tidak puasa?” tanya Ummi dengan senyuman tersungging di bibirnya, ia mengedarkan pandangan. Beberapa anak perempuan mengangkat tangannya dengan malu-malu. Hanya satu anak laki-laki yang ikut mengangkat tangan.

Mata Ummi sedikit membulat. “Loh, Rafi kenapa puasanya?”

Rafi tersenyum malu, “saya masuk angin, Ummi. Saya muntah-muntah. Kata Mama, puasa saya batal.”

Ummi mengangguk. “Benar sekali, kalau sudah muntah dan tubuh ada yang terasa sakit seperti itu secara otomatis puasanya batal. Lain kali, sebelum berpuasa persiapkan fisik dengan baik. Karena perut kosong, jangan main kipas angin ya Fi!”

Ledakan suara tawa terdengar memenuhi kelas, termasuk Rafi yang sedang digoda Ummi. Setelah itu, anak-anak pun saling melempar lelucon tentang puasa, dan tertawa bersama-sama. Kelas Ummi memang selalu begitu. Ummi sering sekali melempar lelucon atau bercanda dengan anak-anak.

Ummi mengangkat tangan. Suara-suara pun berhenti. “Baiklah, masih ingat pesan Ummi minggu lalu? Apa kalian bawa yang Ummi minta?”

Seluruh murid menjawab dengan kompak. “Alhamdulillah, ingat Ummi!”

“Kalau begitu, sekarang keluarkan! Tapi apa kalian sudah berwudhu semua? Ada yang sedang tidak berpuasa?”

Tak ada yang menggeleng semuanya mengangguk dan suara-suara tas yang dibuka mulai terdengar. Semua anak bergerak mengambil apa yang diminta Ummi untuk dibawa. Mereka meletakkan Al Qur’an di atas meja lalu duduk dengan rapi. Suara bisikan dan tawa kecil terdengar sebelum berakhir saat Ummi berdehem pelan.

“Baiklah, sekarang Ummi periksa ya.” Ummi berjalan ke barisan pertama, kedua, ketiga dan.... matanya tertumbuk pada seorang murid perempuan yang menunduk dalam-dalam. Tak ada Al Qur’an di atas mejanya. Ummi berjalan cepat mendekati mejanya.

“Mana Al Qur’anmu, Zahra?” tanya Ummi Syifa dengan sorot mata tegas.

“Ada, Ummi. Tapi di dalam tas,” jawab Zahra tanpa berani mengangkat wajah.

“Loh, bukankah tadi Ummi bilang keluarkan? Ummi ingin kalian juga ikut melihat sekaligus menyimak ayat yang dibaca teman kalian. Sekarang keluarkan!”

Dengan ragu-ragu, Zahra membuka tas perlahan. Sebuah benda segiempat berbungkus kertas coklat dikeluarkan Zahra dari dalam tas. Ia meletakkan dengan wajah yang juga masih tertunduk.

Kening Ummi berkerut, ia menyipitkan matanya. “Itu Al Qur’an, Ra? Kenapa kamu bungkus pakai kertas coklat begitu? Itu bukan buku, buka saja. Bagaimana kalau orang lain tidak tahu itu Al Qur’an dan meletakkannya sembarangan?”

Kali ini Zahra mendongak. Ummi bisa melihat sorot matanya yang seperti menahan tangis. Tapi anak itu diam saja. Dengan patuh tangannya bergerak membuka kertas sampul yang sepertinya baru dipasang. Perlahan-lahan Ummi melihat sebuah Al Qur’an berwarna hijau tua. Pinggiran hardcovernya sudah terkelupas dan warna hijaunya juga sudah sedikit kehitaman. Saat Zahra membuka kertas sampul itu, tanpa sengaja ia memperlihatkan bagian dalamnya yang warnanya tak lagi berwarna putih bersih tapi telah berganti menjadi kuning kecoklatan. Lipatan-lipatan kecil juga terlihat di dalamnya. Benar-benar Al Qur’an yang usang. Ummi menarik napas pelan. Kini ia tahu penyebab wajah Zahra yang pucat itu. Apalagi sekarang, wajah gadis kecil itu semakin putih saat suara-suara cekikikan kecil terdengar di belakang dan di depan Ummi.

Ummi menatap tajam ke arah asal cekikikan itu, yang langsung berhenti. Lalu ia kembali ke depan kelas. “Baiklah! Karena kalian sudah siap semua, Ummi akan menyebut nama kalian dan kalian harus membaca ayat yang Ummi minta sampai Ummi menyebut nama teman kalian. Yang dipanggil berikutnya melanjutkan bacaan temannya. Jadi walaupun kalian tidak diminta untuk membaca, perhatikan bacaan teman kalian dan bersiap-siap. Mengerti!”

Dengung keluhan terdengar di antero kelas. Ummi tersenyum miris. Ia tahu penyebabnya. Meski beberapa di antara murid-muridnya sudah ada yang memasuki masa akil baliq, banyak di antara mereka tak bisa membaca Al Qur’an. Ia sengaja meminta anak-anak melakukannya hari ini, agar mengetahui kemampuan mereka.

“Buka surah Al Baqarah.”

“Yang mana itu, Ummi?” pertanyaan itu kembali membuat Ummi menghela napas. Namun, ia tersenyum sabar.

“Halaman pertama, Nak. Awalnya alif lam mim... setelah Al Fatihah.“

Pelajaran pun dimulai. Ummi mulai menyebutkan nama anak-anak bergantian. Ada yang mendapat dua atau tiga ayat. Ada yang sampai lima ayat. Mereka yang sedikit lancar membaca dengan baik, tapi yang membaca dengan terbata-bata jauh lebih banyak sehingga membuat hati Ummi benar-benar merasa sedih. Mereka sudah remaja, tapi membaca Al Qur’an saja masih belum bisa. Tak tahukah orangtuanya kalau mengajarkan Al Qur’an adalah bagian dari kewajiban mereka selama menjaga amanah dari Allah SWT?

Ummi tahu satu hal, karena itulah ia sengaja melewatkan nama Zahra. Baru setelah seluruh anak-anak selesai mendapat giliran, Ummi pun menatap Zahra. “Zahra, bacakan Al Baqarah mulai dari awal!”

“Iya, Ummi!” Zahra mengangguk. Gadis bertubuh mungil itu membalik halamannya, begitu juga teman-temannya. Tapi ia tidak menunduk seperti teman-temannya saat membaca, ia tetap duduk tegak dan suaranya yang jernih pun mulai terdengar. “Alif laam miim.Jaalikaal kitabu larayba fiihi huda lilmuttakiin...

Satu demi satu ayat dibacakan Zahra dengan jelas, ia tak hanya membacakan dengan benar tapi juga tanpa melihat pada Al Qur’an. Ummi sendiri terkejut mengetahui kalau Zahra ternyata seorang penghafal Qur’an, berarti dugaannya benar. Al Qur’an usang itulah buktinya. Teman-teman Zahra juga meliriknya dengan kagum. Bukan main! Ternyata si gadis pendiam itu memiliki kemampuan luar biasa. Wajah-wajah yang tadinya memandang dengan cemooh, kini berganti dengan kekaguman dan rasa bersalah.

Ketika Zahra membacakan ayat ke-30, Ummi mengangkat tangannya. “Cukup, Nak. Cukup sampai di situ! Terima kasih!”Dan Zahra pun mengakhiri bacaannya.

Setelah itu Ummi berdiri. “Lihat kan! Itulah yang membedakan Al Qur’an bagus milik kalian dengan milik Zahra. Al Qur’an Zahra pasti melalui hari-hari di mana setiap hari ia membuka, membaca dan menghafalnya. Meski Zahra tidak pernah memberitahu Ummi, tapi Ummi tahu setiap hari Zahra melakukannya. Bacaannya tadi yang menjadi bukti. Nah, seperti itu juga pada kalian. Pasti kalian tidak pernah membaca Al Qur’an kecuali disuruh Ummi, bukan? Buktinya... ya bacaan kalian yang masih terbata-bata dan masih salah-salah. Itu pula sebabnya Al Qur’an kalian masih sangat bagus dan rapi. Ibaratnya Al Qur’an itu pakaian kalian. Pakaian yang digunakan saat menghadap raja. Kalian yang berpakaian bagus pasti akan malu karena tak bisa menjawab pertanyaan sang raja, dan malah seseorang berpakaian usanglah yang mampu menjawabnya.”

Kepala para murid menunduk dengan malu.

“Al Qur’an itu dibaca tidak pada bulan Ramadan saja, Nak. Setiap hari, usahakanlah membaca Al Qur’an. Tak mampu satu juz, maka bacalah selembar, tak bisa baca selembar, bacalah sepuluh ayat. Tak mampu sepuluh ayat maka bacalah satu ayat. Karena dengan begitulah iman kalian terasah.”

Salah satu murid mengangkat tangan. “Satu juz satu hari kan sedikit tidak mungkin ya Ummi. Ummi bisa ajari caranya?” tanya Alya.

Ummi tersenyum. Ia menoleh pada Zahra. “Zahra, kamu dulu melakukannya kan? Bagaimana caranya?”

Zahra mengangguk. “Satu juz itu ada 12 lembar, Mi. Satu hari ada 5 kali sholat wajib. Sesudah sholat wajib saya membaca dua lembar dan sesudah magrib saya membaca empat lembar sebelum sholat isya’. Insya Allah 30 hari bisa tamat.”

Masya Allah. Rasa kagum teman-teman Zahra semakin terlihat, namun gadis itu hanya tersenyum kecil. Senang hatinya bisa berbagi tips seperti itu. Kini kekuatirannya telah lenyap, setelah Ummi membantunya. Al Qur’an usang di hadapannya tak lagi membuatnya malu, tapi justru merasa bangga. Betapa malu hatinya mengingat tadi pagi sempat ingin bolos sekolah karena takut diejek teman-temannya. Sekarang seluruh kekuatirannya telah hilang.

“Baiklah, jam hampir berakhir. Sekarang masukkan kembali Al Qur’an kalian. Ummi pesan, kalian harus belajar mengaji. Sekarang banyak sekali media untuk belajar mengaji. Ada mesjid yang bisa kalian datangi, ada ponsel yang bisa kalian upload aplikasi membaca Qur’annya dan bahkan ada orangtua kalian yang bisa mengajari kalian mengaji. Taddarus itu kewajiban ya, Nak. Tidak dilakukan di bulan Ramadan saja tapi setiap hari. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga nanti untuk keluarga yang akan kalian bentuk setelah dewasa. Mengerti?” Anak-anak mengangguk bersamaan.

Ummi menatap anak-anak muridnya. “Sekarang, Ummi ingin berpamitan. Semoga kalian semakin rajin belajar dan selamat berlibur. Semoga puasa kalian lancar dan penuh. Nanti setelah bagi raport, jangan lupa untuk tetap belajar walaupun libur ya. Ummi juga mohon maaf lahir dan batin kalau melukai perasaan kalian selama kita belajar selama ini. “

“Kami juga mohon maaf lahir dan batiiin, Ummi... “ jawab anak-anak dengan kompak. Ummi mengangguk. Lalu ia mendatangi anak-anak satu persatu, bersalaman dengan mereka. Walaupun heran, anak-anak membalas dengan sayang namun hormat.

Saat berjalan keluar, kaki Ummi Syifa terasa berat luar biasa. Namun ia menguatkan hatinya untuk terus melangkah. Hari ini, hari terakhirnya mengajar di sekolah ini karena SK kepindahannya telah keluar dan itulah penyebabnya mengapa Kepala Sekolah memanggilnya tadi. Di sekolah barunya, Ummi berharap bertemu murid seperti Zahra, gadis muda yang akan memudahkannya memberi contoh bahwa menghafal Al Qur’an bukanlah hal mustahil. Anak-anak yang telah diajarkannya selama setahun ini mungkin tak menyadari kalau tadi adalah salam terakhirnya. Tapi Ummi tak suka berpisah dengan kesedihan. Biarlah, ia ingin anak-anak mengingat pesan terakhirnya saja, bahwa membaca Al Qur’an adalah kewajiban yang harus mereka jalankan. Ummi tak ingin dikenang sebagai seorang guru agama Islam biasa, tapi ia hanya ingin pesannya dikenang dan dikerjakan oleh murid-muridnya. Semoga.

********

22 Mei 2017

Album Foto Kenangan Sahabatku


Album Foto Kenangan Sahabatku
Suara ponsel tiba-tiba terdengar nyaring memecah keheningan. Aku menatap putriku, dan ia dengan sigap mengambilkan ponsel yang sedang di-charge itu. Begitu ia menyerahkannya, aku langsung melirik nomor yang tertera.

Tak ada nama atau foto yang muncul, hanya sederet nomor yang baru kulihat. Dengan penuh tanda tanya, kutatap lama layar monitor ponsel.

“Kenapa Ma? Gak kenal?” tanya putriku. Aku mengangguk dan menyerahkan kembali ponsel itu padanya.

Kali ini putriku tak menunggu, ia menggeser tombol hijau di layar untuk menerima. Lalu ia berjalan keluar, keluar dari ruang kerjaku sambil bicara. Aku tak lagi peduli, memilih untuk melanjutkan pekerjaan.

Tak sampai lima menit, putriku kembali. Telepon telah ditutup.

“Ma, itu tadi nama Ineke. Katanya putri almarhumah sahabat Mama, Anneke,” kata putriku memberitahu.

Aku menoleh. “Hah? Anneke? Iya Mama kenal. Tapi udah lama banget. Ineke siapa?” tanyaku tak mengerti.

Memang ada salah satu mantan rekan kerjaku yang bernama Anneke. Kami bekerja di kantor yang sama sekitar 16 tahun lalu sebelum putriku lahir. Aku tak mengenal putrinya karena kami berpisah setelah aku memilih mengundurkan diri dan pindah tempat tinggal. Kami tak pernah bertemu lagi, bahkan setelah dunia medsos telah mempertemukan banyak orang di zaman sekarang. Dan sekarang katanya… ia meninggal dunia? Kenapa? Ada apa?

“Mama telepon aja deh!”

Ponselku berpindah ke telapak tanganku. Aku baru akan menelepon ketika sebuah pesan masuk.

Halo, Tante. Aku Ineke. Putri alm. Mama Anneke. Aku tahu Tante dari cerita Mama dan Papa. Katanya dulu Tante kenal baik sama Mama dan kita pernah ketemu waktu aku kecil. Kebetulan aku lagi di Jakarta, kita bisa ketemuan gak, Tan?

Aku termangu. Mengingat kembali saat-saat bersama Anneke. Tidak mudah mengenang semuanya setelah lebih dari sepuluh tahun. Apalagi saat itu aku hanya bekerja tak sampai setahun. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Bergegas aku naik ke lantai atas, menuju kamar tidur dan mencari di antara deretan album-album foto. Mataku berhenti saat melihat album berwarna putih kekuning-kuningan dengan gambar boneka panda bertaburan. Kuambil album foto itu dan membukanya.

Zaman sekarang mana ada foto-foto jelek seperti ini yang bakal disimpan. Foto dengan gambar tidak fokus, blur di mana-mana, wajah-wajah dengan keringat, polos tanpa kosmetik, pakaian kerja yang kusut dan tawa lebar berlebihan jelas bukan foto yang tergolong fotogenik. Wajah Anneke ada di beberapa foto itu, beragam ekspresinya yang tergolong konyol muncul di sana-sini.

Foto-foto itu dulu kuambil dengan kamera pocket biasa, dan karena dulu memotret bagiku hanya sekedar hobi, aku sering mengambil gambar asal-asalan. Lebih banyak karena ingin bercanda saja.

Ingatanku kembali pada Anneke. Perempuan cantik berkulit kuning dengan mata yang besar itu bekerja di lantai dua kantor kami. Kami hanya bertemu sesekali saat makan siang atau ketika ada pekerjaan yang ada hubungan dengannya. Tapi kami cepat akrab. Sepertiku, Anneke juga suka bercanda dan tertawa.

Kami semakin akrab saat aku hamil putri pertamaku, sementara putri Anneke sudah hampir dua tahun. Ketika itu di antara seluruh karyawati di kantor, hanya kami berdua yang sudah berumah tangga. Maka tak heran, keakraban kami makin intens selama aku bekerja.

Sayangnya, aku terpaksa berhenti bekerja. Walaupun sedih, saat itu aku berjanji sesekali akan tetap menemui Anneke. Tapi itu tak semudah bicara, karena setelah berhenti aku sibuk dengan pekerjaan baruku yang lain.

Kuputuskan untuk menerima ajakan pertemuan Ineke. Aku juga ingin tahu kabar Anneke hingga tahu-tahu kudengar ia tiada. Kuajak juga putriku ikut bersama.

“Tante Indah?” Suara itu membuatku dan putriku sama-sama menoleh.

Seorang gadis tinggi langsing tersenyum ramah padaku. Wajahnya mungil, rambutnya lurus panjang hingga sepinggang. Matanya tidak sebesar ibunya, namun kulitnya kuning seperti Anneke. Aku langsung ingat balita kecil yang dulu pernah diperkenalkan Anneke sebagai putrinya. Tak salah lagi, gadis ini pasti Ineke.

“Halo! Ineke ya?” tanyaku. Ineke mengangguk dan kami saling bersalaman. Kuperkenalkan pula pada putriku.

Kami mengobrol ringan, saling bertanya kabar hingga aku bertanya apa yang terjadi.

“Mama sakit demam berdarah, Tan. Tapi kami terlambat. Tante masih ingat kan Mama kalo sakit suka dicuekin aja,” cerita Ineke. Nada suaranya merendah dan matanya meredup. Tampak sedih.

Aku mengangguk sambil menekan bibirku. Menahan tangis. Tangan kanan putriku bergeser, digenggamnya tanganku erat-erat. Ah ya, tidak boleh… aku tidak boleh menangis. Sambil tetap menggenggam tanganku, putriku mengambil tas kecil berisi album foto dengan tangan kirinya.

“Mbak Ine, ini ada album foto waktu Mama Mbak dan Mamaku kerja bareng.”

“Iya, In. Ini Tante bawain. Dulu Mamamu sering jadi model Tante,” kataku mencoba bercanda. Ineke terkekeh pelan. Aku menoleh pada putriku, memberi isyarat.

Tubuh Ineke tegak tiba-tiba saat melihat putriku mulai membuka tas. Matanya tampak penuh harap saat putriku mengeluarkan album foto dari tas itu. Setelah diserahkan putriku, ia mulai membuka-bukanya.

Tak ada kata-kata yang terdengar dari bibirnya. Ia malah menggigit bibirnya, menahan tangis. Tangannya meraba setiap foto yang memperlihatkan foto Mamanya berkali-kali. Lalu bibirnya mulai bergetar, perlahan-lahan sebelum akhirnya dua tetes airmata jatuh di tangannya.

Kali ini bahkan mata putriku juga mulai berkaca-kaca. Kami bertiga sama-sama diam, tapi tahu ada cerita yang terbuka lebar di hadapan kami. Cerita tentang kehidupan seorang Anneke, ibu muda yang cantik. Hidup yang penuh tawa dan bahagia yang nyata. Bagian dari hidup seorang anak yang mungkin kembali mengenang sosok wanita terpenting baginya.

“Terima kasih, Tante. Terima kasih sudah membolehkan saya melihat ini! Mama jarang mau difoto seperti ini,” bisiknya di antara tangis yang berusaha ditahan-tahan.

Aku hanya bisa mengangguk dan tetap membiarkan tangan putriku terus menggenggam tanganku. Kutekan tangan putriku, ia pun mengangguk mengerti.

“Mbak Ine ambil saja album foto itu. Aku sudah men-scan-nya untuk Mama. Jadi Mbak bisa bawa pulang.”

“Benarkah? Boleh aku bawa ini, Tan?” tanya Ineke tak percaya. Aku hanya mengangguk. Mataku sendiri sudah banjir. Mana tahan melihat tangisan anak yang merindukan ibunya seperti itu tanpa ikut menangis.

Dalam perjalanan pulang, aku bersyukur dalam hati ribuan kali. Siapa sangka hobi memotretku ternyata membuat seorang anak bisa begitu bahagia. Memang hasilnya tak selalu bagus, tapi aku senang menyimpan foto orang-orang yang kusayangi, termasuk sahabat-sahabatku. Mengenang saat-saat indah ketika kami bersama. Sungguh aku bahagia, bisa memberikan kenangan indah yang sama untuk putrinya. Di sana… jauh di atas sana, kuharap sahabatku kembali tersenyum bahagia karena kini putrinya tak lagi sendiri. Ada aku dan putriku…














26 April 2017

Manika Bisnis, Bekerja dan Bersenang-senang

Beberapa minggu terakhir, saya bergabung dengan Manika. Teman-teman di medsos mungkin bertanya-tanya apa itu Manika?
Jadi Manika itu sebenarnya singkatan. Lengkapnya sih Komunitas Wirausaha Manika Bisnis. Manika sendiri artinya Mahasiswa dan Alumni Universitas Terbuka. Maka dapat disimpulkan bahwa Manika adalah komunitas wirausaha khusus untuk kalangan Universitas Terbuka yaitu Mahasiswa dan Alumni.

16 Maret 2017

Ponsel Tua Yang Hilang


“Sebentar, saya masukkan dulu nomornya? Berapa tadi, San?” tanya Pak Hendra, sambil menekan-nekan tombol ponsel.

Aku mengulang sekali lagi sambil tertawa kecil. Kulirik ponsel kecil mungil berwarna putih kusam di tangannya. Heran sih, kenapa ponsel keluaran sepuluh tahun lalu itu masih dipakai seorang Direktur Marketing. Ponsel yang hanya bisa dipakai untuk menelepon, menerima telepon, dan sms saja.

Padahal gara-gara ponsel kunonya aku sering kerepotan. Beberapa kali aku bilang pada Pak Hendra, untuk menggunakan ponsel pintar. Setidaknya dia tidak perlu repot mencatat informasi penting yang disampaikan klien via telepon, tinggal rekam dan masalah selesai. Ia bisa menerima telepon dalam keadaan apapun. Yang terjadi sebaliknya, saat menyetir dan tiba-tiba ada klien menelpon, Pak Hendra terpaksa meminggirkan mobil dan sibuk mencari kertas. Itu kalau kliennya sabar, kalau tidak…. Yah hilanglah kesempatan besar.

Jangan tanya berapa kali aku terpaksa mengambil inisiatif menggunakan ponselku sendiri untuk memotret sesuatu yang penting. Dan entah berapa kali pun aku harus repot-repot mencetak foto hanya karena Pak Hendra ingin melihatnya dan memerlukannya. Coba kalau dia punya ponsel pintar, aku kan tinggal mengirimkannya via aplikasi pesan.

Alasan terakhir yang sering bikin aku kesal sendiri adalah sms. Pak Hendra sih enak tinggal kirim sms berapapun padaku, lah aku… kalau hanya satu dua kali membalas sms sih tak apa-apa, tapi kalau tiap hari dan tiap kali bicara via sms harus kujawab maka stok pulsaku pun harus tersedia dengan cukup. Padahal, akan lebih hemat kalau menggunakan aplikasi pesan dibandingkan sms. Pulsa yang harusnya cukup sampai akhir bulan, selalu habis sebelum waktunya.

Jangan tanya berapa kali aku menyarankan si Bos beli ponsel pintar. Tapi dia selalu menggeleng. Dan ternyata bukan aku saja yang merasa ponsel tuanya itu sebagai masalah. Putri Pak Hendra yang sudah bekerja sebagai seorang dokter bahkan pernah datang dan menitipkan kantung tas bertulis nama merek ponsel ternama yang harganya sama dengan 5 buah ponsel milikku. Bukan main senangnya aku membayangkan kemudahan yang bakal kudapat.

Tapi, Pak Hendra malah memasukkan kantung itu tanpa mengeluarkan kotak kardus ponselnya ke dalam lemari. Menguncinya dan kembali tafakur membaca satu demi satu sms di ponsel tuanya. Putri Pak Hendra yang kulapori via telepon hanya menghela napas dan bergumam, “biarlah, Mbak Santi. Nunggu aja sampe Bapak siap.”

Akhirnya aku juga menyerah. Kalau anaknya yang kenal sejak dia lahir saja menyerah, apalagi aku yang belum setahun bekerja menjadi sekretarisnya. Toh, setelah tanpa sengaja keluhanku tercetus soal pulsa pada rekan kerja, tiba-tiba saja di slip gajiku muncul anggaran pulsa yang jumlahnya lumayan.

Sampai, suatu ketika, di tengah malam menjelang pagi seseorang menelpon kamar kosku.

“Halo?” sahutku dengan mengantuk. Mungkin dari Ayah atau Ibu di kampung, mungkin dari kakak-kakakku yang tinggal di negara lain. Wajarlah mengingat perbedaan waktu.

“San! Santi! Ini Pak Hendra, kamu lihat ponsel saya gak?”

Telingaku langsung mengenal dengan baik. Tiba-tiba mataku jadi terang benderang. Dengan sigap aku duduk. “Ponsel? Maksud Bapak?”

“Ponsel saya hilang, San. Gak tahu saya taruh di mana? Semalaman saya cari di rumah dan di kantor ponsel itu tidak ada. Kira-kira kamu lihat tidak?”

Setelah aku menjawab kalau aku tak bisa ingat di mana, telepon ditutup.

Esok paginya, Pak Hendra bekerja dengan wajah kuyu, memberitahuku bahwa ponselnya hilang. Ia memintaku mengurus nomor ponselnya agar tetap bisa dipakai dan nanti ia akan memakai ponsel baru hadiah dari putrinya.

Sejujurnya aku senang sekali mendengarnya. Rasa syukur kupanjatkan pada Tuhan yang akhirnya mendengar doa-doaku selama ini.

Setelah selesai mengurus permintan Pak Hendra dan kiriman kartu nomor ponselnya sudah datang, aku masuk ke ruangan Pak Hendra. Ia duduk melamun, memandangi foto almarhum istrinya yang ada di atas meja.

“Pak, saya masukkan ya kartunya,” kataku dengan riang. Pak Hendra hanya mengangguk.

“San, kalau bisa bantu cariin ponsel saya ya. Kemarin saya meeting dengan klien di Hotel A, tolong kamu hubungi mereka, barangkali kececer di sana. Saya akan ganti berapapun yang diminta orang yang menemukannya.”

Mendengar kata-katanya, aku makin tidak mengerti. Ponsel tua itu kalaupun dijual harganya takkan lebih dari 100ribu. Ditambah dengan kondisinya yang sebagian besar sudah lecet di mana-mana, harga segitu pun sudah terlalu  mahal.

“Tapi, Pak… Ponsel tua begitu…”

Mungkin Pak Hendra membaca isi pikiranku saat itu. Ia berbisik pelan, “Ponsel itu dari almarhum istri saya, San.” Dang! Tiba-tiba seluruh pertanyaanku terjawab sudah…

Pak Hendra menunduk, seperti terkenang sesuatu. “Dulu saya gak seperti ini, San. Jangankan punya ponsel, kerja saja saya harus naik bus. Istri saya selalu menyupport saya, selalu mikirin kepentingan saya. Dia benar-benar istri yang baik, bahkan rela ditinggal-tinggal saat saya harus keluar kota bahkan negeri lain untuk jualan. Dia selalu memberi saya hadiah… macam-macam dan semuanya untuk memudahkan kerja saya. Sampai saya lupa diri. Saya lupa kalau istri saya itu juga manusia.”

“Saya bahkan tak tahu kalau dia sakit jantung. Saya terlalu sibuk untuk sadar kalau istri saya sakit. Waktu saya sadar, istri saya sudah gak ada. Dia membelikan saya ponsel agar tetap aman dalam situasi darurat, tapi saat ia sendiri dalam kondisi itu, ponselnya malah tak berguna.”

Pak Hendra mengangkat wajahnya, matanya tampak berkaca-kaca dan ia masih berusaha tersenyum, “Karena itulah saya tak pernah bisa ganti ponsel, San. Itu hadiah terakhir istri saya. Di dalamnya ada banyak sms darinya yang sampai sekarang belum bisa saya hapus. Suaranya saja masih terekam di situ.”

“Bapak…” suara sapaan di belakangku membuat kami sama-sama menoleh. Ada Mbak Nola, putri Pak Hendra berdiri di depan pintu. Ia masuk dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ponsel tua milik Pak Hendra!

“Maafin Nola, Pak. Semalam Nola sembunyikan karena Nola ingin Bapak ganti ponsel.”

Pak Hendra hanya tersenyum pada putrinya, kemudian ia melirikku. “Sudah diganti?” Aku langsung mengangguk.

“Kalian ini… ya baiklah, mulai sekarang saya akan pakai ponsel yang baru itu aja deh. Tapi jangan disembunyikan lagi. Ini sama seperti ngambil kenangan Ibumu dari Bapak.”

Nola melirikku. “San, maaf. Harusnya tadi aku kasih kamu dulu, biar Bapak naikin gajimu 100%.”

Pak Hendra terbahak-bahak mendengar canda putrinya. Kabut sedih di wajahnya sudah menghilang.

Aku dan Nola saling pandang. Melemparkan senyum pengertian. Sebenarnya ini memang cara kami menuntut Pak Hendra mengganti ponselnya. Tapi sungguh tak disangka ada cerita di balik ponsel tua itu. Pak Hendra memang tak marah tapi rasa bersalah di hati kami terlalu besar untuk tetap meneruskannya.

Istri Pak Hendra pasti sedang tersenyum di alam sana. Dicintai oleh seseorang sedalam itu, bahkan dikenang dengan baik setelah pergi bertahun-tahun adalah hal terbaik bagi seorang istri. Bu, ponsel tua hadiah darimu bukti cinta yang tak pernah padam dari hati seorang suami.


*****

08 Maret 2017

Coretan Di Dinding


Sepi sekali. Tak ada suara anak-anak. Biasanya mereka akan berteriak-teriak hingga seisi rumah seperti sedang konser. Ditambah mainan yang berantakan, maka benar-benar mirip seperti kapal pecah.

Aku melangkah pelan ke ruang keluarga. Itu tempat terakhir aku melihat mereka. Tadi mereka sibuk menggambar di atas meja kecil masing-masing. Karena mereka anteng, makanya aku lari ke ruang kerja suamiku, meminjam laptopnya untuk berseluncur di dunia maya.

Seperti biasa, kalau anak-anak sibuk, aku juga sibuk. Sekedar meng-update status, membalas komentar atau bahkan browsing berita-berita terbaru. Ada sih ponsel, tapi tak enak membaca di layar kecil itu. Lebih enak pakai laptop, besar dan jelas.


Saat aku masuk, anak-anak sudah tak ada di depan meja mereka. Mataku justru melihat keduanya sedang berdiri menghadap dinding. Terkikik-kikik pelan sekali. Aku maju dengan dua langkah lebar dan… astaga! Mereka mencoret-coret dinding!


“Rian! Roni! Apa-apaan ini hah?” teriakku emosi. Aku langsung merampas crayon mereka dan mendorong keduanya hingga mundur bersandar di dinding. Kupandangi dinding yang sudah penuh dengan aneka gambar. Gambar rumah, jendela, pintu, berbagai jenis hewan. Sementara yang lain berupa lingkaran, kotak dan tali kusut yang tak bisa kupahami maksudnya.

Roni, putraku yang baru berumur 3 tahun kontan menjerit dan menangis keras mendengar suara bentakanku. Sementara Rian, putra tertuaku yang baru lulus TK itu beringsut mundur lebih jauh, menghindariku. Tatapan takut sekaligus bingung terlihat jelas di matanya. Tapi aku telanjur marah. Dengan kesal aku menarik tangan Rian.

“Kamu ini ngajarin adikmu yang enggak-enggak ya, sekarang bersihkan! Cepat bersihkan!” perintahku. Rian berbalik menghadap dinding, berdiri diam dan mulutnya mulai melengkung. Ingin menangis. Tanganku menyambar kain lap bekas yang ada di dekatku. Tadi lap itu dipakai untuk mengelap air putih yang tumpah dan kulemparkan pada Rian. “Bersihkan cepat!”

Meski terlihat takut, Rian mengambil lap itu dan mulai mengelapnya. Tapi makin dilap, warna crayon itu justru makin berpencar. Aku jadi kesal, dan menyambar lap itu kembali. Dengan kesal, kulap dinding keras-keras agar Rian dan Roni tahu kalau aku benar-benar sangat marah.

“Awas ya kalau besok-besok kamu berdua nyoretin dinding lagi! Nanti Mama jewer kupingnya! Rian apalagi. Kalau masih nyoret di dinding, nanti Mama gak sekolahin lagi! Tinggal di rumah aja, bersihin dinding sampe coretannya ilang. Ngerti!”

“Huhuhu, iya, Ma… huhuhu… Ngerti!”gumam Rian terisak-isak. Akhirnya ia menangis juga.

“Mbok ya kalau negor anak jangan segalak itu, Lis!” suara teguran di belakangku membuat aku menoleh. Ada kakakku berdiri di depan pintu bersama putrinya. Matanya yang ditutupi kacamata minus melotot padaku. Melihat Uwak dan kakak sepupu mereka datang, anak-anakku langsung berlari. Menangis terisak-isak dalam pelukan Uwaknya.

Aku menghela napas. Repot deh kalau dia sudah ikut campur. Kakakku paling tidak suka kalau aku memarahi anak-anak dengan kasar. Dia juga keras, tapi tak pernah memukul putra-putrinya. Anehnya, anak-anaknya tidak ada yang nakal seperti anak-anakku. Malah, anaknya yang paling bungsu justru berjiwa keibuan sepertinya. Anak yang kini berdiri bingung di sampingnya.

Tanpa mempedulikan kakakku yang menggiring anak-anakku keluar menuju kamar mereka, aku terus membersihkan dinding dan syukurlah… tak sekotor tadi. Tapi memang, tetap saja ada noda yang tersisa dan masih terlihat jelas di dinding berwarna putih itu. Aku membanting lap dengan kesal dan berbalik. Kepalaku makin sakit saat melihat pemandangan kapal pecah khas anak-anak. Buku gambar, crayon, meja yang sudah jungkir balik, mainan yang bertebaran, kertas-kertas. Duh!

Putri Kakakku, gadis kecil berumur 8 tahun yang tadi bersamanya sudah berjongkok dan mulai memunguti mainan-mainan itu. Ia memisahkan crayon dan memasukkan ke kotaknya dengan rapi. Enaknya punya anak perempuan semanis ini, tidak disuruh pun dia sudah bergerak membantuku.

“Bibi jangan marah sama Rian dan Roni! Kata Mamah, kalo dimarahi nanti anaknya makin bandel.”

Aku tertawa miris. “Mereka itu gak kayak kamu, Ra. Anak laki mah di mana-mana bandel!”

“Abang Ara enggak!” tegas keponakanku dengan suara santai.

Ah ya dia benar. Abangnya memang tidak nakal. Malah pendiam seperti Ayahnya. Sama seperti Ara, Abang juga anak yang amat teratur. Aku menelan ludah. Anak-anak kakakku memang beda dari yang lain. Mana bisa disamakan! Kakakku kan memang kerjanya mendampingi anak-anak bermasalah, wajar kalau dia lihai menghadapi anak-anak. Itu sebabnya tidak heran kalau anak-anaknya tidak ada yang bandel.

“Bibi tanya gak kenapa Rian ama Roni gambarnya kok di dinding?”

“Hah?” Aku terperangah. Tersadar dari lamunan. Pertanyaan Ara menggelitik hatiku.

Ara tersenyum padaku, berdiri dan meletakkan kotak krayon di atas meja belajar Rian. “Iya, kalo kita di rumah lagi bandel dan bikin Mama marah, Mama biasanya selalu tanya dulu kenapa begitu?”

“Nanya kenapa Ara atau kakak nakal?”

Ara mengangguk. “Iya! Bibi tadi udah tanya sama Rian?” tanya gadis kecil itu lagi dengan mata besarnya.

Aku terdiam dan menggeleng pelan.

“Kalau begitu, Ara tanyain ya!” Gadis kecil berambut panjang itu pun berlari keluar menuju kamar Rian. Meski ragu, aku menyusulnya.

Di kamar, kakakku duduk sambil memangku kedua anakku di atas tempat tidur Rian. Rian di sebelah kanan dan Roni di sebelah kiri. Keduanya sudah berhenti menangis. Ara yang baru masuk langsung berdiri di depan mereka. Aku memilih berdiri di pintu saja, memandangi mereka. Ada rasa penyesalan terselip di dadaku melihat mata sembab kedua putraku.

“Tadi kenapa Rian gambarnya di dinding? Kakak liat ada buku gambar kosong di meja,” tanya Ara sambil mengelus pipi Rian. Rian menggeleng, menolak menjawab.

“Iya Rian, kenapa gak di buku gambar?” tanya Kakakku juga dengan suara lembut.

Kali ini Rian melirikku sedikit. Aku pura-pura melihat ke arah lain. Aku juga ingin tahu jawaban jujurnya, dan bukan karena takut padaku.

“Supaya bisa dilihat Mama, Kak… “jawab Rian setengah bergumam, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ara menggaruk-garuk kepalanya. “Kan di buku gambar juga bisa dilihat sama Bibi!” kilah Ara.

Rian menggeleng, “Mama gak pernah mau lihat gambar Rian yang di buku gambar.”

Roni, adiknya mengangguk-angguk setuju. Kepalaku seperti disiram air es mendengar jawaban polos putraku.

Iya, benar. Aku tak pernah mau menggubris apapun gambar yang mereka hasilkan di buku-buku gambar besar yang kuberikan. Begitu selesai digambar, aku membereskan dan menyusunnya di lemari. Nanti saja. Selalu nanti saja… hingga akhirnya aku hampir tak pernah melakukannya.

“Jadi Rian gambar di dinding, supaya bisa dilihat dan dinilai sama Mama?” tanya Kakakku sekali lagi, sambil melirikku dengan pelototan yang lebih mengerikan daripada ibu kami dulu. Aku menunduk malu saat kedua putraku mengangguk bergantian.

Kakakku memutar wajah Rian agar melihat padanya. “Rian sayang, besok dan besoknya lagi, kalau Mama gak mau lihat dan gak mau kasih nilai sama gambar Rian yang di buku gambar, Rian boleh coret dinding lagi. Gambar jendela sama pintunya yang guedeee, biar Mama capek bersihin dindingnya. Biar Mama gak onlen melulu sama medsosnya dan perhatiin Rian sama Roni ya! Ngerti pesan Uwak kan?”

Roni turun dari tempat tidur, “Segini boleh, Wak?” tanyanya polos sambil membentangkan tangannya lebar-lebar. Kakakku mengangguk tegas, dan sekali lagi melemparkan tatapan awas-kalo-berani-marahi-mereka padaku.

Malam itu, kakakku mengirim pesan Whatsapp yang sangat panjang. Mengomeliku habis-habisan. Tapi aku ikhlas menerimanya, penyesalan karena memarahi putra-putraku tanpa bertanya membuatku bersedia menerima hukuman apapun, termasuk omelan dari kakak yang menggantikan posisi almarhumah ibuku. Ada pesan kakakku yang tak bisa kulupakan.


Sebelum marah, tanya dulu sebabnya. Karena anak-anak pra sekolah selalu memandangi ibunya bagai malaikat atau ibu peri dalam cerita dongeng, dan mereka akan selalu memuja ibunya. Ibu adalah kiblat mereka. Jadi semua perbuatan nakal pasti karena alasan yang sama… ibunya. Jangan buat mereka berhenti mengagumi ibunya hanya karena dia tak mampu menahan emosi. Tak ada ibu yang paling sedih di dunia, selain dia yang kehilangan rasa hormat dari anaknya sendiri.


*****