Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2017

Sepatu Hilang

Ceroboh ternyata sifat keturunan!

Itu kesimpulan pribadi saya setelah mengamati tingkah polah Kakak selama ini.

Bukan hal yang aneh kalau saya mengadu pada Ayah.

Tadi helm ketinggalan di tukang jus, atau tas tangan ketinggalan di cafe waktu rapat, dompet di laci kantor, ponsel lagi dicharge di restoran pun bisa ketinggalan. Untungnya semua barang itu bisa kembali.


Tapi jangan tanya berapa kali barang-barang bawaan itu hanya tinggal cerita. Tas isi mukena tertinggal di mesjid, earphone set tertinggal di wisma saat wisuda, charge ponsel tertinggal di hotel saat berlibur, bahkan belanjaan saja pernah tertinggal di taksi dan itu masih banyak lagi.

Saking biasanya kehilangan, saya selalu memilih barang-barang pribadi yang murah-murah saja, toh paling juga ilang suatu hari nanti. Begitu ilangpun, ya sudah biasa saja. tak perlu dibahas tak perlu disesali. Siapapun yang menemukan saya berharap mereka menggunakannya dengan lebih baik.

Ternyata si Kakak juga sama. Malah anak saya yang satu ini ratunya ngilangin barang lebih dari emaknya. Entah karena teledor dan ceroboh seperti saya, namun kadang memang dicuri orang. Payung, ponsel, tas, uang, bahkan alat tulisnya yang super komplit dan buku sekolahpun pernah ilang.
Padahal dalam urusan kebersihan dan kerapian, Kakak tergolong perfeksionis. Saya menyebutnya begitu, karena kakak tak bisa melihat barang-barangnya terkena noda, kotoran bahkan lecet sedikit. Dia akan langsung membersihkannya sendiri meski menurut orang-orang kayak emaknya sih masih gak papa.

Tapi cerita hari ini memang harus diabadikan. Lucu soalnya...
Pagi hari saat tengah menyiapkan sepatu, mendadak pagi  yang tenang berubah jadi ramai. Sepatu Kakak hilang!
Anehnya, sepatunya hanya hilang sebelah...
Kakak justru tak tampak panik. Dikiranya sayalah yang menyembunyikan sepatu miliknya. BIasa... iseng. 
Padahal saya sendiri terlalu sibuk ... tidur lagi setelah sahur karena belum tidur semalaman. Ayah sampai membangunkan dan bertanya. Jelas saya langsung sewot. Baru lima belas menit memejamkan mata yang sudah tak bisa ditolerir kantuknya, eh disuruh ngembaliin sepatu. Sepatu apaan!!

Akhirnya, seisi rumah benar-benar kelimpungan mencari sepatu kiri milik Kakak. Aneh... masak ada maling ngambil sepatu cuma sebelah?
Rasa kantuk Emak sampai ilang karena penasaran. Tapi sampe keluar pagarpun tetap saja sepatu Kakak tak ditemukan. 
Analisis 'kemalingan' di TKP pun dilakukan. Pagar yang celahnya memang agak jarang itu bisa saja menjadi penyebab. Dengan kaitan sedikit panjang, gampang sekali meraih sepatu-sepatu yang seringkali diletakkan sembarangan oleh anak-anak. Nah, sepatu Kakak itu selalu terletak paling atas karena dia tak suka sepatunya ditindih sepatu atau sandal lain.

Tapi seperti biasa, kami meminta Kakak ngiklasin dan pergi ke sekolah dengan sepatu lama yang sudah sempit dan sobek sedikit. Maklumlah, Kakak juga penggemar sepatu berwarna, jadi sepatu hitam miliknya ya cuma satu, untuk ke sekolah.
Sepanjang pagi, saya masih penasaran. Bersama Ayahnya, kami mencari di sekitar rumah bahkan termasuk di jejeran pot-pot bunga yang ada di depan rumah. Nihil. Tak ada. Saya menyerah, meminta si Ayah untuk membelikan saja yang baru esok hari. Kebetulan besok hari lahir Pancasila, Kakak hanya ada jadwal upacara saja.

Karena hari ini saya masih terbebas dari rutinitas kantor, maka saat rumah sepi, saya berniat tidur. Sudah lebih dari 18 jam saya belum tidur sama sekali. Tapi belum ada lima menit naik ke kamar dan mulai memejamkan mata, tiba-tiba telepon rumah berdering dan sms bertubi-tubi datang. Siapa lagi kalau bukan si Adek, yang memberitahu, Dompet Pira Ilang!!!

Ya Allah, kapan saya bisa istirahat ya Allah?

Dengan berusaha tetap sabar, mengingat puasa yang lagi dijalanin, lagi-lagi saya meminta Adek untuk ikhlas. Udah biarin... ikhlasin...

Tapi si kecil itu kayaknya kesal banget dan terus mengeluh melalui sms. Saya nyerah. Mata terlalu ngantuk dan mengingat sejam lagi harus bangun mengendarai kendaraan untuk menjemput Adek, ponselpun dimatikan.

Tepat satu jam, saya bangun dan bersiap-siap. Menyalakan ponsel dan pesan beruntun masuk. Isinya... informasi dari Adek kalauu dompet jajannya sudah ketemu. Dikembalikan oleh.... siapapun malingnya yang menurut Adek takut ketika Adek dan teman-teman baiknya mengancam akan mengadu ke guru. Jiah... anak-anak!!
Saya memilih tak membahas apapun soal kehilangan selama masa berpuasa, tapi begitu magrib tiba, saya menggoda anak-anak, membangun suasana ceria termasuk meledek Kakak.

Saya "Sakit hati itu bukan karena sepatunya hilang ya Kak, tapi karena yang ilang cuma sebelah, hahahaha....."

Kakak "Weeei, forget it ok!!" 

Ayah, "Udah, simpen aja sebelahnya itu, nanti hari libur Ayah cariin sebelahnya di Poncol, Banyak sepatu bekas di sana."

Abang, "Hihihi... hebat dong jadinya. Sebelah kanan dari Pasar Baru, sebelah kiri dari Poncol, Berjodoh sepatunya ya Yah!"

Kakak, "Udaah naaa.... makin kesel sama malingnya."

Untungnya kami harus menunaikan ibadah sholat magrib. Tapi bukan berarti kakak berhenti dikerjain. Begitu selesai salam-salaman, tiba-tiba Ayah kembali ke posisi berdoa.

Ayah, "Eeh, doa lagi doa lagi, Ayah lupa..."

Kami bingung, sejak kapan doa pake acara tambahan model gitu. Tapi karena beliau sang Imam di rumah, maka semuapun dengan patuh kembali ke sajadah masing-masing.

Tapi... doa Ayah kali ini berbahasa Indonesia!

"Ya Allah, sadarkanlah maling di sekitar rumah kam bahwa seharusnya kalau mau ngambil itu dua-duanya, bukan cuma satu. Buatlah ia sadar kalau mengambil satu itu membuat pemiliknya malu bukan main."

"Ayaaaah!!!"

Abang, "Kasihanilah kakakku ya Allah, semoga ia sadar kalo kaki kanannya lebih bau dari kaki kiri... weeek!" Dan Kakakpun mulai melakukan serangan fisik ke Abang, dibantu si Adek yang sempat merasakan kehilangan juga hari ini.

Maka suara tawa di rumah mungkin sudah nyampe ke jalan raya saking ramenya.

Mmm... sebenarnya itulah cara saya dan Ayah membuat anak dengan cepat melupakan masalah mereka. 

Hanya saja, usai sholat Magrib dan kami bersiap sholat taraweh, tiba-tiba mata Ayah melihat sesuatu menindih daun-daun di pot bunga. Ketika Ayah mengecek, ternyata itu sepatu Kakak!!!!

Heh?

Kami sekeluarga benar-benar dibuat bingung. Lah ini malingnya kok malah ngembaliin?

Sekali lagi Abang menganalisis. "Berarti benar, Mak! Fix dah!"

Saya, Kakak dan Ayah, "Apaan?"

"Kaki Kakak dua-duanya bau!!!"

"REZA!!!"

*****








25 Mei 2017

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP dan SMA Jakarta

Tahun 2016 kemarin saya mendaftarkan dua anak ke sekolah mereka yang baru. Satu di SMA, dan yang lain di SMP. Keduanya saya masukkan di sekolah negeri karena dua faktor. Yang pertama adalah kualitas sekolah negeri di Jakarta jauh lebih baik dibandingkan tingkat swasta. Yang kedua karena sekolah negeri selalu gratis.

Mungkin karena itulah peminat sekolah negeri di Jakarta sangat banyak, sehingga tak heran persaingannya pun sangat ketat. Bahkan banyak orangtua dari sekitar Jakarta tapi berada di daerah Bekasi, Bogor dan sekitarnya ikut mendaftar di sekolah-sekolah Jakarta karena dua faktor yang sama seperti saya. Kualitas bagus dan gratis. Alhamdulillah kedua putra-putri saya berhasil diterima di sekolah-sekolah pilihan kami sekeluarga.

Saya ingin berbagi pengalaman karena banyak yang bingung dengan mekanisme pendaftaran anak baik di SMP maupun SMA.

24 Mei 2017

Hubungan Ibu dan Anak

Belakangan saya baru sadar kalau hubungan saya dengan anak-anak terbilang berbeda dengan hubungan ibu-anak lain. Ini karena banyak orang yang mulai mempertanyakannya.

Awalnya, beberapa orang bertanya saya ini kakaknya atau ibunya dua remaja saya, lalu sorot mata terkejut atau bingung yang saya tangkap saat jawaban diterima.

Semakin ke sini, saya semakin yakin kalau alasan orang-orang menganggap saya 'tak setua' umur seharusnya bukan karena penampilan yang terlihat muda atau wajah awet, tapi karena gaya bicara dan tingkah laku saya saat berinteraksi dengan anak-anak saya.

Sejak belajar ilmu psikologi secara resmi, saya memang memilih metode yang cukup kontroversi sebagai pola pengasuhan ketiga putra-putri di rumah. Pola yg bisa membuat saya bisa lebih dekat dgn anak2 dan membuat anak-anak lebih terbuka pada saya.

Alhamdulillah, pola ini juga disetujui suami. Jadi lima tahun terakhir, pola inilah yang kami pilih.

"Anak adalah pribadi berbeda, ia bukan orangtuanya, tapi ia pribadi utuh sama seperti orangtuanya, punya hak dan kewajiban yang harus diajarkan dan juga dihormati."

Selama ini kami, terutama saya, meminta bahkan mengajari anak-anak cara mengkritisi kalau ada tindakan atau tingkah laku saya atau ayahnya yang salah. Kami meminta mereka juga, bertanya jika tak mengerti alasan kami marah, agar masalah bisa diselesaikan dan bukan sekedar omelan panjang lebar tak berguna.

Kami juga membiarkan anak-anak membalas ejekan atau ledekan yang kami lemparkan. Oh ya, untuk membuat anak-anak terbiasa menghadapi bully atau ejekan mulut, kami memang sengaja sering bercanda dengan gaya ini. Tapi, di saat normal ketika ada berita atau drama tentang bully atau efeknya, saya memberi penjelasan ringan dari sisi psikologi.

Saya ingin anak-anak menganggap bully ejekan hanyalah satu tepukan kecil yang tak menyakiti. Namun, di saat yang sama mereka paham kapan dan pada siapa melakukannya.

Maka, jangan heran ketika dalam perkembangannya, anak-anak sering menyebut nama saya atau ayahnya dengan bebas, mengkritik dan membully dengan ledekan saat becanda tanpa canggung, bahkan berdiskusi serius hingga cenderung berdebat sampai menyebut nama panggilan saya atau ayah mereka. Kami sudah sangat biasa dan kalaupun sedikit berlebihan, biasanya saya langsung menegur. Tapi itu jarang sekali. Bahkan rasanya tak pernah.

Dalam setiap event atau ada masalah keluarga, saya dan ayah mereka selalu bertanya dari sudut pandang mereka. Kadang mereka juga bingung solusinya apa, tapi saya ingin mereka merasa dianggap sebagai bagian penting keluarga walaupun hanya mendengar. Keterbukaan inilah yg menjadi alasan mengapa anak2 juga terbuka pada kami.

Jika suatu ketika mendengar putri saya berkata, "Dirimu salah, Mak..." atau. Putra saya menyebut, "Mbak Iin, hari ini anakmu..." atau ketika si bungsu dengan santai mengucap, "iin itu mamaku yang paling...", anggaplah itu bagian dari cara mereka berekspresi, bukan bentuk ketidakhormatan.

Dulu sekali, ada alm. Nenek yang tak canggung dipanggil nama saja oleh putra yg ia lahirkan yaitu paman saya, seorang wanita yang berkarir politik di separuh usianya, yang mengajarkan tentang makna dihormati dan menghormati yang sesungguhnya pada saya. Dialah awal dari pemikiran bahwa anak seharusnya diasuh menjadi diri mereka sendiri, bukan fotocopy orangtuanya.

Saya ingin selalu dekat dengan anak-anak, mempelajari semua yang mereka suka, memahami yang mereka inginkan dan mengerti cara berbicara yang sesuai dengan keinginan mereka. Karena saya ada untuk mereka, bukan mereka ada untuk saya...

23 Mei 2017

Kalau Anak-anak Sering Berantem Di Rumah


Akhir pekan lalu, seorang teman mengirimi saya pesan melalui WhatsApp.
“Bun, aku bingung nih, anak-anakku sering banget berantem. Kalau lagi weekend begini, dan kami di rumah semua, mereka hanya bertengkar, berkelahi. Pokoknya rumah gak pernah damai. Mrk bru damai kalo kuajak jalan ke mal. Tapi ya cape. Aku juga pengen istirahat di rumah sesekali. Dan….”

Keluhan teman ini sebenarnya cukup panjang, tapi kita sudah mendapat inti masalahnya.

Hubungan dua anak atau lebih dalam rumah tangga memang sangat riskan terjadi masalah. Banyak faktor penyebabnya yang saling terkait. Setiap kaitan itu tak hanya sebatas antara anak dan orangtuanya, namun juga faktor lingkungan, sekolah bahkan segala hal yang turut mengisi kehidupan anak.

10 Maret 2017

Permainan Yang Mematikan

Belakangan ponsel saya dibanjiri video anak-anak yang sedang bermain Skip Challenge. Banyak orangtua bertanya cara mencegah anak-anak mereka bermain permainan berbahaya itu. Padahal saya sendiri sudah tahu soal permainan sejak bulan Oktober 2016, ketika dilakukan oleh teman dari salah satu anak saya.
Saat itu, beberapa orangtua sampai harus datang ke sekolah dan hampir semuanya meminta agar pihak sekolah mengawasi anak-anak dengan lebih tegas. Untungnya pihak sekolah memang sangat tegas, bahkan sampai menerapkan aturan baru yang sebenarnya menambah tugas para guru di sekolah tapi mengurangi kekuatiran orangtua.

Saya tak menyangka kalau permainan ini ternyata telah menyebar, hingga dibuat video viral. Video itu sebenarnya bagai dua mata pisau, yang satu karena bisa membuat mata para guru dan orangtua yang tidak tahu akan segera melek melihat kejadian tersebut, tapi di sisi lain justru menimbulkan keingintahuan lebih besar buat anak-anak lain yang tidak tahu dan akhirnya ingin mencoba.

Anak-anak, apalagi remaja, itu penuh dengan rasa ingin tahu yang kadang-kadang berbahaya. Mereka tak takut mencoba hal-hal ekstrim karena mengira itu bagian dari kehidupan yang harus dipelajari.

Jenis permainan ini hanyalah satu dari sekian banyak permainan berbahaya yang dilakukan anak-anak di sekolah. Pernah tahu kalau ada permainan tumpuk menumpuk tubuh? Atau permainan menyusun kursi dan lalu anaknya naik ke atas, makin banyak kursinya, makin keren menurut mereka? Bahkan ada jenis permainan main cekik-cekikan yang sudah banyak memakan korban di luar negeri...

Saat mereka membahas tentang permainan itu, saya harus geleng-geleng kepala karena takjub mendengar alasannya, “Bun, itu kan olahraga. Melatih fisik biar tahan banting.”

Akhirnya, saya harus susah payah menjelaskan bahwa tubuh mereka sangat riskan dan rapuh. Tulang rusuk yang rentan patah, tulang leher yang dipenuhi syaraf-syaraf penting, bahaya aliran darah ke kepala yang terhenti, perut dan ulu hati yang sensitif dan lain-lain. Apalagi sudah bukan rahasia, setelah menginjak usia remaja, kebanyakan anak-anak memilih bermain gadget dibandingkan beraktifitas di luar rumah. Jelas kualitas kesehatan tubuh mereka berbeda dengan zaman anak-anak sepuluh tahun yang lalu.

Sebagian besar dari mereka mungkin lupa pelajaran Biologi, IPA atau Penjaskes yang menjelaskan anatomi tubuh, kesehatan dan bahaya kekerasan pada manusia karena tingkat kecerdasannya. Tapi yang lebih berperan dalam pikiran anak-anak seusia ini adalah emosi, jadi meski tahu bahayanya pun mereka tetap menganggap permainan seperti itu sebagai sesuatu yang menantang.

Kebiasaan memainkan sesuatu berbahaya ini sebenarnya dimulai oleh para orang dewasa juga. Coba… masih ingatkah sistem perploncoan yang sempat marak di setiap tahun ajaran? Adakah hukuman yang nyata diberikan pada pelaku-pelakunya saat dulu sistem itu berlaku luas? Jika ada yang tewas, barulah ribut-ribut dan pelakunya dihukum setelah semuanya sudah tak ada gunanya lagi.

Sejak anak-anak masuk sekolah, orangtua seharusnya mulai memberikan rambu-rambu keamanan bagi anak. Mulai dari siapa saja yang boleh menyentuh tubuh mereka, bagaimana sentuhan itu dilakukan dan apa yang harus dilakukan ketika ia merasa tidak nyaman dengan sentuhan.

Hal lainnya adalah memahami bentuk-bentuk kekerasan. Ingat satu hal, anak-anak itu seperti kertas kosong. Mereka tak tahu apa-apa. Karena itu penting sekali berkomunikasi dengan mereka tentang arti kekerasan. Seperti cerita saya di atas, banyak di antara mereka yang sulit membedakan antara olah tubuh dan kekerasan fisik.

Saya selalu menekankan pada anak-anak… tidak hanya anak saya, tapi semua yang pernah saya tangani, untuk belajar menyayangi tubuh mereka. Kalau mereka sulit membedakan mana kekerasan, mana permainan, saya minta mereka merasakannya. Jika permainan itu menyakitkan, atau akan membuat mereka sakit atau terasa tidak enak di salah satu bagian tubuh mereka, itu tergolong permainan berbahaya.

Permainan berbahaya bermacam-macam, termasuk olahraga beladiri. Tapi untuk memainkannya, harus ada pengawasan orang dewasa. Olahraga apapun, kalau dilakukan dengan sembarangan bisa berbahaya, karena itu peran orang dewasa sangat diperlukan. Walaupun belakangan sejak menangani secara serius, saya justru menemukan banyak guru dan Kepala Sekolah yang masih menganggap beberapa jenis kekerasan, bukan kekerasan. Bahkan saya menemukan fakta banyak orang dewasa yang juga melakukan permainan bodoh yang mematikan ini. Sungguh miris.

Karena itu penting bagi kita, baik orangtua untuk mengenal lebih dekat pada bentuk-bentuk kekerasan dan pencegahannya.

Kekerasan adalah sesuatu yang menyakiti dan menyebabkan penderitaan. Jadi intinya mereka yang merasa sakit, merasa menderita dan atau ditunjukkan oleh reaksi tubuh, sudah tergolong kekerasan. Reaksi tubuh ini antara lain rasa sakit, lebam atau penggumpalan darah di kulit, sampai pingsan atau kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.

Jadi, jangan terpatok pada satu pendapat apabila menemukan seseorang yang membantah bentuk kekerasan. Jangan ragu mencari tahu ke pihak-pihak terkait seperti dokter atau tenaga medis profesional.

Maka, saran saya sebagai pencegahan.

Melarang tanpa menjelaskan itu percuma meski setiap hari mengatakannya. Lebih baik jelaskan dengan detil, kalau perlu beri penjelasan mengenai bahaya permainan itu.

Kalau orangtua sendiri tidak paham soal bahayanya, berusahalah mencari tahu dengan googling, membeli buku atau kalau perlu konsultasi dengan dokter.

Buatlah atau kreasikanlah permainan lain yang jauh lebih aman tapi cukup menantang.

Anda bisa mulai melakukan permainan itu bersama anak-anak. Tapi kalau tidak, banyak olahraga fisik yang jauh lebih aman, lebih berguna dan telah terbukti meningkatkan prestasi sekaligus kesehatan.

Selalu lakukan pengawasan terhadap anak.

Libatkan diri dengan guru-guru atau pihak sekolah, juga sesekali dekatkan diri pada teman-temannya.

Anda bisa meminta anak untuk mengundang teman-teman sesekali makan-makan di rumah, Anda tak perlu duduk bersama mereka, cukup dengarkan saja obrolan mereka. Sapa dan dekati teman-teman anak tanpa memperlihatkan keingintahuan Anda, setelah beberapa kali. Perlakukan saja mereka seperti seorang sahabat, tapi jangan terlalu dekat. Biasanya tak lama mereka akan sibuk mengumbar tingkah laku ‘negatif’ anak kita dan dianggap sebagai candaan. Santai saja, jangan langsung marah kalau tahu. Anggap itu peringatan awal dan lakukan langkah preventif yang persuasif.

Langkah tegas untuk menghentikan kebiasaan

Inilah yang sering menjadi sumber malapetaka lain. Kalau sudah tahu anak kita ternyata bandel atau melakukan sesuatu yang mungkin membahayakan dirinya atau temannya, segera lakukan langkah tegas. Saya pribadi akan meminta bantuan pihak sekolah dulu, jika tidak berhenti, saya memilih untuk memindahkan sekolahnya. Pindah sekolah bukanlah hal yang mudah bagi seorang remaja, apalagi yang sudah terbiasa dengan lingkungan sekolahnya termasuk teman-temannya. Meski langkah pindah sekolah juga bisa menimbulkan masalah lain dalam pendidikannya, tapi itu jauh lebih baik daripada membahayakan nyawanya.

Oh ya, tambahan... anak-anak yang tidak atau jarang bermain (fisik) di rumah atau kurang aktif dalam kegiatan di luar sekolah secara fisik dan mental, memiliki kecenderungan lebih besar melakukan permainan berbahaya ini.

Semoga tak ada lagi permainan menantang yang membahayakan anak-anak di Indonesia.


*****

05 Maret 2017

Permainan Membaca Pemikiran Anak



Ada satu permainan yang sering saya mainkan bersama anak-anak. Permainan berpikir yang memancing tak hanya tawa geli, tapi mengajari saya untuk memahami anak-anak jauh lebih dalam ke pemikiran mereka yang kadang-kadang sulit dibaca.

Kita, sebagai orangtua, seringkali sulit memahami mengapa seorang anak selalu melihat segala sesuatu berbeda dengan orang lain. Padahal, sama seperti kita, anak-anak juga sering tak paham mengapa orangtua mereka berpikir berbeda.

Karenanya, saya menciptakan permainan otak ini.

Sebagai contoh, saya meminta anak-anak menuliskan keinginan mereka. Entah itu, ingin sepatu baru, ingin mencoba rambut baru, ingin kursus tambahan, ingin berhenti dari ini atau itu. Sampai kemudian ke hal-hal biasa. Ponsel, sayuran hijau, televisi, Ayah, Adik, belajar, sepeda motor bahkan sampai ke soal berat badan. Lalu kami menuliskan sendiri, apa yang terlintas saat memikirkan hal itu.

Hasilnya …

Kursus



  • (OT) untuk menambah life skill anak-anak

  • (Anak) Biar tambah keren dong!

Baju Baru



  • (OT) Karena tubuh anak-anak sudah makin besar

  • (Anak) Kalo udah mulai bosen, bilang aja udah kekecilan.

Sayuran hijau



  • (OT) Supaya anak-anak sehat

  • (Anak) Wueek! Gak enak! Kan sekarang banyak vitamin, sama aja.

Televisi



  • (OT) Televisi tidak baik kalau terlalu lama

  • (Anak) Orangtua selalu mikir nonton gak baik pastinya, padahal kita banyak belajar dari TV.

Belajar



  • (OT) Alhamdulillah, itu demi mencapai masa depan yang bagus untuk anak-anak

  • (Anak) Daripada denger Emak ngomel. Daripada dibully guru karena bodoh. Ya nasib deh, penderitaan demi sebuah kesuksesan. 

Ayah



  • (OT) Seseorang yang seharusnya diajak kerjasama oleh Emak, tapi selalu berkhianat kalau diajak anak.

  • (Anak) Seseorang yang selalu bisa kompromi, selama Emak gak tau

Berat Badan



  • (OT) Kalau nambah artinya sehat

  • (Anak) Kalau nambah artinya siap-siap dibully sekelas

Sepeda motor



  • (OT) Bahaya!

  • (Anak) Biar gampang ke mana-mana, gak nunggu ojek online yang lama, gak nunggu Emak atau Ayah jemput pake acara ngubek2 seisi sekolah kalau gak ketemu…

Note: OT > ORANGTUA

Permainan ini banyak membuka mata saya bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari anak-anak, apalagi ketika mereka telah beranjak remaja. Sulit berbicara dengan mereka secara serius, dan satu-satunya cara justru dimulai ketika mereka masih anak-anak. Kalau kita terbiasa berbicara sejak kecil, maka mudah saja berbicara saat mereka remaja. Tapi kalau sudah telanjur jauh sejak awal, maka sulit pula bicara pada mereka.

Masa remaja adalah masa transisi yang penuh dinamika emosional. Sementara orangtua justru memiliki pandangan jauh ke depan dan mengesampingkan perasaan. Inilah yang membuat jarak dan perbedaan pemikiran orangtua dan anak. Maka jangan heran, banyak anak yang memilih menjauh dari orangtua ketika mulai memasuki masa remaja. Istilah mereka ‘orangtua tidak pengertian’

Padahal, salah satu tugas orangtua adalah mendampingi dan membimbing anak-anak. Tak mungkin mereka tak mengalami masalah dalam kehidupannya, karena itu tugas orangtualah membantunya. Tapi kalau orangtua tak mengerti kondisi anak, bagaimana ia bisa membantunya?

Mari mencoba melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda, anak yang memahami orangtua, dan orangtua yang memahami anak. Satu permainan sederhana, bisa membuat keduanya saling memahami. Mungkin juga belajar dari permainan sederhana ini, maka orangtua dan anak bisa saling bertukar pikiran cara paling tepat untuk berkomunikasi dengan lebih baik.


Anak adalah amanah yang harus selalu dijaga dengan kesungguhan hati. Bagai sebuah buku, setiap lembarnya adalah hal baru. Anak adalah buku yang takkan pernah selesai dibaca, dan kita akan selalu menikmati halaman terbarunya. Maka jangan pernah berhenti membacanya, karena anak-anak adalah buku paling berharga di dunia.


*****

28 Februari 2017

Saat Membawa Anak Sambil Bekerja Dianggap Membawa Kekacauan


Bunda Iin Photography
diarybundaiin.blogspot.co.id

Soal bawa anak sambil kerja, saya jagonya...

Kakak baru berumur 40 hari lebih, saya sudah bawa dia seminggu 3x Kemayoran - Green Garden. Kebayang jauhnya kan? Semua demi ASI eksklusif. Tahun 2001 itu pemandangan ibu-ibu bawa anak apalagi bayi ke kantor merupakan pemandangan luar biasa aneh di mata kaum pria. Tapi Alhamdulillah, semua pria di kantor saya saat itu malah ikut membantu ketika Kakak yang kecilnya lumayan cengeng itu menangis saat Emaknya masih bekerja.

Kakak juga jadi jago main di bawah meja makan setelah umurnya 2 tahun, tiap kali Emaknya meeting makan siang dengan rekanan atau klien. Padahal Kakak itu dulu sempat terlambat bicara, tapi saya tak pernah mengalami kesulitan berarti tiap kali membawanya ikut serta. Gak ada istilah ngamuk-ngamuk gak jelas atau tantrum berlebihan selama masa-masa itu. Kakak cukup anteng, selama ia tidak lapar dan merasa nyaman. 

22 Februari 2017

Ibu Bekerja, Mereka yang Tersudutkan.


Sudah lima belas menit sejak pesawat meninggalkan landas pacu Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mata yang mengantuk dan tubuh yang lelah akibat lembur mengerjakan presentasi untuk proyek ini selama beberapa hari membuat saya langsung tidur begitu duduk di kursi penumpang.


Tak seperti tiga perjalanan internasional sebelumnya, pagi ini saya berangkat terlalu terburu-buru untuk menikmati perjalanan. Mungkin karena mulai terbiasa, anak-anak juga hanya menggumam tak jelas saat dini hari tadi saya berpamitan. Mereka sudah menitipkan oleh-oleh dan foto tempat yang diinginkan semalam, ketika saya menge-pack barang. Hanya Ayah, suami tercinta yang mengantar hingga pintu keberangkatan. Bertahun-tahun bersamanya, satu hal yang tak pernah berubah adalah satu hal itu. Ia selalu terlihat kuatir tiap kali saya pergi sendirian dan mengantar hingga pintu keberangkatan.


Dengan mata mengantuk, saya melirik ke sebelah. Seorang wanita cantik berjilbab merah muda dengan motif bunga-bunga tampak tengah duduk tegak menatap keluar jendela. Sorot matanya begitu sedih. Seperti menyimpan sejuta masalah. Kantuk saya mendadak sirna. Saya menegakkan punggung, masih sambil memperhatikan wanita itu.


Perjalanan kerja kali ini memang mendadak. Hanya kurang dari tiga hari, kami harus berangkat. Itupun setelah saya bernegosiasi dengan Manajer, karena tiga dari anggota tim adalah ibu rumah tangga termasuk saya. Kami harus mengatur urusan rumah sebelum bekerja. Sempat terjadi adu argumen antara saya dan Manajer saat itu. Dan saya memenangkannya dengan satu kalimat, “Ya sudah, kalau memang dipaksakan, silakan berangkatkan tim lain. Saya dengan tim saya yang sekarang atau tidak sama sekali.”


Kata-kata itu begitu mujarab karena akhirnya Manajer hanya bisa mengangguk pasrah. Mengganti saya sama seperti mengganti keseluruhan ide kreatif dalam proyek ini karena meski ini pekerjaan tim, tapi hampir seluruh rencananya hanya ada di otak saya.


Saya menyenggol wanita itu. Ia sedikit terlonjak tapi tetap berusaha tersenyum.


“Ada apa?” Penting bagi seorang kepala tim untuk mengetahui masalah anggotanya. Di luar negeri kami adalah satu keluarga yang saling mengandalkan. Kalau terjadi sesuatu, sayalah yang harus bertanggung jawab.


“Maaf, Mbak. Mungkin ini perjalanan terakhir saya bersama tim. Saya ingin berhenti,” bisik wanita itu sambil menunduk. Bisikan itu bagai bom di telinga saya.


“Jadi ibu bekerja itu serba salah, Mbak,” bisiknya. Kami saling menoleh dan saya bisa melihat bola matanya berkaca-kaca. “Dan itu makin lama makin berat.” Airmatanya mengalir pelan. Lalu bibirnya mulai bergetar bercerita.


Sudah bukan rahasia lagi, seorang wanita bekerja dituntut untuk bersikap profesional selama ia di kantor. Tak ada dispensasi atau kompensasi khusus dalam keadaan apapun, meski ada cuti haid tapi tak semua perusahaan memberikannya. Tapi juga bukan rahasia lagi, peningkatan karir seorang wanita akan langsung tertahan ketika ia memutuskan menikah. Rekan-rekan kerja pria akan langsung menyikapinya dengan ancang-ancang mengambil alih pekerjaan yang sewaktu-waktu akan segera ditinggalkan si wanita bekerja.


Sungguh, ini bukan masalah baru bagi saya. Tatapan sebelah mata itu juga sudah saya dapatkan sejak memutuskan menikah di usia muda. Sepertinya, ketika seorang perempuan menikah maka seluruh ambisi dan titian karirnya pun harus dilupakan. Pekerjaan hanyalah sebuah jalan untuk mencari suami dan setelah itu ditinggalkan begitu saja.


“Kamu yakin? Tidak sayang dengan kemampuanmu?” tanya saya setengah mengingatkan.


Lalu ia mulai bercerita, tentang hal-hal yang dialaminya dua tahun terakhir sejak kelahiran putrinya. Konsentrasinya yang terbagi dua antara keluarga dan pekerjaan, mulai dianggap mengganggu pekerjaan oleh rekan-rekan kerjanya. Ia juga sempat menolak diberangkatkan, tapi akhirnya bersedia setelah saya berjanji kami hanya pergi selama kurang dari empat hari.


Mendengar ceritanya, saya termangu. Pengalamannya sama persis dengan yang pernah saya alami bertahun-tahun lalu. Bedanya saat itu saya sendirian dan memilih untuk resign. Bukan hanya sekali dua kali saya melakukannya. Mencari perusahaan yang tepat. Tapi karena perusahaan-perusahaan itu tidak bisa memahami kodrat saya sebagai wanita, saya memilih mundur.


Sebenarnya… seperti saya dan mungkin itulah alasan wanita di samping saya ini, alasan berhenti bukan karena kami kesulitan mengatur waktu antara kedua tanggung jawab tersebut. Bukan itu!


Alasan kami sama, karena terlalu lelah menghadapi rekan-rekan kerja pria bahkan atasan yang ‘menuduh’ kami tidak profesional hanya ketika kami melakukan kesalahan, menolak sesuatu atau saat terpaksa meminta izin pulang lebih cepat. Padahal di saat yang lain, kami kadang bersedia bekerja lembur, bahkan memboyong pekerjaan ke rumah, mengerjakan sesuatu lebih teliti dibandingkan pria bahkan lebih sesuai dengan kebutuhan klien karena sense halus kami sebagai wanita. Tanggung jawab terhadap keluarga justru dianggap sebagai momok penyebab kami tak bisa profesional.


Padahal kalau ditelisik lebih dalam. Banyak juga rekan-rekan kerja pria yang keluar masuk kantor di saat jam kerja, juga sering melakukan kesalahan dan sama-sama sering menolak tugas. Tapi, karena kami wanita, kaum minoritas di kantor yang lebih sering dijadikan objek daripada subjek, kesalahan-kesalahan itu terlihat sangat mencolok. Kalau bagi kaum pria, memiliki keluarga dan anak berarti kemungkinan promosi dan peningkatan gaji jauh lebih besar. Maka ini terjadi sebaliknya pada kaum perempuan.


Bagi kelas Ibu pekerja, wanita karir yang berjuang di antara keluarga, kantor dan dirinya sendiri, kami masih harus menerima sorotan tajam tentang makna ‘ibu’ di lingkungan sosial. Ketika anak-anak sakit, dan ibu tetap bekerja. Ketika anak-anak mengalami kegagalan, dan ibu sibuk bekerja. Tuduhan pasti ditujukan pada ibu yang bekerja.


Padahal, entah berapa banyak rasa bersalah yang harus dirasakan seorang ibu bekerja. Rasa bersalah itu dirasakan tiap hari dan tiap saat. PR yang terlupa, makanan yang tak sempat dimasakkan, pakaian yang lupa disetrika, pendaftaran yang lupa dilakukan, terlambat menjemput atau mengantar, tak bisa hadir di pertemuan atau acara anak. Bahkan ketika melihat sepatu kotor yang tak sempat dicuci dan tetap dipakai anak, sudah sanggup membuat seorang ibu merasa bersalah. Jadi, tak perlu lagi ‘disidang’ dengan tuduhan. Meski semua orang tahu, semua ibu bisa melakukan kesalahan. Semua ibu pasti pernah mengalami masalah dengan urusan anak dan pekerjaan rumah tangganya, bekerja atau tidak. Tetap saja, seorang ibu bekerja akan tetap menjadi tersangka utama yang tak bisa membela diri.


Airmata wanita itu akhirnya mengalir, runut berkisah tentang putrinya. Tentulah ia berat meninggalkan gadis kecil yang mulai demam sejak dua hari lalu. Ia sudah meminta pengganti atau memundurkan jadwal keberangkatan, tapi begitu terdengar celetukan dari seorang rekan kerja pria, “makanya kalau sudah gak bisa profesional, mending berhenti saja.” Ia langsung diam dan memilih menjalani tugasnya, namun akhirnya ia mengambil keputusan penting itu.


Saya merasa bersalah. Saya tak tahu soal itu. Saat membicarakan soal perjalanan ini, ia tak mengatakan apapun. Katanya, ia tak mau bicara karena paham kondisi saya pun kurang lebih sama. Putri tertua saya memang sedang ulangan saat ibunya terbang ke negeri lain. Tapi bedanya, anak-anak saya sudah cukup memahami mengapa ibunya harus bekerja di tempat yang jauh. Andaikan wanita ini menjelaskannya sebelum kami berangkat. Andai ia tak menyamakan saya dengan anggapan rekan kerja pria itu.


Saya putuskan tak akan membujuknya untuk tidak resign. Biarkan saja. Pekerjaannya bukan pekerjaan yang bisa dilakukan semua orang. Itu keahlian yang masih sulit ditemukan di negara ini. Jelas kalau ia  ‘resign’, pihak manajemen akan segera menyikapinya dengan panik. Inilah satu-satunya cara menunjukkan eksistensi wanita karir. Kalaupun keinginannya diterima, saya berharap ia menemukan pekerjaan lain yang sanggup mengakomodir semua kebutuhannya tanpa harus meragukan profesionalitasnya bekerja.


Saya tak banyak bicara, tapi mengenang masa lalu. Dulu umur Kakak belum sebulan ketika saya terpaksa membawanya bekerja, dulu Abang masih belum bisa bicara dan sempat memanggil saya ‘kakak’ karena kami jarang bertemu dan sampai hari ini, tempat di bawah meja meeting room di kantor masih menjadi tempat Adek bermain boneka. Ketika akhirnya saya bisa bernegosiasi waktu kerja, itu setelah lebih dari lima belas tahun berkarir... Sungguh bukan perjuangan yang mudah.


Saya ingin sahabat ini juga memiliki fleksibilitas waktu kerja seperti saya, namun bersikap profesional di saat yang sama. Pengertian dari perusahaan akan membuahkan kinerja yang baik serta kesetiaan dari karyawan. Saya yakin ia akan mengetahui pentingnya kemampuan dan keahlian bekerja bagi seorang wanita. Ini bukan tentang bagaimana mendapatkan pekerjaan bergaji besar, tapi tentang kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Semakin baik seseorang bekerja, ia akan semakin dihargai dan bentuk penghargaan itu adalah keinginan untuk bisa mengatur waktu bekerja tanpa harus mengorbankan kewajiban manapun.


Perjuangan seorang ibu bekerja tak pernah ringan, tapi bukan berarti kami tak bisa profesional. Kami hanya memilih, meski pilihan itu terkadang sangat berat. Kami tetap bekerja, dengan segala penyesuaian tanpa melupakan sikap profesional.


 


*****

08 Februari 2017

Strategi Berbicara Dengan Anakku



Jauh dari anak-anak itu selalu menjadi cerita yang tak pernah habis.
Mungkin karena saya jarang ngobrol by phone dengan anak-anak remaja saya di rumah, makanya saat jauh begini justru bingung sendiri apa yang mau dibicarakan. Maklum saja, anak-anak remaja di rumah saya itu lebih suka bicara langsung daripada mengirim pesan.

Tapi sebagai emak yang dipaksa harus cerdik dan cerdas, karena terlalu butuh suara putra-putrinya untuk sekedar melepas kerinduan, saya pun mengatur strategi.

27 Januari 2017

When My Son Said No


Abang, mungkin anak yang paling jarang saya ceritakan di blog. Bukan karena dia bandel atau bermasalah, justru karena Abang-lah anak yang paling baik di rumah. Semua anggota keluarga tahu benar, betapa penurutnya si Abang ini pada saya, bahkan ketika saya tak melihatnya.

Dulu, waktu ia masih SD, sekitar kelas 3-4 saat ikut kunjungan wisata dengan teman-teman sekelasnya, saya tak mendampingi. Abang, yang saat itu sudah saya wanti-wanti untuk tidak berenang karena kondisi tubuhnya yang kurang sehat, dengan patuh mengikuti perintah itu. Padahal, saat itu saking inginnya, dia menangis sendiri. Ibu-ibu lain yang ikut sudah menjamin kalau saya takkan marah dan mereka berjanji akan ikut membujuk saya. Tapi, Abang tetap tak bergeming. Ia tetap tak berenang hingga pulang.

Tips Mempertahankan Peran Orangtua


Menjadi orangtua itu tak ada sekolahnya.


Itu pendapat hampir semua orang, juga saya. Secara alamiah, manusia mengalami proses menjadi orangtua. Suka atau tidak, mau atau tidak mau. Proses itu terjadi setelah manusia menjadi dewasa dan mengenal pasangan.


Tapi, menjadi orangtua tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Ilmunya memang tak bisa diperoleh dalam satu bidang tertentu saja. Untuk menjadi orangtua yang baik, tak hanya harus memahami teori namun juga langsung praktek.


Ada fakta menarik dari orangtua zaman sekarang yang saya bandingkan dengan orangtua zaman dulu, sekaliber mertua yang anak termudanya sudah akhir 20an. Ada satu perbedaan besar, orangtua zaman dulu tidak bersaing peran dengan teknologi. Sementara orangtua zaman kini justru sebaliknya. Walaupun teknologi membantu mereka, tapi secara ironi teknologi pula yang bersaing dengan peran mereka.


Saya katakan demikian karena kini terjadi pergeseran peran. Kehadiran gadget sekarang bahkan menjadi daya tarik buat balita bahkan batita untuk duduk diam dan berhenti menangis. Apalagi yang remaja. Mereka akan berhenti menjadi manusia sosial secara nyata dan lebih suka menjadi manusia sosial dalam dunia maya, yang menghilangkan batas wilayah dan waktu bahkan menghapus budaya sedikit demi sedikit. Orangtua tak lagi dibutuhkan oleh anak, karena semua yang mereka perlukan hanyalah teknologi. Kehadiran orangtua tak lagi penting karena anak-anak merasa teknologi yang dibawa gadget lebih mengakomodir keinginan dan kebutuhan mereka.


Lalu, saat orangtua menyadari kalau peran mereka sudah tergantikan, semuanya sudah terlambat. Anak-anak terlanjur memilih dan mereka sudah sulit untuk diubah. Memang tidak mungkin, tapi inilah alasan begitu banyak kasus kenakalan remaja yang semakin beraneka ragam dan semakin sulit diatasi.


Beberapa kali, saya menemukan banyak teman-teman sesama ibu yang kelabakan mengatasi tingkah putra-putrinya. Ini tidak hanya dialami para ibu yang bekerja, tapi banyak juga yang ibu rumah tangga sepenuhnya. Menurut saya, penyebab kenakalan remaja bukanlah karena ibunya bekerja atau tidak. Banyak kok ibu yang bekerja tapi anaknya sukses secara akhlak dan akidah berkat perhatian dan kasih sayang yang benar.


Saya sebut benar, karena ada kasih sayang dan perhatian yang salah. Maksudnya memberi kebebasan, tapi malah kebablasan. Inginnya memberi ruang ekspresi yang pantas, tapi malah bertingkah tak pantas.


Semua orangtua, ayah dan ibu, sudah tahu bahwa kuncinya adalah komunikasi. Tapi seperti apa?


Ini seperti efek domino Ini yang terjadi kalau orangtua yang tadinya dibesarkan dengan cara tertentu, lalu menurunkan cara yang sama pada anaknya. Anak yang dibesarkan dengan ketidakmampuan berkomunikasi yang baik, akan menjadi orangtua dengan masalah yang sama. Bahkan yang paling mengkuatirkan, ketika komunikasi yang dipilih adalah cara yang salah seperti kekerasan secara verbal dan fisik.


Berikut beberapa saran saya…


Kenali anak terlebih dahulu. Jangan merasa kenal hanya karena setiap hari bersamanya. Anak-anak itu jauh lebih pandai menyimpan rahasia hati mereka. Tanyakan hal-hal sederhana seperti warna favorit, buku yang dia suka, mainan yang dia gemari, games yang ia mainkan, guru yang ia sukai, temannya dan artis favoritnya. Satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua saat proses ini adalah mengkritik semua yang ia sukai secara langsung. Ini bisa membuat anak langsung ngadat dan berhenti bicara. Dengarkan dan ingat baik-baik. Suatu hari, semua hal-hal sederhana yang ditanyakan itu bisa berguna di masa mendatang.


Hilangkan kebiasaan menghina, mengkritik bahkan mengejek kelemahan anak. Salah satu alasan saya melarang program televisi Indonesia yang berbentuk sinetron atau reality show komedi bebas di rumah kami adalah ini. Dalam berbagai sitkom, dan reality show, budaya seperti ini dilakukan para entertainer tanpa ragu. Kebiasaan ini sudah mulai merambah pada kehidupan anak dan remaja di lingkungan sekolah, jadi jangan sampai masuk ke dalam rumah. Dengan membuat mereka terbiasa melihat kita menjaga perasaan mereka, maka itu pula yang akan dilakukan anak terhadap orang lain.


Peringatkan secara langsung dengan alasan, tegas tanpa emosi. Namanya juga keluarga. Pasti ada canda-canda yang terlontar tiap hari. Kadang-kadang ada candaan yang berlebihan, hingga melanggar aturan seperti hinaan dan kata-kata tak pantas. Segera hentikan anak-anak, katakan dengan tegas bahwa hal itu tidak baik dan tidak pantas dilakukan serta alasannya. Minta ia bayangkan kalau kata-kata itu ditujukan padanya.


Tanyakan perbuatan baik anak hari ini. Orangtua selalu rajin bertanya bagaimana hasil nilai-nilai pelajaran, tapi pernahkah bertanya perbuatan atau sikap baik apa yang hari ini mereka lakukan? Anak-anak sedang tumbuh dan mengalami proses belajar, termasuk belajar berbuat dan bersikap, entah itu baik atau buruk. Mereka harus tahu mana perbuatan yang baik dan buruk. Banyak loh anak-anak yang tak bisa membedakan baik dan buruk itu. Saya yang menerapkan hal ini pada anak-anak sendiri saja, masih sering menemukan bahwa anak salah mengartikan sebuah perbuatan. Cara ini efektif untuk mulai membangun logika anak sejak dini. Logika yang kelak digunakannya saat memasuki fase remaja, fase argumentasi.


Berikan ruang, tentukan batas, bukakan peluang, awasi jalan dan simpulkan bersama. Konsep ini terlihat sederhana, bukan? Tapi tidak sederhana menjalankannya. Tentu sebagai orangtua, kita harus menemukan bakat dan kemampuan anak untuk persiapan masa depan mereka. Begini saja. Jika anak suka menyanyi, teater, musik dan sebagainya, carikan media dan tempat yang tepat untuk hal itu. Untuk yang suka bermain games, dan kebanyakan dianggap sebagai salah satu ‘penyakit’ anak, tentukan batas yang jelas.


Setelah tahu yang mereka sukai, pancing anak-anak untuk mengetahui lebih dalam kegiatan yang ia sukai. Untuk si penyuka games, tanya apa mereka ingin belajar membuat games atau design graphis dan semua yang berhubungan dengan games. Untuk si penyuka musik, minta mereka membuat sendiri musik atau setidaknya me-mixing lagu. Selama proses pencarian ini, meski kita tak selalu hadir saat mereka latihan atau melakukan kegiatannya, tanyakan sejauh mana kemajuan mereka pada pelatih.


Pastikan minat mereka tak hanya sesaat dan berubah. Beberapa anak, memiliki kecenderungan bosan dalam sekejap. Itu artinya mereka belum benar-benar menemukan passion-nya. Jangan bosan mengulanginya karena itulah makna orangtua sesungguhnya.


Peran orangtua, bukan sekedar orangtua. Inilah yang tadi saya sebut telah diambilalih oleh teknologi. Saya sering tersenyum miris melihat banyak ibu atau ayah yang menganggap selain menjadi orangtua mereka adalah pengasuh, guru, supir, pembantu, tukang cuci, koki dan lain sebagainya. Tapi semua itu hanya titel yang berhubungan dengan satu jenis pekerjaan yang memang kewajiban mereka.


Mereka lupa mengaitkannya dengan posisi seperti menjadi teman main, sahabat baik, penghibur hati dan sodara pengganti di sisi anaknya. Karena terlalu peduli dengan peran yang mereka anggap lebih penting, orangtua lupa menempatkan dirinya pada posisi yang tak ternilai itu. Posisi yang kemudian seringkali digantikan oleh permainan dunia maya, teman-teman sekolahnya atau bahkan alat penghibur lain yang berujung perbuatan negatif.


Anak adalah manusia, bukan bahan praktek. Mungkin yang memberi nasehat banyak sekali. Tapi, pilihan itu tetap di tangan kita. Jangan menjadikan anak sebagai bahan teori dari pemikiran yang belum tentu sesuai dengan konsep keluarga. Sebelum menentukan tindakan, atau kebiasaan tertentu dalam keluarga. Belajar dari berbagai media, padankan konsep yang sesuai dan baru dipraktekkan. Sebaik apapun sebuah konsep membangun karakter anak, semua itu harus dilakukan secara konsisten.


Rileks, dan jadikan diri sebagai contoh. Merasa berat dengan semua saran itu? Itu juga yang dikeluhkan teman-teman saya setiap kali saya memberi saran yang sama. Santai saja, menjadi orangtua itu seharusnya dinikmati. Jadi agar tidak salah, terapkan saja aturan sederhana. Kita ini contoh langsung anak. Kalau kita ingin anak lebih banyak bicara pada kita, lakukan pada mereka. Kalau ingin mereka lebih terbuka, bersikaplah lebih terbuka dengan anak. Kalau kita tak suka dicandai kekurangan kita, maka jangan lakukan. Kalau tak suka ditanya-tanya seperti diinterogasi, ya jangan lakukan pada anak. Kalau tak suka makan makanan tertentu, ya jangan paksa anak melakukannya.


Menyelesaikan masalah anak dengan kepala dingin. Ini adalah bagian tersulit bagi orangtua. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan anak pada orangtua sejak kecil, akan menumbuhkan perasaan memiliki bagi setiap orangtua. Perasaan ini bisa berubah menjadi egoisme orangtua yang ingin mengatur hidup anaknya tanpa mempertimbangkan perasaan dan keinginan anak sendiri. Masalah anak terjadi tidak terlepas dari orangtua yang terkadang terlalu dominan dalam mengambil keputusan penting yang menentukan bagi anak. Karena itu, sekali lagi… kembali pada kunci utamanya yaitu komunikasi yang berkualitas. Namun, apapun yang terjadi, jangan pernah menganggap masalah anak dengan sepele. 

Itu beberapa hal yang saya share lebih dulu untuk memberi jawaban bagi beberapa teman yang putra-putrinya sudah memasuki periode remaja awal. Tapi, bukan berarti orangtua dengan anak yang masih tergolong balita tidak perlu. Malah lebih baik, semakin dini semakin baik menerapkan konsep yang jelas. Semoga berguna. 

22 Januari 2017

Food Delivery Ojek Online yang Telat

Pernah mencoba food delivery yang sekarang marak ditawarkan oleh provider ojek online?


Hari itu, saya ingin mencobanya. Sekalian ingin memberi review non payment yang netral, maka saya pun mencoba dua provider ojek online selama dua minggu berturut-turut. Saya tidak bisa melakukan selama dua kali dalam seminggu karena ada aturan di rumah kami kalau hanya boleh makan dari luar seminggu sekali. Itupun hanya boleh dilakukan ketika saya benar-benar tidak sempat atau sedang punya kerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


Minggu pertama, saya berniat memesan untuk makan malam saja. Hari itu, saya harus ke kantor menyetor pekerjaan bersama putri bungsu yang selalu ikut. Sementara anak-anak yang lain baru pulang menjelang sore karena kegiatan ekskul sekolahnya masing-masing bersama suami. Tiba di rumah, anak-anak memilih makanan ringan saja karena ayah sudah membawakan makan malam yang dibelinya dalam perjalanan pulang. Karenanya, jumlah pemesanan makanan secara online saya pun tak banyak. Hanya kue dan snack biasa.


Waktu saya memesan itu setelah sholat Magrib melalui ponsel putri pertama yang kebetulan masih memiliki saldo dana online yang cukup. Estimasi pengantaran lamanya sekitar 1 jam, tapi setengah jam lewat makanan sudah tiba. Ojeknya pun hanya menelpon 1x untuk memastikan alamat lengkap kami. Saya hanya memberi uang tips dan pengganti uang parkir saja, karena semua sudah dibayar secara online.


Provider ojek yang satu ini memang langganan keluarga kami, karena anak-anak remaja saya lebih sering menggunakannya saat pulang atau pergi ke tempat kegiatan mereka sehari-hari. Kadang-kadang mereka menggunakan jasa pengemudi yang sama, hingga alamat kami diingat baik. Bahkan ada yang sudah seperti supir sendiri saking seringnya. Menurut anak-anak, provider ojek yang ini jauh lebih mudah ditemukan saat mereka perlu di jam-jam sibuk (pulang sekolah). Itu saja. Kalau soal harga, relatiflah… anak-anak juga sering mendapat promo.


Minggu kedua, saya memilih memesan untuk makan siang sekaligus makan malam. Dengan dua remaja yang baru tumbuh, saya memesan jumlah makanan yang sedikit lebih. Apalagi hari itu akan ada dua tamu yang akan datang dan bermalam di rumah. Maka, pagi-pagi sekali, sebelum tamu-tamu saya tiba, saya melakukan pemesanan dengan menggunakan provider ojek kedua. Sekalian untuk review.


Saya harus menunggu sampai pukul 9 atau 10 untuk memesan karena restorannya baru buka sekitar jam itu. Saya melakukan pemesanan untuk dua restoran berbeda dengan dua pengemudi berbeda. Untuk pengemudi pertama, saya memesan makanan yang harganya lebih besar dan yang satunya kurang dari 30 ribu rupiah. Dua pemesanan ini saya lakukan dengan dua ponsel berbeda, jadi bisa dilakukan sekaligus.


Kalau provider yang ini cukup lama proses pesannya. Saya melihat nama pengemudi berganti beberapa kali sebelum akhirnya ada yang bersedia untuk pemesanan yang berjumlah besar. Sementara yang jumlah lebih kecil, hanya 1x sudah ada pengemudi yang menelpon memastikan alamat dan pemesanan.


Setelah melakukan pemesanan, saya kembali melanjutkan pekerjaan. Tak lama, telepon masuk lagi, pengemudi ke-2 ternyata sudah ada di depan pagar rumah, membawa makanan penutup yang saya pesan. Cepat sekali! Ternyata pengemudi itu bilang, kalau saat saya memesan tadi dia kebetulan sedang lewat jalan itu juga. Oooh… pantas.


Tapi pengemudi pertama yang saya pesan tidak menelepon atau membalas pesan alamat lengkap padanya. Saya lihat di layar, motornya juga bergerak sebentar lalu lama berdiam. Entah sedang apa. Lewat satu jam, saya mulai tak sabar. Estimasinya sekitar satu jam dan sampai kedua tamu saya tiba di rumah, makanan belum tiba. Saya menelepon, dan pengemudi meminta maaf. Ternyata ia baru mau ke restoran mengambil makanan. Aduh, saya sebenarnya sudah cukup kesal.


Waktu makan siang hampir tiba, dan kedua tamu saya sudah setengah jam duduk. Saya mulai menyerah. Ya sudahlah, kalau tak datang juga, saya akan memesan dari warung depan saja. Makanan seadanya dulu.


Tak lama telepon masuk, pengemudinya menunggu di depan minimarket yang kebetulan ada dekat rumah kami. Ia tak bisa mengantar sampai depan rumah karena ada mobil pengangkut sampah pasukan kuning. Saya pun mengalah saja. Pikiran saya saat itu, sudahlah, sudah bagus orang itu mengantar sesuai pesanan saya meski sangat terlambat. Hampir dua jam!


Ketika saya tiba, pengemudi itu langsung minta maaf, dan menjelaskannya kurang lebih seperti ini.


“Maaf ya, Bu. Tadi saya pulang dulu, minjem sama tetangga saya. Kalau pagi-pagi begini, setoran saya belum ada. Hape saya juga lowbat dan tidak ada pulsa. Saya juga baru mulai tadi waktu ibu mesen. Maaf ya, Bu,” ucapnya malu.


Saya terdiam mendengar kata-katanya. Mencoba tersenyum. Bukan karena marah, tapi tersentak mendengar alasannya.


Melihat saya tersenyum pahit, Bapak pengemudi itu buru-buru kembali berkata, “Sungguh, saya minta maaf ya Bu. Jalannya gak macet, tapi saya memang gak punya uang segitu. Uang segitu buat makan keluarga saya seminggu. Maaf ya, Bu.” Ia tampak gugup, mengira saya sedang marah.


Kali ini, saya tersenyum benar-benar sangat tulus dari hati. “Gak papa, Pak. Kan ini malah pas makan siang. Malah bagus, masih panas. Makasih banyak ya, Pak. Hanya lain kali Bapak telepon dulu kalau agak terlambat, untung tadi saya tidak cancel ordernya. Coba kalo yang lain, gimana?”


“Iya, Bu. Hape saya nih, Bu. Udah jadul,” jawabnya sambil tersenyum malu dan memperlihatkan ponsel yang kacanya sudah retak. Pengemudi itu pun pergi setelah saya memberikannya sedikit tips lebih. Biarlah… tak pantas ia mendapat amarah dari saya.


Siang itu setelah selesai menyajikan makanan lengkap dengan dessert-nya, saya duduk memandanginya. Hanya sesaat, sebelum berdiri dan mengajak dua tamu beserta putri bungsu saya duduk makan bersama.


Hari ini, Allah SWT sedang menyentil saya. Makanan kami sekeluarga yang habis hanya dalam sehari, ternyata sejumlah makanan orang lain selama seminggu. Sungguh, ini menyesakkan hati. Selama ini, seperti ibu rumah tangga lainnya, saya juga sering mengeluh karena harga belanjaan yang semakin lama semakin mencekik leher. Meski berusaha tak mengeluh pada suami, tapi entah berapa kali saya mengeluh dalam hati. Allah tentu mendengarnya dengan sangat jelas dan Ia mengingatkan dengan caraNya yang luar biasa.


Saya putuskan untuk tidak menuliskan nama-nama provider ojek yang saya gunakan. Saya memilih menulis berupa tips memesan agar kedua pihak sama-sama puas. Bukan alasan saya yang penting, tapi alasan si pengemudi itu telah membuka mata saya. Bagaimana seandainya saya berpikir pendek dan membatalkan pesanan itu begitu saja karena terlalu lama menunggu? Uang itu banyak bagi si pengemudi, dan kalau dibatalkan, bagaimana ia menggantinya? Karena itulah, saya memilih untuk melindungi hak kedua pihak. Jangan sampai si pengemudi justru mendapat buntung karena pembatalan pesanan, demikian pula si pemesan. Jangan sampai kepentingannya terganggu karena proses yang terlalu lama.


Ketika anak-anak pulang, saya ceritakan semuanya pada mereka. Mereka juga menambahkan dengan cerita mereka. Seringkali, uang jajan mereka tak cukup untuk membayar tapi saat mereka hendak mengambil tambahannya ke dalam rumah, pengemudi itu sudah pergi. Memang tak banyak kurangnya, hanya seribu dua ribu saja. Lalu, ketika mereka bertemu lagi, anak saya yang ingat langsung membayar kekurangannya itu dan si pengemudi hanya tertawa, padahal ia sudah lupa, katanya.


Kata putri saya, ada pengemudi yang bercerita kalau ia juga kasihan sama anak-anak sekolah seperti mereka. Pulangnya sore, wajahnya kuyu, jajannya mungkin tak cukup hingga memakai ongkos pulang. Ia ingat anak-anaknya di rumah. Jadi kalau ia mengantar anak-anak sekolah pulang, yah dianggap lagi mengantar anak-anak sendiri. Tak dibayar penuh pun tak apa, karena mungkin mereka benar-benar tak ada yang jemput dan kekurangan uang.


Malam itu, sekali lagi saya mengingatkan pada putra-putri tercinta, agar selalu membayar dengan biaya yang tertera dan jika tak ada kembalian, ikhlaskan saja. Mengajari mereka untuk menghubungi saya sebelum tiba kalau uangnya kurang agar saya atau ayahnya bisa menunggu di depan rumah. Kecuali mereka mengebut atau melakukan tindakan yang menakutkan, anak-anak harus memberi tanda bintang penuh. Hanya bintang untuk kita, tapi… mungkin sangat penting artinya bagi mereka.


Food Delivery bisa saja terlambat, tapi jangan sampai kita terlambat menyadari betapa banyak orang yang berada jauh dari kata cukup namun berusaha keras berjuang untuk hidup. Kita mungkin tak bisa membantu dengan uang, tapi pertolongan terbaik adalah menjadi orang-orang yang peduli pada mereka.

22 Desember 2016

Ikhlaskah Aku Jadi Ibu?

Anak-anak pasti akan bertanya bagaimana mereka dulu dilahirkan, begitu pula anak-anak saya.
Tapi selama ini tiap mereka tanya, saya selalu berkelit... "Nggak!! Nggak sakit! Kan dibius, cuma masuk ruang operasi dan tahu-tahu pas bangun udah ada kalian."
Bahkan jawaban itu pun dipercaya oleh anggota keluarga yang lain... Disangka benar-benar gak sakit.
Padahal, kalau yang pernah ngalamin denger, saya bisa disambit pake batu deh... Hehehehe. Namanya juga operasi, pasti efek sampingnya abadi deh.

30 November 2016

SMS Teror Ala Adek


“Boleh, Mak?” waktu Adek nanya itu, matanya sungguh memelas. Seperti anak kucing yang minta dielus, maka tak tegalah mengucapkan kata tidak pada putri kecil yang satu ini. Akhirnya jawaban saya hanyalah satu… mengangguk.

Adek melompat-lompat kegirangan, tak bisa menyembunyikan kesenangannya bisa punya ponsel sendiri. Walaupun ponsel bekas, yang hanya punya fitur telepon, sms, dan radio itu. Ponsel itu memang bekas Abang, selama dia di SD. Waktu Abang pakai memang mulai kelas 6 SD, tapi untuk Adek yang punya kecerdasan luar biasa, rasanya sulit untuk mempertahankan pola asuh seperti kedua kakaknya.

28 November 2016

Ketika Adek ingin dipanggil 'Kakak'

Cerita ini sebenarnya terjadi awal tahun ajaran baru, tapi saya lupa posting dan terselip di antara postingan yang sudah terpublish...

Si Bungsu kami yang paling ceria, paling imut dan paling manis tiba-tiba memandangi telepon sepanjang hari, usai hari pertama masuk sekolah. Kalau melihat tingkahnya, pasti ingin bicara dengan Ayahnya. Karena itu tanpa bertanya lagi, saya langsung membantunya menelpon dan menekan tanda 'speaker on' agar saat orang lain yang mengangkat saya bisa bantu meminta Ayahnya dipanggil.

14 November 2016

Video Horor Ala Abang Adek


Namanya Emak, sesibuk apapun, kudu, harus, tetap mengawasi anak-anaknya. Dan yang namanya gadget, ampppyun deh, kalau tidak hati-hati maka... urusannya bisa jadi masalah besar.
Pengalaman beberapa bulan lalu, lappy anak-anak harus diinstall ulang karena virus iklan berupa video-video porno menjangkitinya. Semua karena Kakak sempat membawa ke sekolah dan di sekolah, teman-temannya mendownload video drama. Dan video itu... mengandung iklan 'ngerentet' (istilah Emak nik kalau lagi ngomel) yang menampilkan video-video iklan berbau porno.
Karena itu, seminggu sekali, tiap hari Senin atau Minggu, Emak memeriksa laptop anak-anak.

11 November 2016

Bermain Hujan Melepas Beban

Bawaan kesal karena peristiwa kemarin, membuat saya memilih untuk berdiam diri di rumah hari ini. Apalagi ini Jum'at, dua anak pasti pulang cepat dan kegiatan mereka setelah Jum'atan menutup saya harus mengantar mereka ke tempatnya masing-masing.
Tapi, ternyata hujan turun setelah menjelang sore. Tepat saat saya hendak menjemput Kakak. Kami kehujanan. Awalnya hujannya tidak terlalu deras, tapi banyak sekali orang-orang yang mau cepat bahkan beralasan istrinya mau melahirkan. Mau ketawa, tapi ya gimana... semua orang mau cepat sampai supaya tak kehujanan.

07 November 2016

Bermain Boneka 'Pajangan' Di Toko


Foto ini saya ambil sudah cukup lama. Saat itu kami sedang berbelanja pakaian di salah satu pusat perniagaan di Jakarta. Khusus saat itu, saya sedang memilih pakaian Lebaran untuk Ade. Sebenarnya pakaian lebaran Ade sudah ada, hanya saya memang suka membeli agak banyak karena sekarang sangat sibuk mengurus kampus, rumah tangga dan kerjaan sampingan. Kalau tidak sekalian, nanti pasti takkan bisa terbeli. 

Ade anak yang bertubuh cukup bongsor dibandingkan kedua kakaknya. Pakaian-pakaian yang dikenakan Kakaknya saat berusia kelas 3-4 SD, sudah dipakainya sejak TK. Karena Ayahnya tak mau putri-putrinya terbiasa pakai celana pendek, makanya saya harus rajin menyediakan pakaian sebelum celana atau rok mereka mencapai lutut.

Ketika Ade Berinteraksi Dengan Hewan


Hari Minggu kemarin, Adek dan teman-temannya berkunjung ke sebuah argowisata di daerah Bogor. Di sana mereka mengenal dan bertemu dengan bermacam-macam hewan, juga mencoba langsung cara memberi makan, menggendong mereka bahkan bermain-main bersama mereka.

Untungnya, Ade gak pernah takut sama binatang. Bersama teman-temannya, ia menikmati interaksi bersama hewan-hewan yang memang biasa untuk peliharaan seperti kelinci, sapi, kambing bahkan ikan.

02 November 2016

Hiburan Emak

Ujian minggu ini bener-bener sudah kayak ujian terakhir. Tapi di hari pertama ujian, terus terang saya bete setengah mati. Bisa-bisanya saya yang jurusan sastra inggris sendirian nyempil di antara mahasiswa dari jurusan Manajemen. Hellloooo....

Untungnya, jam ujian saya berurutan, sehingga begitu selesai bisa langsung pulang. Meskipun begitu, tetap terasa betenya karena sejak jam ujian pertama, saya selalu keluar paling pertama. Akhirnya, jadi sibuk sendiri nyari teman tetap aja gak ada yang dari jurusan yang sama. Banyak sih teman-teman Manajemen yang saya kenal, tapi enaknya kalo habis ujian itu ya ngobrolin soal ujian kan? Bukannya mendadak les manajemen..

Saat pulang, saya langsung mencari hiburan. Supaya bete dan sakit kepala sirna. Tapi kehadiran Adek rasanya gak cukup buat menghibur, akhirnya karena lelah, saya ketiduran hingga hampir magrib. Setelah mandi dan makan, barulah kedua kakaknya dan ayah pulang dari mesjid.

Ampun deh anak-anak ini, tahu aja Emaknya lagi kesal. Begitu datang mereka langsung bercerita.