Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan

28 September 2016

Anak Terkaya

“Ma, Ma… Ara iri deh sama teman-teman Ara,” ujar putri kecilku tiba-tiba ketika kami menuruni tangga dari ruang kelasnya. Langkahku terhenti sejenak, gadis kecil itu mendongak padaku dengan mata yang murung. Karena ada orang lain di belakang kami, aku kembali berjalan sambil menggandeng Ara di tangan kiri dan membawa tas sekolahnya yang berat di tangan kanan.

Kata-kata Ara benar-benar mengangguku siang itu. Aku memang tak sempat mengobrol panjang lebar setelah mengantarnya pulang ke rumah. Walaupun selalu bisa menemaninya makan siang dan menjemputnya saat pulang sekolah, tapi seperti biasa aku langsung kembali ke kantor hingga sore hari.

 Tak ada seorangpun ibu di dunia yang mau putra-putrinya mempunyai perasaan seburuk itu pada teman-temannya. Tidak juga aku. Susah payah aku menjaga dan mendidiknya menjadi putri yang manis dan baik hati, tapi siapa sangka Ara pun bisa merasa iri pada temannya. Apa yang salah akhir-akhir ini ya? Kepalaku sibuk memutar ulang hal-hal yang terjadi sepanjang minggu ini. Rasanya aku masih mengontrol semua yang putriku tonton, baca bahkan dengar setiap hari seperti biasa. Aku juga masih menemaninya belajar, main bahkan dua hari lalu aku sengaja mengambil cuti di hari kerja supaya bisa menemaninya main di sebuah taman bermain. Lalu apakah ada yang terjadi di sekolah?

Tapi, bertanya pada guru Ara sebelum berbicara pada gadis kecilku itu salah. Lebih baik, nanti saja saat pulang aku mengajaknya bicara. Ara adalah anakku yang paling mudah diajak bicara dan dia tak pernah bisa berbohong padaku. Dia penurut sekali, walaupun tak pernah sekalipun aku memukulnya. Jadi kalau bukan masalah besar, mungkin lebih baik kuselesaikan sendiri. Gurunya punya banyak murid, dan mengurus 30 orang anak itu sangat sulit. Aku tak mau menambah bebannya untuk sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang.

Namanya masalah anak, tentu saja jadi pikiran untuk orangtuanya. Waktu terasa panjang dan aku mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya satu setengah jam sebelum waktu pulang, aku memilih keluar dari kantor.

“Ada apa, Bu?” tanya Thessa, staf creative yang berpapasan denganku di pintu keluar ruang kerjaku. Ia melirik tas yang kubawa.

“Saya kerjain di rumah aja deh, Thes. Ga konsen. Ga ada ide juga,” sahutku sambil menyodorkannya kertas kecil. “Memo buat Pak Gani, orderan utilities untuk proyek saya. Tolong ya, Thes!”

Thessa tak menjawab, ia hanya mengangguk dan membiarkanku pergi.

Saat tiba, anak-anakku langsung heboh. Wajah mereka sumringah menyambutku di pintu. Benar kata orang, hal terbaik sepulang kerja itu adalah wajah gembira anak-anak kita. Sesaat aku lupa yang kupikirkan tadi dan sibuk menjawab pertanyaan anak-anak.

“Kenapa pulangnya cepat, Ma?”

“Mama capek. Pengen istirahat lebih cepat.”

“Kok bawa kerjaan?”

“Yaaah, biasanya kalo Mama sudah istirahat sebentar, malah pengen langsung kerja lagi. Kalo nanti malam kalian sibuk, Mama ngapain coba?”

“Yeee, bilang aja Mama lagi pengen bolos. Pake alasan capek.”

“Iya deh, suka-suka kalian aja. Mama naik dulu, Kak… pesan pizza sana. Mama males masak.”

“Asssyiiiik!!”

“Horeeee!!!”

Yes! Yes! Mama, you are the best!”

Aku hanya tertawa sambil menaiki tangga menuju kamarku sendiri. Mandi dulu, sambil memikirkan apa yang harus kulakukan agar Ara tidak merasa diinterogasi.

Pizza datang, tepat saat aku turun setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Tubuh yang bersih, rambut yang baru kucuci dan aroma sabun sungguh menenangkanku. Setidaknya saat aku turun dan melihat anak-anak mengerubungi kotak pizza yang besar berlapis dua, aku sudah tak terlalu kuatir. Apalagi melihat mata besar Ara yang bercanda dengan kedua kakaknya. Ini saatnya.

“Ra, tadi Ara bilang iri sama teman Ara, emangnya iri apa, Neng?” tanyaku santai sambil mencomot satu potongan pizza tuna melt favoritku dan duduk di sofa.

Ara menoleh padaku, mulutnya masih menempel di ujung potongan pizza dan cepat-cepat ia lepaskan. Beberapa saat ia malah sibuk mengunyah, sebelum duduk di sebelahku.

“Itu loh, Ma. Ara iri soalnya di kelas Ara, hanya ayah Ara yang gak punya mobil. Kata teman Ara, Ara orang miskin jadi gak punya mobil. Ara pengen jadi orang kaya, Mah. Biar gak dikatain miskin,” tuturnya sambil sesekali mengunyah pizzanya,

Nada bicara yang begitu polos saat putriku bercerita membuatku sedikit lega. Ah, ternyata hanya karena itu toh. Untunglah…

“Ra, jadi Ara mau punya mobil kan? Biar bisa dianter sekolah dan dilihat teman-teman lalu dibilang orang kaya? Biar bisa dianter sekolah dan dilihat teman-teman lalu dibilang orang kaya?” tanyaku memastikan.

“Iya, Ma! Mama mau beliin?” tanya Ara yakin dengan mata membulat.

Aku hanya terkekeh, kakak-kakaknya mulai ikut mendengarkan. Tapi dari wajah kakak tertuanya, aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu. Aku memberinya isyarat untuk tidak mengatakan apapun. Ini tugasku.

“Kalau begitu, Ara mau gak dituker?” tanyaku sambil makan.

“Dituker?” tangan Ara berhenti di udara. Ia menatapku bingung.

“Iya, Ara bisa punya mobil, bisa punya rumah yang besar, bisa punya segala hal yang Ara mau. Tapi Ara gak punya ayah, gak punya Mama?”

Bibir Ara langsung mencibir, “Nggak! Enggak! Enggak!”

“Nah, Ara… orang paling kaya itu bukan mereka yang punya mobil atau harta aja, Nak. Orang kaya itu orang yang merasa punya segalanya. Ara punya ayah, mama, kakak dan abang. Belum nenek, kakek mamang, bibi, mamang, dan sepupu-sepupu Ara. Ara disayang, dijagain bahkan ditemani main kan? Enak mana, jalan-jalan sendiri dengan mobil, tapi gak ada Mama, gak ada kakak, gak ada abang?”

“Jadi Ara itu orang kaya dong, Ma?”

“Nah, itu dia, Ara udah ngerti sekarang kan?”

“Ooh… iya Ma, Mama bener. Ludi kan gak punya ayah, tiap jumat suka dikasih-kasih uang sama bu guru. Emir juga, Sabrina juga. Kalo lagi ada acara, mereka selalu dikasih uang sama sekolah, Ma. Kata bu guru, mereka itu anak yatim, jadi harus disayang,” ujar putriku sambil mengangguk-angguk. Dia paham sekarang.

Aku mengerling. “Jadi menurut Ara, kalo besok ada teman Ara yang bilang Ara miskin karena gak punya mobil. Ara bakal jawab apa?”

Putriku memainkan mulutnya, monyong ke kiri ke kanan dan mengernyitkan dahinya, gaya khasnya kalau sedang berpikir. “Ara bilang Ara punya banyak mobil, Ma!”

“Hah?” Aku terkejut. Lho kok? Malah begini hasilnya?

“Iya, kalau Ara mau naik mobil kan Ara bisa minta Mama pesan taksi online. Kalo Ara lagi jalan sama kakak, abang, ayah, mamang, dan bibi,  juga bisa pesan kan? Jadi mobil Ara banyak, tinggal minta tolong aja dipesanin. Iya kan, Ma?”

Buahahahaha… kedua kakak Ara terbahak-bahak dan menyemburkan sebagian pizza mereka keluar dari mulut yang sedang penuh. Aku juga tak sanggup menahan tawa. Ara-ku sudah kembali, Ara yang lucu dan punya banyak akal.

Nak, jangan iri! Kau anak terkaya di dunia karena cintaku untukmu bahkan tak bisa diukur dengan seluruh harta di dunia. 

24 September 2016

Biarkan Bebas!

Tujuh belas tahun lalu…

Dua gadis kecil berambut pirang itu berlarian di atas rumput mengejar kupu-kupu berwarna jingga hitam sambil tertawa-tawa. Di belakangnya, seorang perempuan lebih tua dariku, yang juga berambut pirang mengikuti mereka dengan langkah tenang. Saat ia menoleh, tatapan kami bertemu. Aku mengangguk padanya, melemparkan senyum. Ia juga membalas dengan anggukan dan senyuman.

Look it that, Mommy!!” pekik salah satu gadis berambut pirang itu seraya menunjuk-nunjuk ke tanaman bunga sepatu. Perempuan yang ia panggil ‘Mommy’ itu menoleh padanya. Ah, rupanya dia ibu mereka. Pantas saja, kedua putrinya memang sangat mirip dengannya.

Aku tersenyum melihat mereka. Jarang banget ada bule bermain di sini. Aku memang sering Mr. Graeme bermain dengan paramotornya di bandara kecil ini, tapi baru ini menyaksikan keluarga bule bermain-main di taman kecil yang ada di dekat tempat parkir itu. Sambil menunggu kiriman paket dari Balikpapan, aku memilih duduk di bangku kecil yang disediakan untuk para penunggu.

Dari kejauhan, aku menyaksikan anak-anak dan Mommynya itu bermain. Si Mommy nampak menjelaskan sesuatu, lalu mereka tertawa lagi. Aku tak bisa mendengar apapun. Tapi dari wajahnya, mereka tampak senang sekali. Tapi, mataku mulai memperhatikan sesuatu yang aneh. Kaki mereka! Kaki-kaki mereka yang putih bersih itu sama sekali tidak menggunakan sepatu atau sandal!

Rupanya sengat matahari membuat aspal tempat parkir terasa panas, mereka menghindarinya dengan berjalan di atas rumput. Tak heran kalau dua gadis kecil itu melompat-lompat di situ, rupanya mereka sedang menikmati rasanya menginjak rumput. Aku terkekeh sendiri. Aneh nih orang bule, jangan-jangan karena ini Indonesia makanya mereka seenaknya saja menginjak rumput. Toh tidak ada larangan dan di sini rumput tumbuh sepanjang tahun tanpa masalah.

Ketika pesawat yang kutunggu tiba, aku langsung berbalik dan sibuk mengurusnya. Sejenak aku lupa pada dua anak dan Mommy berambut pirang itu. Setelah selesai, aku hendak kembali ke mobil ketika Mommy yang tadi tersenyum padaku tiba-tiba sudah berada di dekatku.

Hi! How are you?” sapanya.

Hi! I am find, and how about you, Mrs…” Aku berusaha mengaduk seluruh isi kepala mengingat wanita secantik boneka ini.

Caroline, In! I am sure very good. Do you forget me? I am Bob’s wife. Last week, we played golf with you and your boss,” ujarnya dengan riang. Aha! Aku ingat sekarang. Ehem… main golf? Aku? Aku tertawa miris. Lebih tepatnya, aku hanya berjalan ke sana ke mari, memunguti bola yang hampir tak pernah bisa kupukul kecuali sangat dan sangat pelan. Tapi si Boss, malah senang. Lumayan bawa aku katanya… bisa bantu-bantu menghabiskan makanan agar tidak terbuang. Maklumlah, istri si boss sudah wanti-wanti agar aku tak membiarkan melupakan diet ketatnya.

Hi, Mrs. Caroline! I just saw you playing with your kids. Is it fun?” tanyaku.

Ia mengangguk. Lalu ia bertanya apa yang sedang kulakukan. Kuperlihatkan paket dokumen yang kubawa dan ia mengangguk-angguk mengerti. Kami mengobrol sejenak, sebelum akhirnya putri Mrs. Caroline berteriak memanggil Mommynya. Ia memegang tanganku dan berkata, “It’s so nice talking with you, In. Come to my house if you aren’t so busy, ok?” Yang langsung kujawab dengan anggukan.

Wait!” kataku lagi menahan langkahnya. “Why don’t you use shoes or sandals? Isn’t it hurt?” tanyaku dengan kening berkerut.

Caroline hanya menggeleng sambil tersenyum padaku sebelum berlari mendatangi kedua putrinya.

Beberapa hari kemudian sesuai janji kami, aku bertemu dengannya lagi dan kali ini ia menjamuku di rumahnya. Saat itu, kedua putrinya tidak ada di rumah. Mereka sudah kembali ke negerinya di Australia, ikut neneknya. Saat itulah, Caroline menceritakan alasannya.

Caroline hanya ingin memberikan kebebasan pada mereka. Kebebasan dalam arti merasakan berbagai hal di luar batasan yang kadang-kadang dibuat oleh orangtuanya sendiri. Merasakan menginjak rumput, aspal, pasir dan bahkan batu adalah cara Caroline memperkenalkan arti kebebasan untuk putri-putrinya. Dari situ, mereka akan belajar bahwa berjalan di atas aspal akan panas, di atas batu akan sangat sakit, di atas pasir akan terasa geli namun hangat dan berjalan di atas rumput akan terasa basah. Ketika mereka merasakan itu semua, mereka tidak akan takut mencoba segala sesuatu.

Ia tak hanya membebaskan mereka dalam soal alas kaki, tapi juga pakaian hingga apapun yang ingin mereka jalani. Buat Caroline, itu adalah hak anak-anak menentukan hidup mereka karena mereka hanya titipan Tuhan. Caroline ingin mereka terbebas dari batasan yang kadang-kadang justru berujung bahaya. Biarkan mereka berimajinasi, biarkan mereka merasakan semuanya, termasuk sensasi sakit atau ngilu, perasaan senang atau sedih, segar atau panas bahkan membiarkan mereka mengungkapkan perasaannya. Semua itu adalah proses belajar untuk mereka. Kelak mereka akan paham sendiri mengapa ada batasan itu, mengapa sepatu atau sandal harus dipakai dan lain-lain.

Saat itu, aku tak benar-benar paham maksud Caroline. Tapi tujuh belas tahun kemudian, ketika seseorang bertanya mengapa aku membiarkan putriku membuka sepatunya di jalan saat ia ingin, memakai dress mahal seperti seorang putri di rumah hanya untuk bermain, membiarkan mereka berteman dengan siapapun, membiarkan anak-anak mencoba sesuatu yang membuat dadaku sendiri sesak menahan rasa takut tapi sama-sama tertawa dengan gembira setelah melewatinya, aku justru mengatakan hal yang sama.

Bebas, mengeksplorasi dunia. Bebas, memahami segalanya dengan sudut pandang mereka. Bebas, mengekspresikan diri sebagai diri mereka. Karena anakku bukanlah aku, mereka pantas untuk memilih.

Jadi, ketika hari ini aku membuka sepatu bersama putri terkecilku, berjalan menyusuri jalan basah dan bermain di genangan air… itu karena aku ingin memberitahunya…

Nak, suatu hari hujan akan mengingatkanmu, betapa menyenangkannya bermain dengan bebas, merasakan air dingin di kaki dan tertawa bersama ibumu. Tetaplah belajar dengan bebas, eksplorasi segalanya, karena pilihan itu milikmu sendiri.



‘September 2016

A lovely raining day

27 Agustus 2016

I Am Her Everything

Lembaran kertas terakhir keluar dari mesin cetak. Aku memeriksanya sebentar sebelum menghembuskan napas lega. Akhirnya selesai sudah tugasku. Setelah merapikannya, aku hanya tinggal menyerahkan pada Pak Darma dan voila… tinggal menunggu hasil kerjaku ditransfer akhir bulan ini.

Senang rasanya membayangkan wajah putriku nanti saat menerima tablet baru yang kubelikan nanti. Dia takkan kesulitan lagi memandangi layar ponselnya yang kecil mungil hanya untuk mencari informasi atau belajar secara online. Anakku memang tak pernah mengeluh, tapi melihat ia menunduk dan mendekatkan matanya sampai hampir menempel, aku tak tega.

Cring Cring Cring

Suara bbm masuk mengalihkan fokusku. Aku meraih ponsel dan mengeceknya.

Mah, Lgi dmn?

Ah dari putriku. Bahasa planet begitu pasti dari dia. Aku mengetik jawaban.

Di kantor, knp?

Cring Cring Cring. Aku membukanya cepat.

Jemput donk, Mah! Kita maksi d atrium yuk. Aku mo ngomong sm Ma2h

Pasti ada sesuatu yang terjadi. Aku mengiyakan permintaannya.

Ya, tunggu ya. Mama prepare dulu.10 mins.

Setelah itu aku meraih dokumen yang baru saja selesai dicetak itu dan membawanya ke ruangan Pak Darma yang sudah menungguku. Melihatku masuk, ia tersenyum lebar. “Sudah?” aku menjawab dengan anggukan dan tanganku menyodorkan dokumen itu. Ia memeriksanya sejenak dan mengangguk puas.

“Saya pamit ya, Pak! Info aja kalo ada kerjaan lagi ya Pak,” kataku sambil meraih tas yang tadi kuletakkan di sofa ruang kerja Pak Darma.

“Tunggu, Rin!” ucap Pak Darma, kakiku berhenti melangkah dan kembali menengok ke arahnya. “Pikirkan tawaran itu tadi ya! Kami sangat berharap kau menerimanya.”

Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum dan mengangguk. Yah… aku akan memikirkannya dan mempertimbangkannya. Untuk beberapa hari.

Kantor tempatku tadi bekerja tak jauh dari sekolah putriku. Salah satu alasan yang membuatku menerima pekerjaan sebagai freelance. Maka tak sampai sepuluh menit, setelah melewati dua ruas jalan yang macet, aku sudah tiba. Putriku sudah berdiri menunggu dengan wajah ditekuk.

“Ada apa sih? Sampai begitu wajahnya,” tanyaku begitu kami sudah sampai di sebuah restoran kuliner Indonesia.

Dan dua detik kemudian, putriku mengadukan masalahnya. Ia sedang marahan dengan temannya. Penyebabnya super sepele. Temannya meminjam buku PR tanpa sepengetahuannya. Temannya itu mengambil dari dalam tasnya ketika putriku sedang sholat tanpa izin dan ia tak suka. Sebaik apapun seorang teman, buat putriku ada batasannya. Jangankan orang lain, adiknya saja tidak boleh mengambil barang-barang miliknya tanpa sepengetahuannya. Tapi begitulah caraku mengajarkan, yang menyebabkan putra-putriku sangat tahu pentingnya menghargai milik orang lain.

Kami mengobrol panjang lebar. Aku bertanya, putriku menjawab. Kunasihati putriku untuk menerima maaf temannya dan menjelaskan mengapa ia marah pada temannya itu. Wajah putriku perlahan-lahan semakin cerah apalagi saat kuselipkan lelucon di sela-sela nasihat. Ia mudah marah, tapi mudah memaafkan juga.

“Mah, tadi waktu aku bbm Mamah, ada yang aneh deh,” kata putriku setelah ia selesai curhat.

“Apa?” tanyaku sambil mengaduk nasi goreng di depanku.

“Tadi temanku yang lain nanya kok Mamah gampang banget ngiyain bbmku nyuruh Mamah datang. Trus dia heran juga kok aku curhatnya ke Mamah sih? Waktu aku bilang aku kan anak Mamah, lah terus mesti curhat ke siapa dong? Eh dianya heran.”

“Heran? Maksudmu apa sih, Neng? Mamah jadi gak ngerti,” keningku berkerut bingung.

“Ya dia ketemu Mamahnya aja jarang, apalagi sempet mo curhat-curhatan. Katanya kalo dia minta Mamahnya ngejemput, yang datang kalo gak ojek online ya supir. Kalo di rumahpun, dia malu mo curhat sama Mamahnya, entar malah diledekin masih manja gitu.”

“Loh, namanya manusia, mau yang manja atau tidak pasti suatu hari dapet masalah. Nah siapa dong yang bantuin dia kalo ada masalah selain orangtuanya?”

“Katanya ya nyelesein sendiri, Mah! Aku ya justru bingung dengernya. Gak kebayang gimana aku bisa selesein masalah-masalahku sendiri. Bisa nangis, bete dan puyeng tiap hari deh. Sekarang aja kalo Mamah lagi tugas keluar kota, aku suka pengen nyusul. Kalo gak ada Mamah yang bantuin aku milih apa yang penting dulu aja, aku pasti keteter ngatur waktu ngerjain tugas sekolah yang seabrek itu. Aku juga gak kebayang curhat sama orang lain selain Mamah. Iya kalo orang yang kucurhati bisa kupercaya, kalo enggak? Bukannya tambah masalah aja ya Mah?”

Aku diam mendengarkan putriku yang asyik bicara sambil sesekali menyuapkan mie dan bakso ke mulutnya. Ia diam sejenak, mulutnya sibuk mengunyah bakso lalu kembali berkata, “Makanya tadi dia heran, Mamah kerja kok mau datang hanya buat dengerin aku curhat. Katanya aku benar-benar beruntung. Yah… aku cerita kalo kerjaan Mamah cuma nyetor tulisan doang, dan lebih banyak di rumah. Ngurus rumah sama keluarga. Gitu…”

“Tapi kan temanmu enak, Neng. Bisa minta apapun yang dia mau,” selaku. Telur mata sapi yang tadi kupinggirkan, segera kupindahkan ke dalam mangkok bakso putriku. Ia sangat suka telur mata sapi.

“Iya sih, Mah. Tapi… aku sih mending kayak sekarang aja. Biasa-biasa aja. Gak perlu harus punya segalanya. Mamah itu udah segalanya buatku,” ujarnya tanpa melihatku. Ia sibuk memotong-motong telur mata sapinya dengan garpu dan sendok.

Hatiku terasa penuh. Aku segalanya buatnya. Aku segalanya… buat putriku!

Aku mengambil ponselku, mengetik pesan.

Pak Darma, terimakasih untuk apresiasi dan tawarannya ya Pak. Setelah saya pikirkan lagi, saya mohon maaf tidak bisa menerimanya. Saya akan selalu berusaha bantu apapun yang saya bisa lakukan untuk perusahaan. Tapi untuk bekerja sebagai Manajer, rasanya saya masih belum bisa membagi waktunya, Pak. Saya mohon maaf ya, Pak. Besok pagi saya akan datang dan saya akan jelaskan alasannya. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf.

Dadaku terasa ringan setelah menekan tombol send. Putriku menatap tajam.

“Kenapa, Mah? Ada tugas keluar kota ya?” tanyanya penuh curiga. Ada binar kesal terlihat di bola matanya yang besar itu.

Aku menatapnya, tersenyum lebar. “Tidak, sayangku. Mamah sedang membuat keputusan.”
“Keputusan?”

Aku mengangguk. “Keputusan yang membuatmu kehilangan kesempatan mendapatkan segalanya… kecuali Mamah.”

Putriku melongok, “Mamah nolak tugas ya?” tebaknya. Dengan santai ia mengangkat bahu, “Baguslah, aku lagi banyak tugas dan PR. Aku butuh Mamah banget minggu ini.”

“Memangnya kamu mau Mamah yang ngerjain PR?” tanyaku setengah menggoda.

“Emangnya Mamah bisa?” ejeknya dengan mata jenaka. “Enggaklah, Mah. Aku hanya perlu omelan Mamah supaya ngingetin aku kalo aku harus belajar dan aku perlu pijatan Mamah kalau aku capek mandangin ponsel imut-imutku. Aku juga perlu Mamah buat kupandangin, supaya aku semangat ngerjain tugasku. Yah kalo aku cape ato bete ngerjain tugasku, kan ada Mamah juga buat kubully, hahaha…”

Kami tertawa terbahak-bahak, membuat tatapan orang-orang berpindah pada kami berdua. Ah, peduli amat, aku sedang berkencan dengan putriku tercinta dan aku ingin dunia tahu, it is our world, the happy world!

16 Juli 2016

Persiapan Hari Pertama Masuk Sekolah

Besok hari pertama masuk sekolah. Tapi tidak buat dua anak saya karena hari Sabtu kemarin mereka telah masuk sekolah. Tepatnya untuk memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah mereka yang baru.

Di hari pertama itu, saya dan suami harus berbagi tugas. Saya mengawal si putra dan suami mengantar si putri. Sebenarnya bukan kebiasaan kami berdua ikut-ikutan menunggui anak-anak di sekolah. Tapi karena hari Sabtu, dan ada saran dari pihak sekolah untuk mendampingi mereka serta melengkapi beberapa berkas, maka kami melakukannya.

Tapi, karena si putri sudah masuk sekolah menengah dan diantar oleh Ayahnya, saya mewanti-wanti sang Ayah untuk hanya mendampingi dari jauh.

“Biarkan dia masuk sendiri! Biarkan dia menemukan kelompok kelasnya sendiri! Biarkan dia yang mendekati Ayah kalau dia yang perlu dan hanya tahu Ayah ada, tanpa perlu berinteraksi terlalu sering! Ayah cukup fotoin ruang-ruang di sekolahnya, supaya tahu nanti kalau kita dipanggil harus kemana.”

Dan si Ayah, tentu saja senang sekali. Ia juga tak terlalu suka memperlakukan putri kami seperti anak kecil dan kebetulan pula putri kami tak suka diperlakukan seperti itu.

Setelah beberapa jam masuk dan diberi pengarahan untuk MPLS yang akan dimulai Senin berikutnya, anak-anak pun kembali ke rumah. Mereka mulai penuh semangat bercerita tentang sekolah barunya.

Untuk si putra yang baru masuk SMP, karena saya yang mendampingi, tentu saja tak perlu dipertanyakan. Tapi sejujurnya saya sempat tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laku para siswa baru dan orangtua mereka. Yaah… ternyata masih sama saja seperti di zaman kakaknya dulu. Ketika si putri bercerita, ternyata saya mendapatkan pemandangan yang kurang lebih sama dengan situasi adiknya.

Kata putri saya, masih ada teman-temannya yang tak hanya diantar, ikut mencari kelas mereka sampai mengantarnya masuk ke kelas, bahkan ikut berbaris bersama putra-putrinya. Tak hanya ibu atau ayahnya, tapi kedua-duanya. Yang lebih parah, mereka bahkan memeriksa sampai ujung sepatu anaknya dan tak segan berteriak dari kejauhan mengingatkan hal-hal sepele seperti tali sepatu yang lepas, tas yang harus diletakkan di sebelah kanan, hingga mengantarkan sebotol air di tengah-tengah pengarahan yang diadakan di lapangan itu kepada mereka.

Saya hanya bisa tersenyum-senyum mendengar cerita si putri yang hampir sama dengan adiknya. Dengan setengah memohon, anak-anak saya juga meminta untuk tidak melakukan hal tersebut di depan teman-teman. Bahkan mereka akan mengurus sendiri keperluannya untuk melengkapi seragam sekolah. Mereka malu kalau saya atau ayahnya menganggap mereka masih terlalu kecil.

Buat orangtua, anak-anak akan selalu menjadi anak-anak. Mereka tidak akan pernah dewasa di hadapan mereka. Tapi sebagai anggota masyarakat sosial, kita juga harus sadar bahwa anak-anak bertumbuh dan kelak harus menjadi salah satu bagian dari komunitas. Kebutuhan untuk diakui sebagai masyarakat ini hanya bisa dipenuhi kalau kita, orangtuanya, menganggapnya mereka sudah waktunya belajar untuk melakukan segala hal secara mandiri.

Mengantar putra-putri ke sekolah sungguh baik. Tapi tidak untuk memperlakukan mereka seperti anak kecil terus menerus. Mereka harus belajar untuk memulai sekolah barunya sebagai pribadi yang baru.

Perlu diketahui kalau memasuki SMP, anak-anak memulai masa pendisiplinan dan bukan sekedar belajar. Mereka tidak lagi belajar untuk cara bertingkah laku sebagai anggota masyarakat, tapi untuk mempraktekkan hasil pendidikan di Sekolah Dasar. Sementara memasuki SMA, anak-anak memulai masa belajar untuk mengambil keputusan dan memanajemen diri sendiri.

Selain itu, anak-anak yang diperlakukan manja atau dilindungi secara berlebihan, biasanya akan sulit beradaptasi di lingkungan sekolah barunya. Mereka juga akan kesulitan mendapat teman yang baru dan cenderung tidak percaya diri.

Jadi daripada memperlakukan anak seperti anak kecil di sekolah, dan mungkin saja membuat mereka malu, alangkah baiknya mengajari mereka cara beradaptasi dengan lingkungan barunya saat berada di rumah. Buat mereka mengenal sekolahnya, prestasi alumninya, cara berkenalan dengan teman (cewek/cowok) baru, cara berbicara dengan guru-gurunya atau cara mengatur waktu sekolah dan istirahat di rumah yang pasti berubah.

Lalu, tunggulah setiap hari di rumah! Dengarkan cerita tentang kehidupan baru mereka di sekolah! Dan biarkan mereka menikmati masa-masa remaja, dengan kebebasan yang sewajarnya. Lagipula… Moms and Dads, Let them enjoy the best time in their life!

18 Agustus 2015

Antara Indonesia Dan Korea

Semalam Ayah dan Emak berdebat (lagi). Sebenarnya semua karena televisi. Ayah ingin menonton berita televisi Indonesia, sedangkan di saat yang sama anak2 sedang menonton liputan tentang berbagai festival di Korea selama musim panas.
Karena kalah suara, Ayah sibuk mencari ‘follower’
“Mbok ya sekali-sekali ganti channel dong, peduli sedikit sama petani tomat.”
Tak ada sahutan
“Jangan nonton televisi luar terus, nonton drama korea,  nonton liputan festival di sana… Indonesia juga tidak kalah loh.”
Tetap tak seorangpun bergeming. Anak-anak malah berceloteh riang saat melihat ribuan orang berenang dalam lumpur dalam festival lumpur. Wajah mereka jelas sekali menunjukkan keinginan untuk mencoba bermain seperti itu. It looks sooo enjoyable.

28 Maret 2015

We Are The Best!!

We Are The Best!!
We Are The Best!!
We Are The Best!!
Pekik yel-yel yang menjadi kebanggaan anak-anak TK Ade membahana di dalam bus yang membawa anak-anak pulang dari Taman Mini Indonesia Indah ketika mendapat berita kemenangan dari Kakak Pelatih mereka.
Kemenangan ini sebenarnya tak disangka, karena dari penampilan luar termasuk kostum dan alat musik, drumbandnya benar-benar standard dan biasa-biasa saja. Tak berlebihan sama sekali. 
Jujur, saat datang, di hati para Emak yang mengantar terselip rasa tidak percaya diri yang begitu besar. Bagaimana tidak? Dari sisi alat-alat musik saja sudah terlihat. Ditambah lagi dari sisi kemegahan kostum para peserta yang berjumlah sekitar 30an TK seluruh Jakarta itu.
Kami semakin tak percaya diri, ketika waktu persiapan pun sangat singkat. Akhirnya dengan membaca bismillah… kami tetap berusaha meyakinkan diri sendiri dan juga anak-anak bahwa We Are The Best, apapun yang terjadi.

Lalu apa yang menjadi kelebihan kami?

Dari yang saya pelajari di lapangan, mungkin alasan kemenangan kami adalah kerumitan teknis musik. Tidak seperti peserta lain, anak-anak kami terutama di bagian Bells, memainkan musik yang sebenarnya cukup kompleks dan rumit untuk dimainkan anak-anak seusia mereka. Ada dua buah lagu dengan not angka berbeda, dengan jenis suara satu dan dua, lalu intro yang disertai dengan gerakan tari ‘tangan’ (gerakan ini sempat bikin saya nervous karena Ade selalu salah di bagian itu, sehingga video pun bergoyang karena saya menirukannya agar Ade tidak lupa)
Ada intro drum yang sebenarnya tidak dimainkan dengan baik, karena anak-anak tak bisa mendengar dengan jelas. Tapi jelas sekali… kerumitan teknis musik drumband TK Aulia benar-benar berbeda dengan peserta lain.
Hal lainnya, adalah formasi yang berjalan teratur. Dalam video ini, mungkin tidak terlihat karena saya fokus mengambil gambar Ade. Tapi di belakangnya, barisan perkusi, field commander dan para penari memainkan fungsi mereka dengan sangat baik. Begitu berbeda dengan saat latihan, yang hampir selalu membuat Kakak-kakak pelatih bertegang urat leher.
Next time, if I have more time, I will publish their field practice to let everyone know there is not easy to be this great drum band group.
Buat seluruh anggota Drum Band TKIT Aulia… selamat ya anak-anakku sayang!
Buat para Kakak-kakak pelatih yang sangat sabar dan begitu berdedikasi, serta para Bunda yang penyayang dan perhatian… terima kasih yang sebesar-besarnya.
Buat para Emak, salam kompak selalu!!
Dan Happy Milad Bunda Maya!! What A Great Birthday Gift!!
We Are The Best!
We Are The Best!
We Are The Best!

20 Januari 2015

Mengenali Karakter Anak Melalui Proses Menggambar

Beberapa hari lalu, Kakak meminjam meja kerja saya saat mengerjakan tugas. Tanpa sengaja kakinya menendang sebuah odner di bawah meja dan rasa ingin tahu memancingnya untuk membuka-buka isinya.
Kakak : Ya Allah, Ma… gambar-gambar Ade jelek begini pake disimpan segala. Buang aja nape, pake dikumpulin, distreples dan dicatat tanggalnya pula…
Mama : Gambar-gambar karya Kakak waktu TK juga masih Mama simpan sampe sekarang. Malah udah dijilidin sama Ayah. Kalo sekarang gambar Ade malah Mama share di Insta.
Kakak : iiih,  buat apaaan?
Mama : Buat ngasih lihat sama kamu, sama ade-ademu nanti bahwa kalian itu gak langsung bisa segala-galanya. Tapi semua melalui proses yang panjang. Dan gambar-gambar yang menurutmu jelek itu adalah proses awal yang mengawali semuanya. Mama menghargai semuanya, dari awal sampai nanti pun. Lagian… Ade itu hebat loh Kak, seumur itu sudah bisa menggambar komik.
Kakak : Aaah, aneh ah. Kakak gak ngerti!
Dan percakapan kami berakhir saat itu, Kakak meletakkan kembali filling odner ke tempatnya dan mengerjakan tugasnya sampai selesai.
Tapi di hari-hari selanjutnya, Kakak malah membantu saya mengumpulkan gambar-gambar dari kedua adiknya. Malah meminta saya menambahkan plastik odner yang baru. Untuk meletakkan gambar-gambar poster yang sekarang lagi senang-senangnya ia buat.
Entah apa Kakak kini paham maksud saya. Tapi secara sederhana, saya mengembalikan pada apa yang saya rasakan dulu saat menjadi anak. Bukan main senangnya apapun yang saya hasilkan dihargai orangtua, apalagi orang lain. Walaupun tak sempurna, keinginan untuk terus menghasilkan segala sesuatu yang lebih baik akan semakin besar setiap kali perasaan dihargai itu muncul.
Mengumpulkan hasil karya anak-anak juga mengingatkan saya, betapa cepatnya waktu berlalu. Kemarin jangankan membuatkan gambar Elsa atau Anna dengan baik, membedakan warna saja Ade belum bisa. Sekarang, Ade bahkan begitu rajin membuatkan gambar-gambar para tokoh di Frozen untuk teman-temannya. Bakat menurun yang diperolehnya dari pihak Ayah. Bakat yang akhirnya membuat salah satu adik Ayah mengelana ke luar negeri untuk melukis dinding.
Saya menyimpan semua karya anak-anaknya untuk menghargai setiap jerih payah mereka. Apalagi ketika karya-karya itu memang ditujukan untuk Mama mereka. Anak-anak punya cara tersendiri menyampaikan penghargaan mereka. Ada anak yang mengatakan segala yang ia katakan melalui kata-kata secara langsung, tapi ada yang juga mengatakan apa isi hatinya melalui lukisan atau tulisan.
Tidak mudah membaca isi hati tiga anak, sekalipun mereka saya lahirkan. Mereka tidak sama satu sama lain, walaupun wajah sangat mirip. Mereka berbeda.
Karya mereka, melalui gambar, tulisan, hasil desain grafis, bahkan coret-coretan membantu saya memahami karakter dan isi hati mereka. Ade yang moody, feminim dalam berpakaian, memiliki sifat egois tapi sangat mudah diluluhkan dengan permintaan tolong adalah penyuka karakter-karakter perempuan pintar, cantik dan tangguh. Abang, si pendiam yang sangat suka melukis detail, menyukai segala hal yang berada di langit dan tidak suka diganggu saat melakukan sesuatu yang ia sukai, punya sisi humoris yang tersembunyi seperti Ayah, tokoh yang Abang suka adalah tokoh-tokoh jenaka karena tingkahnya. Sementara Kakak, si penyuka warna pelangi, punya sifat usil, cuek habis tapi sebenarnya dialah yang paling sensitif perasaannya dan karakter film yang ia sukai adalah mereka yang sembrono, tidak pintar apalagi cantik atau tampan tapi punya tekad kuat untuk meraih segalanya.
Saat anak-anak melalui proses kehidupan, perubahan pun terjadi dalam setiap karya mereka. Kakak yang tadinya suka menggambar pemandangan, mulai mempersempit daya khayalnya dengan melukis objek tertentu saja tapi menekankan pada keindahan warna. Abang sebaliknya. Ia jarang mewarnai karyanya, tapi menekankan pada detail objek yang ia lukis. Ade lebih suka menggambar tokoh atau orang daripada benda dan bercerita melalui gambar-gambar itu.
Proses yang mereka lalui itu, berdasarkan apa yang kini mereka alami. Membantu saya membaca apa yang terjadi di dalam diri mereka tanpa kehadiran saya, seperti di sekolah atau saat bermain dengan teman-temannya. Sehingga saat berkomunikasi dengan anak-anak, saya tahu harus berbicara tentang apa. Memperbanyak pembahasan bagian yang kurang mereka kuasai.
Mungkin banyak yang heran, bagaimana sebuah lukisan bisa menggambarkan keadaan anak?
Misalkan Kakak yang menyukai berbagai warna pada setiap lukisan, ini menandakan Kakak sedang merasa bosan. Ia sedang bosan pada kehidupan rutinitas di sekolah, tempat les maupun di rumah. Saya mengajaknya berbicara tentang berbagai rencana di luar rutinitas itu, misalnya bagaimana menghadapi tingkah para cowok yang sedang mengejar cinta, membicarakan thriller lagu terbaru grup idolanya atau  membahas soal drama korea yang ia sukai atau bahkan merencanakan nonton atau makan di luar.
Sedangkan Abang, justru perlu diajari untuk lebih sering bersosialisasi. Ia tak suka mewarnai. Ini menandakan ia kurang suka mengubah segala hal secara drastis, dan cenderung hidup dalam dunianya sendiri. Obrolan yang ia sukai adalah obrolan tentang berbagai objek yang tak berhubungan langsung dengan manusia. Karena itu, saya perlu mengajarinya tentang bagaimana memulai percakapan, bagaimana menghadapi teman atau mengelola perhatian yang ia dapatkan dengan lebih baik. Dari detail lukisannya, Abang adalah pemerhati yang sangat baik sehingga sebagai orangtua, saya juga harus berhati-hati saat bertindak atau akan menjadi kekurangan yang tidak disukai Abang.
Kalau Ade berbeda, ragam tokoh yang ia buat menandakan Ade pandai bersosialisasi, tapi detil warna yang kurang tebal dan tidak penuh menandakan Ade tipe anak yang terburu-buru dan ingin cepat selesai. Dan melatih kesabarannya harus melalui tindakan lain, seperti membuat kue atau melalui permainan.
Mudah kan?
Jadi proses mengenal anak itu tidak hanya melalui obrolan, atau dengan mencatat kebiasaannya, tapi juga melalui apa yang ia hasilkan melalui karya.
Dunia psikologi itu memang luas, sangat luas sekali. Kemampuan membaca kepribadian anak itu juga harus dipelajari dengan seringnya orangtua membaca berbagai artikel dan pengetahuan umum.
Jangan pernah berpikir, bahwa gambar hanya sekedar gambar. Tulisan hanya sekedar tulisan. Kita tak pernah tahu kapan anak kita berubah menjadi orang hebat, kalau proses itu tidak diikuti dengan baik. Dengan proses, kita belajar menjadi orangtua yang baik untuk anak yang kelak menjadi manusia yang lebih baik.

01 Januari 2015

#CeritaRetjehEmak Desember 2014

25 Desember 2014

Ceritanya diajak Ayah ke Karawang

Kakak : Engga ah, males... mendingan Kakak tinggal aja deh

Emak : Tenang aja Kak, kalo di Karawang sinyal internet hape kencang...

Kakak : Emak tau aja yang kumau, hahaha...

Emak : Iyalah, Emak juga gak bisa kalo gak ngidupin data seluler.

Ayah : Kalo begitu, kalo Ayah tugas keluar lagi, gak ada yang dibawa.

Kakak dan Emak : Emangnya enak kalo dibawa pas Ayah tugas??? Destinasinya cuma dua -- hotel sama bandara doang... huuuuu.

Ayah : ^%&*(&#$?!!? 


24 Desember 2014

Pulang ke rumah... dan disambut dengan pertarungan seru perebutan hak televisi antara Ayah, Kakak, Abang dan Ade,

Akhirnya tetap Ade yang menang dan sekarang sedang menikmati kartun dokter Smith yang selalu pengen menjadi penjahat terkenal di tiga negara bagian...

 

17 Desember 2014

Saat aktivitas pagi tadi dimulai...

Ayah : Ade, sarapan sendiri. Udah gede, makan engga dibantu.

Emak : Bang, tolong ambilin cas-an hape Emak di atas, Kakak, bantu Emak cuci piring. Emak mau masak buat makan siang Ade dulu.

Ade (mengomel sendiri sambil makan) Kata Ayah, kalau udah gede gak boleh dibantu. Kata Bu guru, anak-anak harus rajin bantu orangtua. Orangtua kan udah gede, kok masih dibantu-bantu sih? Engga mandiri tahu...

Emak & Ayah : !@#$%^&*??!!

 

3 Desember 2014

Those who love you, love you for who you are.

Those who don't know you, they love you for who they are.

But to love, one needs no permission.

Nor does it need acceptance or approval.

 

2 Desember 2014

Pas pulang tadi, duduk manis di sevel nunggu Carla yang masih kuis... di sebelah ada dua anak kampus yang lagi baca majalah remaja. Dari kaosnya ada lambang yang saya kenal, lambang Alien...

Mbak 1 : teasernya Desember, git!

Mbak 2 : tapi cuma bersepuluh

Mbak 1 : gapapa, yg penting baekhyun masih ada. Kan dia pacar gue. Xixixi...

Mbak 2 : enak aja, dia pacar gue tahu!

Saya (sambil pasang wajah kalem) : mbak-mbak, maaf ya tapi baekhyun itu calon mantu saya... dan teasernya akhir Desember. Itu yg bener.

Mbak 1 & 2 : Hah?!?! Hahahaha.....

Mbak 1 : Ibu ih bisa aja.. hahaha.... ibu kuliah di sini juga kan? Nunggu siapa Bu? Anaknya alien juga ya bu?

.....

Senangnya jadi Emak gaul itu, bisa dapet teman dari segala usia berkat pengetahuan bebas yang ditulari Kakak.


22 Desember 2014

Hadiah Hari Ibu

Anak-anak ternyata lebih pandai bikin Emak mewek sepanjang hari kemarin dengan hadiah hari Ibu yang sangat spesial

Semoga bunga mawar kertas pemberian ade kelak berubah jadi kebun bunga mawar beneran ya De...

Semoga kata-kata indah dari Kakak kelak jadi susunan kalimat indah untuk semua ibu di dunia dalam buku yang ia tulis....

Dan semoga lukisan helikopter dari Abang, suatu hari jadi helikopter beneran buat Emak... hahahaha..

Thank you and I Love you all too 







09 Desember 2014

Cara Mengajarkan Anak Menabung

 

Ada Mama yang nanya "gimana ngajarin anak nabung setelah masuk SD dengan kebiasaan jajan yang terkadang sulit ditahan?"

Gampang... sesuaikan dengan apa yang disukai anak.

Contoh Abang, putra saya yang duduk di SD suka travelling dan semua yang terbang (bahkan serangga pun dia suka) karena itu saya tantang dia nabung beli helikopter besar selama 200 hari. 

Selama 200 hari itu dia belajar menyisihkan uang tabungannya untuk beli heli impiannya. Ketika terwujud, dia sudah terbiasa untuk tidak menghabiskan seluruh uang jajannya.

Untuk mempertahankan kebiasaannya, saya pancing lagi dengan reward yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang. Tentu dengan menyesuaikan kesenangannya. Sampai nanti dia terbiasa.

Tapi ini berbeda dengan Kakaknya yang remaja, yang sudah memasuki fase manajemen keuangan dengan sistem uang jajan mingguan dan telah mengenal Bank/Kantor Pos yang kebetulan ada di samping sekolahnya. 

Reward Kakak pun disesuaikan dengan keinginannya sendiri.

Sekedar tambahan untuk si TK-PraTK, biasanya ada tabungan sekolah, jadi biasakanlah dengan menabung setiap hari meski jumlahnya kecil. 

Biarkan si kecil yang membawa dan menabung, jangan Mamanya yang malah sibuk 🙂

Mungkin ada yang bilang percuma, karena dipakai untuk anak-anak lagi. Tapi ini anggapan yang salah. 

Perjalanan liburan atau ke luar negeri akan mengajarkan anak-anak mengenal dunia lebih luas dan bukan tidak mungkin menjadi titik balik untuknya menemukan tujuan hidup. 

Mendapatkan benda-benda mahal akan mengajarkan anak-anak bahwa tak ada yang tak mungkin didapatkan selama keinginan dilaksanakan dengan usaha. Secara tak langsung kita juga mengajarkan manajemen keuangan pada anak, antara menghabiskan untuk jajan dalam jumlah kecil tapi tidak meninggalkan bekas atau membeli sesuatu yang lebih besar dan bisa dipakai setiap hari atau meninggalkan kesan mendalam baginya.

Semoga bermanfaat.

01 Desember 2014

#CeritaRetjehEmak Nopember 2014

 27 Nopember 2014

Tanggal 06 Nopember...

Emak : Hari ini Wookie birthday loh, Kak.

Kakak : Terus? Emangnya penting? Emangnya Emak diundang?

Emak : $%^&*(??!!

 

Tanggal 27 Nopember...

Kakak : Mak, hari ini Chanyeol ulang tahun loh.

Emak : Terus? Kamu siapanya? Emang diundang? Perlu Emak cariin kado?

Kakak : Pembalasan itu lebih kejam daripada pengkhianatan!!!

 

24 Nopember 2014

Saat Emak bilang kalau tugas anak itu cuma main dan menikmati hidupnya.

Adek menjawab "Mama, anak-anak gak boleh main terus, dia harus belajar juga."

Emak tantang "Belajar apa?"

Adek jawab lagi "Belajar baca, belajar nulis, belajar ngitung, belajar... mm ngaji trus..."

Emak tersenyum penuh kemenangan. "Kalau gitu sekarang saatnya belajar nulis, yuk!"

Adek mengacungkan dua jarinya yang kemarin terjepit pintu. "Tapi tangan Ade masih sakit, Maaa!!"

"Jadi?"

"Ya kita main dulu aja yuk. Main kemah-kemahan..."

😉 Adek, just enjoy your life and start it when you are ready...

 

14 Nopember 2014

Ada teman yang melepas anaknya ke Jepang ikut sosial exchange community...

Ada teman yang melepas putranya ke Singapura main sepakbola...

Ada teman yang melepas putrinya ke Swiss berlomba nyanyi koor...

Ingin belajar dari mereka, bahwa anak mereka bukan juara di kelas tapi ibu mereka menerima, membimbing,  menemani bahkan menyemangati potensi mereka yang lain dengan maksimal.

Ketika saya tanya pun, mereka hanya berkata "memangnya apalagi tugas ibu selain mendukung anaknya?"

 

12 Nopember 2014

Ceritanya sih pengen bantu Abang dan Kakak supaya selalu ingat urusan sekolah mereka dengan memasang post-it  besar di meja belajar masing2.

Tapi pas pagi tadi Emak ngecek, yang tertulis di post-it yang tertempel adalah:

Di meja Kakak

“Kamis : Bunga.... Jumat : My Bday!! makan bareng keluarga... Sabtu : ke MOI beli tas ultahku!!... Minggu : makan bakso w/ Abil n Sahla."

Di meja Abang

Fri : My School Report... Sat : Buy helly w/ Ayah... Sun : Play helly at Monas!!... Mon : go to Dino's house."

Jadi salah siapa kalo PR terlupakan?

 

5 Nopember 2014

Cerita sama Kakak, kalau dulu guru kesenian Emak ngajarnya unik. Waktu pelajaran menggambar, masuk kelas malah nyuruh bikin lingkaran doang, mengarsir, atau berbagai bentuk lainnya tanpa alat bantu.

"Hah? Aneh banget. Kan gampang banget tuh ma!"

Dan ketika Emak suruh kakak bikin lingkaran tanpa bantuan alat, bentuknya tak ada yang lingkaran, malah jadi cembung bahkan ujungnya tak bertemu.

Today lesson : Pelajaran dasar itu penting, Kakak! Karena memancing seni keluar itu tak cuma butuh bakat, tapi juga teknik-teknik dasar.

30 November 2014

Ketika Dokter Bilang Anakku Autis


Kalau ada yang memikirkan dirimu melebihi dirimu dan dirinya, dia adalah ibumu

Kalau ada yang bekerja demi dirimu melebihi kemampuanmu, dia adalah ibumu

Kalau ada yang berusaha lebih baik untukmu melebihi usahamu sendiri, dia adalah ibumu

Kalau ada yang sangat sabar mengurus dirimu, melebihi dirimu mengurusnya, dia adalah ibumu

Karena seorang Ibu tak mengenal kata menyerah!!


Kata-kata itu terngiang di telingaku setiap kali kata 'menyerah' menyinggahi hatiku. Aku seorang ibu, aku akan kuat, aku akan tegar dan aku akan kokoh seperti sebuah karang di lautan, seperti matahari yang tak berhenti bersinar dan seperti gunung yang takkan pernah bergeser di tempatnya.

Tidak ada kata paling menyakitkan di dunia bagi seorang ibu selain mendengar berita buruk tentang anaknya. Dan itulah yang terjadi dalam hidupku. Sangat menyakitkan dan membuatku berteriak marah pada dunia, mengapa itu terjadi pada putriku? Mengapa bukan aku? Apa salahnya hingga di usia sekecil itu dokternya memberi diagnosa pahit seperti itu?

"Anak ibu autis. Dia harus diterapi." Dokter mendeskripsikan sebuah kata yang menghantam seluruh hatiku seperti bom nuklir. Wajahnya tenang tanpa ekspresi murung sama sekali, kejam memberitahuku alasan di balik berbagai masalah yang dialami putriku belakangan ini.

Siapa yang tak bertanya-tanya? Ketika putriku yang lucu dan imut, hanya mampu mengucap dua suku kata di usianya yang sudah masuk angka dua tahun. Itu tak seberapa dengan seringnya ia menolak berkomunikasi denganku. Ia tak mau melihatku, ia sibuk dengan dunianya sendiri walaupun aku berusaha keras mengajaknya bicara atau bermain.

Usiaku masih muda saat itu. Sebagian teman-temanku masih sibuk di dunia pendidikan, yang lain sudah beranjangsana dari satu kantor ke kantor yang lain. Ketika aku sibuk menyuapi putriku dengan susah payah mencari perhatiannya, mereka mungkin sedang tertawa gembira menghabiskan waktu di cafe dan restoran terkemuka.

Tak sekali dua kali air mata ikut menetes, tiap kali sendok penuh makanan berceceran jatuh karena ditepuk oleh putriku. Dia tak mau menyentuh makanannya kalau aku tak memberikan keinginannya. Aku ingin memaksanya, tapi yang terjadi hanyalah kekacauan yang makin parah. Saat itu, aku ingin menyerah.

Tak sekali dua kali teriakanku pecah tak terkendali lagi, saat barang-barang berserakan karena dilemparkan begitu saja dan putriku tak berhenti menangis karena makanan atau minuman yang ia mau tak kuberikan. Aku ingin membuatnya memahami, tolong anakku, dengarkan ibumu. Ibu lelah. Sangat lelah. Mohon kau sekali ini turuti keinginanku. Saat itu, aku ingin menyerah.

Tak sekali dua kali amarahku meledak, saat aku tak lagi sanggup menahan lava di dadaku. Lava yang kutahan demi putriku. Lava yang makin mendidih ketika orang-orang di sekitar kami mendengus dan mencibir. Lava yang terbentuk karena tak seorangpun mau membantuku, tapi malah menyalahkanku. Saat itu, aku ingin menyerah.

Entah berapa banyak airmata yang tumpah di tengah malam, tak terhitung berapa kali aku menggigit ujung kain agar suara isakanku tak membangunkan putriku yang terlelap pulas dalam mimpinya. Satu-satunya saat ia tenang dan diam bagai anak-anak normal lainnya.

Aku tak tahu keajaiban itu selalu mengikutiku. Tidak pernah aku menyadari betapa banyak pertolongan Allah SWT bersamaku saat itu. Aku selalu menemaniku putriku dalam setiap sesi terapinya, menangis diam-diam di luar mendengar jeritannya memanggilku dan berusaha setegar mungkin tidak berlari masuk lalu membawanya pergi sejauh mungkin dari para penerapi itu. Saat itu, aku ingin sekali menyerah.

Aku berusaha tidak menyalahkan apapun dan siapapun. Tidak pada pekerjaanku yang saat hamil putriku itu bergelut dengan oli dan minyak setiap saat. Tidak pada makanan dan obat yang tak kujaga saat empat bulan pertama mengandungnya. Tidak pada kondisi ekonomi rumah tangga yang saat itu benar-benar jatuh terpuruk. Tidak pada keluarga yang saat itu justru tak memahami kesulitanku beradaptasi dengan lingkungan. Tidak, meski berkali-kali aku ingin menyerah.

Kekuatanku kudapatkan dari putriku. Demi Allah, tak ada penyemangat lain selain dari putriku sendiri. Ia mengucapkan 'Mama' dengan lancar, dia memberiku sekuntum bunga dan ia memelukku dengan hangat. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti berpikir untuk menyerah.

Kita takkan pernah menyerah, anakku. Tidak satu detikpun, tidak satu haripun. Kita akan berjuang bersama. Bahkan ketika seluruh dunia menyuruhku berhenti, bahkan ketika dunia tak lagi mendukung putriku. Aku, ibumu akan bersamamu, memberikan seluruh jiwa ragaku untuk mengeluarkanmu dari dunia tak berujungmu yang sepi. Itu janjiku yang terpatri jelas untuknya. Untuk putriku tercinta.

Melalui terapi adalah hal tersulit bagi kami berdua. Karena untuk pertama kalinya kami terpisah. Walaupun hanya beberapa jam, itu juga neraka untukku. Tapi aku tahu, suatu saat semua ini terbayar.

Lima tahun pertama usianya, aku seringkali harus mengurut dada sendiri. Lama-lama terbiasa, dan pada akhirnya aku belajar sabar dari hari ke hari. Tanpa kekuatan sabar, ia takkan pernah tersembuhkan. Walaupun dalam hati, di ujung hati yang paling dalam tersembunyi keinginan memiliki anak cerdas dan berprestasi, aku menyimpan serapat mungkin. Tak ada yang paling kuinginkan saat itu, aku ingin punya anak normal dengan senyum, tawa dan kata-kata untuk berkomunikasi denganku. Itu saja, sederhana.

Tidak mudah menekuk lutut dan memaksanya menatapku tiap kali bicara. Tidak mudah menahan diri menghentikan Ayahnya atau siapapun di sekelilingnya untuk berbicara lebih pelan dengan artikulasi jelas. Tidak mudah mencari kegiatan yang mendukung terapi dan memaksanya berlatih berkonsentrasi. Tidak mudah mencari makanan atau minuman yang sesuai untuk mendukung kesehatannya. Tidak mudah memaksa untuk fokus saat melakukan sesuatu. Tidak mudah mengalihkan perhatiannya dan menuntun ke arah yang lain. Tidak ketika di sisi lain, sebagai seorang istri, aku juga harus membantu suami mencari nafkah.

Waktu mengajariku, kalau semua itu kulakukan dengan mudah maka aku takkan pernah menghargai setiap hal yang kudapatkan. Satu langkah kemajuan, ada airmata, tawa dan rasa syukur bertebaran.

Hanya saja, kadang adapula satu langkah kemunduran terjadi karena lingkungan kadang sangat kejam pada putriku. Aku ingin marah, aku ingin berteriak dan aku ingin bilang pada mereka. Kau adalah putriku, tak ada yang boleh menyakitimu, tidak dengan cemoohan, tidak juga dengan tatapan menuduh seperti yang mereka lakukan padamu di tahun-tahun awalmu di sekolah dasar.

Karena itu aku hanya bisa berusaha dengan keras di rumah bersamanya. Menemani belajar, mengetuk meja agar membuatnya fokus dan memberi makanan yang aman untuk dikonsumsi. Kusiapkan dirinya untuk menghadapi kekejaman dunia. Kupelajari semua hal yang mencegah dirinya kembali ke dunia sendirinya lagi. Aku tak mau. Aku tak mau menyerah karena sekali aku menyerah, seluruh usahanya dan usahaku akan sia-sia.

Demi Allah, tak ada yang tahu bahwa hadiah seorang Ibu yang sabar itu takkan pernah dinilai dengan harta dunia, bahkan tidak bisa disamakan dengan seluruh emas di dunia ini. Karena untuk pertama kalinya, aku menyadari perjuangan selalu berbuah manis dan indah. Bahkan ketika seluruh pialaku selama ini dijejerkan, tak ada artinya dibandingkan satu piagam yang menandakan putriku adalah anak biasa yang juga bisa meraih prestasi. Tak ada yang lebih mahal daripada itu. Jadi jangan salahkan aku ini ketika aku justru menangis saat menemaninya menerima piagam itu. Aku terlalu berterima kasih pada Allah, terlalu bangga dan terlalu terharu untuk menahannya sendirian.

Piagam itu, piala yang kini berjejer rapi di atas meja, dan foto-foto bukti prestasinya yang makin menjulang adalah buah kerja keras itu. Senyumnya tak lagi milik dunianya yang hampa, senyumnya kini untukku dan untuk Ayahnya, untuk kerja kerasnya, untuk sebuah kalimat yang selalu kusimpan dalam hati. Tidak menyerah!

Jangan pernah menyerah! Dan itu tak pernah kulakukan sekalipun. Tidak meski airmata mengering dan seluruh hati dan tubuhku terasa sakit. Seorang Ibu tidak boleh menyerah. Tidak meski dia sangat sedang sakit, tidak meski seluruh dunia bilang ia takkan sembuh. Tidak meski tak seorangpun percaya putrinya bisa sembuh dan membuktikan kalau diagnosa dokterpun bisa salah. Seorang ibu adalah pilar untuk putrinya. Tidak boleh sedikitpun meninggalkan putrinya. Ibu sejati adalah mereka yang selalu menemani putrinya melewati suka dan duka bersama. Itu ibu sejati. Ibu yang takkan pernah meninggalkan putrinya. Ibu yang akan memperjuangkan putrinya bukan untuk kebaikannya semata, tapi untuk kebaikan putrinya. Ibu yang tidak egois dan memikirkan dirinya saja. Kalau saat itu aku memikirkan diriku sendiri, entah apa yang terjadi pada putriku saat ini. .

Tak semua wanita beruntung bisa menjadi Ibu. Tapi tak semua ibu bisa menjalani anugerah terbaik dalam hidupnya sebaik mungkin. Anak adalah anugerah, menjadi ibu adalah anugerah. Menjalani hubungan baik bagi keduanya adalah kodrat terbaik yang harus dijalani dengan kemampuan yang datang dari hati dan usaha sebaik mungkin. Jika tidak semua akan sia-sia.

Maka... cinta dan kasih sayang adalah segalanya untuk membuktikan kitalah ibu sejati. Ibu yang tak mengenal kata 'Menyerah'.

*****




14 November 2014

Tiga Belas Tahun

Mengingat angka tiga belas, seperti mengingat kilasan hari bukan tahun.

Rasanya baru kemarin, menangis histeris bersama Ayah karena diminta menggugurkan kandungan yang telah dinanti selama empat tahun, yang kemudian berganti dengan senyum bahagia karena akhirnya janin itu dipertahankan.
Rasanya seperti berkedip mata, mengingat saat pertama kali mengagumi wajah bayi berambut ikal tebal dengan alis mata tebal yang menangis kencang sekali.
Aku mengingat saat ia mengucapkan “Ayah” lebih dulu dibandingkan “Mama”
Aku mengingat langkah-langkah kecilnya untuk pertama kalinya, menggapaiku di atas rumput hijau.
Aku mengingat dengan baik saat gadis kecil berambut ikal itu sakit tengah malam, dan aku panik seakan jantung berhenti berdetak.
Aku mengingat tangisanku saat keluar dari ruang dokter karena dokter itu bilang “Anak ibu autis.”
Aku mengingat semuanya dengan baik. Mengingat semua luka yang pernah tertoreh di tubuhnya. Mengingat saat-saat ia menghiburku dengan celotehannya. Mengingat semua tingkahnya yang membuatku tertawa. Mengingat saat aku menangis kebingungan tak tahu harus apa menghentikan tangisnya.
Kami melewati banyak hal bersama. Melewati waktu sebagai Ibu dan anak.  Melewatkan masa-masa berat menghadapi diagnosa autisnya, orang-orang yang berniat menyakitinya, dan keadaan yang seringkali tidak kondusif di sekitarnya.
Tiga belas tahun…
Tiga belas tahun sudah kami bersama. Tiga belas tahun menanam cinta dan kasih sayang yang bunganya kini semakin banyak. Tiga belas tahun tak pernah benar-benar terasa, karena semua waktu bersamanya sangatlah berharga.
Aku bahkan bisa membaca apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya bahkan apa yang ingin dilakukannya. Karena dia adalah bagian dari jantungku, hatiku, kakiku, tanganku dan jiwaku. Dia putriku…
Seperti bulan yang jatuh ke perut dalam mimpiku sebelum kehadirannya, seperti itulah Cindya Fauzyah bagiku. Dia cahaya bulanku, cahaya yang menerangi kegelapan. Penantian kelam yang panjang berakhir saat ia datang.
Bagai cahaya, Cindya juga melewati banyak kegelapan sebelum bersinar dengan terang. Dia menggugurkan diagnosa dokter dengan berbagai prestasi. Ia membuktikan bahwa tak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya manusia yang malas. Kekurangannya ditutupi dengan ketekunannya dengan baik. Prestasinya tak pernah berhenti membuatku bangga, hingga mulut dan hati ini tak lagi berani meminta. Buatku, yang penting anakku tersayang bahagia…
Kini, cahayaku sudah remaja. Masalah berputar di sekitarnya. Aku ibunya, dan doaku akan selalu mengiringi tiap langkahnya.
“Ya Allah, semoga putriku sehat dan bahagia setiap saat. Semoga apa yang ia lakukan, apa yang ia pikirkan dan apapun yang ia lewati dalam hidupnya, bisa bermanfaat dan menjadi berkah untuk dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.”

Happy Birthday, Putriku sayang… @Cindya Fauzyah
Sekarang… Hadapi masa remajamu dengan bijaksana, putriku…
Terima kasih untuk segala kebanggaan yang kau berikan untukku
Dan Tolong… tetap jadi Cindya yang sekarang…
Sudah manis dan baik hati, punya hati secantik Fatimah pula.
I love you…

01 November 2014

#CeritaRetjehEmak Oktober 2014

 

31 Oktober 2014

Seribu satu cara Ade mencari perhatian Emak, yang prepare buat ujian di celah waktu...

"Mah.. Ade sudah bisa ngitung sampe 100 dong. Cepat lagi. Cuma semenit."

"Wuaaaah, hebat. Coba Mama mau tahu."

Ade berdiri. Tangannya bersiap-siap dan dia mulai berhitung.

"1,2,3,4,5,6,7,8,9,10"

Satu jempolnya dilipat...

"1,2,3,4,5,6,7,8,9,10"

Jari telunjuknya pun dilipat dan Ade terus menghitung dengan cara yang sama untuk SEMUA jari tangannya.

Dan Emak melihat 'guru'nya di balik bantal tertawa ngakak menikmati muka Emak melongok.

ABAAANG!!!

 

29 Oktober 2014

"Dapet juara berapa lombanya tdi, De?"

"Dua, Bang"

"Wuiiih hebat! Mana hadiahnya?"

"Gak ada. Cuma piala sama piagam aja."

"Loh? Biasanya kan dapet apa gitu. Dapet duit dong."

"Engga sih, dapetnya tas makan sama botol, Bang"

"Trus mana tasnya? Abang lihat dong!"

"Ade kasih sama Rara. Habis dia nangis gara-gara ga dapet hadiah. Kata Mama kan, kalo kita sedekah dikasih 1000 kali lipat. Nah Ade kasih aja sama Rara, supaya bisa dapet tas koper yg gambarnya Ratu Elsa kayak punyanya Kimmy."

Hmm.... bener ga sih cara ngajarin sedekah model begini?

 

27 Oktober 2014

Kemarin saat kami sedang menunggu jam besuk nengok temen Abang yang sedang dirawat. Ada seorang Bapak dan seorang Ibu mengobrol di sisi saya dan Abang.

Bapak : "Katanya fraktur, harus dioperasi."

Ibu : "Emang fraktur apaan, Pak?"

Bapak : "Ga tau, ibu tanya deh lagi. Bapak tadi gak nanya"

Tiba-tiba Abang yang di sebelah saya berbicara dengan si Bapak dan si Ibu tadi.

Abang : "Fraktur itu tulang yang patah atau pecah, Om"

Bapak : "Hah benarkah?" Dan mereka berdua kembali masuk ke UGD.

Emak : "How could you know that, Bang?"

Abang : "Dari TV, Mom. C Beebies sains. Ade juga tau."

Emak : "Hah?? (Manggil Ade) Ade tahu fraktur itu apa?"

Ade mengangguk : "Iya. Kan... tulangnya lepas jadi dua gitu Mah. Nah itu namanya fartur (Ade gak bisa nyebutin dengan benar, tapi ia meniru gaya yang ia lihat di TV) "

Emak : (mancing) Trus kalau udah fraktur gitu, bisa diobatin gak?"

Ade : "Bisa, pake lem alami. Namanya kalsium mah. Kata Kakak, kalsium itu dapetnya dari susu sama vitamin. Habis itu supaya gak geser-geser karena lemnya nunggu keras. dipakein gits (Lagi-lagi Ade salah mengeja dan Emak memperbaiki)"

Oooh... kelihatan kan manfaat memilih tayangan yang tepat untuk anak.

 

15 Oktober 2014

Hari ini habis seharian bermandi matahari menemani Ade lomba, Emak pun singgah ke salon sekedar merawat wajah. Sampai di rumah...

Emak : "Duh, kencangnya kulit muka nih kalo habis ke salon!" (sambil mengusap-usap pipi dan memandangi si cermin)

Abang, yang kebetulan lewat di belakang Emak dan melirik sebentar. "Ya iyalah, kencang, kan pipi Mom tembem. Lemaknya banyak. Gak perlu disilikon,” ujarnya sambil ngeloyor pergi.

Sementara Ayah dan Kakak ngakak gak pake malu-malu.

-___-

 

1 Oktober 2014

Sampoo

Emak : Kak, kakak pake sampoo Emak lagi ya?? Sampo Emak baru seminggu sudah habis!!

Kakak : Hehehe iya Mak, biar rambut Kakak selurus Emak.

Emak : Oalaa Kak, sampomu kan ada. Lebih bagus dan cocok sama rambutmu. Kalo sampo Emak kan conditionernya gabung. Ga cocok sama rambut keritingmu

Kakak : Gak ah, riweuh pake sampo itu. Mesti pake conditionernya,  pake vitaminnya... capek deh!!

Emak : Ya itu kan supaya rambutmu ga kusut.  Emak aja pengen punya rambut keriting gitu. Kamu dikasih bukannya bersyukur.

Ayah : Apa lagi sih yang diributin pagi-pagi begini?

Emak ngadu, Kakak juga ga mau kalah. Dan akhirnya Ayah berkata

"Ya sudah, kalian tukeran sampoo aja. Siapa tau rambutnya juga nanti jadi berubah... rambut Kakak jadi lurus dan Emak jadi keriting. Gitu aja kok repot."

Emak: AYAAAH!@#$$/?!!

21 Oktober 2014

Dunia Remaja : Perhatian & Kasih Sayang

Saat anak menginjak remaja, masih perlukah ia akan kasih sayang dan perhatian??
“Tan! Cek wattpadku yaa… aku nulis tuh. Komen, komen pls”
Bbm bernada manja itu dari salah satu sahabat kecil saya, salah satu teman Kakak (panggilan untuk putri saya) yang kemudian menjadi sahabat saya juga.
Tanpa menjawab bbm itu, saya langsung mengecek wattpad. Padahal posisi saat itu sedang berada di depan sekolah Ade, menanti jam sekolahnya usai.
Cerita fiksi karya sahabat kecil saya itu menarik, siapapun pasti tahu pengarangnya seorang remaja karena ceritanya yang jelas-jelas berbahasa remaja. Meski temanya tidak fokus dan ceritanya berkembang terlalu lebar, tapi yang menarik adalah ceritanya yang fantasi banget. Perlu imajinasi tinggi untuk bisa menulis cerita khayalan yang luar biasa itu. Dan saya membalas “Luaar biasa, Kak A***. Great Story! Keep Writing, Luv!”
Dulu saya kira, semua orang tua yang memiliki anak berusia remaja seperti Kakak atau sahabat kecil saya itu, akan merasa bahwa memiliki mereka berarti menyenangkan. Karena itulah yang saya dan Kakak rasakan. Sesekali kami ‘berantem’, sesekali saya marah pada Kakak dan sebaliknya, bahkan tak jarang kami saling ‘membully’. Tapi saya dan Kakak kompak dalam satu hal. Kami sama-sama ingin menjaga hubungan kami menjadi hubungan yang akan selalu menyenangkan.
Karenanya, Kakak begitu terbuka pada saya. Begitupun saya pada Kakak. Sesuatu yang tidak dipahami oleh ibu-ibu lain ketika saya bercerita. Mereka bingung, saya juga…
Lalu saya menyadari sesuatu yang berbeda ketika saya dan Kakak bersama di depan teman-temannya. Kami bercanda seperti biasa. Kakak ‘membully’ saya seperti ketika ia bercanda dengan temannya dan saya ‘berpura-pura’ merengut marah. Lalu, kami tertawa sama-sama. Feeling fun… membuat teman-teman Kakak yang tadinya kaku bersikap pada  saya, mencair dengan sendirinya dan mulai berani ikut bercanda.
Tapi ini berbeda ketika Kakak memperlihatkan sesuatu. Tanpa sengaja saya melihat seorang teman Kakak sedang berdiri di samping Mamanya. Dari ‘gesture’ tubuh, saya bisa melihat kekakuan di antara mereka.  Pemandangan ini tak sekali dua kali saya lihat, bahkan terlalu sering dengan orang tua dan anak yang berbeda.
Sebagian besar teman-teman Kakak mengalaminya. Kesibukan orangtua, Ibu dan Ayah yang sibuk entah kemana bahkan di hari libur, atau Ayah Ibu yang hanya sibuk dengan adik-adiknya dsbnya. Tak jarang, mereka justru menyembunyikan ‘hobi’ mereka yang positif dari orangtua sendiri. Dan yang selalu ingin pamer tulisannya pada saya itu, bukan hanya satu-dua orang, tapi juga tak cuma itu.
“Habis kalau sama Mama atau Papa, nanti malah ditertawain, Tan… Malu ah!” Itu kata mereka, ketika saya minta untuk memberitahu orangtuanya. Bukankah orangtua seharusnya cheer leader buat bakat putra-putrinya, bukan sebaliknya?
Padahal, masa remaja adalah masa transisi. Masa perubahan yang seharusnya dipenuhi dengan keterbukaan dan keselarasan hubungan anak – orangtua. Tanpa semua itu, masa remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu, hal-hal baru yang mengejutkan dan masuknya berbagai pemahaman baru yang membingungkan akan semakin terasa berat buat si anak remaja.
Tahukah para orangtua? Ada saat di mana seorang anak remaja tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba dijauhi teman-temannya, ada saat dimana ia merasa benar-benar kebingungan karena perubahan bentuk tubuhnya, ada saat dimana ia bingung harus bertanya pada siapa tentang masalah di sekelilingnya, dan bahwa belajar bergaul itu tidak berhenti di usia tertentu tapi justru harus terus dikembangkan terutama di masa-masa remaja. Apalagi sekarang pengaruh teknologi dan sinetron televisi telah memberi efek negatif terhadap pergaulan remaja.
Alasan karena sibuk, rasanya sudah basi di zaman teknologi secanggih sekarang. Perhatian terhadap anak tak boleh renggang apalagi berkurang. Tapi mendidik anak itu seperti bermain layang-layang, kadang diulur dan kadang ditarik. Artinya sesekali bebaskan langkahnya, namun di kali lain awasi tingkah lakunya. Semua tergantung keadaan masing-masing.
Caranya bagaimana? Setiap hubungan selalu memiliki keunikan masing-masing. Setiap anak-orangtua pasti punya rahasia untuk menjaga hubungan mereka dengan cara masing-masing.
Saya dan Kakak meluangkan minimal setengah jam setiap hari untuk mengobrol. Walaupun yang kami obrolkan kebanyakan hanya bercanda. Tapi tak jarang, kami juga membahas pelajaran sekolah, bahkan meski saya tak pernah bisa menghafal nama-nama anggota grup musik Korea favoritnya, kami sering mengobrol soal gosip terbaru dari grup musik itu. Buat Kakak, saat itu saya bukan lagi Emak, tapi sahabatnya…
Tak perlu harus memaksa anak remaja bicara, cukup dekati dan duduk di sebelahnya. Mulai dengan menceritakan kisah humor atau sesuatu yang kita tahu pasti menarik perhatiannya, maka biasanya semua mengalir dengan lancar.
Remaja itu identik dengan menganggap segalanya itu ‘santai’. Jadi bersikaplah santai menghadapi mereka. Jangan cepat emosi hanya ketika anak lupa untuk ‘salim’ atau bercanda sedikit kelewatan. Tegurlah melalui candaan juga. Tapi biasanya anak yang kalau bercanda kelewatan itu karena melihat orangtuanya yang suka bercanda juga kelewatan. Tetap ajari mereka batas-batas bercanda, agar cara bercanda mereka tidak membuat mereka justru kehilangan teman.
Hubungan yang baik dan komunikasi yang terpelihara, akan menanamkan rasa tanggung jawab pada anak dan menumbuhkan kepercayaan orangtua pada anak. Ketika jalinan itu dijaga bersama-sama, maka hubungan antara anak dan orangtua pun akan melewati batas normal. Indera keenam atau intuisi seorang ibu akan terlatih khusus untuk membaca kebutuhan anak. Percayalah… ini sulit sekali dilakukan kalau tidak dilatih. Tapi ketika sudah muncul, kebanyakan inilah yang akan membantu orangtua membantu anak nantinya.
Berkali-kali perasaan tidak enak saya terjawab dan berkali-kali pula saya berhasil membantu Kakak melalui masa sulitnya, hanya dengan mengandalkan intuisi seorang ibu. Intuisi yang dianugerahi Tuhan, diasah oleh pengalaman dan kasih sayang untuk kebaikan anak dan orangtuanya sendiri.
Karena itu, jangan pernah biarkan anak remaja Anda merasa sendiri. Penuhi seluruh kebutuhan kasih sayang dan perhatian untuknya, bahkan ketika ia merasa sudah dewasa. Anak-anak akan selalu jadi anak-anak. Tapi jadilah Ibu sekaligus sahabatnya, jadilah Ayah sekaligus teman baiknya. Karena anak adalah amanah dari Tuhan, maka jalanilah amanah itu sebaik mungkin.

08 Juli 2014

Jangan Takut Kalah, Nak!

Tahun ini berita gembira mewarnai keluarga kami… Kakak menjadi juara kelas, Abang mengalami peningkatan hasil belajar yang luar biasa, sementara hasil kuliah saya juga benar-benar mencengangkan. Sungguh di luar dugaan mendapat rezeki kemenangan ini. Dan itu benar-benar membuat kami sekeluarga sepakat untuk lebih amanah dalam menjalani proses pendidikan.
Karena itu, Kakak yang tadinya tak ikut les pelajaran meminta saya menambah jam belajar dengan mengikuti les tambahan karena ia merasa sedikit kesulitan di kelas 7. Apalagi karena saya juga kesulitan untuk membagi waktu antara waktu kuliah yang padat dengan jam belajar anak-anak, sehingga seringkali tak bisa menemani Kakak belajar dan lebih berkonsentrasi pada anak-anak yang lebih kecil, Abang dan Ade.
Jadi kami berdua pun mencari tempat les. Kebetulan di dekat rumah ada sebuah tempat les yang cukup terkenal dan biayanya pun terjangkau. Singkat kata, Kakak pun mendaftar.
Namun, ketika liburan kemarin, Kakak sempat bersungut-sungut.
“Mah, Masak temen Kakak pengen ngeles bareng Kakak di N**** F****?” ujarnya memberitahu saya.
“Ya udah kasih tahu aja kali kak berapa biayanya?”
“Ah nggak ah, nanti Kakak kalah.”
“Kalah?” tanya saya bingung.
“Maksudnya entar kalau kami belajar bareng, nah nanti gimana kalau misalnya dia lebih bisa, lebih pinter terus nilainya lebih bagus. Kan otomatis rangking kakak kalah sama dia. Engga ah, ngga mau dikasih tahu.”
“Ya gak boleh gitu, Kak. Kakak salah kalau berpikir begitu. Harusnya kakak senang kalo teman kakak mau belajar bareng. Kan kakak jadi ada temannya, jadi lebih semangat deh. Terus entar di kelas bisa saling mengingatkan siapa tahu ada yang kakak lupa.”
“Mm… gitu ya Ma.”
“Iya sayang. Lagian menang kalah itu biasa. Justru kalah itu kalau menjadi pemenang yang sombong atau orang kalah yang arogan. Artinya percuma kalau menang untuk sesuatu, kalau jadinya kita malah sombong. Atau kalah tapi malahan gak terima terus ngajak ribut atau bikin kerusuhan. Nah itulah kalah yang sebenarnya. Kalau cuma kalah rangking, duh itu mah biasaaaa…. “
“Mamah gak papa kalau kakak gak rangking?”
“Emang sejak kapan Mamah marah kalau kakak gak dapet rangking?”
“Mmm.. gak pernah sih, tapi nyindiiirnya itu loh.”
“Itu bukan sindiran. Itu motivasi ala Mama, Neng. Ngingetin sama Kakak kalo dikalahin itu gak enak, jadi Kakak rajin belajarnya.”
“Motivasi??? Kalo motivasi kayak gitu, Kakak gak butuh kelesss!! Bener-bener jatuhin mental. Juri Masterchef mah kalah sama motivasi Mamah.”
“Hahahaha…. segitunya ah lebay!!” Kami pun tertawa-tawa. Baru kemudian saya mulai menyelipkan sebuah nasehat.
“Lagian ya Kak, Dibandingkan dengan kalah atau menang. Yang lebih penting itu Kakak punya kesempatan berbagi ilmu. Kakak tahu kan Mamah gak pernah bisa belajar. Siangnya ngurus kalian, malam mama harus selesaikan artikel. Kapan punya waktunya? Tapi kakak tahu kan, tiap hari di hape Mama adaaaa aja teman-teman Mama yang berkonsul masalah pelajaran. Nanya inilah, nanya itulah. Beberapa bisa mama jawab langsung, lainnya karena Mama gak tahu ya otomatis Mama cari di modul atau googling. Akhirnya Mama juga ngerti. Mama bisa berbagi sekaligus belajar.”
“Terus nih Ma, kalo misalnya Kakak udah bantuin teman, ngajarin dia eeh… terus rangking Kakak dikalahin, gimana?”
“Itu artinya Kakak menemukan satu lagi kehebatan Kakak,” tandas saya.
“Maksudnya? Kakak justru hebat karena rangking dikalahin?”
“Ya… karena itu artinya Kakak adalah guru yang hebat. Bisa membuat murid Kakak lebih pinter. Apalagi kalau kakak bisa menerima kekalahan itu dengan mengucapkan selamat, waaah… ill be so proud to you if you do it, Hun. Artinya Kakak memiliki jiwa besar. Dan orang besar adalah mereka yang memiliki jiwa yang besar. Ngerti!”
“Nggak, Mah. Nggak sama sekali. Mamaku!! Hahahaha,,,” jawab Kakak bercanda. Kebiasaannya kalau ingin menghilangkan suasana tegang atau kaku.
“Tapi ingeeet Kak!! Jangan pernah membantu saat ujian ya!!”
“Alaaah, itu maah tenaaang. Kayak Mama gak tahu kakak aja.”
Dan satu pelajaran lagi buat putriku tersampaikan dengan baik.
Jangan takut kalah, Nak. Kalah menang itu biasa. Tapi yang luar biasa adalah cara kita menghadapinya, apakah kalah dengan berjiwa besar atau malah bersikap kerdil dan picik, Atau menang dengan amanah dan santun atau malah dengan menjadi pemimpin yang sombong dan arogan.
Kalah atau menang bukanlah akhir dari sebuah kompetisi. Justru kompetisi itu baru dimulai ketika hasil diumumkan, apakah kalah berarti membuktikan ketidakmampuan atau kemenangan membuktikan bahwa kemampuan itu memang ada.
Besok Pemilu Presiden 2014. Putri saya mempelajari arti menang dan kalah yang sesungguhnya. Semoga para calon presiden, tim sukses dan para pendukungnya juga sudah benar-benar memaknai arti menang dan kalah, agar besok apapun hasilnya, kedua pihak bisa menerima kalah dengan berjiwa besar atau menang dengan berprinsip bahwa inilah amanah yang harus diemban dengan keikhlasan.
Semoga…