Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan

01 Juni 2017

Semua Orang Sakit Jiwa!

 Semua orang sakit jiwa!


Pernyataan itu tiba-tiba dikeluarkan oleh salah satu dosen saat saya masih kuliah dulu. Kelas yang tadinya berisik karena diskusi mengenai pembahasan materi seketika lengang dan perhatian langsung tertuju sepenuhnya pada dosen itu. Bukannya memulai, dosen kami malah sibuk melakukan berbagai hal remeh seperti meletakkan ponselnya dalam tas, menghapus papan tulis dan baru akhirnya tersenyum menghadap ke arah kami.

Dalam penjelasannya, ia memberitahu kalau yang barusan ia lakukan tujuannya adalah untuk mendapat perhatian. Saat itu ia menjelaskan soal rangsangan untuk mendapat perhatian dan objek yang menjadi perhatian. Dengan objek berupa sebuah kalimat yang justru keluar dari pembahasan sebelumnya telah berhasil merangsang kami untuk memberi perhatian padanya, tanpa perlu diminta. Ia berhasil melakukannya hanya dengan satu kalimat pendek.

Manusia terlahir untuk memiliki naluri memusatkan diri pada segala hal yang menarik perhatiannya. Tapi tidak berarti perhatian itu menjadi bermanfaat atau membuahkan hasil bagi subjek yang menjadi sumber perhatiannya.

Reaksi yang ditunjukkan oleh seseorang untuk menunjukkan perhatian inilah yang seringkali tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dan pemikiran yang matang bisa berakibat fatal justru kepada mereka yang berusaha mencari perhatian.

Kaum narsistik, atau mereka yang selalu ingin menjadi perhatian karena rasa cinta yang berlebihan terhadap dirinya sendiri akan semakin bertambah parah jika reaksi yang diberikan oleh para pemerhati justru berlebihan. Komentar positif atau negatif yang diberikan bisa jadi akan membuat kaum ini justru semakin berani dalam melakukan sesuatu untuk menarik perhatian.

Narsistik.JPG

Kita bisa melihat banyak orang yang berusaha menarik perhatian dengan kicauan di media sosial yang bernada negatif pada orang lain. Apapun tujuannya, mari kita berpikir positif saat menanggapinya. Tapi yang terjadi di masyarakat dunia maya justru sebaliknya. Begitu melihat sebuah statement yang tidak sesuai dengan pribadi mereka, netizen atau masyarakat dunia maya langsung menyerang tanpa pikir panjang. Memang balasan komentar itu beragam, dari mulai nasihat sampai sumpah serapah. Sayangnya, ketika respon mereka tidak terbalas, kemarahan pun meluap dan meluber kemana-mana hingga orang yang tidak berkepentinganpun terkena imbasnya.

Fenomena ini telah terjadi di mana-mana. Entah apa harus kita syukuri atau justru malah menjadi keprihatinan. Perhatian bisa sangat berguna untuk kaum miskin di sekitar kita, seperti usaha-usaha yang dilakukan untuk mengumpulkan dana bantuan atau usaha untuk membantu pengobatan seseorang. Tapi perhatian menjadi masalah, ketika hal-hal tak perlu justru dikomentari panjang lebar dan tak berkesudahan. Pembahasannya hanya untuk saling menjatuhkan dan bukan kritik untuk membangun kepribadian yang lebih baik.

Sudah saatnya kita berhenti untuk memperhatikan hal-hal yang tak bermanfaat. Seseorang dengan jiwa yang labil, berusaha untuk mencari perhatian dengan cara-cara tidak sehat tidaklah pantas mendapat perhatian, apalagi yang berlebihan. Bahkan tidak pantas bagi siapapun untuk menghujat seseorang apapun masalahnya. Orang-orang yang labil justru harus dibantu untuk keluar dari masalah mereka, keluarganya harus diberi kekuatan agar tetap tegar dan tabah menghadapi kelabilan itu.

Kalau memang ingin memberikan perhatian, coba tengok dunia nyata dan lihatlah orang-orang yang lebih pantas diberi perhatian. Kalau tidak, mungkin sebaiknya kita belajar menahan diri sendiri untuk belajar merespon sesuatu agar bisa mendatangkan manfaat untuk diri sendiri dan berhati-hati memberi perhatian berupa kritik agar tidak menyinggung orang lain atau menyakiti orang yang justru tak tahu apa-apa.

31 Mei 2017

5 Fast Food Dunia yang Terkenal di Indonesia

Biasanya fast food dianggap sebagai makanan yang memiliki nilai nutrisi rendah, dengan banyak lemak, dan proses memasak atau menyiapkannya sangat mudah dan tidak lama.

Tapi, banyak makanan yang tergolong fast food yang kalau diartikan sebagai 'makanan siap saji' justru lebih mudah dan cepat diterima di berbagai belahan dunia. Bandingkan saja makanan pokok orang Amerika yang berbeda dengan orang Indonesia, tapi beragam fast food ala Amerika dengan mudah beradaptasi dengan lidah orang Indonesia. Tidak hanya terjadi di negara kita, fast food juga beradaptasi di negara-negara lain.

Meski sering dianggap tidak sehat, perkembangan makanan tergolong fast food semakin pesat. Berbagai modifikasi dan variasi rasa yang disesuaikan dengan lidah penduduk lokal membuat jenis makanan ini menjadi semakin terkenal.

Berikut beberapa makanan tergolong fast food yang menjamur di dunia, dan terkenal juga di Indonesia.


Burger atau Hamburger


Fast food asal Amerika terbuat dari lapisan roti dengan daging hewani, biasanya daging sapi. Istilah hamburger sebenarnya diambil dari bahasa Jerman, lebih merujuk ke nama sebuah kota yang pada perkembangannya akhirnya dianggap sebagai sebuah makanan yang berbahan dasar daging hewani.
Namun seiring perkembangan zaman, variasi burger atau hamburger kini dikembangkan sesuai dengan keinginan masyarakat lokal. Ada burger berbahan dasar daging unggas seperti chicken burger, turkey burger. Ada juga burger yang berbahan dasar ikan seperti tuna burger dan terakhir burger yang khusus bagi mereka yang lebih memilih sayur-sayuran sebagai bahan utama yaitu veggie burger atau vegan burger.



[caption id="attachment_996" align="aligncenter" width="473"]Tempeh-Burger-with-Cheese-Avocado-1024x683 dok. foto : latestvegannews.com[/caption]
Di Indonesia, burger hadir dengan variasi rasa yang disesuaikan dengan lidah lokal yang menyukai rasa yang kuat dan tajam. Burger kini dipadukan dengan masakan asli Indonesia seperti Burger Rendang. Sausnya juga berasal dari berbagai bumbu khas Indonesia, seperti mayonaise yang diganti dengan olesan sambal Taliwang.

Rantai penjualan dari makanan ini juga mendunia. Di Indonesia, kita mengenal Kentucky Fried Chicken, McDonald, Burger King, Carl's Jr. A&W dan lain-lain. Tapi tidak hanya dari negeri asalnya, kini juga sudah banyak perusahaan franchise burger lokal yang mulai berkembang seperti Edam Burger, Burger Blenger, Mistar Burger dan masih banyak lagi.


Pizza


Pizza adalah roti berbentuk bundar yang dipanggang, di bagian atas roti ditaburi campuran sayur, potongan lauk tertentu, keju dan saus. Jenis sayuran dan potongan bahan makanan tambahan di atas roti atau bahkan disisipkan di bagian pinggir roti bisa dipilih atau disesuaikan dengan selera masing-masing.

Anak-anak, tua muda dan remaja semua menyukai makanan yang berasal dari Italia ini. Meski tidak se-terkenal Burger yang lebih dulu masuk ke Indonesia, tapi seiring perkembangan zaman, Pizza juga mulai akrab di lidah masyarakat Indonesia. Meski harganya tidak murah untuk kantong anak muda, tapi rasanya yang khas dengan cepat membuat makanan ini dikenal baik.

Beberapa franchise luar negeri seperti Pizza Hut, Domino's Pizza dan lainnya, melakukan inovasi rasa dengan menggunakan bumbu khas lokal agar minat pembeli meningkat sekaligus mengurangi biaya produksi terhadap bahan produk yang harus diimpor dari negara lain. Kandungan nutrisi yang dianggap berkalori tinggi kini juga dimodifikasi agar menjadi menu yang lebih sehat.



[caption id="attachment_1004" align="aligncenter" width="364"]cheeseburger-pizza-6 Dok. foto : spicysouthernkitchen.com[/caption]
Akibat minat luar biasa para penikmat pizza lokal, sekarang juga mulai bermunculan franchise lokal yang mengembangkan berbagai pizza dengan bumbu lokal dan teknik pemasaran yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Bahkan pizza yang lebih dikenal dengan sajian di restoran, kini hadir ala warung tenda atau gerobak di mal-mal beberapa kota besar. Pizza juga tak lagi dijual dengan lingkaran bulat utuh, tapi berupa slice atau potongan yang harganya lebih terjangkau.


Mie Instan


Mie instan adalah makanan yang terbuat dari tepung yang dipadatkan lalu dibentuk memanjang, dimasak dan dikeringkan. Proses penyajiannya cukup direbus atau direndam dengan air panas terlebih dahulu sebelum diberi campuran bumbu atau diolah lagi menjadi jenis makanan tertentu.

Makanan berjenis fast food yang satu ini dikenal hampir seluruh orang Indonesia. Bahkan salah satu produk unggulan mie instan di Indonesia, menjadi merek terkenal di negara lain.

Meski makanan jenis ini sangat digemari masyarakat dunia. Tapi jenis dan bumbu mie yang menjadi khas negara masing-masing ini berbeda. Maka, walaupun ramyun atau ramen digemari oleh masyarakat di negara Korea, tapi di Indonesia mie instan yang lebih digemari adalah indomie dengan bumbu khas seperti kari ayam, ayam bawang dan lain-lain. Jadi jangan heran saat melihat ada turis Korea merasa perlu membawa beberapa bungkus ramen ketika travel ke luar negeri atau wisatawan Indonesia yang tak pernah melupakan indomie tiap kali bertandang ke negara lain. Bahkan mereka yang berada di luar negeri selalu merindukan mie instan negerinya masing-masing. Tak lengkap tanpa mie produksi dalam negeri yang khas.



[caption id="attachment_1010" align="aligncenter" width="466"]Mama_instant_noodle_block.jpg Dok. Foto : en.wikipedia.org[/caption]
Perkembangan mie instan di dunia kuliner membuatnya kini hadir dengan berbagai variasi penyajian. Ada yang digoreng, direbus dan dipanggang. Karena mie instan juga dianggap junk food yang tidak sehat, kini banyak yang menyajikan mie instan dengan tambahan sayur mayur atau lauk pauk lengkap. Bahkan ada schootel yang terbuat dari mie instan.

Indonesia adalah salah satu negara produsen mie instan terbesar di dunia (wikipedia). Juga termasuk salah satu negara yang rakyatnya banyak mengkonsumsi produk ini. Produk mie Indonesia, yaitu Indomie juga sangat terkenal di Nigeria. Di negeri ini, produk mie merek apapun disebut dengan nama merek tersebut saking terkenalnya. Padahal di Indonesia sendiri, produsen mie cukup beragam.


Ayam Goreng / Fried Chicken


Fried Chicken atau Ayam goreng tepung adalah potongan daging ayam yang dibaluri oleh tepung berbumbu dan digoreng hingga berwarna kuning keemasan, rasanya gurih dan renyah.

Ayam Goreng Tepung atau Fried Chicken menjadi salah satu jenis fast-food khas Amerika. Beberapa perusahaan yang menjadi jaringan fast food ini telah mewabah di Indonesia. Sebut saja KFC, McDonalds, A&W, CFC dan lain-lain.



[caption id="attachment_1017" align="aligncenter" width="391"]maxresdefault.jpg Dok. Foto : i.ytimg.com[/caption]
Meski berasal dari Amerika, produk ayam goreng di Indonesia disesuaikan dengan selera lokal. Ragam makanan pelengkap lain seperti nasi dan sayur juga menjadi tambahan penyesuaian terhadap produk yang satu ini.

Sekali lagi, sama seperti jenis fast food yang lain, Ayam Goreng khas Amerika ini juga mengundang para pengusaha kuliner Indonesia untuk membuat ayam goreng namun dengan rasa lokal. Sekarang banyak bermunculan kemitraan usaha ayam goreng yang merupakan brand lokal seperti Hisana, Crispyku, Orchi dan lain-lain.

Pada awalnya fried chicken hadir dengan penampilan bersih, gurih dan renyah dengan saus terpisah. Tapi seiring dengan perkembangan kuliner dan hasil percampuran kebudayaan, kini juga hadir ayam goreng atau fried chicken bersalut saus khas. Bentuknya juga banyak bertransformasi, dari potongan besar menjadi potongan kecil-kecil yang renyah dan lebih mudah dikonsumsi.


Donat


Donat adalah makanan ringan yang terbuat dari adonan campuran tepung, gula, telur, mentega dan ragi lalu digoreng. Bentuk dasarnya yang paling umum bulat dengan lubang di tengah seperti cincin yang dihias dengan beraneka topping dan yang bentuknya bundar dengan isian manis seperti krim, jelly, susu dan lain-lain.

Asal usul makanan yang satu ini masih belum jelas. Donat telah dikenal luas oleh masyarakat dunia sejak lama. Di Indonesia, donat diperkenalkan oleh gerai penjual donat dari Amerika yaitu Amerika Donut, yang kemudian diikuti dengan dibukanya salah satu gerai donat yang terkenal hingga kini yaitu Dunkin Donuts.



[caption id="attachment_1021" align="aligncenter" width="500"]tumblr_static_donutsnews.jpg Dok. Foto : Tumblr.com[/caption]
Sama halnya dengan fast food, pengusaha kuliner lokal juga bergeliat dengan inovasi masing-masing untuk menampilkan ciri khas donat sebagai produksi mereka. J.Co salah satu brand donat lokal telah berhasil menghidupkan kembali kegemaran masyarakat terhadap fast food yang satu ini.

Namun, tidak berarti makanan ini bersifat eksklusif karena banyak sekali donat-donat buatan masyarakat yang diperdagangkan dengan harga lebih terjangkau dan rasa yang juga bervariasi. Malah ada donat kentang, yang menjadi hasil inovasi masyarakat kalangan bawah untuk mendapatkan donat dengan kualitas baik berharga murah. Donat kentang bertekstur lebih lembut dibandingkan donat pada umumnya.

Demikian beberapa jenis fast food yang juga menjadi makanan favorit masyarakat di Indonesia. Meski disesuaikan dengan selera lokal, tapi semua fast food tersebut kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di daerah perkotaan. Pembauran selera dan budaya juga memunculkan jenis fast food yang lebih bervariasi dan beraneka ragam. Bahkan keterlibatan pengusaha kuliner lokal yang inovatif semakin memperkaya ragam fast food dan meningkatkan daya saing yang mengutamakan selera penikmat. Setidaknya pilihan itu ditentukan oleh masyarakat, bukan lagi

28 Mei 2017

Cara Praktis Atasi Anyang-anyangan dengan Prive Uri-Cran Plus

Suatu hari, saat saya tengah bekerja menyelesaikan sebuah pekerjaan, beberapa kali harus bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil. Anehnya, tidak lancar sama sekali. Untuk melancarkan, saya pun meminum air agak banyak. Tapi tetap saja, tidak selancar biasanya dan rasa sakit buang air kecil tetap terasa.


Saya mengira keinginan buang air kecil itu hanyalah faktor psikologis karena kepanikan biasa akibat tekanan pekerjaan. Saya memilih meneruskan pekerjaan, dan menahan diri untuk tidak ke toilet lagi meski rasa itu masih muncul. Setelah selesai, saya berdiri. Tiba-tiba terasa nyeri luar biasa di bagian bawah perut yang menyebar hingga ke pangkal paha. Kontan saja saya mengaduh dan duduk kembali, sembari menekan bagian yang sakit agar sedikit berkurang. Ketika itu, saya juga sedang mengalami haid. Rasa kuatir langsung menyergap mengingat rahim saya pernah mengalami operasi caesar beberapa kali.


Daripada menduga-duga atau asal memberi diagnosis, hari itu juga suami mengajak ke dokter untuk memeriksakan diri.


Menurut dokter, banyak faktor yang bisa menjadi penyebab sakit saat buang air kecil, tetapi dari hasil pemeriksaan ia berkesimpulan bahwa saya mengalami infeksi saluran kemih atau lebih dikenal dengan anyang-anyangan.


Rupanya, keinginan untuk buang air kecil terus menerus yang saya rasakan, namun keluar tidak lancar dan terasa nyeri disebut anyang-anyangan. Anyang-anyangan inilah yang menjadi gejala awal penyakit infeksi saluran kemih.


Penyakit radang atau infeksi saluran kemih adalah peradangan atau infeksi yang terjadi di dalam saluran kandung kemih yang mengakibatkan nyeri, dengan istilah dalam Sistitis (Cystitis).


Infeksi saluran kemih bisa diderita siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak bahkan ibu hamil semua bisa mengalami anyang-anyangan. Namun, dibandingkan pria, wanita memang lebih rentan terkena infeksi saluran kemih dan mengalami anyang-anyangan. Faktor anatomi tubuh menjadi alasan utamanya karena saluran kencing bagian bawah (uretra) wanita lebih pendek daripada uretra pria sehingga bakteri ini lebih mudah menjangkaunya.


Penyebab anyang-anyangan ini disebabkan sekitar 80-85% oleh bakteri E-coli yang menempel pada dinding saluran kemih atau kencing (Wikipedia) artinya 8 orang dari 10 wanita mengalami anyang-anyangan yang diakibatkan oleh bakteri ini. Bakteri ini bisa menempel karena berbagai sebab dari pola hidup kita seperti cara membersihkan setelah BAB yang tidak benar, air pembilas atau pencuci yang tidak higienis, kondisi toilet yang tidak bersih dan sering menahan buang air kecil seperti yang biasa saya lakukan.


Gambar oleh drelist.comGambar oleh drelist.com



Gejala infeksi saluran kemih ini mungkin saja berbeda bagi setiap penderitanya. Tapi yang paling umum adalah rasa nyeri, panas terbakar atau sakit yang menyengat ketika buang air kecil, buang air kecil/kencing lebih sering dari biasanya bahkan merasa ingin kembali ke toilet meski baru saja melakukannya, air kencing/kemih terlihat lebih gelap, keruh atau berbau tajam, rasa sakit di bagian bawah perut, umumnya tubuh terasa tidak sehat, lelah, gatal dan yang terakhir urin bercampur darah.


Pada anak-anak yang mengalami infeksi ini, gejalanya bisa sangat membingungkan tapi bisa diikuti oleh demam tinggi, lesu, dan muntah bahkan menunjukkan gejala psikis seperti cepat marah dan selera makan yang berkurang drastis. Walaupun pada kebanyakan kasus gejala-gejala ini dialami anak-anak, tapi bisa juga dialami orang dewasa.


Saat itu, untuk menghilangkan rasa sakit akibat nyeri dan mengatasi infeksi agar tidak sampai berlanjut, saya harus minum obat antibiotik sesuai resep dokter. Sakitnya berkurang dan berangsur-angsur sembuh. Tapi tidak berarti kekuatiran saya pun hilang.


Jelas sekali penyakit ini tak bisa dipandang sebelah mata. Nyeri yang menyakitkan itu ternyata membuat aktivitas saya sebagai seorang ibu dan istri terganggu. Kesehatan wanita, terutama ibu rumah tangga sangat penting karena bisa mempengaruhi kesehatan seluruh keluarga. Apalagi wanita rentan terhadap komplikasi penyakit, hingga bukan tidak mungkin akibat dari infeksi di bagian tertentu bisa menyebar ke bagian lain dan mengakibatkan penyakit yang lebih berbahaya.


Infeksi saluran kemih yang dibiarkan berlanjut bisa berakibat cukup fatal dengan menginfeksi ginjal. Penting sekali bagi kita untuk segera mengatasi gejala awal infeksi ini. Namun, bergantung pada obat-obatan terus-menerus tentu menjadi cara yang tidak praktis, mahal dan belum tentu tidak menimbulkan efek samping lain. Kemungkinan infeksi datang kembali juga sangat besar, karena itu sangat penting untuk melakukan tindakan pencegahan.


Setelah eksplorasi informasi, ternyata ada cara yang terbukti lebih efektif mencegah infeksi saluran kemih, terutama cara mengatasi anyang-anyangan. Buah Cranberry yang selama ini telah diteliti dan digunakan di Amerika, ternyata mampu mencegah bakteri E-coli menempel di dinding saluran kemih karena kandungan Proantocyanidin (PAC) yang terdapat di dalam buah tersebut.


Sayangnya, repot sekali jika harus mengolah cranberry menjadi minuman untuk mengatasi susah buang air kecil. Buah ini belum dipelihara secara masal di Indonesia, sulit dicari dan kalaupun ada harganya sudah pasti mahal. Apalagi rasa buah ini aslinya agak pahit dan asam/kecut. Kalaupun ingin diminum harus diolah menjadi jus dan itu sangat merepotkan. Padahal saat sakit buang air kecil melanda, boro-boro melakukan sesuatu yang merepotkan seperti itu, beraktivitas normal saja sulit.


Untungnya, saya baca di  http://www.uricran.co.id bahwa ada produk olahan cranberry yang telah dikemas dengan praktis dan siap seduh. Combiphar, perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan ini memiliki produk suplemen makanan yang terbuat dari ekstrak buah cranberry. Produk tersebut adalah Prive Uri-Cran.


Ada dua jenis Prive Uri-Cran, yaitu berbentuk kapsul dengan nama Prive Uri-Cran dan dalam bentuk powder sachet dengan nama Prive Uri-Cran Plus. Kedua jenis produk ini berbeda dalam komposisinya. Prive Uri-Cran Kapsul berisi 250 mg Esktrak Cranberry, sedangkan Prive Uri-Cran Plus dalam powder sachet berisi 375 mg dengan komposisi ekstrak cranberry yang dikombinasi dengan Vitamin C, dan probiotik Lactobacillus acidophillus dan Bifidobacterium Bifidum.



Manfaat nutrisi buah cranberry tidak hanya mampu mengusir bakteri jahat terutama yang menempel pada dinding dalam saluran kemih jadi mampu membantu kerja ginjal, menyehatkan kulit, efektif menekan darah tinggi,  melancarkan pencernaan, dan juga sangat baik untuk para penderita diabetes. Dengan tambahan komposisi vitamin C yang berguna untuk melindungi sel-sel tubuh, membantu penyembuhan dan memperbaiki kesehatan jaringan ikat, dan probiotik yang berguna untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna, maka jelas Prive Uri-Cran Plus adalah pilihan terbaik.



Kemasan praktis Uri-Cran memungkinkan saya untuk membawanya kemanapun tanpa perlu repot mengatur takaran yang tepat. Saat berkegiatan atau bekerja dimanapun, Uri-Cran bisa saya selipkan di dalam tas. Tinggal seduh satu sachet Prive Uri-Cran Plus dengan air dan minum. Rasanya enak, segar dan manis, sama seperti meminum jus buah.  


Saya tak perlu kuatir mengalami anyang-anyangan lagi dengan rutin meminum Prive Uri-Cran Plus sehari satu sachet. Suplemen ini tak hanya mampu memelihara kesehatan dinding saluran kemih, tapi juga menyehatkan saluran pencernaan dan kinerja ginjal yang lebih optimal. Kini anyang-anyangan pun teratasi.


*****



Sumber Referensi (diambil dan digunakan pada tanggal 20 Mei s/d 27 Mei 2017)

  • Brosur Uri-Cran Combiphar

  • http://www.uricran.co.id

  • Llewellyn-Jones, Derek. 1997, Everywoman : A Gynaecological Guide for Life, Penguin Adult - Sydney.

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Infeksi_saluran_kemih

  • http://www.drelist.com/cystitis-fact-sheet/

  • http://manfaat.co.id/10-manfaat-buah-cranberry-untuk-kesehatan-tubuh

  • http://www.alodokter.com


30 April 2017

Membuat Blog ala Pemula


Jangan pernah menyerah!
Kalimat sederhana itulah yang membuat saya memaksakan diri hampir selama seminggu terakhir ini mempelajari cara membuat blog sendiri, yang sesuai dengan keinginan. Dengan basic ilmu di bidang bahasa dan psikologi, jelas sekali saya mengalami kesulitan luar biasa memahami bahasa kode untuk membuat blog.
Selama ini, saya sudah belajar sedikit-sedikit. Tapi selalu terkendala dengan kesibukan. Berhubung akhir-akhir ini saya lebih banyak bekerja di depan komputer, maka ini kesempatan besar untuk melanjutkan pelajaran secara otodidak ini.

28 Februari 2017

Saat Membawa Anak Sambil Bekerja Dianggap Membawa Kekacauan


Bunda Iin Photography
diarybundaiin.blogspot.co.id

Soal bawa anak sambil kerja, saya jagonya...

Kakak baru berumur 40 hari lebih, saya sudah bawa dia seminggu 3x Kemayoran - Green Garden. Kebayang jauhnya kan? Semua demi ASI eksklusif. Tahun 2001 itu pemandangan ibu-ibu bawa anak apalagi bayi ke kantor merupakan pemandangan luar biasa aneh di mata kaum pria. Tapi Alhamdulillah, semua pria di kantor saya saat itu malah ikut membantu ketika Kakak yang kecilnya lumayan cengeng itu menangis saat Emaknya masih bekerja.

Kakak juga jadi jago main di bawah meja makan setelah umurnya 2 tahun, tiap kali Emaknya meeting makan siang dengan rekanan atau klien. Padahal Kakak itu dulu sempat terlambat bicara, tapi saya tak pernah mengalami kesulitan berarti tiap kali membawanya ikut serta. Gak ada istilah ngamuk-ngamuk gak jelas atau tantrum berlebihan selama masa-masa itu. Kakak cukup anteng, selama ia tidak lapar dan merasa nyaman. 

19 Februari 2017

Pilkada Rasa Perang Badar


Pilkada DKI 2017 telah memberi banyak pelajaran bagi kaum awam. Sama seperti Pilkada di awal tahun 2000an, di mana saat itu orang-orang baru merasakan nikmatnya pemilihan langsung. Mereka dengan bebas berekspresi, berkampanye bahkan berorasi dengan caranya masing-masing. Informasi yang diterima ditelan bulat-bulat tanpa dicek lebih dahulu. Meski kini pelajarannya sangat berbeda.

Kekecewaan terhadap kualitas para gubernur terpilih di masa-masa berikutnya telah memberikan pelajaran cukup mahal bagi pemilih. Proyek yang terbengkalai, solusi banjir yang tak kunjung berhasil, kepemimpinan yang setengah hati dan akhirnya korupsi tetap saja terjadi. Masyarakat mulai menjadi kaum yang apatis dalam memilih, namun belajar menyikapi berita dengan beragam respon.

Menata Hari Tua Yang Bahagia



Membangun masa pensiun yang bahagia di hari tua sama seperti membangun sebuah rumah. Pembangunannya memerlukan waktu, rencana dan konsep yang jelas serta sesuai dengan kebutuhan.

Tak ada yang bisa menjamin masa depan akan selalu berakhir dengan indah. Apapun pekerjaan seseorang, apapun yang ia lakukan, ketika pondasi masa pensiun tidak dipersiapkan dengan matang, maka semua konsep rencana dan cita-cita tidak akan terwujud.



MEMBUAT KONSEP 'BAHAGIA'


Konsep bahagia bagi setiap orang tentu berbeda. Seperti memilih model sebuah rumah yang menjadi impian, maka seperti itu pula konsep bahagia yang kita tentukan untuk hari tua. Secara sederhana, banyak yang memilih hari tua yang bahagia dengan bisa memiliki rumah sederhana di lokasi yang seperti tempat liburan, bisa mengantarkan anak-anak tetap sekolah hingga menjadi sarjana dan tentu saja berkumpul dengan keluarga sebebas yang mereka mau, tanpa perlu kuatir soal dana lagi.

Tapi konsep bahagia ini mungkin tak cocok dengan yang lain. Karena itulah, untuk menentukan hidup di hari tua nanti, konsep bahagia yang diinginkan adalah pondasi yang harus mulai ditentukan dari sekarang.

Penentuan konsep ini sendiri tak bisa dilakukan sendiri, tapi harus melibatkan orang-orang terdekat yang kelak akan menghabiskan hari tuanya bersama kita. Dengan mendiskusikan konsep bersama mereka, kita bisa menentukan rencana yang harus dilakukan (Must), rencana yang diinginkan (Want) dan rencana yang diharapkan (Wish) bila semua hal penting telah dilaksanakan.

Konsep yang telah dibuat harus mulai diwujudkan dengan membangun pondasi dasar yang kuat sejak dini. Pondasi tersebut adalah menjadi peserta program dalam jaminan sosial ekonomi yang tepat, agar dapat membiayai serta mewujudkan seluruh rencana dalam konsep hari tua bahagia tersebut.

Melalui program JHT (Jaminan Hari Tua) yaitu salah satu program jaminan sosial ekonomi hari tua oleh BPJS Ketenagakerjaan, seseorang bisa mewujudkan konsep hidup masa tuanya. Manfaatnya pun bisa diambil setelah masa keanggotaan tertentu jika ingin digunakan sebagai pendanaan usaha sebagai persiapan pensiun atau untuk membeli rumah. Hasil pengelolaan Manfaat JHT ini disesuaikan dengan counter rate Bank Pemerintah. Selain itu, program jaminan pensiun yang dilindungi secara hukum dan dikelola oleh lembaga yang tepat ini dapat diwariskan kepada ahli waris yang ditunjuk/sah.



MEWUJUDKAN INDIVIDU YANG BAHAGIA


Dalam perjalanan hidup seseorang, ada banyak keinginan dan impian yang mungkin terlupakan karena berbagai masalah dan kepentingan lain. Tapi bukan berarti, semua itu harus hilang begitu saja. Melengkapi keinginan, impian dan cita-cita yang pernah ada itulah yang bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan seseorang.

Pensiun bukanlah akhir sebuah perjalanan karir, tapi justru langkah baru yang lain bagi seseorang. Tak ada salahnya mengubah penampilan yang mungkin dulu tak pernah bisa dilakukan, bergabung dengan kegiatan yang bermanfaat untuk orang banyak, mengejar passion lama yang sempat terhambat atau mempelajari hal baru untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang lebih baik. Semua itu adalah beberapa langkah untuk memulai hari tua yang bahagia. Maka, jangan heran ketika melihat ada banyak orang yang memilih kembali belajar atau kuliah di universitas untuk menamatkan pendidikannya justru di saat ia telah pensiun dari pekerjaan.

Usia bukan halangan, tapi bahagia itu dimulai dari diri sendiri. Seseorang yang tetap energik dan tetap menikmati kehidupannya setiap saat dengan hal-hal berguna, tidak hanya mampu melepaskan kemungkinan dari stress pasca pensiun, tapi tetap menjalani hidup yang dapat membantu orang lain serta lingkungan sekitarnya.

Namun, tentu saja semua rencana tersebut akan terlaksana jika seluruh hal-hal penting telah diakomodir dengan baik. Menjaga kesehatan sejak masih bekerja sampai saatnya pensiun merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan. Untuk itulah, persiapan program pembiayaan kesehatan di masa tua juga sangat dibutuhkan dan harus diperhitungkan. Apalagi di usia lanjut biasanya ketahanan fisik dan mental seseorang semakin lama akan semakin menurun.



MENGUKUR PELUANG BAHAGIA DI HARI TUA


Ukuran peluang bahagia atau tidak di hari tua sebenarnya bisa diperhitungkan dengan perhitungan rasio antara pemasukan dan kebutuhan setelah pensiun. Cara menghitungnya sangat mudah yaitu dengan membagi seluruh jumlah pemasukan dengan kebutuhan. Semakin tinggi hasilnya, semakin tinggi peluang seseorang untuk bahagia.

Contoh :



  • Bapak Dani mendapat pensiun 5 juta + pemasukan lain pasca pensiun 3 juta. Jumlah pengeluaran 9,5 juta. Maka rationya adalah 8 juta/9,5 juta = 0,84

  • Bapak Teguh mendapat pensiun sebesar 2.5 juta + hasil usaha bersih 2.5 juta. Jumlah pengeluaran 3,5 juta. Maka rationya adalah 5 juta/3,5 juta = 1,42

Kesimpulan dari contoh di atas adalah meskipun Bapak Teguh mendapat pemasukan jauh lebih sedikit dibandingkan Bapak Dani, namun karena pengeluarannya kecil maka rasionya pun jauh lebih tinggi.

Penjabarannya, seseorang dengan kebutuhan yang lebih besar dari pemasukan, jelas akan sulit merasa bahagia dibandingkan orang lain yang memiliki rasio kebutuhan yang lebih kecil dari pemasukan. Gaya hidup adalah penentu utama angka-angka tersebut. Dengan rasio yang lebih tinggi, seseorang takkan perlu mengubah gaya hidupnya di hari tua. Sementara dengan rasio yang lebih rendah, seseorang dituntut untuk melakukan perubahan gaya hidup agar tetap bertahan di hari tua. Padahal perubahan gaya hidup bisa mengganggu kestabilan fisik dan mental terutama mereka yang berusia lanjut.

Penyesuaian pola hidup dengan program jaminan hari tua ini harus dilakukan agar perencanaan di saat usia pensiun sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang ada di saat itu. Sebuah program jaminan pensiun yang sesuai, akan membantu pesertanya menuju masa tua sesuai pilihan gaya hidup yang ia inginkan.

Program Jaminan Pensiun (JP) adalah bagian dari program BPJS Ketenagakerjaan untuk mewujudkan derajat kehidupan yang layak untuk peserta atau ahli warisnya setelah pensiun, mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia. Manfaat Jaminan Pensiun ini dibayarkan secara bulanan atau bisa diambil sekaligus jika memenuhi syarat. Dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai kebahagiaan yang sesuai dengan gaya hidupnya selama ini akan semakin besar.

Ukuran kebahagiaan itu sebenarnya relatif. Menjadi kaya atau miskin memang bukan jaminan kebahagiaan. Namun, bisa menyiapkan segala sesuatu untuk menunjang kehidupan di hari tua agar tidak membebani pikiran merupakan salah satu cara menjamin agar peluang bahagia itu semakin besar.



MENGHADAPI KEADAAN DI LUAR RENCANA


AGAR TETAP BAHAGIA DI HARI TUA


Sesempurna apapun sebuah rencana, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan segala rencana sempurna yang ingin kita wujudkan, bisa saja dalam sekejap terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Tapi itu bukan berarti seluruh dunia berhenti berputar untuk kita. Memperhitungkan resiko tersebut harus menjadi bagian dari perencanaan untuk menata hari tua yang bahagia. Kita tak boleh menganggap hal ini sebagai bagian sepele. Apalagi kalau seseorang tersebut merupakan kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.

Maka, sebuah program jaminan yang mampu melindungi hak-hak waris itu adalah pilihan yang tepat untuk mengamankan aset pribadi sekaligus perlindungan masa depan bagi ahli warisnya. Tak hanya itu, program jaminan yang dikelola harus memperhitungkan pula resiko terhadap hal-hal yang tak diinginkan seperti kecelakaan saat menuju tempat kerja atau di tempat kerja dan kematian tidak terduga. Jangan sampai kehilangan orang tercinta yang selama ini memberi nafkah, akan mengakhiri kehidupan seluruh keluarganya.

Inilah mengapa BPJS Ketenagakerjaan juga melindungi pesertanya dengan program JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian).  JKK merupakan program perlindungan BPJS terhadap risiko kecelakaan kerja, termasuk kecelakaan saat menuju/kembali ke/dari tempat kerja dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan tersebut. Sedangkan, JKM merupakan jaminan untuk ahli waris dari peserta yang meninggal dunia dalam bentuk santunan, biaya pemakaman hingga beasiswa pendidikan tertanggung dari peserta.

Menata hari tua yang bahagia tentulah keinginan semua orang, apapun pekerjaannya. Karena itu empat program jaminan yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan mencakup kebutuhan semua kategori pekerja, dengan dibagi menjadi dua yaitu pekerja Penerima Upah dan Bukan Penerima Upah. Dengan demikian, status seseorang yang berwiraswasta atau bekerja dengan usaha mandiri pun bisa menjadi peserta. 

Dengan mengikuti program jaminan pensiun yang mudah, jelas dan terencana dengan baik, kita akan mampu menata kehidupan hari tua yang diinginkan. Karena untuk bahagia di hari tua, bukan sekedar angan-angan yang datang sekejap dan menghilang, tapi sebuah cita-cita yang harus diwujudkan dengan langkah nyata.

*****



18 Februari 2017

Ekspresikan Diri Dengan Sepatu!

Quote



Beberapa tahun terakhir ini saya baru menyadari satu hal, saya sangat suka sepatu. Kalau beli sepatu, saya bisa membeli beberapa pasang sekaligus. Untuk hobi yang satu ini, saya rela menabung dan bekerja lebih keras untuk bisa membeli sendiri. Dalam keseharian pun saya lebih banyak memakai sepatu daripada sandal. Kaki itu adalah bagian dari aurat wajib yang harus ditutupi dengan baik dan sempurna.


Tapi kalau keseringan belanja sepatu, waaaah niat menabung bisa gagal total. Karena itu, saya lebih suka tidak pernah melewati atau pergi ke toko sepatu. Lebih baik tidak usah, daripada harus susah payah menekan ego untuk belanja. Kecuali ada anggarannya, atau memang saya merasa perlu mencari pengganti sepatu yang sudah rusak atau berganti pemilik, barulah sepatu baru siap dicari.


Bagi saya, sepatu bukan sekedar untuk menutupi dan melindungi kaki. Sepatu adalah salah satu cara seseorang mengekspresikan dirinya. Dengan warna sepatu pilihannya, kita akan tahu warna yang mereka sukai dan jenis sepatu akan menentukan kepribadian mereka. Setidaknya apa yang mereka sukai dan kegiatan seperti apa yang mereka lewati sehari-hari.


Saya bukanlah penyuka sepatu berhak tinggi seperti perempuan lain pada umumnya. Dulu karena saya cenderung lebih tinggi dari teman-teman seumuran, maka saya selalu memilih sepatu berjenis flat atau tidak berhak. Apalagi sejak SMP saya selalu suka olahraga basket, jadi sepatu berjenis casual itulah yang selalu saya pilih.


Setelah bekerja menjadi sekretaris dan terpaksa mengenakan sepatu high heels, saya justru semakin tergila-gila pada sepatu casual. Tak jarang jam istirahat kantor saya pakai untuk memakai sepatu sneaker dan bermain basket! Berolahraga, memakai sepatu kesayangan dan bermain bersama teman-teman cukup untuk melepaskan stress dari pekerjaan yang padat.


Namun, karena saya juga kadang-kadang harus bekerja di lapangan yang kebanyakan bukan daerah yang mudah untuk berjalan bahkan untuk berdiri saja sulit, saya selalu menggunakan sepatu kets atau sepatu bot khusus untuk safety agar tidak terpeleset di lokasi kerja yang medannya cukup licin tapi terjal. Saat masih bekerja full-time, sepatu-sepatu saya memang disesuaikan dengan kebutuhan untuk bekerja.


Baru setelah tak lagi bekerja full-time, sepatu pilihan mulai dipilih berdasarkan kebutuhan dan kepribadian saya. Sebagai penyuka warna merah, pink dan ungu, saya berusaha mencari sepatu yang memiliki salah satu atau kedua warna tersebut. Tidak semuanya karena kesannya jadi norak kalau dipakai oleh emak-emak seperti saya. Cukuplah satu hiasan kecil atau garis lekuknya saja yg berwarna, sisanya biasanya warna gelap. Tapi tetap saja, semua sepatu saya selalu berjenis casual. Semua kembali menunjukkan bahwa kepribadian saya yang banyak bergerak, tidak ingin terlihat dominan, ingin tetap nyaman dan santai.


Kesukaan ini menular pada putri pertama yang juga sedikit tomboy.  Tadinya saya heran karena sepatu-sepatu saya seringkali ‘turun’ dari tempatnya dan tergeletak di teras. Padahal untuk urusan sepatu, saya paling hati-hati. Saya kaget melihat pelakunya yang ternyata Kakak. Saya bahkan tidak tahu kalau ukuran sepatu kami ternyata sudah sama. Maklum saja, sejak SMP kelas 2 putri saya telah memilih dan membeli sepatunya sendiri. Saya atau Ayahnya hanya mengantar dan mengawasi dari luar. Ini bagian dari rencana skill life anak-anak.


Kata Kakak, ia suka pakai sepatu-sepatu saya karena nyaman dipakai dan warnanya juga tidak mencolok. Padahal harga sepatu saya jauh lebih murah darinya. Tapi memang, saya selalu berusaha untuk merawat dengan baik. Hampir tiap minggu, saya selalu mencuci sendiri semua sepatu yang terpakai dan memasukkannya ke tempat khusus agar tidak cepat rusak. Meski murah, sepatu bisa tahan lama jika dirawat dengan baik.


Setelah tahu Kakak juga suka sepatu casual seperti saya, maka saya mengajarinya cara memilih sepatu casual yang lebih sesuai untuk gadis seusianya agar ia juga merasa nyaman dengan sepatu miliknya sendiri seperti saat mengenakan sepatu saya. Tapi karena dia punya kegiatan fisik yang jauh lebih banyak dari saya, maka saya menambahkan beberapa syarat agar sepatunya juga tahan lama.


Saya ingin ia bisa terus mengekspresikan diri melalui sepatu miliknya sendiri, tapi tidak melupakan kewajibannya untuk menutupi salah satu aurat wanita tersebut dengan cara yang benar. Jika ia terbiasa mengekspresikan diri dengan cara yang benar tapi konsisten, saya berharap meski Kakak menjadi dewasa, ia akan memiliki langkah pasti dalam segala hal yang ditujunya.


Itulah sebabnya penting untuk memilih sepatu dengan tepat, tak perlu terlalu mahal yang penting nyaman di kaki dan sesuai dengan kebutuhan. Sebisa mungkin sepatu juga sesuai dengan kepribadian kita. Sepatu yang nyaman, akan menunjang setiap kegiatan dengan baik, dan kegiatan yang berjalan dengan baik akan menuntun seseorang menuju prestasi gemilang. Siapa tahu dengan segala prestasi itu, langkah baru akan tercipta.


*****

14 Februari 2017

Kualitas Debat Menentukan Kualitas Pembicara

Dulu, saya sering heran ketika ada yang berkata, "ah, debatnya kayak ibu-ibu, jelas kita kalah. Udah gak usah diperpanjang."

Itu sebelum saya kuliah lagi. 

Di kelas-kelas kuliah, saya mulai memahami arti kagum, terpana, terkejut bahkan dipaksa maklum melihat cara teman-teman saat memaparkan pendapat dan opini mereka. Ada yang berputar-putar, ada yang rajin sekali memberi contoh, tapi ada yang cukup singkat namun sarat pengetahuan. Tapi banyak juga opini yang terkesan tidak nyambung bahkan terlalu jauh dengan konteks, bahkan penuh gejolak emosi yang tak lagi netral.

Selama proses itu, pengawasan senior dan dosen yang terbiasa untuk mengatur diskusi menjadi sangat dibutuhkan. Mereka akan memberi warning apabila ada batasan etika sosial yang dilanggar oleh mahasiswa yang bicara, agar kualitas debat akan sesuai dengan harapan. Harapan itu bukanlah menentukan siapa yang kalah atau siapa yang menang, tapi memancing para mahasiswa untuk mampu berpikir dari segala sudut pandang lalu mengambil kesimpulan sesuai pemikiran masing-masing. Karakter mahasiswa yang menunjukkan pemikiran independen inilah yang sebenarnya ingin dibentuk melalui lembaga pendidikan teratas ini.

Disitulah saya belajar mengelola emosi saat beropini atau berdebat dalam diskusi-diskusi di kampus. Mahasiswa sekarang memiliki akses sangat mudah dalam mendapatkan informasi, dan itu mempengaruhi pula cara berpendapat mereka. Kesan nyelekit dan nyeleneh bukan hal aneh yang saya lihat tiap kali terjadi diskusi tajam. Keterbukaan informasi telah mempengaruhi para mahasiswa sekarang untuk lebih berani menyuarakan inspirasi mereka. Perubahan fisik dan mental menjadi remaja akhir bagi para mahasiswa baru, sekaligus pengaruh mahasiswa-mahasiswa berusia dewasa seperti saya, rupanya mampu membuat kelas-kelas diskusi yang panas namun kondusif.

Kalau tidak terbiasa, mungkin ada yang mengira setelah keluar kelas ada yang akan adu jotos. Selama ini, belum pernah ada yang seperti itu di dua kampus saya. Kalaupun ada yang ingin melanjutkan dengan versi lain, justru mahasiswa seperti itu dianggap masih belum dewasa dan dijauhi dengan sendirinya. Jangankan mahasiswa, anak-anak SMA zaman sekarang saja sudah mulai melakukan kelas-kelas diskusi yang seperti di kampus. Mereka sangat terbuka dan kritis dalam membahas permasalahan sosial di sekitarnya.

Kehidupan diskusi dengan debat berkualitas seperti ini seharusnya tetap dipertahankan dalam masyarakat. Pendidikan mental dalam beropini harus dipraktekkan secara langsung untuk mempengaruhi dan memperbaiki kualitas diskusi di kalangan umum. Saat ada batas-batas yang dilanggar, sudah merupakan kewajiban bagi insan terdidik untuk memberi kritik yang membangun. 

Saya mulai kuatir dengan kualitas debat akhir-akhir ini. Banyak sekali para eksekutif muda, pengusaha bertitel, pemimpin bahkan enterpreneur yang terkenal mulai kehilangan batasan dalam berpendapat. Unsur SARA, penampilan fisik dan kehidupan pribadi seseorang dijadikan sasaran tembak saat debat. Padahal ketiga hal ini adalah persoalan sensitif yang sudah menjadi standar umum untuk tidak dijadikan sebagai pembahasan. Kalau hal ini terus dibiarkan, sebenarnya bukan pihak lawan debat yang menjadi masalah, justru akan menjadi senjata makan tuan. 

Seseorang yang menggunakan senjata tiga unsur terlarang itu telah memperlihatkan dirinya hanya mampu memandang segala hal secara mendasar, tidak sampai ke bagian dalam. Ia hanya mampu menilai bagian luar, bukan bagian dalam. Ia tidak bisa memahami pemikiran jauh ke depan, mengingat kesalahan dan kebaikan masa lalu jauh ke belakang dan pasti tidak akan mampu mengingat tujuan dari debat itu sendiri. Secara singkat, mereka justru memperlihatkan pemikiran yang dangkal. Padahal sudah sangat jelas dalam quote "Do not judge a book by its cover!"

Maka tinggalkanlah debat seperti itu...

Lalu mengapa saya membandingkannya dengan debat ibu-ibu? Karena saya ibu-ibu, saya paham benar kapan saya berubah menjadi seseorang yang mendebatkan harga dengan si penjual sayur yang semena-mena menaikkan eh mengubah harga, itulah mengapa tak ada seorangpun bisa mengalahkan debat gaya ibu-ibu . Mungkin terdengar kejam, tapi seorang ibu akan berdebat memaparkan seluruh isi dunia, asalkan bisa memenangkan pertarungan harga demi kebaikan keluarganya. Jadi tak ada yang bisa mengalahkan mereka. 

Beberapa bulan terakhir, kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia dipenuhi dengan perdebatan. Bagi kita para pemerhati dan mungkin juga menjadi bagian dari diskusi tersebut, ini adalah kesempatan untuk menilai kualitas mereka yang terlibat dalam diskusi atau debat yang berseliweran di berbagai media sosial. Apa yang mereka serang? Apa yang mereka bicarakan? Berkualitas atau hanya sekedar kuantitas tak bermutu? Kita akan belajar memahami dan kemudian memilah sebelum akhirnya memutuskan sebuah kesimpulan sendiri.

Seperti debat di kampus, semua kembali lagi kepada kesimpulan masing-masing karena itulah tujuan sebenarnya. Menjadikan seseorang dengan pemikiran yang mandiri dan dapat dpertanggungjawabkan setidaknya untuk diri sendiri.

05 Februari 2017

Demi Hak Pribadi atau Serakah Belaka?



Tak ada yang tahu artinya berbahagia memiliki sesuatu, sampai ia memiliki sesuatu itu. Rasa senang dan bahagia itu seperti permen manis yang terus-menerus ingin dirasakan. Tentu dengan mempertahankan kepemilikan, maka diharapkan rasa itu takkan pernah hilang.

Tapi ada banyak sekali manusia yang ingin memiliki sesuatu bukan karena sekadar ingin merasakan kebahagiaan belaka. Buat mereka, memiliki tanah atau properti adalah bagian dari kebutuhan yang wajib dipenuhi untuk melindungi keluarganya. Kebahagiaan bukan karena memilikinya, tapi karena fungsinya membuat sumber kebahagiaan mereka terlindungi dengan baik dan sumber kebahagiaan itu adalah keluarga.

Sayangnya, akibat ketidakmampuan mengendalikan nafsu membuat seseorang akhirnya menjadi serakah dengan rasa bahagia yang ia rasakan saat memiliki sesuatu itu. Tanpa kendali, hawa nafsu membawa seseorang menghalalkan segala cara, membenarkan segala yang salah dan menutup mata hati sekuat tenaganya untuk mengambil hak orang lain dengan mengatasnamakan hak pribadinya. Inilah yang membuat orang tak bisa berhenti dan terus berusaha untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.

Andai keserakahan itu tak mengganggu hak orang lain tentu tak masalah. Tapi serakah itu sifat yang tak baik, karena ia tak hanya akan merusak diri sendiri tapi juga orang lain. Walaupun mungkin tak ingin mengambil hak orang lain, serakah membuat orang lupa waktu dan lupa memikirkan kepentingan orang lain bahkan diri sendiri. Karena ingin cepat kaya dan meraih uang sebanyak mungkin untuk memiliki harta lebih banyak,  seseorang akan terus bekerja siang dan malam hingga tanpa sadar menyakiti diri sendiri.

Apalagi ketika serakah itu mulai berimbas pada orang lain. Peraturan dijadikan alasan untuk mengambil hak, kesabaran dan kebaikan orang dijadikan tameng menggeser batasan kepemilikan. Akhirnya serakahlah yabg memusnahkan silaturahim antar manusia.

Apalah arti memiliki ketika kita tak bisa tidur karena rasa bersalah atau karena kuatir hak dirampas orang lain yang lebih serakah? Apalah arti memiliki ketika kita punya lebih banyak musuh dibandingkan sahabat?

Kebahagiaan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang dirasakan tak hanya oleh diri sendiri tapi orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya mereka yang berada di dalam rumah yang sama, tapi mereka yang berada di sekitar kita.

Marilah menjaga hak orang lain sama seperti kita menjaga hak kita sendiri. Jangan mengambil sedikitpun hak orang lain. Sesenti buat kita mungkin satu kilometer buat orang lain. Ketika memiliki sesuatu itu ternyata mengandung airmata dan derita orang lain, maka selamanya airmata dan derita mereka menjadi bercak hitam dalam hati. Hak kita mungkin semakin luas, tapi hati kita semakin sempit.


18 Januari 2017

Hidup di Balik Ilusi

Hidup di Balik Ilusi


Sering kita melihat ada banyak orang yang sama pendapatannya, tapi hidupnya jauh berbeda. Kadang yang satu lebih sederhana daripada yang lain. Mereka yang melihat mungkin saja beranggapan bahwa gaya hidup mereka yang membuat perbedaan itu.

Sebenarnya pemikiranlah yang membuat perbedaan gaya hidup tersebut. Gaya hidup terbentuk karena pemikiran yang berbeda.

Sebagian besar orang berpikir bahwa hidup senang, kaya tujuh turunan, bisa dapat semua kegembiraan adalah kebahagiaan. Tapi sebenarnya, masih banyak pula yang berpikir bahwa hidup dengan apa adanya, secukupnya, sesuai dengan pendapatan adalah kebahagiaan yang nyata. Tidak di balik ilusi, di bawah bayang-bayang khayalan tentang makna hidup yang melenakan.

Anda tergolong yang mana?


Gaya Hidup


Ada faktor penentu seseorang memutuskan memilih gaya hidup sendiri. Lingkungan, orang-orang di sekitar, pola dan kebiasaan hidup sejak kecil, perubahan-perubahan seperti teknologi yang berkembang, pekerjaan yang berganti menjadi lebih baik atau lebih buruk atau mungkin tanggung jawab yang bertambah. Semua itu bisa mengubah pola pemikiran yang sederhana, menjadi jauh lebih luas. Cakupan impian yang tadinya seputar diri sendiri, mungkin saja berubah hingga anggapan orang-orang sekitar.

Sebagai contoh, sebut saja Ari, pekerjaan tukang ojek sambil kuliah. Masih lajang dan tinggal di rumah kost. Impiannya sederhana saja, ingin beli motor karena motor yang ada sudah tua dan membahagiakan orangtua di kampung. Kemudian Ari selesai kuliah, ia melamar pekerjaan dan diterima sebagai karyawan di perusahaan tambang minyak. Gajinya lumayan besar, walaupun masih dalam percobaan. Ia pun pindah ke tempat penambangan itu dan bekerja.

Selang beberapa waktu, uang bukan lagi beban Ari. Apapun yang ingin ia beli, ia mampu. Berapapun yang ingin ia kirimkan ke ibunya, ia bisa. Ia tak hanya mampu membeli motor, tapi juga mulai membeli mobil dan rumah. Hidupnya semakin lengkap ketika setahun setelah itu bertemu dengan jodohnya.

Jabatan Ari semakin menanjak, istrinya pun hamil anak kembar dan kini rumahnya terasa sempit. Ia mulai mencari rumah lebih besar, mobil lebih bagus dan gaya hidup yang semakin sulit terlepas dari gadget mahal. Ia terbiasa selama bertahun-tahun. Ketika anak-anaknya lahir, ia meneruskan gaya hidup itu pada mereka. Makan selagi bisa, beli selama kamu mampu, dan lakukan apapun yang dimau.

Tapi, Ari merasa belum puas. Terus bekerja, hingga lupa pada kesehatannya. Suatu hari, ia jatuh sakit dan kali ini dokter memvonisnya sebagai penyakit kanker. Uang tabungannya yang bergunung-gunung, seketika surut seperti ditelan air laut. Anak dan istrinya meradang, teman-temannya menghilang. Hingga akhirnya Ari meninggal dalam kemiskinan, kesendirian dan kesakitan serta penyesalan.

Contoh itu seperti dongeng kan? Tapi ada banyak cerita nyata di luar sana yang menggambarkan dengan jelas betapa berbahayanya sebuah pemikiran.

Tak bisa disangkal, lingkungan dan teknologi telah membentuk pemikiran seseorang. Televisi misalnya, penuh dengan iklan-iklan menggoda yang membuat semakin konsumtif. Belum lagi, perubahan pemikiran bahwa hidup dengan teknologi terbaru adalah sebuah kebutuhan wajib, bukan sekunder lagi. Kehidupan yang membawa pendapatan sebesar apapun takkan pernah cukup untuk memuaskan hawa nafsu manusia yang melebihi air laut.

Masih untung kalau bergaji besar seperti si Ari, contoh di atas, masih bisa merasakan nikmatnya hidup dalam ilusi meski tak selamanya. Tapi bagaimana kalau pendapatan tak sesuai dengan gaya hidup yang diinginkan? Inilah saat seseorang akhirnya hidup dengan meminjam uang atau membeli barang dengan cicilan. Anggapan bahwa membeli barang dengan cicilan adalah solusi untuk bisa hidup dengan gaya hidup mewah, sungguh menyedihkan.


Besar Pasak Daripada Tiang


Pendapatan, diperhitungkan berdasarkan kemampuan kerja dan kebutuhan seseorang. Ada banyak kebutuhan wajib untuk masa depan yang terselip di dalamnya selain kebutuhan saat ini, sebelum seseorang bebas menggunakan untuk kelebihan. Biaya kesehatan misalnya… meski ada berbagai jenis asuransi, tapi ada beberapa jenis perawatan dan pengobatan yang tidak di-cover oleh asuransi. Lalu ada dana pensiun yang harus disiapkan.

Perlu diketahui, usia pensiun ditentukan berdasarkan penelitian ilmiah umum mengenai masa aktif manusia bekerja. Jika menganggap diri kita kelak masih bisa beraktivitas meski sudah pensiun, tapi belum mengalaminya sendiri, ini jelas salah besar. Siapkanlah kemungkinan terburuk, bahwa saat pensiun, mungkin saja tubuh sudah terlalu lelah untuk terus bekerja.

Bukan hanya dana pensiun yang harus dipikirkan, tapi juga dana cadangan. Tak ada yang bisa meramal apa yang akan terjadi kemudian. Karenanya memiliki dana cadangan merupakan salah satu kewajiban masa depan yang harus tersedia.

Baru menyebutkan 3 hal ini saja, sudah banyak yang menganggap pendapatannya takkan cukup untuk semua itu bahkan untuk sekedar makan. Keluhan yang pasti sering didengar. Padahal itu belum termasuk perhitungan biaya pendukung keluarga seperti biaya pendidikan anak.

Itu semua karena hidup selalu dipenuhi khayalan. Kalau tak mampu membeli makanan yang mahal, belilah yang murah. Apalagi puasa itu menyehatkan. Sesekali ketika uang di kantong sudah menipis, tak ada salahnya sekalian saja puasa. Melatih diri menahan hawa nafsu, menekan khayalan dan memahami makna kelaparan sebagai bentuk mawas diri.


Mawas Diri


Tapi, kenyataan sering berbeda dari harapan. Masih banyak orang yang hidup di bawah bayang ilusi. Makanan dan minuman harus berkualitas, tak jarang keluar rumah dan nongkrong di restoran mahal menjadi suatu kewajiban, liburan miniman 2-3x setahun dan update kepemilikan gadget terbaru tiap beberapa bulan. Menurut mereka, semua itu bisa dicicil, tenang saja…

Tenang saja, tenang saja dan terus tenang-tenang saja meskipun pinjaman mulai menggunung. Total utang 5 juta, tapi dibayar hanya 500 ribu. Bulan depannya utang lagi 3 juta, dibayar hanya 800 ribu. Hingga perlahan-lahan utang menumpuk dan terus menumpuk. Usia semakin tua, tapi semua yang dimiliki ternyata ilusi kepemilikan hidup sempurna saja. Ponsel masih dicicil 10 bulan lagi, biaya perjalanan travel kemarin masih separuh yang sudah dilunasi bahkan pakaian di badan yang sudah tak pantas dipakai jalan-jalan keluar rumah masih belum lunas cicilannya.

Ilusi ini sangat menghancurkan. Tanpa sadar, seseorang bekerja setiap hari dengan keringat dan airmata ternyata tak membuatnya bisa memiliki sesuatu yang benar-benar miliknya. Ada utang yang terus membayang sehingga pendapatan belum diterima pun sudah bukan milik sendiri lagi.

Ilusi ini membahayakan. Tanpa sadar, seseorang akan mengembangkan rasa malu yang aneh. Bukannya malu terhadap utang yang begitu besar, tapi malu ketika gaya hidupnya tak bisa terlihat lebih baik dari orang lain. Bukannya memperbaiki diri, justru semakin memperbudak diri menjadi abdi ilusi kehidupan yang mengerikan itu.

Sampai kapan?

Pertanyaan sederhana ini, tanyakan pada diri sendiri. Apakah sebegitu sulitnya hidup sesuai dengan pendapatan? Ketika kita terlihat kaya dan mampu, apakah perlakuan orang lain berbeda? Kalau tahu pasti berbeda, kenapa harus peduli? Bagaimana kalau orang-orang tahu bahwa semua kehidupan itu ilusi, lalu meninggalkanmu saat benar-benar membutuhkan bantuan?

Kita memang makhluk sosial, tapi bukan berarti harus hidup sesuai dengan keinginan masyarakat secara sosial. Semua orang memahami bahwa setiap orang berbeda. Karenanya, setiap orang pasti punya kehidupan yang dianggap ideal.

Pikirkanlah gaya hidup yang memang benar-benar sesuai dengan apa yang kita perlukan, apa yang kita hasilkan dan apa yang ingin kita capai di masa mendatang. Hidup itu hanya sekali, jangan sampai menyia-nyiakan tanpa melewatinya dengan kebahagiaan yang nyata.

****

10 Januari 2017

Hilang Teman Karena Utang

Hilang Teman Karena Utang


Utang, menjadi salah satu hasil dari sebuah proses komunikasi antar manusia. Dalam kadar yang baik, Utang bisa menjadi perekat hubungan menjadi semakin erat dan lebih solid. Namun, jika disalahartikan, Utang akan kehilangan makna dan menimbulkan masalah besar.

Utang, apapun bentuknya, mau utang budi atau utang uang, selalu terasa berat saat dipikul seseorang. Perasaan rendah diri dan malu biasanya mengikuti utang tersebut. Hal-hal yang bisa mengubah karakter seseorang menjadi orang yang berbeda.

Demikian juga bagi mereka yang memberikan utang pada orang lain. Awalnya, mereka mungkin hanya bersyukur bisa membantu orang lain. Namun, seiring waktu, ketika kebutuhan diri mereka sendiri mulai terganggu maka akan timbul harapan baru untuk mendapatkan timbal balik atas bantuan mereka sebelumnya. Hubungan tersebut akan semakin baik kalau mendapat respon yang baik. Teman yang dulu berutang mau membalasnya dengan kebaikan yang sama. Hanya saja, tak jarang yang terjadi justru sebaliknya.

Sebuah hubungan yang benar-benar kuat memang harus diuji dalam berbagai peristiwa. Tidak hanya dengan manisnya sebuah perkenalan lalu dilanjutkan dengan persahabatan biasa. Dengan ujian berupa situasi yang buruk sesekali, hubungan tersebut justru akan jauh lebih kuat dari yang dibayangkan. Setiap akhir baik dari sebuah situasi yang buruk akan menjadi jembatan penguat hubungan itu dari waktu ke waktu.

Namun pada kenyataannya, hal itu tidak semudah mengucapkan. Beberapa orang terkadang sulit melakukan hal-hal yang mudah seperti mengucapkan tiga kata, tolong, maaf dan terima kasih. Bagi mereka, melakukan ketiga hal tersebut akan merendahkan harga dirinya. Kedengaran lucu bagi orang normal, tapi itu adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Utang menjadi semakin berat bagi orang-orang seperti itu. Mereka bisa dengan mudah meminta bantuan, tapi sulit mengucapkan maaf ketika tak bisa membayar bahkan tak tahu kalau kata terima kasih memiliki beragam bentuk yang bisa diberikan kembali pada si pemberi utang. Sesuatu yang mungkin tak bisa dinilai dengan sejumlah uang.

Padahal, sulit loh untuk memberikan utang pada orang lain itu. Apalagi kalau situasi ekonomi keduanya sama. Ketika ia mengeluarkan uang atau bantuan untuk orang lain, pasti ada dasar ikhlas di hatinya. Mungkin kadarnya berbeda, tapi tetap saja ada rasa itu. Sedikit atau banyak, tanpa ikhlas di hati pemberi utang, ia takkan mungkin mau meminjamkannya begitu saja. Tapi yang jelas, hal ini berbeda kalau si pemberi utang sengaja memberikan bunga tambahan sebagai keuntungannya.

Sudah seharusnya, adalah wajib bagi si Pengutang untuk menjaga perasaan dengan silaturahmi kepada si pemberi Utang. Bukan sekedar untuk menjaga hubungan di antara mereka, tapi juga kewajiban untuk menjaga kepercayaan. Satu hal lagi. Memiliki teman yang mau membantu saat dalam kesulitan itu adalah sebuah keberuntungan yang harus dijaga benar agar tidak kehilangan.

Tak sulit mengucapkan maaf kalau si pengutang belum bisa membayar. Kata maaf takkan membuat seseorang kehilangan harga diri, atau merendahkan martabatnya. Justru kata maaf yang diucapkan dengan tulus, bisa memberikan kekuatan pada seseorang untuk semakin menjaga diri dari kesalahan. Maaf menjadi wakil dari perasaan untuk mengobati rasa bersalah. Ungkapan maaf juga takkan mengurangi rasa hormat, justru semakin menambah respek pada pengucapnya.

Hanya saja, pada kenyataannya, justru banyak pengutang yang lari dari tanggung jawab mereka. Alih-alih melakukan kewajiban mereka untuk menjaga hubungan, kebanyakan justru sengaja menghindar bahkan tak jarang menghilang begitu saja. Meninggalkan si pengutang yang hanya bisa menyesali diri.

Kehilangan teman karena utang mungkin adalah suatu hal yang tragis. Walaupun yang paling rugi justru si pengutang. Melepaskan seorang teman yang mau membantu di saat sulit itu seperti kehilangan tali penolong ketika kita bersiap hendak melakukan bungee jumping. Bahaya kan? Bagaimana kalau ia benar-benar membutuhkan bantuan saat melompat dan tali pengait utamanya lepas? Tinggal kematianlah yang akan menyambut di bawah sana…

Buat mereka yang memberi utang, kehilangan teman sekaligus uang bukanlah perkara yang mudah untuk dilupakan. Mungkin ada yang akan menganggap, kehilangan teman yang suka berutang seperti itu justru menguntungkan baginya. Tapi hal ini akan membuatnya trauma dan kapok untuk membantu orang lain lagi. Kalau sahabat sendiri saja bisa melakukan hal menyakitkan itu padanya, bagaimana dengan yang lain?

Jadi utanglah membuat seseorang bisa kehilangan temannya, sekaligus menjadi dosa berkepanjangan. Ini karena perbuatan tidak membayar kewajiban itu dengan baik akan membuat orang lain yang mungkin bisa dibantu, akhirnya tak mendapat bantuan seperti dirinya karena orang yang diharapkan sudah kapok meminjamkan uang.

Karena itulah, sebisa mungkin hindarilah utang piutang yang tidak didasari dengan hukum yang jelas. Apalagi kalau tahu bahwa diri ini takkan mampu menghindari godaan untuk berusaha melepaskan diri dari pembayaran. Atau belajarlah untuk membantu seseorang bukan dengan bentuk piutang. Ikhlaskan saja. Jadikan saja itu sebagai sedekah kita sebagai manusia. Jangan sampai hilang teman karena utang. 

08 Januari 2017

Jeratan Setan Kredit

 

Beberapa hari lalu, di hari kelima awal tahun ini, saya menemui teman-teman di kantor mereka. Sebenarnya tujuan utama datang ke kantor adalah meeting dua mingguan yang rutin diadakan untuk seluruh freelancer. Tapi setelah beberapa bulan, saya jadi akrab dengan para karyawan tetap di kantor ini. Maka tiap ke kantor ini, saya selalu menyapa mereka. Mereka telah banyak membantu saya, tak hanya urusan pekerjaan tapi juga beberapa urusan pribadi.


Saat mengobrol dengan Mbak Riana di boothnya, salah satu karyawan di bagian Marketing, tak sengaja saya melihat lembaran kertas tertempel di dinding tepat di depan meja kerjanya itu. Kertas itu bertulis “Resolusi 2017 Riana” lengkap dengan daftar singkat.


Segera saya menemukan cara menggoda Mbak Riana, dengan daftar singkat itu. Ia hanya tersenyum-senyum dan membiarkan saya membaca sambil sesekali bercanda ringan.


Tapi ada satu resolusinya yang menarik buat saya berbunyi, “Melunasi semua kartu kreditku!”


Katanya, Resolusi itu memang sangat sederhana, tapi sangat sulit melakukannya hingga tuntas. Jadi menurut Mbak Riana, ia sengaja menjadikannya salah satu resolusinya. Agar ia ingat selalu dan ia bisa terbebas dari semua kebiasaan berhutang dengan kartu kredit itu.


“Saya pengen kayak Mbak Iin, santai banget. Di antara freelancer di sini, Mbak yg paling gak neko-neko. Insentif mau ditunda ampe kapan juga gak pernah repot nagih. Santai banget deh. Aku jadi iri.”


Padahal, saya selalu lupa tanggal. Suami juga sama. Karena ini pekerjaan hanya hobi dan tak ada beban hutang, saya santai saja membiarkan insentif yang kadang-kadang baru terbayar setelah beberapa bulan.


Waktu itu saya mengangguk-angguk setuju saja. Benar. Ketika kau tak punya hutang. Tak ada yang kau takuti.


Sebenarnya, ini akan jadi berbeda kalau dilihat dari apa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sebagai mantan pekerja, tentu sejak awal bekerja saya sudah mengenal berbagai macam fasilitas pinjaman. Entah itu tawaran dari Bank berbentuk pinjaman reguler biasa untuk karyawan, pinjaman dengan agunan bahkan sampai pemberian aneka macam kartu kredit. Hampir tiap bulan, saya menerima banyak sekali penawaran menggiurkan untuk memiliki berbagai item yang mungkin baru bisa saya beli jika menabung. Sementara untuk menabung rasanya sangat sulit dengan berbagai kebutuhan yang makin meningkat.


Tapi, dengan suami yang begitu ketat mengatur segalanya, keinginan itu selalu dimentahkan.


“Enggak boleh! Nanti dikejar setan kredit loh!” Itu kata-katanya tiap kali saya merengek minta barang baru dengan cara kredit. Ia tak pernah satu kalipun mengizinkan saya membeli barang dengan cara kredit. Tidak satu kalipun.


Meski rasanya menderita banget tiap kali melihat penawaran cicilan berbunga rendah itu tiap bulan, atau karena ejekan teman-teman yang melihat barang-barang milik saya selalu ketinggalan dari mereka, saya tak berani melakukannya tanpa izin suami. Bukannya takut tak bisa membayar, tapi saya tahu kalau suami melarang pasti ada sesuatu yang tak mungkin dijelaskan dengan detail. Saya pun memilih untuk mengikuti saja. Biarlah, tahan tahan saja... pasti ada jawabannya suatu hari nanti.


Satu demi satu memang akhirnya kami bisa membeli barang-barang yang saya mau. Bukan dengan cicilan, tapi dengan tabungan. Ya, saya dan suami akhirnya belajar menabung sedikit demi sedikit. Tidak banyak, tapi akhirnya mampu terkumpul dan barang yang kami mau pun bisa terbeli. Lama kelamaan saya pun terbiasa. Apalagi, kemudian saya menemukan banyak peluang tambahan untuk menghasilkan pendapatan baru bagi keluarga. Semakin lama, semakin mudah bagi saya untuk menabung. Tak hanya itu, anak-anak juga jadi ikut terbiasa melakukannya. Menabung dulu, belanja kemudian.


Dan pada akhirnya, saya paham maksud perkataan suami, 'dikejar setan kredit'...


Suatu hari, bel pintu di rumah digedor orang. Yah, digedor-gedor dengan keras hingga nyaris merontokkan pagar besi tinggi rumah kami. Saya yang terkadang bekerja dengan menutup telinga dengan headset, jadi terkejut dan sedikit kesal. Siapa sih tamu pagi-pagi tidak sopan begitu?


Saat itu di depan rumah, ada tiga orang bertampang seram menanti. Melihat gelagap tidak baik itu saya urung membuka pagar dan memilih berbicara melalui pagar saja. Belum apa-apa, mereka sudah menunjukkan ketidaksopanan dengan meminta seseorang bernama S untuk keluar dan membayar hutang. Dengan santai saya jawab kalau mereka salah alamat dan ini bukanlah rumah orang tersebut. Sebenarnya saya kenal nama orang itu, dia tetangga saya. Tapi saya tak mau ikut campur. Tapi orang-orang itu tak percaya, mereka tetap mendesak saya membuka pagar. Saya tak mau dan menelpon Pak RT. Tak lama para tetangga termasuk Pak RT berdatangan dan kali ini saya baru berani membuka pintu. Barulah, setelah diberi penjelasan dan kesaksian, orang-orang itu baru paham dan meminta maaf pada saya. Para tetangga juga yang memberitahu alamat sebenarnya dari orang yang mereka cari. Setelah itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi karena tak ingin tahu.


Namun, beberapa hari setelah itu, orang-orang itu terus bolak-balik mendatangi tetangga saya itu. Malah kadang-kadang sangat pagi, sebelum suami saya kerja. Karena mereka pernah salah sama saya, maka mereka pun bersikap ramah pada saya dan suami. Dari sapaan hingga akhirnya menjadi obrolan, suami pun jadi tahu kalau tetangga kami berhutang sangat banyak untuk membeli beraneka barang.


Saya jadi kasihan melihat istri tetangga yang berhutang itu karena setiap hari harus kucing-kucingan dengan para penagih. Anak-anak mereka dikurung di dalam rumah, bahkan ada yang dititipkan ke neneknya. Entah bagaimana akhirnya para penagih itu berhenti datang. Tapi mereka kini berganti tempat tinggal. Rumah yang tadinya mereka tempati kini disewa orang lain dan mereka tinggal di kamar sempit dengan tiga anak yang dua diantaranya seumur dengan Abang.


Itu hanya sekian dari cerita lain yang saya lihat beberapa tahun belakangan. Dari anggota keluarga sendiri yang hidup dengan mentereng, tiba-tiba berkeluh dengan jeratan hutang dan memaksa seluruh keluarga besar yang tidak tahu apa-apa ikut menanggung akibatnya. Hal itu membuatnya dijauhi perlahan-lahan oleh keluarganya sendiri. Bahkan hampir semua saudaranya tak lagi percaya padanya.


Dari teman sendiri, yang tiba-tiba harus kehilangan suami tercinta dalam kecelakaan motor dan ditinggalkan dengan hutang tak sedikit hingga harus merelakan rumah dan mobilnya untuk membayar semuanya. Bahkan beberapa bulan lalu, saya mendengar sendiri tangisan seorang ibu yang bercerita tentang pernikahan putrinya yang berakhir dengan perceraian akibat suami yang tahu hanya berhutang tapi tak tahu cara mengembalikannya. Semua harta kekayaan semu yang dimiliki dengan hutang, habis terjual atau disita pihak lain.


Setan kredit itu benar-benar ada. Percayalah, ia akan membuat kita terlena dengan berbagai godaan hawa nafsu untuk memiliki barang-barang mewah. Setelah kita terjerat dalam kredit, ia akan mendatangi kita dengan membuat kita takut, kuatir dan bingung setiap saat.


Pelajaran inilah yang membuat saya kini mengerti mengapa suami selalu ketat menjaga saya. Sebagai salah satu karyawan yang khusus mengurus masalah keuangan, suami sangat paham bahwa fasilitas cicilan tak selalu salah. Kalau bisa memanfaatkan dengan baik, ada hal-hal baik yang kita terima. Apalagi beberapa hal yang dibeli dengan sistem cicilan, seiring waktu berlalu justru semakin meningkat nilai jualnya. Rumah, dan tanah misalnya. Tapi, tidak berlaku untuk hal lain yang sifatnya sekedar untuk gaya hidup belaka.


Karena itulah, saya ingin mengingatkan kembali agar kita semua terhindar dari si setan kredit. Saat ini kondisi perekonomian mulai tidak stabil lagi. Awal tahun ini saja, sudah mulai memperlihatkan banyak berita buruk. Kalau tidak saling menjaga dan mengingatkan, bangsa ini bisa terpuruk kembali seperti dulu. Sesuatu yang baik memang sedikit sulit dilakukan, tapi setelah terbiasa, ada perasaan tenang yang akan selalu bersama kita. Sesuatu yang kemudian dipandang dengan iri oleh mereka yang sedang hidup dibayang-bayangi oleh para setan kredit.


Just remind again... be careful guys! There is so many new kind of Setan Kredit right now!

27 Desember 2016

Virus Bahagia



Suatu hari, internet di rumah tidak bisa digunakan seperti biasa. Padahal di saat yang sama saya sedang membutuhkannya untuk mengirim sebuah pekerjaan penting ke kantor. Tapi akibat internet yang tiba-tiba ngadat, akhirnya saya harus berjuang di tengah kemacetan mengantar dokumen penting yang sudah ditunggu.

Tentulah hal ini menyebabkan saya jadi kesal. Apalagi ditambah dengan respon customer service yang teramat lambat (menurut saya sih... ) maka jadilah saya marah-marah saat menghubungi Customer Service provider internet yang saya gunakan. Meski kemarahan itu masih dalam batas wajar, tapi tetap saja marah ya marah.

Di lain waktu, saya terpaksa menahan geram ketika saat berhenti di lampu merah tiba-tiba kaki yang sedang menjadi penyeimbang motor ditindih kaki orang lain yang ternyata... memakai sepatu hak tinggi super lancip. Huuuuh, saat itu langsung saja saya mengomeli wanita itu. Anehnya, bukannya minta maaf, perempuan itu malah balik memarahi saya. Katanya kaki saya yang terlalu lebar. Dengan amat sangat tenang, si perempuan itu malah melaju tanpa rasa bersalah, meninggalkan saya yang makin kesel dengan sejuta kata-kata tak menyenangkan dalam hati.

Semua itu tentu saja saya bagi ceritanya ke suami. Yang jawabannya singkat saja... “Mbok ya apa-apa itu jangan marah-marah dulu. Selesaikan dengan santai. Banyak hal yang bisa diselesaikan dengan cepat tanpa perlu emosi, Mak!”

Belajar dari pengalaman itu, saya mencoba menahan diri perlahan-lahan. Dimulai dengan melakukan segala hal di pagi hari dengan hati yang diusahakan setenang dan segembira mungkin. Pagi hari seorang ibu itu selalu dimulai dengan kerepotan, hari ini mungkin saja semua dilakukan dengan tenang, tapi besok pagi belum tentu. Caranya yah saya mengikuti cara Ayah. Saat suasana mulai terasa ‘panas’, Ayah mulai mengajak kami bercanda terutama anak-anak. Menggoda adik yang tak mau minum susu, bercanda dengan Abang dan Kakak saat mereka akan berangkat atau sengaja memasang mimik muka lucu di meja makan agar kami sekeluarga bisa tertawa. Virus bahagia yang disebarkan Ayah, mampu membuat saya dan anak-anak merasa gembira dan pergi ke tempat kerja atau ke sekolah dengan hati yang gembira.

Virus bahagia itu membuat saya juga belajar dengan tenang menghadapi masalah. Jalan raya di Jakarta memberlakukan hukum rimba, kalau tak sabar-sabar bisa jadi masalah besar. Tapi sejak berusaha keras untuk tidak emosi, semuanya alhamdulillah selalu lancar.

Sesekali ada pengendara motor yang entah sengaja menyenggol motor saat stop di lampu merah, saya hanya tersenyum dan mengangguk. Pikir saya, biarlah... mungkin dia tak sengaja. Kalaupun tergores, yah sudahlah... itu sudah nasib saya. Toh tak seberapa. Tapi setelah saya senyumin, malah si penyenggol yang membuka bagian wajah helmnya dan meminta maaf berkali-kali. Hati langsung berasa sejuk. Di zaman begini permintaan maaf itu seperti mutiara di tengah samudera luas.

Lalu, ketika kemarin air PDAM tak mengalir lancar, saya komplin dengan menebar pantun jenaka sambil tertawa. Customer Service-nya juga langsung tertawa mendengarnya dan berjanji akan memperbaiki segera masalah tersebut. Tak sampai sejam, air di rumah saya sudah mengalir dengan lancar lagi.

Begitupun ketika telpon kembali bermasalah, saya kembali menelpon Customer Service dengan santai. Tak ada tekanan, walaupun saat itu gara-gara telepon terputus tiba-tiba, saya sempat kebingungan mencari anak yang seharusnya sudah pulang ke sekolahnya. Anak saya pulang lebih dulu karena tak bisa menghubungi orang rumah, sementara saya berputar-putar mencarinya di sekolah. Tapi saya menahan diri dan menceritakan tentang kerusakan itu kepada CS dengan sedikit bercanda.

Menyelesaikan masalah dengan santai, tanpa emosi dan tanpa tekanan, membuat saya pun tak merasa tertekan atau merasa tak enak dengan mereka yang berurusan dengan saya. Kebiasaan menyebar virus bahagia itu membuat saya juga merasa lebih rileks menyelesaikan semua hal di sekeliling saya. Kata orang tua, kalau kita selalu bahagia maka kita akan selalu tampak muda. Keriput di wajah akan berkurang dan warna cerah akan keluar dengan alami. Waah... bonus yang amat bagus kan?

Ketika menghadapi masalah di kantor pun, saya memilih diam dulu. Walaupun sekesal apapun, saya berusaha tersenyum. Kalau tetap tak bisa, saya memilih untuk keluar dari kantor mencari angin yang bisa meniup jauh-jauh kemarahan saya. Kalau tetap sulit, saya akan bekerja di rumah untuk sementara waktu. Semua itu efektif menghilangkan tekanan yang saya dapatkan, dibandingkan memarahi rekan kerja atau menyindir mereka. Tentu saja, virus bahagia tidak boleh menghalangi keprofesionalan kita di kantor. Artinya walaupun tidak dimarahi, sesuatu yang salah harus tetap diperbaiki. Entah itu dengan nasihat atau peringatan tanpa emosi.

Orang Indonesia itu terkenal dengan keramahannya. Begitu kata mantan-mantan boss saya yang rata-rata expatriate. Dulu.... sekitar 5-6 tahun lalu. Tapi, sekarang dimana-mana yang terlihat malah tawuran atau kerusuhan di sana-sini. Bahkan perang dingin di media sosial, dunia maya yang tak terbatas luasnya. Sayang sekali...

Keramahan adalah sesuatu yang alami terbentuk ketika kita sudah tertular virus bahagia. Bukankah menyenangkan bisa menyelesaikan segala masalah dengan hati yang gembira? Maka itu, marilah menyebar virus bahagia.

Suatu hari nanti ketika ada yang salah dengan fasilitas tertentu di rumah, hubungi CS-nya dengan kata-kata yang baik dan sebarkanlah virus bahagia dengan kesantunan. CS yang mendapat telepon ber-virus bahagia juga pasti akan melayani dengan hati gembira, ia juga akan bahagia menjalani pekerjaannya yang pasti harus menghadapi ratusan atau ribuan komplin jika semua pelanggannya menebar virus bahagia. Saat nanti si CS berhubungan kerja dengan mereka yang di lapangan, ia juga pasti akan menyampaikannya dengan hati yang gembira. Begitu pula mereka yang di lapangan yang nantinya akan berhubungan dengan pelanggan itu sendiri.

Suatu ketika saat pekerjaan tak lagi menyenangkan, ada rekan kerja tak bisa diajak kerja sama atau bos yang tak pengertian, kalau kita bisa menghadapi dengan senyum dan kesabaran, mereka pun akan merasa tak enak sendiri. Mereka akan kehilangan senyum bahagia yang kita berikan setiap hari, senyum yang mungkin menulari mereka juga, senyum yang mungkin menjadi alasan mereka untuk tenang karena ada rekan kerja yang ramah dan siap bekerja sama, senyum yang membuat mereka sadar bahwa virus bahagia itu sangat penting untuk membuat semangat bekerja menjadi tinggi. Kalau senyum itu lenyap, mereka pasti bertanya-tanya dan ingin mengembalikannya di wajah kita. Biasanya nasihat atau permintaan yang disertai dengan senyum dan santun, akan melenyapkan semua kekesalan atau kemarahan.

Sekarang... saya sering diledek anak pertama saya. “Emak ye... lagi ngantri aja bisa kenal sama yang lagi ngantri depan belakang... jadi orang gampang banget nyapa orang sih, Mak. Gak malu nape?”

Hehe... menunggu itu membosankan, tapi kalau kita bisa beramah-tamah dengan mereka di sekitar kita maka menunggu pun bisa jadi menyenangkan. Kekakuan mencair, kemudahan pun makin mendekat. Virus bahagialah yang menjadi penyebabnya. Bahkan beberapa di antara mereka, jadi teman-teman saya.

Baru saja teman-teman kuliah berkumpul di rumah, saya menceritakan sesuatu yang dilakukan seseorang pada saya beberapa bulan yang lalu di salah satu kelas. Tujuan saya sebenarnya ingin berbagi cerita humor walaupun korbannya ya saya. Tapi teman-teman malah marah. Justru mereka bilang, kok bisa-bisanya saya sesabar itu dijadikan bahan tertawaan. Saya sendiri juga hanya tertawa kecil… dengan jawaban ringan. Biarlah, kan jadi menghibur orang banyak. Toh tak ada yang memukul saya secara fisik. Lagipula, begitulah karakter kebanyakan orang Indonesia, suka menyakiti meski hanya dengan kata-kata dan sayangnya… juga terbiasa disakiti dan menganggap kata-kata menyakitkan itu hal biasa. Dan saya memang orang Indonesia… sing penting happy!

Resolusi terbaik tahun 2017 adalah menebarkan virus bahagia. Mulailah dengan lingkungan di rumah lalu melebar ke lingkungan yang lebih luas. Mungkin terasa berat tapi jika terbiasa akan segera terasa ringan, malah jadi ingin selalu melakukannya.

Sudah menebar virus bahagia hari ini?