Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan

29 November 2016

Meredam Arus Negatif dengan Revisi UU ITE

Dulu, di media massa seperti koran, kita menggunakan karikatur sebagai sebuah bentuk pengungkapan lain dari bahasa. Dengan karikatur, kita bisa mengungkapkan sebuah ironi dalam masyarakat yang menyangkut masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain menjadi sindiran halus. Karikatur menjadi booming karena ungkapan yang sederhana justru sangat telak mencerminkan kondisi kepemimpinan yang memerintah saat itu. Bahkan karena karikatur, banyak juga para pengungkapnya yang berakhir di penjara.

Kini, seiring perubahan dari koran menjadi media online, maka perubahan terjadi pula dalam cara pengungkapannya. Dari karikatur yang dulu ditulis dan dilukis dengan tangan, sekarang muncullah meme. Gambar dari hasil editing satu atau beberapa foto asli yang diberi tulisan atau ungkapan sindiran. Seperti karikatur, kadang-kadang meme ada yang hanya ingin sekedar lucu-lucuan, tapi seiring kondisi sosial seringkali meme juga digunakan sebagai cara lain untuk menyindir atau mengungkapkan kemarahan.

Memang untuk ‘membaca’ sebuah meme, ada beragam sudut pandang yang membedakannya sehingga menghasilkan persepsi berbeda. Bak menilai sebuah lukisan, makna yang terkandung di dalamnya pasti dilihat secara berbeda bagi setiap orang. Sesuatu yang mungkin menyindir bagi seseorang, mungkin hanya sebuah ungkapan biasa dalam berkomunikasi bahkan terkadang menjadi hiburan yang lucu buat orang lain.

Apalagi di zaman canggih sekarang, sulit rasanya meredam kebiasaan baru masyarakat untuk berkomunikasi secara global. Setiap detik, selalu ada status yang dibagikan melalui berbagai jenis media sosial di dunia maya. Berbagai emosi seperti sedih, marah, bahagia, kesal, kecewa dan lain-lain kini dengan bebas diungkapkan melalui dunia maya.

Sebenarnya, apa yang membuat orang lebih nyaman mengungkapkan apa yang mereka rasakan melalui meme atau status? Tentu saja karena keterbatasan diri dalam dunia nyata. Dalam dunia maya, semua orang memiliki ‘dunia’ mereka masing-masing dan dunia itu hampir tidak punya batas. Fitur-fitur bantuan dalam mengedit menambah keasyikan itu sehingga muncullah cara-cara pengungkapan rasa yang baru.

Tujuan dari pengungkapan dalam bentuk yang baru ini bermacam-macam. Ada yang bersifat menyindir, kritik, saran, atau malah sekedar untuk sekedar ikut-ikutan saja terhadap berbagai isu nasional atau internasional yang muncul. Hal ini juga terjadi sebagai akibat dari salah satu arus globalisasi. Semua informasi begitu cepat diterima tanpa proses saring atau seleksi lagi. Antara benar dan salah, batasnya hanya seperti jejak di pasir.

Sayangnya, tak semua orang bisa dengan bijak menyikapi keleluasaan berekspresi itu. Tingkat pendidikan, lingkungan dan daya pikir menjadi aspek-aspek yang mempengaruhi cara seseorang berpikir dan akhirnya menggunakan media sosial. Sesuatu yang sederhana, meski positif bisa menjadi negatif di tangan seseorang yang berpikir negatif atau merusak. Tapi, seseorang yang selalu berpikir negatif pun akan membuat sesuatu yang positif menjadi negatif karena sudut pandangnya yang terlalu sempit. Salah berucap, salah mengungkapkan bahkan salah menggunakan huruf besar dan kecil atau tanda baca bisa diartikan menjadi penebar kebencian dan provokasi.

Perlu kebijaksanaan yang sama luasnya dengan dunia maya untuk memandang segala sesuatu di dunia maya itu sendiri. Kita tak bisa menjadi mudah tersinggung, mudah menganggap sesuatu itu salah atau mudah mengungkapkan sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Perlu pemikiran panjang, sudut pandang yang luas dan pola pikir yang netral sebelum berbagi sesuatu pada dunia.

Undang-Undang ITE dibuat untuk meredam arus negatif dari proses mengekspresikan diri itu. Sebagai sebuah kendali untuk dunia yang tak terbatas luasnya itu, agar tak menjadi bumerang bagi para penggunanya. Walaupun saat kita mendalami lebih jauh pasal-pasal di dalamnya, masih banyak terdapat kekurangan karena batasannya yang tidak jelas. Sejumlah kalangan juga masih mempertanyakan beberapa pasal yang dianggap justru membatasi kebebasan dalam berekspresi. Namun begitu, kita tetap harus menerima secara positif bahwa UU ITE ingin memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pengguna dunia maya. Apalagi setelah beberapa tahun dipraktekkan dalam hukum di Indonesia. Meski terdapat banyak kekurangan, UU ITE harus diakui mampu meredam dan menyelesaikan berbagai masalah yang timbul di dunia maya.

Jika kemudian terjadi revisi dalam UU ITE, hal itu dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dalam praktek hukum Undang-undang tersebut selama ini. Memang tidak banyak perubahannya, tapi semoga dapat menjadi lebih baik di masa mendatang.

Karena itu, agar kebebasan berekspresi itu tetap bisa dilakukan, marilah belajar untuk mengungkapkan ekspresi dengan lebih bijak. Zaman dulu kita memakai karikatur, mungkin sekarang cara yang sama dapat digunakan tapi menggunakan media online. Selain tidak menggunakan foto asli yang bersifat mengejek, ungkapan ekspresi seperti itu jauh lebih santun. Apalagi kalau ditambah dengan kata-kata yang sopan pula. Kita juga harus belajar menggunakan kata ‘kritikan’ dibandingkan ‘sindiran’ agar Revisi UU ITE tidak menjadi bumerang yang menyakitkan.

Lagipula, kita ini masyarakat ketimuran yang terkenal dengan bahasanya yang halus, tingkah polah yang lembut dan santun, pemaaf dan ramah. Sifat-sifat dasar itu kini mulai pudar sebagai akibat arus globalisasi dunia, dimana pengaruh budaya luar adalah salah satu penyebabnya dan salah satu tujuan UU ITE secara tidak langsung adalah untuk mengembalikan ‘kekayaan’ budaya kita itu. Jadi, untuk kebaikan bersama, mari menghormati Revisi UU ITE yang baru dan sama-sama mengejawantahkan dalam berekspresi di dunia maya yang sangat luas itu.

*****

14 November 2016

Saat Cinta Sejatiku Disakiti

Selama bertahun-tahun, ada cinta yang tak pernah padam dalam hati saya. Ada cinta yang terus menerus tumbuh perlahan seiring waktu yang saya lewati dalam hidup ini. Cinta yang membuat saya tetap kuat berdiri menahan semua gempuran masalah, cinta yang membuat saya tangguh dan bertahan menghadapi semua ujian dan cinta yang membuat saya mampu berkarya menghasilkan tulisan-tulisan dalam blog ini.

Cinta itu terlahir saat saya belajar membaca Al Qur’an. Setiap hari hanya satu lembar Al Qur’an yang saya baca. Satu saja… tak banyak karena waktu saya tersita untuk kegiatan lain. Cinta yang saya tunjukkan pada Al Qur’an hanya seujung kuku, tapi tahukah apa yang diberikan Al Qur’an pada saya sebagai balasannya?

Dia tak pernah membohongi saya. Semua yang tertulis, adalah kenyataan yang terjalin dalam kata-kata nan indah namun berefek sangat kuat. Dia menemani saya, memberi saya kekuatan yang tak terlihat dan tak terbayang besarnya sepanjang dua puluh tahun terakhir.

Buat saya, ada kasih sayang Allah SWT yang sangat terasa ketika saya membaca Al Qur’an. Ada petunjuk yang diberikanNya melalui Al Qur’an saat saya dalam kebingungan dan ketidakpastian. Ada ketenangan dalam petunjuk itu karena saya tahu saya tak sendiri dan saya yakin itu adalah kebenaran.

Tahukah kalian? Ratusan tulisan yang saya rangkai, semua karena cinta yang ingin saya tunjukkan padaNya. Karena Al Qur’an, tak pernah ada ide yang habis dalam otak sekepal tangan ini. Hingga saya mampu menunjukkannya satu demi satu. Tulisan yang tak hanya untuk satu kaum, tapi semua orang. Dalam harmoni kebersamaan, meskipun kita berbeda. Saya selalu yakin, suara dari alat musik yang berbeda, bisa menghasilkan harmoni musik yang indah ketika dipimpin orang yang tepat dengan tujuan yang sama.

Saya selalu ingin menunjukkan, Islam itu sangat indah. Agama ini mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. Al Qur’an itu penuh makna, namun indah. Kitab suci yang memberi petunjuk agar menjadi manusia yang lebih baik. Tapi karena tak banyak yang tahu, maka saya mengubahnya jadi begitu banyak tulisan. Dan kalian merasakannya, bukan?

Apakah saya pernah membedakan? Apakah saya pernah mengatakan keburukan agama lain? Apakah saya pernah bilang ada kebohongan dalam kitab-kitab suci lain?

Tidak, Al Qur’an-lah yang menjadi petunjuk saya. Yang menyebutkan banyak tentang keberagaman, yang menceritakan tentang perbedaan, yang memberikan banyak contoh di masa lalu tentang perbedaan itu. Jelas diajarkan di dalamnya, perbedaan adalah keindahan, tapi… harus punya aturan yang jelas dan dihormati semua umat agar kerukunan terjaga. Maka, batasan pun dibuat dengan sangat jelas, batasan yang melindungi tak hanya kaum muslim saja, tapi juga para non-muslim.

Al Qur’an takkan pernah bisa bicara untuk membujuk dan menenangkan hati yang gundah, tapi setiap kali membacanya, ada ketenangan yang hadir dalam hati ini. Ketika saya berpikir itulah cara saya mencintainya, sebenarnya itu cara Al Qur’an membalas cinta saya. Al Qur’an adalah keajaiban abadi dari Allah SWT untuk setiap umatNya. Karenanya, saat membaca lembar demi lembar, justru ketika masalah dan ujian sedang bergelayut di dada, saya merasa dekat denganNya. Allah ada bersama saya, karena Al Qur’an ada di tangan saya.

Jadi, jangan pernah menyakiti cinta saya. Saya tak peduli sebesar apa kekayaan negeri ini tercapai, saya juga tak peduli seberapa besar perubahan politik di negeri menuju ke arah (katanya) lebih baik, apalagi peduli pada kearoganan para pemimpin yang menganggap dirinya paling benar. Saya hanya tahu satu hal, bahkan perempuan terkaya, tercantik, terpintar dan terbaik di seluruh dunia, takkan merasa bahagia ketika cintanya disakiti.

Tadinya saya tak peduli pada politik dan persoalan siapa pemimpin negeri ini. Toh semua baik-baik saja, berjalan dengan lancar dan siapapun yang terpilih seharusnya didukung. Dan mungkin inilah yang terjadi pada sebagian besar rakyat Indonesia. Sampai kehidupan saya yang berbahagia dengan cinta yang terus saya pelihara tiap hari dengan tetap membacanya terusik oleh sebaris kalimat yang menurut pengucapnya bukanlah masalah. Itu masalah, sangat bermasalah. Karena cinta saya yang terdapat di dalam hati terdalam, tersakiti.

Saya, bagian dari kaum terlemah di dunia, kaum perempuan yang suaranya kadang dilupakan. Tapi kami punya cinta yang sangat kuat, cinta yang sanggup bertahan untuk membesarkan putra-putri kami, cinta yang sanggup mendorong para suami untuk bekerja keras dan berjuang. Cinta itu, di sini… di dada yang setiap hari disirami oleh kata-kata penuh makna dari Al Qur’an.

Cinta itulah, yang membuat kaum perempuan ini di negeri ini bertahan dalam gempuran ujian. Kami-lah yang mendapat efek terkuat saat ujian resesi ekonomi melanda negeri ini, kami juga yang harus berusaha diam menahan geram ketika para pemimpin justru hanya bisa bicara saat anak-anak kami menahan lapar dan merengek meminta susu. Kami juga yang harus menahan airmata ketika para suami berjuang mencari sesuap nasi tapi pulang dengan tangan hampa karena ketidakmampuan para pemimpin memperbaiki nasib kami.

Memilih pemimpin adalah hak setiap warga negara. Dasarnya bukan hanya buku-buku modern atau pemikiran-pemikiran manusia yang terkadang dilontarkan sebatas teori. Ketika mereka memilih tuntunan lain dalam keyakinannya, itu adalah hal yang sangat wajar. Namanya juga keyakinan, jadi semua pasti yakin bahwa itulah kebenaran sesungguhnya. Jadi, mengatakan bahwa sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebohongan, seperti menancapkan pisau tepat di dada seseorang.

Tak ada niat sedikitpun mengganti bentuk negara ini. Tak ada niat sedikitpun dalam benak kaum paling lemah ini meletakkan tanah air tercinta menjadi tempat yang panas bagi para kaum minoritas. Al Qur’an juga mengajarkan untuk menghormati umat lainnya, dan itulah yang telah kami lakukan selama ini. Bisakah kita menengok ke belakang, sudah berapa tahun negara ini berdiri tegak dengan keragaman agama dan sukunya?

Ketika kami berpegang isi Al Qur’an, itu lebih karena menginginkan pemimpin terbaik untuk negeri ini. Bukan karena takut masuk neraka, apalagi takut dianggap kafir. Kami ingin memiliki pemimpin yang mengarahkan kami pada kebaikan, bukan sekedar pencitraan. Kami ingin mempunyai pemimpin yang benar-benar memiliki aqidah dan akhlak seorang pemimpin, bukan sekedar kedok di balik manusia yang pengecut.

Jadi, kini tiap kali membaca lembaran Al Qur’an, saya hanya bisa menahan tangis. Ya Allah, begitu indah cinta yang Kau berikan padaku, dan sampai kapan lara ini terasa? Malam ini hanya doa yang kembali terpanjat… semoga Allah SWT memberikan hikmah terbaik untuk membuat orang-orang itu paham kebenaran dan cinta tersembunyi dalam Al Qur’an.

09 November 2016

Learning By Doing, Doing By Learning


Hi deary...

The last few days, I am busy, checking and managing all blogs that I have. But it was too long for me leaving all of them. So,  I needed more than 3 days to manage one blog. Even now, I worried that maybe I couldn't finish all. There was an information coming this week, that soon my project will be start and it means Ill get the same problem. Have no time.

But today, Some of my friends told me about something that made me so happy. 

It was started when we went to lunch. One of my friends asked me what I was doing. I did some typing on my phone and for them, it was quite rare event.

30 Oktober 2016

I'm Back!

Wuiih. lamanyooo blog ini tidur.

Kalau si Ayah tahu, si Emak ini nulis blog pas lagi persiapan ujian wadow bisa dikapokin kalo nanti nilainya pas-pasan. Tapi begitulah... anak-anak makin besar, justru saya makin sibuk dan makin sulit berbagi waktu. Baru mau duduk sebentar usai bekerja di dapur, sudah waktunya ngantor, baru sampai rumah, eh sudah waktunya menjemput anak-anak. Jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari waktu cuma sekedar curhat di diary doang.

Tapi sebenarnya yang paling bikin gak bisa curhat, karena diary Emak sekarang udah digantiin dengan anak-anak. Kapanpun, dimanapun... teman curhat Emak ya anak-anak... Apalagi sekarang, anak-anak udah makin gede, udah bisa kasih pendapat sekaligus kasih solusi tiap kali saya curhat. Makanya ngerasa gak ada artinya kali si Diary sekarang ya hehehe...

But, my lovely diary...

05 Oktober 2016

Setelah Lima Tahun Ngeblog



Oktober 2011 adalah bulan saat saya ‘diputuskan’ dipaksa untuk menjadi blogger. Sesuatu yang kemudian mengubah banyak rencana, banyak hal bahkan mengubah diri saya sepenuhnya. Dari seseorang yang memutuskan meninggalkan dunia kerja demi mengabdikan diri pada keluarga, saya berubah menjadi seseorang yang ingin tetap menjadi diri saya namun tidak akan meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu.

Menjadi blogger, bukan sekedar meraih materi atau punya sesuatu sebagai pembuktian. Saya merasakan lebih dari itu. Walaupun sempat merasa seperti naik roller coaster, tapi kemudian saya menemukan irama yang tepat. Irama yang membuat saya nyaman dengan dunia blogger tanpa perlu grasa-grusu mengejar materi.

Ngeblog tentu tak lepas dari menulis. Menulis adalah hobi sejak kecil yang bahkan tak pernah berhenti dilakukan ketika dunia kerja memakan sebagian besar waktu saya. Menulis bagi saya adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mengeluarkan isi kepala yang kadang-kadang terasa penuh. Namun, siapa yang mengira kalau ternyata kebiasaan itu justru menenangkan, menyenangkan dan melegakan hati. Saya bahkan tak mengira kalau kebiasaan menulis membuat otak terbiasa berpikir dengan konsep dan membentuk rencana. Menulis memindahkan sebuah ide menjadi sesuatu yang bisa saya baca ulang kapanpun dan tak perlu kuatir bakal lupa. Bahkan ketika sekitar tahun 2006, dokter menyatakan kalau ada kenangan yang hilang akibat kecelakaan, tak ada rasa kuatir karena buku harian menceritakannya dengan lengkap. Dan tak seperti di drama atau film, sampai sekarang kenangan itu tak pernah kembali dan saya tak pernah pusing. It’s just a little memory that I don’t even mind to forget. We should go with the flow and make a new future, right?

Kalau Allah SWT memberi bonus, itu ketika menulis membuka banyak jalan menguntungkan di depan saya karenanya. Bonus itu membuat saya berpikir, selalu ada hikmah di balik keinginan Allah SWT saat membuat saya terpaksa menjadi blogger. Tanpa perlu adaptasi terlalu lama seperti dulu ketika mengawali karir, ngeblog memberi ruang ekspresi yang sangat luas untuk dieksplore. Karenanya, ketika satu persatu kesempatan mulai digelar, saya mencari yang benar-benar mengekspresikan diri sendiri, bukan orang lain, atau tuntutan mereka yang membaca karya saya. Sesuatu yang mewakili saya…

Blog membuat saya bertemu banyak orang, orang-orang yang membantu saya memahami diri sendiri dan arah yang ingin saya tuju sebenarnya. Dunia ini membuat saya bertemu dengan sesama blogger, sesama traveller, pencinta fotografi, pemerhati anak hingga para wisatawan kuliner. Ada yang membuat saya lelah luar biasa, ada yang justru membuat saya tidak nyaman, namun ada yang membuat saya betah bersama mereka. Satu demi satu membuat saya memahami diri sendiri. Sampai akhirnya saya membuat keputusan sendiri. Keputusan yang mengejutkan semua orang termasuk suami dan anak-anak.

Dan saya memilih dunia pendidikan sebagai jalan terbaik. Dunia menulis selalu menarik dan selalu menyenangkan, dunia sastra adalah dunia yang begitu luas dan bahasa Inggris selalu menjadi daya tarik paling menyedot perhatian. Maka saya ingin belajar ketiganya, ingin tahu tentang ketiganya dari sudut ilmiah walaupun secara otodidak dengan mudah saya bisa membuka ruang kerja sendiri tanpa perlu pendidikan.

Selama tiga tahun terakhir, konsentrasi saya berpindah. Makin banyak belajar, makin saya pahami betapa banyak kekurangan saya. Semakin banyak ilmu menulis yang saya serap, semakin saya menyadari betapa banyak hal yang tidak saya ketahui. Jadi kini lebih memahami mengapa ada falsafah ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Bagi saya, merunduknya padi bukan karena rendah hati, tapi karena rendah diri, malu… berani-beraninya mengaku seorang penulis padahal pengetahuan menulis hanya seujung kuku.

Menjadi blogger, tentu saja ada pasang surut. Ketika Blogdetik berpindah haluan, banyak fitur yang justru membingungkan dan saya sempat berhenti karenanya. Tapi menulis tetap jalan. Sayangnya, tulisan-tulisan itu jadi tidak update kalau dimuat terlambat. Sekarang, semua berjalan lancar dan saya memilih untuk tetap seperti saat ini dulu. Perlahan, tapi nyaman. Tulisan yang muncul pun ditulis dengan rencana, diedit dan disesuaikan dengan gaya bahasa yang sedang ingin saya praktekkan. Sambil menyelesaikan pendidikan, saya masih terus menulis. Meski ketika tetap kuliah dan menulis, saya bertemu dengan dunia kerja baru yang lain.

Ngeblog, kini bagi saya, bukanlah tentang sekedar mengejar materi atau mencari jati diri lagi. Saya masih mengeksplore hingga kini, mencari dunia-dunia baru yang begitu luas dari dunia maya. Satu di antaranya mengantarkan saya menjelajahi jengkal dunia nyata di luar Indonesia, sungguh luar biasa saat blog membuat segala yang tak mungkin menjadi nyata.

Karenanya, ngeblog… Ini cinta, ini hobi, ini ekspresi dan inilah saya…

 

10 Agustus 2016

Jika Full Day School Dilaksanakan

Wacana Full Day School yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan yang baru cukup menghebohkan masyarakat umum. Memang masalah pendidikan hanyalah satu dari sekian banyak masalah penting lainnya yang harus dibenahi, tetapi karena wacana ini berarti mengubah sebuah budaya maka tak heran respon pro dan kontra bermunculan.

Untuk memutuskan opini pro atau kontra, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan Pemerintah ini sebelum memutuskan melakukan perubahan budaya dengan Full Day School.

Hal pertama dan utama yang dipertimbangkan adalah anak-anak itu sendiri. Sebagai pelajar dan siswa, anak-anaklah yang akan menjalani program tersebut apabila benar-benar  dilaksanakan.  Sayangnya, setahu saya sebagai pemerhati anak-anak, mereka semua mengatakan tidak setuju. Alasan sederhana mereka karena bosan dan lelah, tanpa mempedulikan apa yang ditawarkan oleh sekolah saat jam tambahan itu nanti ada. Kata mereka… mending sekalian pesantren aja deh!

Yang kedua, masih berhubungan dengan anak-anak, adalah infrastruktur pendukung. Mulai dari transportasi, fasilitas jalan umum, tempat makan, sampai dengan alat dan bahan pendukung pendidikan.

Negara kita adalah negara dengan infrastruktur yang masih sangat buruk. Peningkatannya amat sangat lambat dibandingkan negara-negara lain. Sementara anak-anak yang bersekolah, sudah bukan rahasia lagi, selalu mencari sekolah-sekolah terbaik saat mereka melanjutkan ke program yang lebih tinggi di SMP atau SMA. Nah… anak-anak ini bahkan rela memilih sekolah yang jauh dari rumah hanya untuk mendapatkan sekolah terbaik. Bisa dibayangkan kesulitan mereka jika harus pulang di malam hari menuju rumah. Pertimbangkan pula keamanan dan kenyamanan mereka bertransportasi menggunakan fasilitas umum di saat yang sama ketika para karyawan dan buruh kantor/pabrik pulang kerja.

Yang ketiga adalah fasilitas pendukung kebutuhan utama anak, yaitu makan dan minum, istirahat, berobat bila sakit dan beribadah sesuai keyakinannya. Seperti kita ketahui, tidak banyak sekolah umum yang memiliki fasilitas lengkap seperti tempat ibadah, cafetaria/kantin, ruang kesehatan dan sesuatu yang sederhana seperti air minum gratis.

Ada anak-anak yang memiliki tingkat kesehatan yang rendah, ada anak-anak yang minum lebih banyak dari orang dewasa karena sangat aktif, ada yang selalu menjalani ibadah dengan taat dan lain-lain. Kebutuhan pribadi ini pun terkadang hanya bisa dibaca orangtua, karena pengetahuan dan mental guru-guru belum semuanya benar-benar siap dan cukup untuk memahami anak. Apalagi budaya di Indonesia membuat anak-anak banyak yang cenderung pasif dalam mengekspresikan diri. Jika fasilitas sesederhana daftar di atas saja belum siap, dengan sumber daya guru yang juga belum siap, bagaimana menfasilitasi solusi lain dalam menyelesaikan kebutuhan paling utama tersebut?

Hal penting lainnya yang dilupakan adalah faktor cuaca dan lingkungan. Banyak yang pro mengatakan bahwa sistem Full Day School saja bisa dilaksanakan dengan baik di negara-negara lain. Oke… coba kita telisik cuaca dan lingkungan di sana.

Ini Indonesia… negara tropis dengan siklus cuaca yang kadang sulit diprediksi. Hawa panas dan dingin bisa terjadi dalam satu hari. Perubahan cuaca inilah yang seringkali menimbulkan masalah. Orang dewasa saja seringkali kesulitan menghadapinya, apalagi anak-anak. Kalau di luar negeri, musim panas justru dinikmati sebagai salah satu musim libur bagi anak-anak. Sementara di sini, anak-anak menghadapinya hampir setengah tahun di dalam ruangan yang belum tentu berpendingin ruangan.  

Sementara dari sudut pandang guru, kita harus angkat jempol bagi mereka. Tidak mudah bagi mereka menghadapi wacana tersebut. Tugas guru bukan lagi sekedar mendidik dan mengajar ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pengganti orangtua yang notabene berarti memahami seluruh kebutuhan anak. Sepengetahuan saya saat ini saja di salah satu sekolah dasar yang sudah menerapkan FDS sejak beberapa tahun yang lalu, guru di kelas ada 2 orang dengan saling berbagi tugas termasuk hal-hal sepele seperti memberi minum obat pada anak sesuai waktunya atau memastikan barang milik pribadi anak tidak tertukar bahkan mengurus saat anak muntah atau sakit mendadak. Kalau dari orangtua tidak aktif membantu kedua guru ini dengan komunikasi intens, pasti ada saja masalah yang terjadi. Meski kecil, tapi masalah itu terkadang cukup merepotkan dan bukan tidak mungkin mengganggu aktivitas KBM.

Lalu SMP? Ini adalah periode anak-anak menjadi remaja. Tingkat keaktifan yang meningkat inilah yang terkadang membahayakan mereka secara fisik dan mental. Kursi sekolah mendadak menjadi kuda-kudaan, tempat sampah bisa menjadi bola bahkan meja kelas bisa menjadi panggung aksi mereka. Coba bayangkan beratnya tugas guru kalau tidak mampu mewadahi tambahan jam sekolah yang belum tentu mampu mereka terima.

Sedangkan SMA… mungkin dianggap lebih mudah dalam menghadapinya. Salah besar! Justru ini yang harus kita perhatikan dengan baik. Remaja dalam periode ini sudah mulai mengeksplorasi hubungan dengan lawan jenis. Kalau tidak diawasi dengan baik, bukan tidak mungkin munculnya kekuatiran baru terhadap pelecehan atau tindakan asusila yang tidak diharapkan. Dengan jam sekolah yang maksimal dan pertemuan yang intens, akan semakin membuka peluang besar hal-hal tersebut terjadi.

Dengan sekian banyak tugas berat menanti, apakah para guru bersedia dan siap menghadapinya? Padahal ada banyak guru-guru yang sejujurnya belum mendapat bayaran ataupun mendapatkan fasilitas pendukung kegiatan yang layak dan tepat.

Simple minded deh… jadi orangtua untuk satu anak saja belum tentu semua orang bisa, apalagi jadi orangtua ‘sementara’ untuk 25-36 anak. Baby sitter saja dibayar sampai jutaan untuk mengurus satu atau dua anak, bisa dibayangkan gaji pantas untuk seseorang yang ‘mengasuh’ anak sebanyak itu.

Ini baru pandangan saya berdasarkan sekolah negeri yang ada di kota besar seperti Jakarta, belum yang di daerah seperti tempat saya bersekolah dulu. Tak usah berpandangan jauhlah… cukup melihat infrastruktur pendukungnya saja. Kita sudah sama-sama tahu transportasi di daerah terkadang sangat sulit. Letak sekolahpun kadang sulit dicapai. Sambil menutup mata, saya membayangkan belasan tahun lalu seandainya saya harus bersepeda sendirian melewati pinggiran hutan Kalimantan saat petang. Uuggh! Begitu mau FDS…

Tapi,  memang dengan FDS, ada banyak sisi positifnya. Kalau melihat secara pribadi, saya sangat mendukungnya asalkan tidak ada lagi tugas atau PR yang harus dikerjakan anak di rumah. Secara pribadi, anak-anak saya bersekolah dekat dengan rumah dan ‘program’ kami di rumah kurang lebih sama dengan yang akan mereka dapatkan kalau FDS dilaksanakan. Pembentukan karakter yang menjadi tujuan utama Pak Menteri akan berjalan seiring sejalan dengan keinginan saya secara pribadi. Anak-anak yang tak hanya memiliki pengetahuan umum, tapi keahlian khusus yang mereka sukai dan akhlak yang baik sebagai pendukung.

Paling-paling yang harus saya hadapi adalah perubahan kebiasaan. Kalau biasanya saya makan siang dengan anak termuda yang sekolahnya sudah menjalani FDS, nantinya yah harus bergantian dengan kedua kakaknya yang secara otomatis makan siang di sekolah masing-masing. Makan siangpun tak perlu kuatir, karena biasanya ketika ada program tambahan jam sekolah, ada saja tawaran katering atau antaran makan siang yang bisa menjadi solusi untuk anak-anak. Lagi-lagi mengingatkan bahwa ini Indonesia… negara dengan 1001 ide bisnis ala Abunawas. Kesulitan seseorang bisa menjadi kesempatan ladang bisnis bagi orang lain.

Secara pribadi pun, saya juga lebih dimudahkan dalam mengatur jadwal. Tidak mudah loh menyeimbangkan antara pekerjaan dan kewajiban sebagai orangtua. Jadwal pulang anak-anak yang sama dengan usainya jam kerja tentu membuat saya lebih bebas dalam bekerja dan mengekpresikan diri sebagai seorang perempuan.

Walaupun saya berharap, ketika diberlakukan berarti ada penambahan masa liburan untuk anak-anak agar kami bisa mengajak mereka mengekplorasi dunia di luar sekolah jauh lebih lama dan lebih jauh dari lingkungannya.

Jadi, kedua pendapat inilah yang menjadi bahan pertimbangan menentukan pro dan kontra. Tapi mempertimbangkan kebiasaan lama, yang biasanya “jalani saja deh, urusan lain belakangan”. Biasanya sebuah program tetap akan dijalankan walaupun belum benar-benar siap, lihat saja kurtilas, kurnas, PPDB, UN, penerimaan mahasiswa dan lain-lain, tapi kemudian setelah ‘korban’ berjatuhan baru deh direvisi atau diganti. Yah… siap-siap saja menjadi orangtua dari anak-anak yang menjadi korban dari program baru itu nantinya.

Skeptis, itulah perasaan pribadi saya mendengar rencana pelaksanaan FDS.
Halo, Pak Menteri! Bagaimana program Kurikulum Nasional yang katanya perbaikan dari Kurikulum 2013, apakah buku-bukunya sudah ada? Lalu rencana perbaikan infrastruktur untuk PPDB tahun depan, apa sudah siap menghadapi para hacker dan tidak akan ada lagi pembatalan atau pengunduran tanggal? Dan bagaimana soal penerimaan calon mahasiswa baru, apa sudah siap menerima dan menjawab protes lagi mengenai tata cara penerimaan yang dianggap tidak fair?

Ayo Pak, kerjakan dulu PR pak Menteri sebelumnya yang belum selesai!

07 April 2014

Status-mu Harimau-mu

Media sosial adalah media berbagi PRIBADI... entah itu sesuatu yang negatif, entah itu sesuatu yang positif.

Ada kebiasaan di Indonesia, yang mewabah menjadi budaya...Tapi budaya yang satu ini sebenarnya budaya yang cenderung membenarkan kesalahan yaitu senang lihat orang susah, dan susah lihat orang lain bahagia. Apakah anda orang seperti itu?

20 Desember 2013

Password yang Terlupakan

Hampir tiga minggu saya berkutat dengan netbook dan laptop, dua-duanya tak bisa masuk ke Blogger menu. Masalahnya... hehehe... saya lupa passwordnya.

Jangan tanya usaha apa saja yang saya lakukan demi bisa menemukan passwordnya Blog sendiri. Install ulang Chrome, kutak-katik setiap diary (selain diary online, saya punya beberapa buku diary) dan tak ada satupun yang menyimpan password keramat itu. Ternyata passwordnya hanya tersimpan di otak saya, yang sayangnya ternyata payah banget menyimpan memori.

28 Januari 2013

Teman atau Musuh?

Pernah gak kita ngerasa maraaah banget karena sesuatu hal di dunia maya?

Baru-baru ini saya merasakannya, tapi alhamdulillah masih bisa mengatasinya. Tapi cerita yang berbeda terjadi pada beberapa teman yang akhirnya justru menyesal.

Dalam sebuah forum grup dimana saya menjadi membernya, ada salah satu member mengekspose beberapa nama member yang menurutnya telah melakukan pelanggaran. Member pelapor ini juga memberikan bukti berupa foto-foto yang 'menurutnya' sudah cukup menjadi bukti. Belum lagi dikonfirmasi pada para member yang bersangkutan, ramai-ramai para member lain mendelete para member yang dituduh melakukan pelanggaran. Beberapa mengatakan hal-hal yang sangat tidak etis di forum umum, membuat para member tertuduh merasa dipojokkan. Bahkan salah satu admin yang seharusnya bersikap netral, ikut-ikutan sibuk men-delete para member tertuduh. Tak ada solusi sedikitpun selain kata-kata caci maki, ejekan dan sindiran.

10 Juli 2012

Behind The Scene - Blog is a marketplace


Benar kata orang, selalu ada hikmah di balik semua kejadian yang pernah menimpa kita. Jangan pernah menyalahkan Tuhan, apalagi sampai bersikap putus asa.
Saya belajar banyak dari beberapa peristiwa hidup yang silih berganti terjadi selama setahun belakangan ini. Hidup seperti turun naik bagai sebuah jet coaster, kadang di atas terkadang jatuh hampir terhempas ke bawah.

Menjadi penulis itu tak ada sama sekali dalam kamus, sedikitpun tak ada. Memang ada beberapa pengalaman masa lalu yang pernah saya dapatkan dari dunia tulis menulis, selebihnya menulis bagi saya adalah belajar, lalu bekerja dan setelah itu membagi semua kenangan dalam diary-diary 'manual' alias tulisan tangan.

23 Juni 2012

Belajar Membuat Templates



Yah, sehebat apapun seorang Ibu, ia tetap seorang perempuan biasa. yang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. 

Dan saya, tak perlu berbelanja atau berdandan untuk menyenangkan hati. Tapi cukup mengutak-atik blog seharian, apalagi setelah semalam berkutat menyelesaikan serangkaian blog yang harus saya manage lagi. Dulu seringkali disuruh buat blog tapi kemudian tak pernah diurus. Baru sekarang setelah merasakan manfaatnya secara materi, saya mulai kembali mengaturnya.

07 Mei 2012

#BloggerKartinian - Pemenang Lomba Menulis Pesan Untuk Putriku

Setelah menunggu selama dua minggu, akhirnya saya bisa bernafas lega. Walaupun ternyata menjadi juri itu tidak mudah, dan akhirnya malah meminta tolong pada pendapat ke-2 dan ke-3, saya bisa juga mendapatkan pemenangnya.

Penilaian lomba yang saya pikir pasti mudah, dan sengaja saya buat sulit supaya tak banyak pesertanya (hehe... aneh ya?) ternyata tetap tak menjamin. Jumlah peserta di luar dugaan saya dan semuanya benar-benar serius menjawabnya. Ckckck, untuk lomba dengan hadiah yang sebenarnya terbilang tidak seberapa, saya harus angkat dua jempol.

Setelah memilah-milah dan sengaja meng-hide nama peserta supaya fair, akhirnya saya mendapatkan juga si penulis pesan paling bagus (menurut saya) karena isinya mencakup semua hal yang penting bagi seorang anak perempuan.

Dan akhirnya inilah para pemenangnya :


Satu pemenang akan mendapat hadiah Kaos Eksklusif Edisi Kartini dari Blogdetik.com + Goodie Bag dari Melon.co.id dan Souvenir dari http://bundaiin.blogdetik.com.Pemenangnya adalah :


Imawan Anshari



Sayangku, putri cahaya jiwaku, Dengarkanlah pesan ini dengan sepenuh hatimu. Sayangku, camkan baik-baik nasehat ini, karena hanya nasehat ini yang mampu ku wariskan pada mu.

Selalulah bersujud dan berdoa kepada Allah, karena hanya DIA yang patut disembah, hanya Allah tempat mu mengadu, jangan pernah jauh apalagi meninggalkan Allah karena DIA yang Maha Berkehendak atas segala urusan di dunia ini.

Hormatilah orang yang lebih tua, terutama orang tua mu, lebih-lebih Ibumu karena perjuangan Ibu mu begitu berat untuk menghadirkan mu kedunia ini, Ibumu menukar nyawanya demi kamu sayang.

Hargailah jasa para guru yang telah mengajari mu dengan kesungguhan, sehingga membuat kamu bisa baca dan menulis serta memahami ilmu-ilmu lainnya.

Sayangilah saudara dan teman-teman mu, karena orang yang saling sayang menyayangi karena Allah senantiasa nanti akan selalu diberkahi kebahagiaan.

Dan sayang jangan pernah lupakan jasa para pahlawan, mereka rela mengorbankan jiwa raganya demi membawa Negara ini keluar dari kegelapan menuju cahaya kemerdekaan sekarang ini.

Jangan kau lupa untuk bersedekah dan berbagi dengan siapapun, minimal kau memberikan senyum tulus mu, karena senyum juga adalah ibadah.

Terakhir sayangku, seindah-indahnya perhiasan dunia ini adalah wanita yang sholehah, maka jadilah wanita sholehah bagaikan permata yang berkilau indah.



Dan tiga pemenang hadiah pulsa gratis @20.000,- adalah :

Triana Frida Astary




Cantikku yang kepang kudanya berhias pita warna-warni,

Ketauilah nak, betapa aku adalah ibu yang paling beruntung di dunia ini. Dipercaya menjaga mata jelimu, bibir manismu, tangan lentikmu, gerai lembut rambutmu, lenggok gemulai gayamu. Ah.. aku bagai pungguk yang justru diberkahi kemudahan memeluk rembulan, indah sekali.

Nak, jika kau tau di dalam doa-doa ibu dulu, memohon agar dipercaya menjaga benih cinta dalam rahim dan terus menjaganya hingga waktu tak lagi sanggup menopang pertemuan kita. Doa ibu, tak hanya dijawab, namun dibingkiskanNya pada ibu, hadiah terindah dalam hidup ibu dengan hadirnya kamu. Subhanallah, lagi-lagi ibu bersyukur. Puteri manisku yang rengekan dan tangisannya sanggup melenyapkan mimpi indahku disaat sepertiga malam, untuk meneteskan air surga demi menjaga degup jantungmu terus berdetak, tak pernah sedetikpun nak, tak pernah sedetikpun ibu menyesal memilikimu.

Tak pernah sedikitpun punggung ini mengeluh pegal saat menopang tubuhmu yang semakin hari beratnya merayap gram, ons sampai kilo. Tak pernah tangan ini menangis kecapaian saat membilas baju kotormu agar bisa dipakai esok hari, atau mengolah bumbu terlezat agar tubuhmu selalu sehat. Juga kaki ini tak pernah berhenti dan mengambek hanya karena menemanimu berlarian kesana kemari saat kau baru belajar berjalan. Atau kau tanya mata, telinga, mulut dan semua yang kupunya, apakah pernah lelah karenaku? Pernah, pastinya pernah dan bahkan tiap hari terasa lelah, namun kau harus tau, bahwa lelah saat mendampingimu bertumbuh itu, rasanya Subhanallah indah.

Bidadari hatiku yang senyumnya sanggup menyeret kedamaian dalam hari-hariku, dekat kemari nak.. Mari ibu beritahu satu hal, bahwa kelak kau pun akan pula merasakan apa yang ibu rasa. Apa itu,Bu? kau pasti bertanya, Ya, apa yang ibu ibu sebut luar biasa adalah saat menjadi ibu dari seorang pewaris hawa sepertimu nak. Nantipun kau akan merasakan bagaimana nikmatnya mendekap erat buah hatimu.

Anakku yang sayangku padamu tak akan pernah habisnya, agar rasa luar biasa ini terasa semakin lengkap dan istimewa, agar amanah Allah SWT ini menjadikan segalanya mudah, agar ibu dan tentu saja kamu bisa sama-sama menghirup segarnya hembusan udara Jannah. Izinkan ibu meminta padamu nak,

Selalu jaga mata jelimu dari segala penglihatan yang tidak pantas, biarkan ia melihat yang thoyib.

Selalu cegah bibir manismu mengucap kata-kata yang dapat melukai orang lain.

Selalu gunakan tangan lentikmu untuk memudahkan hal-hal baik di sekitarmu.

Selalu lindungi akal fikirmu dengan pemikiran dan ide-ide terbaik yang senantiasa bermanfaat.

Selalu pagari lembut rambutmu dan lenggok gemulai gayamu agar tidak pernah menjadikan fitnah.

Ketahuilah jantung hatiku yang pipinya selalu bersemu merah, kau adalah wanita, dan itulah kodratmu. Jika kamu mampu menjaga yang ibu pesankan diatas, maka dunia ini senantiasa akan terus mengalun anggun bersamamu, namun jika kau tak bisa memenuhi pun salah satu, jangan pernah tanyakan kenapa pelangi tak lagi melukis warna warni indahnya. Karena kaulah pelukis warna-warni itu nak, damai hancurnya warna dunia ini, ada padamu Wanita

Semoga kebahagiaan selalu terhidang bagimu ya cantik..

Salam sayanku,

Ibumu.


Lianny Hendrawati



Putriku sayang, ingin rasanya bunda terus memandang dirimu. Engkau sekarang bukan sesosok bayi lemah yang sering bunda gendong. Engkau sekarang sudah tumbuh menjadi seorang putri yang cantik dan mandiri.

Suatu saat bunda akan bertambah tua dan tak bisa terus mendampingimu. Sementara itu engkau akan tumbuh semakin dewasa hari demi hari. Engkau akan menjadi sosok Kartini masa depan yang berpendidikan tinggi. Railah cita-citamu setinggi mungkin anakku, dan bunda yakin engkau pasti bisa mencapai sukses yang gemilang.


Tetapi hanya satu pesan Bunda, meskipun engkau sudah sukses meraih cita-cita impianmu, tetapi engkau tidak boleh melupakan martabat kehormatan wanita yang luhur.

Dampingilah suami dan anak-anakmu kelak dengan penuh cinta dan keikhlasan hati. Kesabaran, kelemahlembutan dan selalu berdoa kepada Tuhan agar setiap langkah hidupmu selalu dibimbing ke jalan yang benar.

Saat itulah engkau akan benar-benar menjadi sosok Kartini Indonesia yang sejati, yang bukan hanya cantik wajahnya, bukan hanya sukses dalam pendidikannya, tetapi juga cantik hati nuraninya.

Jadilah sosok Kartini masa depan sejati yang bisa membawa kebahagiaan bagi keluarga dan sesama. Jadilah terang yang selalu bersinar dalam kegelapan.

Raihlah impian itu putriku tercinta, bunda akan mendampingimu dengan doa yang tak kunjung putus.

Dan bila saat itu tiba, bunda akan bisa tersenyum bangga dan bahagia ..



Syadza zahratun nufus



Teruntuk Putriku kelak..

Anakku, ingatlah selalu bahwa bunda mencintaimu. Setiap desah nafas teriring do'a untuk hari-harimu

Putriku, bunda tak ingin kamu menjadi galau di kemudian hari. Entah karena tak memiliki kekasih atau merasa sendiri. Ingatlah selalu, masih ada Tuhan dan sekelilingmu yang setia menyayangi.

Manisku, bunda tak memaksakan kesuksesan padamu. Sukses yang baik berawal dari kejujuran sebaliknya sukses yang buruk berawal dari kebohongan. Berusahalah untuk jujur pada kata hatimu bukan sekitarmu.

Ingatkah kamu dengan panggilan malaikat kecil?. Bunda harap, kau selalu menjadi cahaya bagi sekelilingmu. Cahaya yang menuntun pada kebenaran. Penerang di setiap kegelapan.

Sayang, saat kamu dewasa kelak, jadilah istri yang baik untuk suamimu. Meskipun surga di telapak kaki ibu, surganya seorang istri bergantung ridho suami. Berusahalah untuk menjadi yang terbaik bagi suamimu.

Nak,jadilah ibu yang terbaik untuk mereka. Bahagiakan hati mereka. Jiwa-jiwa kecil yang butuh hangatnya kasih sayang. Ambillah pelajaran saat bunda mengasuhmu kelak. Meski bunda, belum menjadi yang terbaik bagimu.

Hey Nak, kelak bunda akan bercerita padamu. Tentang kisah wanita-wanita yang mulia derajatnya. Kisah Kartini, wanita indonesia dengan semangat juang tinggi. Atau Kisah Khodijah, istri Nabi Muhammad yang rela menyedekahkan hartanya untuk dakwah islam. Bunda ingin, kamu menjadi bagian dari mereka. Wanita-wanita mulia yang kuat. Kuat bukan berarti tak pernah menangis, Sayang. Karena menangis adalah bagian perasaan seorang wanita.

Anakku, Karenia Zahratusyifa, bunda harap itu namamu kelak. Nama yang manis untuk bunga pengobat. Pengobat bagi jiwa-jiwa yang gelisah. Semoga kelak kamu mengerti, Nak!

Salam sayang

-Bunda-


Note : isi pesan tidak diedit ataupun direvisi.

Jadi itulah empat pemenang yang saya pilih berdasarkan Isi dari pesan yang disampaikan. Keputusan tentu saja masih boleh diganggu gugat dengan satu syarat, hanya jika tulisan tersebut hasil contekan atau jiplakan dari blog atau notes lain yang bukan milik dari si pemenang. Jika selama tiga hari ke depan, tidak ada yang protes atau sanggahan maka keputusan di atas sudah final.

Karena ini pesan untuk anak dan isinya ternyata sarat ilmu juga dengan bahasa yang indah, nanti ada pula beberapa pesan yang saya pilih dan saya revisiuntuk dipublish agar bisa menjadi pesan tak hanya untuk anak-anak perempuan juga bagi perempuan dewasa lainnya sebagai sarana memperbaiki diri, mengingat kembali pesan-pesan berharga yang mungkin dulu pernah disampaikan secara lisan oleh para orangtua.

Dan untuk para pemenang, harap mengirimkan nama, alamat pengiriman hadiah, dan nomor telepon melalui email : norinsaajid@yahoo.co.id

Terima kasih untuk para peserta yang telah ikut berpartisipasi. Anda tidak terpilih bukan karena pesannya salah atau jelek, tapi semata-mata karena saya tak bisa memilih semuanya sebagai pemenang.



09 Desember 2011

Dan Buah dari Menulis itupun datang...

Sungguh hanya rasa terima kasih yang bisa saya bagi dengan Blogdetik saat ini.Saya sering menulis, tapi keberanian itu baru hadir terpaksa tiga bulan lalu saat adik dan suami "bekerja sama" membuat blog untuk saya.

Sempat ketakutan sendiri, sempat kebingungan sendiri dan lalu akhirnya kembali ke titik... hei this is me, accept it or not...

Dan saya pun keranjingan menulis, bodoh amat orang mau bilang apa toh dengan menulis saya happy, dapat teman banyak, dapat ilmu terus.Sayang saya punya kebiasaan buruk, gak ngerti caranya bicara online alias gangguan komunikasi internal. Itulah tadi karena takut nyindir, takut salah bicara dan daripada nanti jadi debat, saya lebih suka diam... Makanya kalau komentar, saya jaraaaaang banget balas. Tapi jangan marah, jangan ngambek, terus komen ya biar saya makin semangat. Apa aja asal jangan ngomongin orang... dosa :)

Tiga bulan... hanya tiga bulan dan kini saya sudah punya pekerjaan baru berkaitan dunia tulis menulis. Pekerjaan apa? Hehehe... Biarlah jadi rahasia karena takut jadi riya. Enaknya lagi pekerjaan ini tidak mengikat, saya bebas kapanpun melakukannya dan kapanpun saya mau "break". Dan lebih enaknya lagi, ini tidak untuk satu atau dua pekerjaan tapi tiga... could u dream it? 3 pekerjaan dengan tiga perbedaan tapi sama-sama tentang tulisan.

Jadi, Para Dad dan Moms yang ngajarin anaknya dan bilang kalau menghasilkan materi itu cuma di belakang meja, working time 8 to 5 its wrong!!! Saya bahkan bisa sambil tiduran, nonton tipi dan sesekali di dalam taksi sambil nungguin macet bahkan sambil nemenin anak saya saat mereka les atau sekolah.

Tiga pekerjaan ini mungkin efeknya baru tiga bulan ke depan baru bisa disaksikan atau dibaca. Sungguh rasanya senang banget karya yang saya pikir cuma pantas dinikmati oleh orang-orang dekat saya, ternyata bisa dibagi pada orang lain. Ada komentar langsung dari editor dan produser saya, karya saya berbeda dengan karya-karya lain. Duh, Senangnya...:)

Buat teman-teman, tetap semangat nulis. Jangan orientasikan pada materi ya! Tetap dengan style kamu, tetap terus belajar dan kalau bisa... ini kalau bisa jangan ngomongin orang, jangan ngomongin tema negatif apalagi sesuatu yang bertentangan dengan kaidah agama atau sosial, menegur boleh saja tapi jangan menghakimi orang lain tanpa alasan atau bukti.

Saya masih jauh dari kata ngerti soal "blog", masih ijo dengan apa itu "film" apalagi soal "buku". Tapi kalau yang kita kerjakan untuk sesuatu yang baik, tetap jalan terus karena pasti akan banyak yang bantu. Di belakang saya, banyak banget orang-orang baik yang membantu saya dan saya sangat berterima kasih pada mereka yang belum mau disebutkan namanya disini karena malu.

Kalau melihat di sini ada karya-karya yang dikunci karena memang itu belum publish di media. Jadi saya harus menunggu sampai medianya dulu yang memasang baru saya boleh

Kalau melihat di sini ada karya-karya yang dikunci karena memang itu belum publish di media. Jadi saya harus menunggu sampai medianya dulu yang memasang baru saya boleh publish di sini. Ngerti kan?

Lalu buat apa saya pasang di sini? Karena saya jarang bawa laptop ke sana kemari, takut file-file berharga hilang/rusak. Dengan menggunakan blogdetik sebagai portfolio, saya bisa membuka hasil karya saya di mana saja tanpa membawa laptop saya. Nah, keliatan profesional ya... padahal .. hehehe ada yang ajarin.

Sudah dulu... hari ini belum ada cerita fiksi tambahan karena lagi nyiapin pekerjaan dulu. Tapi semoga pengalaman saya menjadi pelajaran berharga.

Special Thanks for Blogdetik, for helping me found a good way to enjoy my life and sharing my thought. You are a wonderful provider and the biggest contributor for my future.

30 Oktober 2011

Pembantu juga manusia...



Ini terjadi kurang lebih bulan Januari 2011, catatan ini kayaknya bagus kalo kushare di sini :
Saat Liburan kemarin, saat kami berada di Gelanggang Samudera yang penuh manusia. Kami sedang berjalan-jalan bersama anak-anak dan tertawa bercanda sambil antre menunggu giliran nonton di Teater 4D. Saat itulah ada pemandangan yang sedikit mengganggu keceriaan kami.


Ada seorang ibu hamil dengan kerasnya memarahi pembantunya. Aku melihat si pembantu tampak repot membawa berbagai keperluan si ibu ditambah lagi mendorong kereta bayi berisi anak seusia Fira. Entah apa kesalahannya, yang jelas suara ibu hamil itu terlalu keras karena jarak kami lumayan jauh.