Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2017

Anniversary 'Pacaran'??



Tepat pukul 02.00 siang, Tutor kami melangkah ke luar. Aneh, mendadak kantuk yang terus menerus kutahan sejak tadi langsung terbang. Aku mendesah. Dasar nih mata... begitu kuliah selesai, ia langsung melek dengan sukses. Karena minggu yang teramat sibuk, kuputuskan untuk segera pulang beristirahat. Saat kakiku baru melangkah di tangga menuju lantai dua, seseorang menepuk bahuku dari belakang. Seraut wajah manis berjilbab kuning cerah dengan senyuman lebar telah berada di dekatku.

Gadis manis bernama Dania itu langsung berkata, "Mba... pulang ttm, kita nobar yuk!"

Masih dengan wajah lelah, aku berusaha melebarkan mata. "Waah tumben... Ada acara apa?" tanyaku sambil terus menuruni tangga
Dania tersipu-sipu malu. Sambil melangkah terus mengimbangi langkahku, ia berbisik pelan. "Anniversary, mba. Yang keempat."


Kakiku berhenti bergerak. Aku menoleh, bingung dan tak percaya. "Lah kamu kapan nikahnya? Tahu-tahu Anniversary aja."


"Bukan nikah, Mbakku sayang. Tapi masa pacaranku udah 4 tahun," sahut Dania cepat.

Aaah... kata itu meluncur dari bibirku tanpa sadar sebelum diam dan kembali melangkah turun.


Sampai di lantai dasar, aku memilih ke mesjid sebentar. Menunaikan sholat dhuhur lebih dulu. Dania juga. Kami tak membahas soal ajakannya lagi sampai dia dan aku sama-sama selesai sholat dan telah memperbaiki letak jilbab. "Mbak... jadi kan nontonnya?" tanya Dania penuh harap, saat aku tengah mengirim sms meminta suamiku menjemput.


Aku mendongak, menatap Dania sebentar dan menghela napas. "Empat tahun ya? Dulu saya anniversary 4 tahun itu sudah ada anak pertama, sudah ngerasain libur ke banyak tempat... "


Dania terkekeh. "Ya beda, Mbak. Pacaran kok disamakan dengan pernikahan?"


Kali ini aku yang terkekeh, mengangguk-angguk setuju. "Loh ternyata kamu tahu kalo dua hal itu berbeda, kenapa mau pacaran? Begitu lama pula. Memang ada untungnya? Kalo orang menikah 4 tahun kan ada ikatannya dan investasinya juga mungkin udah banyak, dapet anak, nyicil rumah, atau bahkan mungkin sudah punya mobil... lah kamu pacaran selama itu dapat apa aja?"


"Ya, dapat cinta dan kasih sayanglah Mbak. Mbak tahu kan duniaku gak seindah Mbak. Kalau gak ada pacarku nih, Mbak... mungkin udah lama aku jadi gila. Tak bisa dinilai dengan rupiah atau harta deh, Mba."


Mataku membulat. "Benarkah? Kalau dia begitu penting bagimu, apa tak takut kalau dia mungkin pergi darimu? Kalau segala hal tak bisa dinilai oleh rupiah atau harta, lalu apa yang terpenting bagimu dong?"


Dania menggeleng-geleng. "Aku percaya banget sama pacarku, Mbak. Lagian buatku yang penting itu kami saling mencintai dan saling menyayangi. Pernikahan hanyalah perjanjian di atas kertas dan karena hukum. Itu tak begitu penting karena yang lebih penting sebenarnya kami saling memiliki."


Aku tak bisa menyembunyikan tawaku lagi. Aku benar-benar tertawa, sampai-sampai jamaah wanita lain melirikku dengan tatapan tak enak. Kontan aku berhenti tertawa. Aku mengangguk meminta maaf sebelum kembali berbisik pada Dania.


"Saling memiliki? Apa buktinya, Nia? Kapanpun dia bisa dengan mudah meninggalkanmu. Menyayangi dan mencintaimu? Buktinya apa? Kalau dia sayang sama kamu, kenapa bertahun-tahun memacarimu tanpa ikatan? Kalau dia cinta kamu, kenapa membiarkanmu tetap pacaran padahal pacaran itu haram?"


Bahu Dania merosot turun. Aku mengusap pelan bahunya. "Adikku yang manis, cinta itu mengajak orang yang kita sayangi menuju kebaikan, sayang itu artinya memberikan kasih sayang tanpa batasan, bukan separuh hati. Katamu, ada hal-hal yang tak bisa dinilai dengan uang. Oke, sekarang tahukah arti sebuah buku nikah? Buku nikah itu kecil, tapi di situ tertera hak dan kewajiban yang jelas. Ada hukum yang melindunginya, melindungi hak kita dan melindungi kita dari berbagai kemungkinan bakal menjadi gila karena cinta yang bodoh. Sebagai perempuan, kita menjadi ratu yang resmi dan bukan hanya ratu sehari untuk lelaki yang penting bagi kita. Buku itu bukan sekedar perjanjian, dia adalah bukti keberanian lelaki untuk membuktikan kalau ia benar-benar ingin melindungi kita, memberi cinta seutuhnya dan menjaga kita selamanya."


Dania menatapku. Nyaris tanpa ekspresi. "Dia mau menikahiku, Mbak. Aku yang belum siap."


"Belum siap? Ooh... jadi kamu lebih siap menghadapi kalau suatu hari dia memilih orang lain setelah empat tahun bersama?"Kali ini, mata Dania berkaca-kaca. "Mbaaaak... kan aku lagi anniversary, kok malah didoain begitu?"


Melihatnya hampir menangis, hatiku trenyuh. "De... saya itu hanya kasihan. Pacaran itu lebih banyak mudhorotnya, sedangkan menikah justru ibadah. Empat tahun kamu sia-siakan, padahal itu kesempatanmu beribadah. Saya mau doain apa? Semoga pacaranmu langgeng?... Saya ga mau ah merayakan anniversary pacaranmu, ah. Masak merayakan kebodohan seperti itu?"


Dania menunduk. "Aku kan tidak ingin salah melangkah, Mbak.""Kalau tak ingin salah melangkah, lalu selama empat tahun ini kamu sedang mempelajari langkah apa? Katamu, kalian sudah sangat saling menyayangi dan memiliki. Itu artinya kamu juga sudah yakin kan padanya? Laaah... sekarang nyari alasan apalagi coba?"


Gadis manis itu tak menjawab. Ia merenung. "Tapi kalau aku langsung bilang aku mau menikah kan jadi gimana gitu kesannya, Mbak. Aku kan pengen juga dilamar dengan cara yang spesial."


Aku mengerling. "Yee... memangnya hanya perempuan yang pengen dilamar dengan cara spesial. Laki-laki juga mau loh."


"Lalu cara apa dong yang paling spesial? Tell me! Tell me!!" sergah Dania.Aku berbisik di telinga Dania. Dan Dania langsung tertawa terbahak-bahak. Kali ini tak hanya satu orang yang langsung ber'ssstttt, ssstttt' Tapi Dania masih tak bisa berhenti tertawa, aku memilih ngacir meninggalkannya. Tawa Dania benar-benar terdengar sampai keluar.


Mungkin karena aku berbisik "Nyanyikan lagu Love is an open door untuknya. Lalu bilang 'can I say something crazier to you' lalu 'marry me now!'


*****


22 Oktober 2017

Memilih Daging Sapi Sesuai Standar ASUH



Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena daging merupakan sumber protein utama dan sebagai sumber kalori yang penting bagi manusia. Kandungan asam aminonya juga lebih lengkap dan seimbang dibandingkan dengan protein nabati.

Setiap orang tentu menginginkan daging yang dikonsumsinya memenuhi standar kesehatan yang baik. Standar daging yang berkualitas dan memenuhi syarat disebut juga dengan ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).

Penjelasan standar ASUH adalah sebagai berikut:

  • Aman, dalam hal ini daging tidak tercemar oleh bahaya biologi (mikroorganisme), bahan kimiawi (pestisida, herbisida, residu, hormone dan lain-lain) dan tidak dikotori secara fisik oleh kerikil, pasir, pecahan kaca dan lain sebagainya yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.

  • Sehat, berarti daging tersebut mengandung zat-zat yang dibutuhkan dan berguna bagi kesehatan serta pertumbuhan manusia, yaitu protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

  • Utuh, maksudnya daging tersebut tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan yang sama atau bagian dari hewan lain, atau daging sehat yang dicampur bangkai.

  • Halal, artinya hewan tersebut disembelih dan ditangani sesuai syariat Islam. Kehalalan menjadi hak asasi manusia yang diakui keberadaannya sehingga harus dijamin dan dilindungi oleh semua pihak yang bertanggung jawab. Itulah mengapa, sertifikasi halal diperlukan untuk menghilangkan keraguan konsumen.

Agar mendapatkan daging yang memenuhi standar ASUH, berikut cara memilih daging yang baik:

1.     Warna Daging


Warna daging yang segar dan berkualitas adalah warna merah segar, tidak pucat dan tidak kotor. Namun, warna daging juga bervariasi tergantung dari jenis hewan baik secara genetik atau usianya. Sebagai contoh adalah daging sapi potong berwarna lebih gelap daripada daging sapi perah, dan daging sapi muda lebih pucat dibandingkan daging sapi dewasa.

Warna daging yang berasal dari sapi yang sudah mati (bukan disembelih) dan tidak memenuhi standar ASUH biasanya berwarna kebiru-biruan.

2.     Tekstur Daging


Daging yang segar memiliki tekstur yang terasa kenyal. Kekenyalan itu terlihat saat daging ditekan sedikit dan langsung kembali seperti semula. Tetapi jika ditekan terasa lembek maka daging tersebut sudah mulai mengalami pembusukan.

Keempukan daging juga ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan, susunan jaringan ikat semakin banyak sehingga daging yang dihasilkan semakin liat atau keras.

3.     Aroma / Bau Daging


Daging yang segar memiliki aroma atau bau khas sapi segar, tidak enak atau asam, tidak menyengat atau berbau busuk.

4.    Urat Sapi


Urat daging sapi yang segar terlihat wajar dan tidak mengalami pembengkakan, uratnya tidak mengembang atau tidak terlihat kembung.

5.     Cairan


Daging yang baik dan normal, biasanya memiliki permukaan yang relatif kering sehingga dapat menahan pertumbuhan mikroorganisme dari luar yang akan mempengaruhi daya simpan daging tersebut.

Jika ada cairan berwarna merah seperti darah, maka daging yang berair itu biasanya berasal dari sapi glonggongan. Cairan yang keluar itu adalah sisa-sisa kelembapan/sari daging dari sapi yang dipaksa untuk minum air sebanyak-banyaknya sebelum disembelih.

Daging yang berair juga bisa berarti daging tersebut sudah berada cukup lama di udara bebas.

6.     Kandungan lemak (Marbling)


Lemak yang terdapat diantara serabut otot (intramuscular) disebut juga dengan Kandungan lemak (marbling). Fungsinya sebagai pembungkus otot dan mempertahankan agar daging tetap utuh saat dipanaskan. Kandungan lemak juga mempengaruhi cita rasa saat daging dimasak.

7.     Halal


Pastikan membeli daging dari penjual / supplier daging yang memiliki izin atau sertifikasi halal dari pihak MUI.

8.     Penjual


Pilihlah tempat membeli daging yang lingkungannya bersih, peralatannya juga baik dan orangnya terlihat bersih. Jika ada penawaran harga yang terlalu murah, maka perhatikan dan ikuti prosedur pemilihan daging dengan baik untuk menghindari daging di bawah standar ASUH.

Kalau ingin cari daging sapi halal yang sesuai dengan standar ASUH, di sini tempatnya.

Source : Dari berbagai sumber

06 Oktober 2017

Nulis dan Mengapa Emak Hanya Menulis?


SMP, itu pertama kali karya Emak dimuat. Senengnya... cerber lagi. Habis itu ditawari nulis tetap di kolom remaja, tapi Emak keburu pindah sekolah.






Selama kerja, cerita bejibun di kompi, tapi hanya jadi bacaan rekan-rekan kerja. Mereka ngakak, sedih dan bahkan marah-marah sendiri krn Emak gak selesaikan ceritanya, justru alasan Emak bertahan kerja.






2011, tiba-tiba puluhan notifikasi komentar muncul di email. Someone used my email, took my stories and made my first blog without permission. Seneng? Ya iyalah, tapi takut juga, kesel juga dikomen. Dipikir nulis itu enak apa, kadang nulis fiksi itu ngelibatin emosi juga loh. Setelah ditertawai someone ini, karena akhirnya Emak bersedia juga mengurus blog itu sendiri






Day after day, banyak yg berubah. Tapi yang pasti nulislah yang membuat Emak kuat ngadepin masalah dari mulai ngurusin anak2 sendiri, mamah sakit, keluarga, lalu kuliah lagi, akhirnya juga bekerja lagi dan berkenalan dengan banyak kegiatan. Istilah Ayah 'Out of Cangkang'






Tapi, menulis membuat Emak memilih. I am writing for myself. Yep.. myself. Buat nyenengin hati, ngelepas beban dan berbagi senyum. Itu yang bikin rohani seimbang. Gak melulu mikirin galau. Ngurangi stress. Sekarang sudah tujuh tahun sejak saat itu...



Ya, bulan ini adalah hari ulang tahun pertama kalinya Emak mulai ngeblog. Masih ada blog gratisan itu. Kadang masih menulis di sana. Tapi karena sekarang banyak request dari penerbit langsung, jadi agak keteter juga menulis untuk blog. Belum kegiatan baru dan mulai bulan ini ada lagi tambahan les di malam hari.


Saat-saat pertama kali kelabakan menerima notifikasi itu benar-benar tak terlupakan. Membayangkan wajah Emak yang polos dan bingung, tak tahu harus bagaimana saat fitur-fitur blog yang tak dipahami menghalangi niat berbagi tulisan selanjutnya, bahkan sekedar menjawab komentar saja pun bingung harus tekan yang mana. Sampai disangka sombong oleh blogger lain. Padahal... saat itu semata karena oon aja.

Ayah yang jadi saksi sepanjang tujuh tahun terakhir. Ada kalanya Emak menangis sendiri karena terlalu menjiwai tulisan. Ada kalanya anak-anak ikut jadi editor dan tertawa terbahak-bahak saat ikut membaca. Tapi... karena pernah Emak kerjain beberapa kali, anak pertama Emak sudah tak lagi mau membaca cerita fiksi karya emaknya sendiri, kecuali kalau ia sudah memastikan cerita fiksi itu bukan cerita sedih. Ia, yang sebenarnya periang dan jarang menangis, bisa menangis tersedu-sedu hanya karena tulisan. Dan kalau Emak tahu anaknya nangis hanya karena hal seperti itu, ya pasti ia akan diledek habis-habisan. Di rumah kami, yang cengeng itu hanya boleh Emak.

Emak pernah ngerasain, dari sekali nulis dibayar jutaan sampe kini berubah jadi puluhan ribu rupiah saja setelah banyaknya blogger yang bermunculan. Ya biasa aja. Karena dari dulu, Emak memang tak pernah terlalu serius menekuni dunia blogger. Santai saja. Dapat alhamdulillah, enggak ya biasa aja. Gak merasa perlu gontok-gontokan, apalagi ribut karena hal-hal sepele. Rezeki ada yang ngatur.

Ada faktor lain juga yang membuat Emak berpikir begitu, setelah merasakan pekerjaan blogger yang harus ke sana ke mari melakukan review, menghadiri acara dan sebagainya. Emak punya keterbatasan. Biasanya setelah acara, selalu sakit. Fisik Emak tak sanggup relay dari satu acara ke acara lain, sekalipun dengan teman, sekalipun dengan kendaraan senyaman apapun, sekalipun tempat-tempat yang didatangi itu nyaman. Tadinya, merasa mungkin kalau sudah terbiasa akhirnya bisa. Tapi general check-up dengan biaya luar biasa, justru menjawab semua pertanyaan Ayah dan Emak, mengapa Emak gampang sekali sakit... sampai akhirnya keputusan harus dibuat.

Emak masih menulis... tapi hanya di blog saja, lebih banyak atas nama orang lain, beberapa disimpan untuk anak-anak. Biarlah mereka yang memutuskan akan diapakan karya-karya emaknya nanti. Mungkin untuk kenangan, mungkin juga untuk mereka bagi dengan orang lain. Tapi Emak lebih sering menulis tentang hidup, tentang anak-anak, nasihat untuk orang lain.

Jika memang ada rezeki, mungkin datang dalam acara-acara itu. Tapi syarat Ayah hanya sebulan dua kali, acara yang tak lebih dari 6 jam dan hanya seputar Jakarta Pusat. Susah kan? Apalagi kesibukan lain terlalu menggoda untuk dilewatkan. Menulis blogpun makin lama makin jarang.

Hanya saja akhir-akhir ini malah hampir tak pernah berbagi lagi di blog. Ternyata memang sangat sulit membagi waktu kalau menulis berbagai tema sekaligus. Emak tak sanggup berubah dari satu tema ke tema lain dalam sekejap. Buat Emak semua tulisan adalah 'bayi-bayi' yang harus memiliki karakter dalam setiap tulisannya. Jika semata menuruti target, rasanya seperti ada yang hilang.

Emak menulis, atau sebagai penulis. Emak tak lagi terlalu peduli. Emak tak perlu pengakuan, cukup pembuktian. Sama tak pedulinya seperti menghadapi teman-teman Emak sendiri, saat wajah bengong mereka ketika melihat hasil lukisan Emak di dinding kamar Kakak, atau saat sorot tak percaya sahabat sendiri yang terpancar ketika melihat hasil karya flanel Emak dalam tiga kotak yang dimainkan adik, atau ketika ada yang berulang kali melihat judul buku hasil tulisan Emak. Tanya mereka sama... "Memangnya bisa apa emak-emak manja dan konyol kayak dia ini?"

Cukuplah, menulis sebagai cara Emak menikmati hidup. Yah. menikmati. Menulis itu seperti tempat Emak bermain, tempat Emak memandang segala sesuatu dan mencatatnya melalui kata-kata yang tertulis. Tak perlu pengakuan, tak perlu pujian. Gak papa disindir, gak papa juga dikomentari. Then... you will always talk to my hand.

7 tahun. Jika ia seorang anak, maka lagi bawel-bawelnya. Tapi karena sudah 7 tahun berkecimpung di negeri bernama dunia maya, Emak sudah belajar menapak dunia nyata. Ada yang hidup berkat tulisan, ada yang sembuh karena tulisan, ada yang tersakiti gara-gara tulisan... Hanya penulis yang memutuskan.

Tertanda,
Emak
(a.k.a Bunda Iin)


03 September 2017

Universitas Kehidupan


Beberapa tahun silam, semenjak resmi menulis di Blogdetik, saya mengalami perubahan dalam hidup. Beberapa kali saya ceritakan di blog ini bahkan blog lainnya. Kebanyakan bersyukur, kebanyakan berterima kasih. Tapi ada beberapa pengalaman buruk yang saya ceritakan secara tersirat, tidak terlalu menjelaskan apa yang terjadi tapi berharap orang lain akan memahami mengapa kemudian saya berubah drastis dari blogger harian yang aktif, menjadi bulanan bahkan kemudian triwulanan. Tulisan hanya satu dua kali muncul dalam sebulan.

Yah, di tengah kesuksesan menulis saat itu, selain hal-hal positif yang saya dapatkan, ada hal-hal negatif juga terjadi. Beberapa hal menyakitkan itu membuat saya sempat down, sangat sedih karena niat baik itu dirusak oleh orang-orang berkedok keramahan.

Jika Blogger lain umumnya senang berkopdar alias bertemu langsung, saya malah memilih untuk tidak melakukannya. Ingin sekali hadir, tapi karena trauma dengan pengalaman buruk, akhirnya mengurungkan niat itu. Saya memilih stagnan, menghabiskan waktu untuk menulis hanya sebagai hobi semata, dan mengambil mata pencaharian dengan bekerja secara profesional di rumah maupun di kantor.

Seperti yang berkali-kali saya cerita, copy paste ke blog lain hanyalah seujung kuku dari hal negatif yang terjadi ketika tulisan sudah publish secara umum. Menghadapi komentar sarkas juga bukanlah masalah yang terlalu perlu dibesarkan. Sudah biasa. Setengah tahun setelah mulai ngeblog, saya sudah mulai terbiasa.

Yang menyedihkan justru terjadi di balik layar monitor komputer. Mereka yang saya temui karena mereka membaca karya dan tulisan saya, tak semua berniat baik. Memang wajahnya semua ramah-ramah, tapi tak semua jujur dan sesuai dengan kata-kata mereka. Kepolosan saya dalam dunia tulis menulis dan publikasi, ditambah anggapan bahwa semua yang telah mereka ciptakan sebelumnya telah mewakili 'kejujuran' itu telah membuat beberapa karya dan tulisan dengan ratusan halaman naskah berpindah tangan tanpa perjanjian hitam di atas putih. Dengan senang hati, saya memberikan tulisan berharga pada orang-orang itu.

Tulisan saya saat itu sangat beragam, rata-rata penuh pesan inspirasi yang sarat dengan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar saya. Kisah-kisah cinta menarik yang saya kumpulkan dari teman dan keluarga, diramu dalam novel-novel ratusan halaman. Karya Ilmiah dengan gaya pop yang waktu itu sempat menjadi kesenangan saya yang baru mulai kuliah saat itu juga ada, temanya tentang dunia penulisan.

Lalu, semua tiba-tiba menghilang. Membawa karya-karya saya yang kemudian tidak jelas keberadaannya. Membuat saya menganggap mungkin tulisan itu tak sesuai dengan keinginan mereka.

Namun, yang menyakitkan ketika beberapa bulan dan bahkan tahun, tiba-tiba saya menemukan satu dua novel dengan tulisan yang begitu mirip. Kemiripan hingga nyaris seperti copy paste itu terdapat dalam novel-novel di rak toko buku ternama. Sayangnya, nama yang ada di situ bukanlah nama saya.

Belum lagi hilang sakit itu, suatu hari seorang teman yang selalu saya tunjukkan karya-karya sebelum publish untuk dimintai pendapat menghubungi dan memberitahu, ia menonton drama yang plotnya sangat mirip dengan salah satu skrip yang saya tulis dan juga pernah ia baca. Yang lebih mengagetkan dari informasinya, ia bahkan merekam obrolan yang ia tahu ada di skrip saya dengan ponsel. Saya tersentak... kaget. Ya Allah, kenapa mereka begitu berani mengambil milik saya, 'bayi-bayi' saya tanpa izin saya? Di situlah mulai urat kepercayaan saya pada dunia yang berkaitan dengan tulisan di Indonesia menjadi putus total.

Kalau ditanya usaha untuk mengklaim hak, saya pernah mencobanya. Tapi kemudian saya menyerah setelah bertemu seseorang lain yang juga mengalami hal yang sama. Dia malah lebih parah. Meski sempat tak percaya pada orang itu, tapi setelah melihat kualitas tulisannya yang lain, akhirnya saya mengerti. Saya hanyalah salah satu dari orang-orang 'bodoh' yang takkan pernah bisa apa-apa jika menghadapi plagiarism.

Untungnya, setiap pintu tertutup pasti akan membuat kita melihat jendela. Saya menemukan jendela yang kemudian menjelma menjadi pintu rezeki yang lain. Kesempatan yang akhirnya membuat saya mulai relaks menghadapi para perampas hak itu. Biarlah... anggap saja itu karya-karya untuk membayar mata kuliah membaca karakter di universitas kehidupan. Toh, pada akhirnya, saya tetap tak bisa berhenti menulis. Meski kini tak semua karya itu saya lepas bebas langsung publish seperti dulu. Lebih banyak disimpan. Bahkan dititipkan pada anak-anak, yang salah satunya sudah menurunkan bakat dari saya. Cerita-cerita dengan emosi pribadi yang terlibat di dalamnya, saya simpan untuk anak-anak. Ah ya, saya mendadak pelit jadinya.

Bertahun-tahun, saya tak pernah ingin tahu kabar orang-orang itu. Meski di beberapa media sosial bisa dengan mudah menemukan orang-orang terkenal, saya tak tertarik untuk kembali berinteraksi dengan mereka. Toh, meski berlapis dengan topeng keramahan, kebaikan, kelurusan serta tulisan-tulisan penuh pesan penting, mereka sudah pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Bagi saya, mereka tak lebih dari pencuri. Urusan antara kami sudah selesai. Karena saksi saya hanya orang-orang terdekat dan Allah SWT, maka biarlah Allah SWT yang mewujudkan hukuman terbaik untuk para perampas hak itu.

Sampai minggu kemarin...

Iya, sampai minggu kemarin... dan saya hanya bisa bilang. Hati-hatilah berjanji, hati-hatilah saat ada hutang yang belum terselesaikan, hati-hatilah saat kau pernah merampas hak seseorang, sebaik apapun kau menyembunyikan, Allah SWT akan membuatmu membayarnya di dunia dan akhirat. Doa diam-diam dari hati mereka yang kau rampas haknya, kini terdengar oleh langit. Perlahan hukuman itu menanti, meski kini tak ada lagi dendam itu, hanya rasa iba dan kasihan. Tapi maaf, iba dan kasihan, takkan bisa menghentikan hukuman.

Dari kejauhan, saya berharap semoga orang itu, siapapun dia, diberi hidayah agar menjadi pribadi yang lebih baik

02 Agustus 2017

Pilihan Menikah di Usia Muda

Memang terkadang lebih mudah melihat kehidupan orang lain daripada menjalani kehidupan itu sendiri.

Seperti itulah yang terjadi ketika banyak orang yang melihat ke dalam kehidupan pribadi saya.

Satu kalimat yang biasa saya dengar, enaknya jadi Mbak Iin…

Padahal memiliki keluarga dan kehidupan seperti ini tidak semudah mengatakannya apalagi hanya sekedar melihat dan mengambil kesimpulan.

Bayangan tentang ibu yang bisa dengan bebas menjalani pilihannya, keluarga yang selalu mendukung semua keputusannya, dan anak-anak yang sudah mandiri adalah dambaan bagi setiap perempuan di manapun berada.

Hal yang membuat mereka mengira bahwa menikah muda adalah pilihan terbaik. Padahal jika mereka bertanya, apakah saya tak takut mengulang keputusan yang sama andaikan waktu bisa diputar kembali??

Ya, kalau pasangan saya masih orang yang sama. Tapi tidak jika bersama orang lain.

Membayangkan kehidupan nyaris 20 tahun yang diputar ulang, saya harus bilang bahwa ini bukan sekedar kehidupan rutinitas dengan sedikit pertengkaran dan perdebatan belaka. Ini tentang kehidupan yang jatuh bangun, penuh airmata dan emosi silih berganti bahkan pertumpahan darah. Entah berapa kali kami tersudut, hampir masuk jurang dan harus berjuang keras untuk keluar.

Tapi justru karena semua itu, kami akhirnya belajar menghargai apa yang kami miliki sedikit demi sedikit. Dari ketidakbersamaan, kami menghargai waktu dan kualitas kebersamaan. Dari pertengkaran, kami menghargai tawa dan canda. Dari kata-kata keras, kami menghargai kelembutan dan rayuan.

Simpul akhirnya berujung pada usia yang matang, pemikiran yang telah siap dan cinta di hati sebagai hal-hal penting dalam sebuah pernikahan. Kesiapan fisik tidaklah sama dengan kesiapan mental. Kecuali kejujuran yang melandasi sebuah pernikahan, takkan ada hal lain yang lebih penting.

Itulah sebabnya, saya selalu menganggap bahwa mereka yang memilih untuk menikah walaupun usianya sudah matang, mungkin memang belum siap secara mental dan belum siap untuk jujur pada orang lain selain diri sendiri. Tak usah ia dipaksa, karena itu akan membuat kehidupan pernikahan yang justru tak baik untuknya.

Jodoh bukanlah tentang membeli properti atau barang pajangan. Jodoh adalah tentang seseorang yang akan menjalani kehidupan bersamanya. Sesuatu yang dipilih tak hanya dengan hati, tapi juga dengan pikiran mendalam.

Hanya memang perlu keberanian untuk melangkah. Kalau alasan menunda justru karena takut, itu justru memperkuat sikap kekanak-kanakkan saja. Justru mulailah berpikir luas dan maju untuk melihat jauh ke depan. Pertimbangkan usia pasangan dan kemungkinan memiliki keturunan nanti.

Toh, nyatanya… meski menikah muda, saya baru punya Kakak setelah empat tahun menikah. Tetap saja saya harus akui bahwa tidak mudah punya anak di usia muda. Namun sebaliknya, punya anak-anak remaja di usia yang belum 40 tahun memang benar-benar menyenangkan.

Pengalaman adalah guru terbaik, dan saya ingin membantu sahabat dengan pengalaman ini. Keputusan tetap di tangan mereka. Siap atau tidak dengan resikonya. Tapi yang jelas ada satu hal pasti yang bisa membuat seseorang melalui semua halangan sulit dalam pilihannya. Hal itu adalah cinta… Dengan cinta Lillahi Robbi, dengan cinta pada pasangan yang akan menjadi ladang ibadah, dengan cinta pada diri sendiri agar merasakan nikmatnya kodrat wanita… siapapun akan bisa melalui semua kesulitan itu.

Jadi, pilihan kembali di tanganmu…

28 Juli 2017

Hal-Hal Sepele Ini Bisa Membuat Rencana Berlibur Jadi Gagal



Sudah menyusun rencana liburan sejak jauh hari, nyatanya rencana tersebut malah batal begitu saja. Wah, rasanya tentu kesal sekali, ya.

Faktanya, kita rencana liburan memang bisa batal begitu saja karena hal-hal sepele lo. Oleh sebab itu, kita harus memperhatikan setiap hal secara cermat sebelum memutuskan pergi berlibur. Kenali beberapa hal sepele berikut ini yang bisa membuat rencana berlibur jadi gagal :

Lupa Mengurus Asuransi Perjalanan

Rencana liburan ke luar negeri biasanya memang membutuhkan asuransi perjalanan sebagai salah satu persyaratan mutlak. Selain menjadi syarat penting, kepemilikan asuransi perjalanan pun akan memproteksi perjalanan liburan kita. Jadi, jangan menganggap remeh asuransi perjalanan mulai sekarang. Pilihlah asuransi perjalanan berkualitas demi kelancaran rencana liburan kita.

Gagal Mendapatkan Teman Berlibur

Anggota keluarga atau sahabat yang kita harapkan ikut berlibur nyatanya membatalkan rencana menjelang hari H. Sebenarnya kita tak harus pergi berlibur bersama orang lain kok. Tak ada salahnya kita solo traveling untuk merasakan pengalaman yang berbeda. Kini tren solo traveling juga mulai diminati oleh para wisatawan yang senang mengunjungi tempat-tempat baru.

Susah Memperoleh Cuti Kantor

Kendala cuti kantor pun kerap menghalangi rencana berlibur. Sebenarnya masalah yang satu ini bisa diatasi dengan mudah bila kita sudah mengajukan izin cuti sejak jauh hari. Jangan malas menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kita mulai menikmati waktu cuti untuk berlibur. Sehingga nanti kita pun tak kesulitan mendapatkan izin cuti yang kita butuhkan.

Bingung Merencanakan Rute Perjalanan Liburan

Tak perlu bingung soal rute (itinerary) yang akan kita singgahi saat berlibur. Sebab kini ada banyak referensi di internet yang ditulis oleh para travel blogger. Selain itu, kita juga bisa meminta saran dari sahabat atau anggota keluarga yang pernah berlibur ke tempat yang sama. Karena mereka yang sudah berpengalaman pasti bisa memberikan saran penyusunan rute terbaik.



Bila kita sudah paham tentang hal-hal sepele penyebab gagalnya liburan, pasti nanti kita lebih cermat menghindari kegagalan tersebut. Mewujudkan rencana liburan yang menyenangkan tentu tak sulit lagi bila kita sudah tahu caranya. Selamat merencanakan liburan!

26 Juni 2017

Pasar Ramadhan, Hadir Untuk Semua

Setiap tahun Pasar Ramadhan menjadi event tahunan yang rutin hadir di bulan puasa. Awalnya Pasar Ramadhan digunakan sebagai ajang jual beli untuk mencari takjil atau makanan berbuka puasa bagi umat Islam.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya telah mengubah fungsi Pasar Ramadhan menjadi lebih luas dan semakin bervariasi. Di beberapa daerah di Indonesia, Pasar Ramadhan digunakan Pemerintah Daerah sebagai ajang untuk berkontribusi dan berkomunikasi dengan masyarakat lokal seperti mengadakan bazaar bahan pokok murah, berbagi dengan kaum fakir miskin atau anak yatim, mengadakan lomba-lomba menyambut Ramadhan dan Lebaran, dan lain sebagainya.

Pasar Ramadhan hadir hanya di bulan Ramadhan. Di beberapa daerah, Pasar Ramadhan juga menghadirkan aneka takjil legendaris. Beberapa jenis takjil ini pun hanya hadir di saat bulan puasa saja. Tidak heran kalau Pasar Ramadhan menjadi ajang mencari takjil legendaris. Selain menjadi ciri khas daerahnya, takjil legendaris juga untuk mengenang saat-saat berpuasa yang biasanya identik dengan kebiasaan dalam keluarga.

Salah satu fungsi utama Pasar Ramadhan sebagai wisata kuliner bagi para penikmat makanan. Bukan hanya sekedar takjil yang biasanya didominasi makanan kecil yang manis-manis, tapi kini juga termasuk makanan utama dan tergolong berat. Hal ini terjadi karena semakin banyak pasangan yang memilih untuk mencari makanan siap saji yang praktis untuk berbuka puasa dan kalau perlu sekalian untuk sahur.

Tidak hanya menyediakan beragam jenis makanan baik makanan pembuka dan juga utama, Pasar Ramadhan juga dimanfaatkan sebagai ajangnya bazaar murah. Apalagi menyambut Lebaran yang akan datang, harga berbagai keperluan pendukung akan mengalami peningkatan tajam. Biasanya keperluan pokok rumah tangga seperti beras, minyak goreng dan gula yang ditawarkan dengan harga miring di bazaar murah tersebut.

Meski hanya hadir setahun sekali, tapi Pasar Ramadhan dengan fungsinya yang semakin bervariasi telah menarik minat para pedagang dadakan. Banyak orang yang beralih profesi sejenak menjadi pedagang selama satu bulan demi meraup berkah rezeki di Pasar Ramadhan. Cukup dengan dagangan makanan atau minuman yang murah meriah, sedikit ruang di Pasar Ramadhan maka pedagang sudah siap meraup berkah.

Pasar Ramadhan tidak hanya mampu membuat para pembeli berdatangan, tapi juga memunculkan para pedagang yang memiliki berbagai inovasi terbaik untuk menjual.

Karena hadir di siang hingga sore hari, Pasar Ramadhan juga dimanfaatkan sebagai tempat ngabuburit asyik bagi kaum muslim. Sambil mencari takjil atau makanan, mereka yang sedang berpuasa bisa melewatkan waktu hingga saat berbuka puasa tiba. Itu sebabnya, hampir di setiap Pasar Ramadhan yang diadakan, kemacetan kerap terjadi.

Walaupun fungsinya dihadrkan untuk menjawab kebutuhan umat Islam, tapi Pasar Ramadhan kini juga dinikmati oleh penganut lintas agama. Keseruan mencari makanan enak atau mengenal beragam kuliner baru hasil inovasi pedagang menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang, apapun agamanya.

Bahkan di negeri tetangga, Malaysia, Pasar Ramadhan menjadi salah satu daya tarik utama untuk menarik wisatawan asing. Pasar Ramadhan yang identik dengan aneka kuliner dan barang-barang murah berhasil membuat Malaysia menjadi salah satu daerah tujuan wisatawan di bulan Ramadhan. Karena itu, sebelum bulan Ramadhan tiba, Malaysia telah gencar menginformasikan berbagai Pasar Ramadhan yang akan diadakan melalui iklan-iklan wisata.

Pasar Ramadhan memang tempatnya untuk memahami betapa beragamnya kehidupan beragama di Indonesia sejak dulu. Meski identik dengan Islam, tapi Pasar Ramadhan dinikmati semua penganut lintas agama bahkan wisatawan asing yang rata-rata non muslim. Walaupun kemacetan dan masih sering ditemukan banyak makanan atau minuman kadaluwarsa, Pasar Ramadhan tetap tak bisa ditinggalkan begitu saja.

*****

19 Juni 2017

Sedekah Untuk Bahagia


Kalau ditanya apa rahasia menikah awet hampir 20 tahun dengan seseorang yang berbeda usia hampir 13 tahun seperti Ayah, maka saya akan tertawa sendiri. Gak tahu... saya juga bingung. Pernikahan kami berlangsung seperti air mengalir. Seperti baru kemarin saya menerima ajakannya untuk ikut kemanapun dia akan pergi dan seperti baru kemarin juga saya mengucapkan kata ya atas janji yang ia berikan.

Sempat sih dengan sok tahu saya berkata bahwa sebuah pernikahan akan sukses kalau ada komunikasi antara keduanya. Benar sekali sangat benar... sampai saya menjumpai banyak kasus perceraian yang menurut para pasangan tersebut, mereka juga sudah berusaha berkomunikasi. Lalu apa yang menyebabkan seseorang bisa begitu bahagia melewati kehidupan pernikahannya bersama seseorang?

Belakangan saya menyadari sesuatu... Ternyata selain kami berdua, ada orang-orang yang menjadi penyebab mengapa kami bisa selalu berkomunikasi, bisa selalu menyatukan pikiran dan sesekali berdebat untuk mengerti bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang salah.

Tanpa saya sadari juga, bahwa hidup di masyarakat, berusaha untuk menjadi bagian dari hubungan sosial budaya membawa pengaruh yang baik untuk hubungan saya dengan Ayah. Begitu juga Ayah.

Begitupun ketika saya belajar untuk memandang segala hal tidak hanya dari sudut keuntungan. Membeli sesuatu, meski tak dibutuhkan, jika bisa meringankan beban bawaan seorang pak tua yang berjualan adalah bagian dari pelajaran itu. Tanpa disadari, saya belajar untuk mengurangi beban suami tercinta untuk tak meminta yang terlalu berat untuk diwujudkan.

Juga saat saya berbicara dengan lembut pada orang yang lebih tua dan memilih mengalah pada mereka yang muda dengan emosi jiwa, itulah saat saya belajar untuk memahami situasi yang terjadi sebelum bertindak. Tanpa disadari, saya mempelajari dulu situasi sebelum berlaku seperti perempuan muda yang ingin dimanja atau tangguh dan gigih di hadapan suami.

Maka proses belasan tahun menuju penghujung awal 20 tahunan kebersamaan, adalah sebuah proses panjang dari belajar memandang segalanya dari berbagai sudut. Dengan proses belajar dalam kehidupan, itulah saat kita sedang berusaha untuk mempertahankan pernikahan.

Jadi kalau Anda ingin mewujudkan pernikahan yang awet. Perbanyak sedekah dengan orang-orang di sekeliling. Sedekah harta, sedekah ilmu bahkan sedekah kebaikan adalah kunci yang akan membuka rezeki untuk menyelesaikan masalah yang mungkin nanti terjadi. Sedekah juga mengajarkan seseorang untuk semakin membuka pintu hatinya, meringankan dari keinginan yang tak masuk akal.

Belajarlah berkomunikasi tak hanya dengan keluarga di rumah, termasuk suami tapi juga dengan mereka yang hidup di lingkungan yang lebih luas. Doa mereka yang merasa beruntung memiliki Anda sebagai saudara, teman, dan sahabat yang akan memberi cahaya dan berkah pada rumah tangga.

*****

Foto oleh : dreamstime.com

Menu Sahur Ayam Rebus Jahe Bawang Putih

Tidak mudah menyediakan sahur untuk menu lima anggota keluarga yang seleranya berbeda. Kan tidak mungkin menyediakan lima hidangan untuk lima orang setiap waktu makan tiba. Solusi dengan menyediakan menu favorit bergantian juga terkadang malah jadi masalah. Kadang cocok di lidah anak yang bungsu, tapi tidak di anak yang tengah.


Tapi tentu saja selain menghafal menu-menu favorit anak-anak, ada satu kesamaan mereka yang juga menjadi jurus ampuh untuk mengatasi perbedaan itu. Apalagi saat harus menyediakan menu sahur, mencari makanan yang mereka sukai hingga bisa tetap menikmati makanan meski kantuk masih terasa.


Menu favorit anak-anak semua berbahan dasar yang sama, daging ayam. Bedanya hanya terletak dari cara pengolahannya saja. Untuk Kakak yang memang penyuka daging ayam sejati ini, ia menyukai semua jenis makanan berbahan dasar ayam kecuali ayam goreng tepung. Ayam goreng tepung pun yang ia tidak sukai itu jika terlalu dominan tepungnya bukan daging ayamnya. Abang lebih suka ayam goreng tepung, Ayam teriyaki dan Ayam Rebus Jahe Bawang Putih yang terinspirasi dari Samgyetang. Sementara yang paling kecil, Adek memiliki selera yang terkombinasi antara kedua kakaknya, ia tak suka Ayam Goreng Tepung yang terlalu banyak tepung dan pedas, tapi sangat suka Ayam Teriyaki dan Ayam Rebus Jahe Bawang Putih.


Karena itu kali ini saya menyajikan resep Ayam Rebus Jahe Bawang Putih. Menu yang satu ini adalah menu favorit keluarga kami. Menu ini saya kreasikan dari Samgyetang Chicken Soup dari Korea. Di sana, Samgyetang biasanya disajikan di tiga hari terpanas di musim panas untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang.


Awalnya saya membuat seperti yang diajarkan Ajumma saat di Korea dulu, yang memakai nasi aronan dan ginseng. Tapi karena terasa kurang pas dengan selera ala Indonesia, maka sayapun menyesuaikannya. Menu ini juga ternyata ampuh mengatasi selera makan yang kurang dan cepat mengembalikan stamina tubuh setelah sakit ketika anak-anak dalam masa pertumbuhan. Karena belakangan anak-anak mengalami penurunan stamina mendadak saat saya ajak bermain di siang hari saat berpuasa, maka menu ini menjadi pilihan saat sahur.


Agar bisa disantap saat sahur, sebaiknya daging ayam direbus sebelum sahur atau saat malam hari setelah sholat Taraweh. Ketika ingin menyajikan, cukup dihangatkan kembali.


Berikut cara membuat Ayam Rebus Jahe Bawang Putih


Bumbu dan Bahan:

  • Daging Ayam satu ekor utuh

  • Bawang Putih 6-10 siung (selera)

  • Jahe 3-4 cm, digeprek

  • Daun Bawang, dipotong kecil-kecil

  • Bawang goreng

  • Merica

  • Garam secukupnya


Cara Membuat:

  • Bersihkan ayam

  • Rebus ayam bersama bawang putih utuh, jahe yang digeprek selama +/- 30 menit.

  • Setelah 30 menit, ambil bawang putih dan hancurkan dengan sendok

  • Masukkan kembali bawang putih halus, garam dan merica secukupnya.

  • Rebus ayam kembali hingga daging lunak dengan api sedang +/- 20-30 menit. Tambah air jika perlu.

  • Sajikan ayam dengan taburan bawang putih dan bawang goreng


Pilihan:

  • Jika ingin rasa yang lebih gurih, bisa memakai bumbu praktis Sayur Sop dan garam sedikit saja.

  • Kalau tidak menyukai bau bawang putih yang menyengat, bawang putih dihaluskan terlebih dahulu lalu ditumis, sebelum direbus bersama daging ayam selama +/- 50-60 menit.

  • Daging ayam juga bisa dipotong-potong terlebih dahulu, jika tidak ingin repot saat penyajiannya. Menyajikan utuh memang terlihat cantik, namun sedikit kurang praktis saat penyajian. Jangan lupa untuk mengurangi waktu memasaknya sekitar 10 menit.

  • Saya sengaja merebus cukup lama, agar daging ayam menjadi sangat lunak dan mudah dipotong (dengan tangan), tapi daging sudah cukup matang setelah 30 menit. Tergantung selera Anda, apakah ingin lebih kenyal atau suka yang lunak.


(Foto menyusul. CBI)

18 Juni 2017

Ngabuburit Asyik dengan Kegiatan Positif

 

Tak lengkap jika tak membahas soal ngabuburit saat bulan Ramadan, atau bulan puasa. Saat-saat menjelang berbuka puasa ini seringkali menjadi terasa lebih lama dan lebih berat dibandingkan ketika masih pagi atau siang hari. Entah mengapa, mendadak telinga menjadi sensitif mengira suara hentakan seperti suara beduk, orang berbicara saja bisa disangka hendak memulai suara adzan, bahkan mata dan hati seringkali salah paham mengira jam di dinding sudah mati karena saat ditatap tak bergerak-gerak juga.

Itu bukan salah telinga, mata atau hati. Tapi itu karena kekuatan hawa nafsu yang sedang bergejolak di antero tubuh manusia. Kalau tak sanggup bertahan, habislah… Hawa nafsu yang berkuasa dan batallah puasa bahkan sebelum waktu Magrib tiba.

Karenanya, banyak orang mencari cara jitu agar tetap bisa bertahan hingga akhir. Meski di saat-saat terakhir itu menjadi saat-saat terberat, tapi bukan berarti kita tak bisa menikmatinya.

Banyak media hiburan yang saat ini memberikan ruang agar waktu bisa berlalu tak terasa. Dengan menonton televisi, drama, film atau mendengar radio, akan membuat seseorang terhibur dan mampu bertahan tanpa mempedulikan waktu. Tapi, hati-hati, pilihlah program acara yang tidak membuat puasa batal. Menonton drama atau film juga baik, tapi banyak loh adegan dalam drama atau film yang bisa membatalkan puasa bagi mereka yang menontonnya. Jadi pilih dengan baik sebelum memutuskan untuk ngabuburit dengan menonton.

Cara yang lain adalah dengan menghabiskan waktu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Kalau tak bisa memasak, membantu menyiapkan peralatan makanan adalah cara asyik untuk setidaknya… mendapat spoiler makanan dan minuman yang akan disantap nanti. Bukankah itu salah satu cara membuat hati semakin kuat untuk terus bertahan?

Tapi, kalau bosan berdiam diri di rumah, maka pilihan untuk berkendara sore-sore sambil mencari takjil untuk pelengkap berbuka puasa adalah pilihan ngabuburit yang juga asyik. Hanya saja, pilihan ngabuburit yang satu ini ternyata menjadi pilihan bagi banyak orang juga. Maka tak heran, menjelang sore hari biasanya lalu lintas dimana-mana macet dan penuh dengan kendaraan. Belum lagi ditambah mereka yang berhenti untuk membeli takjil. Jika tak begitu ingin mengalami kemacetan atau berpadat-padat ria di jalan, mungkin sebaiknya dipertimbangkan lagi.

Bukan berarti, berkendara juga tak bisa asyik. Kalau punya banyak waktu, sebaiknya datangi tempat-tempat rekreasi seperti tepi pantai atau alun-alun. Biasanya di bulan Ramadan juga ada Pasar Ramadan di alun-alun yang juga menyediakan berbagai rekreasi untuk dewasa maupun anak-anak. Akan sangat menyenangkan jika bisa ngabuburit santai sambil menghibur diri atau mencari takjil.

Kalau tak suka keluar rumah, ada lagi yang bisa dilakukan walaupun tak ke mana-mana. Banyak orang memilih untuk mengakses media sosialnya dan bertegur sapa dengan sesama warga dunia maya. Tapi, untuk yang satu ini, harus berhati-hati karena kalau tak menjaga diri malah membuat puasa menjadi batal atau makruh. Apalagi kalau sedang membahas keburukan orang. Mungkin tujuannya hanya berkeluh kesah, tapi kalau menceritakan keburukan orang secara terbuka dan memancing emosi yah sama saja berghibah.

Lebih baik, gunakan media sosial saat ngabuburit itu untuk tujuan hobi. Misalkan yang hobi fotografi maka akseslah media yang membahas soal fotografi, atau bagi yang suka memasak, ini kesempatan untuk menemukan resep-resep masakan terbaru.

Melakukan hobi di sore hari, terutama yang menuntut energi yang lebih, biasanya menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap bisa menikmati waktu untuk hobi mereka. Berolahraga seperti bermain basket, bulutangkis, senam atau berlari bisa dilakukan menjelang berbuka puasa, sehingga tubuh yang membutuhkan cairan dan asupan energi dari makanan akan bisa mendapatkan kembali tepat setelah berbuka puasa tiba.

Membaca buku, atau menulis juga bisa dilakukan menjelang berbuka puasa. Karena melakukan hobi biasanya akan membuat seseorang asyik saja melewati waktu tanpa memikirkan beratnya berpuasa sepanjang hari.

Cara asyik lainnya adalah melakukan kegiatan bakti sosial. Dengan tujuan untuk berbagi bagi sesama, membantu orang lain dan melakukan kegiatan positif untuk diri sendiri, maka cara ngabuburit ini juga tak bisa dilewatkan begitu saja. Sekarang sudah banyak lembaga sosial bahkan yang bersifat spontanitas yang mencari relawan-relawan untuk membantu sesama. Di kampus juga sudah banyak UKM-UKM yang melakukan kegiatan ini secara rutin.

Namun, ngabuburit terbaik tentu saja mengisinya dengan mencari tambahan pahala sebanyak mungkin. Bertadarus, membaca Al Qur’an, memahami tafsir, mendengar kajian atau ceramah adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu saat ngabuburit. Tidak hanya menambah ilmu, tapi juga akan semakin mendekatkan diri kita pada Allah SWT.

Apapun pilihan untuk ngabuburit yang dilakukan, pilihlah kegiatan yang benar-benar bermanfaat tak hanya untuk sekedar menunggu waktu berbuka puasa, tapi juga untuk membangun diri sendiri menjadi muslim yang lebih baik. Dengan ngabuburit asyik yang positif, semoga kualitas keimanan sebagai muslim pun menjadi terasah.

Polisi Tidur, Aman atau Rawan?


Sebagai salah satu pengguna jalan yang aktif, dengan little scoopy yang bolak-balik antara rumah, sekolah-sekolah anak, pasar lalu jalan sekitar rumah, polisi tidur adalah speed trap jalan yang paling sering saya jumpai. Saking seringnya, saya jadi hafal di mana saja letak si polisi tidur itu walaupun kadang-kadang tak terlihat dari jalan.

Lingkungan rumah yang cukup padat penduduk ini memang tergolong ramai dengan si polisi tidur. Entah mengapa masyarakat sekitar begitu rajin membangun polisi tidur, jaraknya begitu dekat bahkan tak sampai lima meter. Apalagi di sekitar komplek perumahan instansi, si polisi tidur melintang di tengah jalan dengan angkuh dan begitu tinggi sampai-sampai bagian bawah motor pun terbentur.

Yang membuat saya cukup heran bukan karena penambahan polisi tidur yang makin lama makin terlalu sering, tapi juga karena tujuannya makin tak jelas. Ketika seorang anak tertabrak atau tersenggol motor, penduduk sekitar bukannya mengajari si anak atau anak-anak lain untuk tak lagi bermain di jalan, tapi malah membangun tambahan polisi tidur lagi. Sementara anak-anak justru merasa terlindungi dengan adanya tambahan polisi tidur itu dan dengan tidak peduli, ibarat satu tumbuh seribu, kembali bermain di jalan.

Mungkin ini akibat kesalahan kita juga sebagai orangtua. Saat anak jatuh, bukannya memberitahu penyebabnya, eh…. kita malah menyalahkan si lantai tempatnya jatuh. Kebiasaan yang terbawa hingga dewasa, menyalahkan sesuatu yang tak bisa membela diri.

Padahal, pembangunan polisi tidur sendiri ternyata memiliki aturan khusus.
Menurut Pasal 53 huruf b Perda DKI Jakarta 12/2003, setiap orang tanpa izin dari Kepala Dinas Perhubungan dilarang membuat atau memasang tanggul pengaman jalan dan pita penggaduh (speed trap). Dari ketentuan tersebut jelas kiranya bahwa tidak sembarang orang bisa membuat atau memasang tanggul pengaman jalan. Hanya orang yang diberi izin oleh Kepala Dinas Perhubungan sajalah yang dapat membuat atau memasangnya. (http://www.hukumonline.com)

Bahkan ternyata pelanggaran aturan perda tersebut bisa dikenai hukuman pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).
Nah loo….

Tetapi sekali lagi kembali ke masalah yang sama. Lagi-lagi, karena kurangnya ketegasan pemerintah daerah sendiri maka menjamurnya polisi tidur terus terjadi.

Sebagai pengguna jalan, tentu saja keberadaan polisi tidur seringkali cukup mengganggu. Namun, secara tidak langsung saya juga merasa banyak manfaatnya. Misalnya ketika berada di depan sekolah dasar. Di sinilah kegunaan polisi tidur yang paling penting, melindungi hak pengguna jalan lain agar tidak tergilas oleh kepentingan pengguna jalan berkendara motor.

Hanya saja pola pikir masyarakat yang kurang memahami aturan, akhirnya membuat kegunaan polisi tidur menjadi tumpang tindih dengan akibat negatifnya. Pembangunan asal-asalan yang kadang-kadang tidak mempertimbangkan dari sisi pengendara motor atau mobil, membuat keberadaan polisi tidur justru membuat kecelakaan sering terjadi. Bukan sekali dua kali, dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan pengendara motor yang jumpalitan karena tak tahu adanya polisi tidur di depannya.

Anehnya lagi, ada fenomena baru di kalangan masyarakat yang menggunakan polisi tidur sebagai mediasi ‘bisnis’. Artinya mereka sengaja membuat polisi tidur di depan tempat usaha mereka, agar kendaraan berjalan pelan dan melindungi parkir-parkir liar yang berada di depan tempat usaha tersebut. Bahkan karena sempitnya lahan di Jakarta, banyak orang yang berkongkow-kongkow di pinggir jalan, sekedar nongkrong, menggunakan polisi tidur agar obrolan asyik mereka tidak terganggu dengan seliweran kendaraan.

Jenis polisi tidur sekarang bermacam-macam bentuknya, tidak hanya dibangun dari semen atau aspal biasa, tapi ada yang memanfaatkan tambang besar, kayu bahkan besi. Tingginya pun sudah tak manusiawi lagi. Bahkan saya pernah satu kali naik sampai berhenti total demi menghindari kerusakan pada bagian bawah mesin.

Masyarakat yang bijak adalah masyarakat yang taat hukum dan peraturan. Ketika niat baik kita untuk membuat sebuah aturan dalam masyarakat sekitar ternyata justru membuat masalah, maka seharusnya kita kembali berpijak pada aturan yang telah berlaku secara hukum di negara Indonesia.

Jalan umum, yang bukan milik kita meskipun berada di depan rumah, sudah seharusnya kepentingan penggunaannya pun dipandang secara umum, bukan untuk kepentingan masyarakat sekitar saja atau pribadi. Kalaupun memang diperlukan polisi tidur untuk melindungi kepentingan yang lebih besar, maka buatlah sesuai aturan yang diterapkan pemerintah atau setidaknya secara sederhana dibuat dengan tanda-tanda untuk melindungi kepentingan para pengguna kendaraan.

Keamanan pejalan kaki memang penting, tapi jangan menjadi kerawanan buat para pengendara kendaraan bermotor, terutama kendaraan roda dua.

*****

Foto oleh: Blokbojonegoro.com

16 Juni 2017

Mengapa Aku Menolak Hadir di Acara Bukber Bareng?

Ada tak enak terselip di hatiku belakangan ini. Entah berapa banyak ajakan bukber bareng teman-teman dan sahabat-sahabat terdekat terpaksa kutolak.

Suami bukannya tak mengizinkan, tapi karena aku… aku yang tidak mau …

Tawaran datang dari sahabat-sahabat dekatku, saat aku tanya lokasi bukber pilihan mereka, aku membayangkan yang akan terjadi.

Tempatnya cukup prestisius, sebuah food court di mal yang besar, luar biasa luas, sehari berjalan pun belum tentu semua sudut bisa dijelajahi. Hampir semuanya tersedia di sana. Toko jenis apapun ada di sana. Cari apapun, kau bisa menemukannya. Semua fasilitas kesenangan lengkap tinggal pilih. Tapi… aku kesulitan mencari sudut untuk sholat. Ruang Mushola-nya jauh dan ternyata… sangat sempit. Lalu di mana lagi selain tempat itu? Mengingat luasnya mal itu dan banyaknya orang di dalamnya, ke mana separuh penghuni yang lain saat mereka ingin sholat?

Tanpa sengaja tanyaku terjawab, saat aku pernah berkunjung ke sana, aku melihat para pelayan toko yang hendak sholat, memilih ruang kecil di antara tangga darurat untuk sholat, beralas koran dan sajadah kecil sebisa mungkin mereka menunaikan perintah kewajiban Allah SWT itu. Aku terhenyak. Sebesar ini malnya, hanya ada satu mushola?

Mengingat itu, kuhubungi mereka. Kujawab tidak pada ajakannya. Tidak terima kasih, Sahabatku. Hatiku belum sekuat para pelayan toko itu. Aku tak mau sholat dengan tergesa-gesa hanya karena memikirkan antrian orang yang hendak sholat di tempat sempit itu. Aku juga tak ingin meragukan wudhuku sendiri masih suci atau tidak, hanya karena berdesak-desakan dengan kaum pria yang bukan mahrom. Aku juga tak ingin menghilangkan khusyuk karena kuatir telah menggunakan tempat yang bukan tempat untuk sholat dan dipergunakan untuk keperluan darurat itu.

Lalu, sahabatku yang lain kembali mengundang. Kali ini ia mengajakku ke restoran dengan fasilitas yang lengkap, tempat parkir yang luas dan di bagian belakang tersedia tempat sholat yang lumayan bagus. Tenang hatiku, kali ini kurasa aku bisa menerimanya. Sampai kemudian aku teringat sesuatu…

Berkumpul dengan teman-teman sebanyak itu, artinya aku akan mendengar banyak cerita. Entah cerita itu benar atau tidak. Tapi hal itu takkan pernah hilang. Sepanjang yang kualami, hampir semua membuka mulut, bicara. Dan itulah saat kuatirku datang lagi…

Bisakah aku menjaga lisan dan pikiranku untuk tidak membicarakan keburukan orang lain?

Bisakah aku tidak mencandai kekurangan orang hanya untuk membuat perhatian tertuju padaku?

Bisakah aku terus membisu, tidak merespon ketika mereka tengah bicara tentang keburukan orang lain?

Sedang aku sadar, aku sama sekali bukan orang sempurna. Jauh dari sempurna. Aku penuh cacat dan cela. Aku punya banyak salah dan keburukan. Siapa aku berani menghujat keburukan orang lain?

Tidak, aku terpaksa menolaknya lagi. Sudahlah, kuhindari saja. Aku takut, pahala puasa saja belum tentu sepenuhnya diterima, tak ingin aku membuat dosa meski hanya karena telingaku yang mendengar. Maafkan aku, Sahabatku… aku terpaksa menolak ajakan bukber barengmu.

Beberapa hari kemudian, sebuah email masuk. Kali ini, ajakan bukber bareng adalah acara resmi yang bersangkutan dengan pekerjaanku. Semuanya wajib ikut kecuali izin, termasuk aku. Karena bukber bareng diadakan di kantor, tentu saja semua fasilitas tersedia lengkap dengan mereka yang mengurusnya secara profesional.

Aku tak bisa menolak, itu pikirku… tak ada alasan. Tempat sholat ada, dan karena acara resmi, tentu yang bicara banyak hanyalah pimpinan. Dengan segudang agenda, tentu pengaturannya takkan mengurangi kadar pahala ibadahku.

Lalu tiba-tiba kuingat kejadian tahun kemarin. Aku melihat semua makanan berlimpah ruah di atas meja, aneka macam. Perusahaan juga mengundang para anak yatim piatu dan fakir miskin untuk berbagi. Seluruh karyawan kompak hadir, menyiapkan segalanya dalam kepanitiaan. Tertata rapi.

Sampai aku melihat kenyataan. Di balik kardus-kardus baru berjejer rapi yang katanya akan menjadi sumbangan untuk undangan para fakir dan yatim piatu itu, ternyata isinya sebagian besar hanya barang bekas yang dikumpulkan dari para karyawan. Tapi… ketika aku bertanya jumlah uang dalam amplop yang juga diberikan, aku terhenyak.

Ya Allah, tidakkah mereka berhitung berapa ongkos transportasi orang-orang ini saat pulang dan pergi setelah acara bukber bareng ini? Buat kita, bukber adalah pesta, tapi untuk mereka undangan bukber adalah kesempatan untuk mengumpulkan sedikit rezeki agar bisa berlebaran dengan layak. Entah berapa banyak harapan mereka bisa menikmati makan enak, sekaligus memiliki sesuatu yang layak tak hanya menurut kita pantas untuk ukuran mereka, tapi layak bagi mereka sebagaimana kita mengukur diri sendiri.

Kita yang berlimpah ruah rezeki tiap Ramadan, menikmati THR dari kelipatan gaji, dicukupkan berbagai fasilitas dari perusahaan tapi nyatanya masih banyak yang tak rela mengeluarkan 2,5% dari jumlah itu untuk sekedar berbagi.

Barang bekas, mungkin saja layak menurut kita, tapi apakah semua yang hadir itu kebagian dengan adil dan memang benar-benar sesuai? Bisakah kita menjaga niat kita untuk benar-benar memberi dan bukan sekedar membuang ‘sampah’? Ini bukan tentang orang-orang yang baru saja menerima musibah bencana, ini tentang mereka yang ingin menyambut Lebaran seindah dan sebaik mungkin.

Aku hanya bisa meneguk  sebotol air mineral dan tiga buah kurma, memilih tidak makan dan membungkus bagianku untuk diberikan pada salah satu anak yatim. Biarlah, di rumahku pasti ada sisa makanan. Cukuplah itu. Meski tak banyak, kuselipkan sedikit rezekiku. Maafkan buat yang lain, aku hanya bisa memberi satu.

Tapi aku juga hanya bisa memandang miris pada piring-piring kotor yang dibawa masuk oleh para pelayan. Andaikan, makanan yang berlimpah ruah, dan sebagian akhirnya terbuang percuma di piring-piring para karyawan yang sudah eneq dengan makanan enak itu bisa diganti dengan sedikit rupiah agar anak-anak yatim dan para fakir itu merasakan pakaian baru, menyederhanakan menu dan mengurangi porsi. Bukan main… Aku bisa membayangkan senyum bahagia dan penuh harapan saat para yatim dan fakir itu membuka amplop.

Hfffhh… Aku memilih meminta izin tak bisa hadir saja. Siapalah aku ini. Hanya karyawan biasa, yang masih berharap diangkat menjadi karyawan tetap. Aku tak bisa mengubah peraturan apalagi mengubah segala kebiasaan itu. Aku hanya bisa menghindar agar hatiku tak ikut menjadi beku, dan semoga suatu hari aku punya kuasa serta cara untuk mengubahnya.

Akhirnya, aku lebih suka berbuka puasa di rumah. Bersama keluarga kecilku, aku bisa sholat Magrib, menunaikan sholat Isya dan Taraweh on time, dan dengan tenang mengaji mengingatkan kembali semua tuntunan Allah SWT, lalu merencanakan menu sahur yang sehat untuk keluargaku. Ramadan seperti ini yang penuh makna bagiku, syahdu, khusyu’ dan penuh berkah.

Aku menyayangi sahabat-sahabatku, menghormati rekan-rekan kerjaku, tapi … aku lebih mencintai Allah SWT, Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku ingin tetap menjaga kemurnian niat puasaku, agar cintaku , tersampaikan langsung padaNya. Belum tentu Ramadan tahun depan, aku masih bisa berbuka puasa lagi…

11 Juni 2017

Manfaatkan THR (Tunjangan Hari Raya) Agar Berkah.

Manfaatkan THR (Tunjangan Hari Raya) Agar Berkah.

Setiap pekerja atau karyawan di perusahaan berhak mendapat Tunjangan Hari Raya atau THR ketika sedang merayakan hari raya agamanya masing-masing, apabila telah memenuhi persyaratan masa kerja 1 (satu) bulan atau lebih secara terus menerus. Seluruh pekerja dengan status apapun, entah dia karyawan tetap, kontrak atau paruh waktu, semuanya berhak mendapatkan THR. Peraturan ini tertera dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Buruh/Pekerja di Perusahaan.


Hanya saja, Tunjangan Hari Raya yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal sebagai penopang biaya-biaya pengeluaran untuk hari raya kadang-kadang terasa kurang bahkan cenderung digunakan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan hari raya sama sekali.


Padahal jika saja pandai dan konsisten dalam memanfaatkan THR, selain bisa membuat hari raya bisa dijalani dengan lancar dan penuh sukacita, bukan tidak mungkin THR pun bisa menjadi kesempatan untuk bisa menabung atau berinvestasi.


Hal paling penting dalam memanfaatkan THR adalah menentukan Anggaran Belanja. Besaran angka Anggaran Belanja ini gunanya untuk membatasi jumlah seluruh pengeluaran agar tidak melebihi batas jumlah THR. Dengan cara ini, setidaknya akan menjadi ring awal pencegahan pemakaian dana lain atau hutang tambahan.


Anggaran Belanja biasanya ditentukan berdasarkan pengeluaran keseluruhan. Jadi, sebaiknya buat daftar pengeluaran yang terencana sebelum mulai menggunakannya. Dengan memasukkan semua yang akan dibeli atau dibayar, Anda akan mendapatkan gambaran besar total biaya seluruhnya, sehingga jika tidak cukup maka bisa melakukan cara-cara penghematan yang bisa disesuaikan dengan keadaan. Bahkan, Anda juga harus memperhitungkan biaya-biaya tambahan saat Ramadhan tiba seperti acara buka puasa bersama, menu makanan yang bertambah dan lain sebagainya yang berkaitan.


Setelah membuat daftar pengeluaran, langkah selanjutnya adalah membayar kewajiban utama sebagai seorang muslim, yaitu membayar zakat-zakat. Perhitungkan juga zakat tambahan untuk kedua orangtua atau keluarga yang belum menikah jika mereka tidak bekerja. Untuk sedekah, meski aturannya sunnah, tapi sebaiknya keluarkan juga minimal 2,5% dari pendapatan untuk berbagi dengan sesama muslim yang membutuhkan.


Berikutnya adalah melakukan penghematan dan sebisa mungkin meminimalkan pengeluaran yang tidak terlalu penting.


Cara penghematan pertama adalah membatasi jumlah pengeluaran untuk belanja keperluan sandang Lebaran seperti pakaian, sepatu dan lain sebagainya. Bisa dengan memanfaatkan barang lama yang masih bagus atau dengan membeli jauh hari sebelumnya saat harga-harga belum naik. Menjelang Lebaran, harga-harga di toko cenderung meningkat tajam.


Anda juga bisa membuat kue atau makanan sendiri untuk menghemat biaya pengeluaran untuk menyambut para tamu yang datang. Sekarang banyak resep-resep praktis dan mudah diikuti yang tinggal searching di internet. Tapi Anda juga harus siap membuat investasi baru berupa alat-alat masak atau perlengkapan di dapur, dengan biaya yang lumayan. Walaupun demikian, perlengkapan tersebut akan berguna untuk lebaran-lebaran berikutnya.


Cara menghemat kedua yang bisa dilakukan adalah memilih hadiah, oleh-oleh atau buah tangan sebagai pemberian di hari Lebaran yang bermakna dan memang sangat berguna. Selain bisa menghemat dana karena mengutamakan makna pemberian dibandingkan harganya, manfaat pemberian juga akan jauh lebih berguna untuk si penerima.


Tradisi yang paling sering dilakukan di Indonesia adalah pemberian uang saku untuk anak-anak. Cara ini juga lebih hemat dan mudah karena tidak perlu repot mencari hadiah, cukup dengan memasukkan uang dengan jumlah yang diinginkan ke dalam kantung kertas yang unik. Anak-anak juga lebih menyukai cara ini karena mereka bisa membeli apapun yang diinginkan dari uang tersebut.


Tetapi, cara pemberian angpau tidak disarankan untuk orang dewasa. Sebaiknya untuk usia dewasa, pilih benda-benda yang berhubungan dengan ibadah seperti sajadah (ada yang ukuran kecil, cocok untuk traveling), Al Qur’an mungil dan lain sebagainya. Selain itu, bisa juga memberikan hadiah kue-kue lebaran atau hantaran makanan ringan yang bisa dijadikan santapan saat Lebaran.


Namun, bukan berarti memberi hadiah adalah kewajiban yang harus dilakukan. Jika dana terbatas, bukan berarti kesempatan untuk berkumpul bersama di bulan penuh berkah dan sukacita hilang begitu saja. Kita bisa melakukan cara lain untuk memanfaatkan hari Lebaran menjadi ajang silaturahmi yang spesial dengan merencanakan acara piknik, makan atau kumpul bersama seluruh keluarga.


Cara potluck meal atau membawa makanan atau minuman dari rumahnya masing-masing adalah  salah satu jalan keluar mengatasi biaya konsumsi dalam acara kumpul keluarga. Bahkan cara ini jauh lebih seru karena bisa memperkenalkan masakan khas masing-masing anggota keluarga.


Memilih tempat di salah satu rumah yang cukup besar untuk dijadikan ajang kumpul keluarga juga bisa menjadi pertimbangan agar tidak menghabiskan biaya transportasi atau sewa tempat. Apalagi di hari raya, hampir semua tempat dipenuhi oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan waktu libur secara bersamaan.


Kalau hal itu tidak memungkinkan, pilihlah tempat-tempat yang murah meriah tapi cukup untuk menampung seluruh keluarga. Jika ingin menikmati suasana berbeda, bisa saja disepakati untuk mengadakan tabungan bersama agar bisa mengatasi masalah pembiayaan sejak beberapa bulan sebelum hari raya tiba.


Selanjutnya, Lebaran selalu identik dengan mudik. Tapi mudik butuh biaya yang tidak sedikit. Apalagi di saat yang sama ada jutaan penduduk Indonesia yang juga melakukan hal yang sama. Tidak heran, harga tiket atau biaya transportasi antar daerah meningkat tajam. Selain itu, persaingan untuk meraih tempat terbatas dalam kendaraan pengangkut semakin menjadikan mudik sebagai saat dimana Anda harus siap mengeluarkan biaya yang besar.


Karena itulah, meski THR belum diterima, mau tidak mau Anda harus melakukan booking kendaraan pengangkut jauh-jauh hari sebelumnya. Kereta Api menjadwalkan mundur 90 hari sebelum hari H, tapi armada lain seperti pesawat udara bisa mundur hingga satu tahun sebelumnya. Inilah saat Anda menggunakan biaya cadangan untuk melakukan pembayaran tiket. Tetapi, saat THR diterima, segera kembalikan dana cadangan tersebut.


Perhitungkan juga biaya transportasi, akomodasi dan konsumsi selama mudik. Ingatlah, bahwa di hari raya biasanya semua biaya-biaya tersebut di atas mengalami peningkatan hingga 100%. Jika pembiayaan ini ternyata membuat dana THR tidak mencukupi, mungkin sebaiknya Anda harus mempertimbangkan kembali rencana mudik. Bisa juga dengan membuat rencana mudik setiap dua atau tiga tahun saja atau melakukan mudik bergantian. Tahun ini mungkin Anda yang datang, tapi tahun berikutnya saudara atau keluargalah yang bertandang ke rumah Anda.


Jika THR masih tersisa, maka bisa disiapkan untuk biaya kurban saat Idul Adha yang hanya selisih kurang lebih 3 bulan dari Idul Fitri. Hal lainnya adalah merencanakan pembiayaan atau investasi yang selama ini tertunda karena ketiadaan dana. Dan terakhir, menyimpan untuk rencana Idul Fitri tahun depan sebagai dana cadangan.


Jangan lupa untuk menambahkan biaya tak terduga untuk mengantisipasi kenaikan harga yang biasa terjadi menjelang hari raya. Rencana pengeluaran yang telah dibuat juga harus disimpan untuk keperluan tahun depan, tentu dengan perubahan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

CONTOH PEMBAGIAN PENGELUARAN THR




Bagan di atas adalah salah satu contoh daftar rencana pengeluaran. Perhitungkan daftar rencana pengeluaran sesuai dengan kondisi masing-masing.

*****


Sumber informasi:

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 06 Tahun 2016, www.expat.or.id https://www.expat.or.id/info/Peraturan-MenteriTenagaKerja-06-2016-THR.pdf, diambil tgl 12 Juni 2017

07 Juni 2017

10 Tips Berburu Diskon di Bulan Ramadhan


Ramadhan adalah salah satu bulan penuh berkah. Tak hanya bagi mereka yang berjualan tapi juga mereka yang membeli. Kesempatan untuk memperoleh diskon atau potongan harga di berbagai toko baik yang online maupun offline bertebaran di mana-mana. Aneka jenis barang yang diperlukan untuk menyambut Ramadhan dan Lebaran bertaburan dengan mudah.


Sudah pasti di bulan ini pula, banyak yang akan melakukan persiapan untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri setelah satu bulan berpuasa. Hari Kemenangan yang biasanya diisi dengan segala hal yang baru. Meski begitu, seluruh keinginan untuk membeli barang-barang baru belum tentu mampu ditopang oleh pendapatan. Karenanya, banyak yang memilih untuk memburu diskon atau penawaran harga rendah di semua jenis toko.

Namun, jika tidak berhati-hati menghadapi penawaran diskon atau pesta sale yang diadakan berbagai toko tersebut, pembeli bisa jadi kecewa karena hanya memperoleh barang dengan kualitas rendah, dan mendapat potongan harga tipu-tipu ala toko yang nakal.


Hal ini disebabkan karena banyak toko yang melakukan bargain atau jual murah dengan pemberian diskon sekedar untuk menghabiskan stok di gudang yang ternyata berkualitas rendah atau kurang diminati.


Karena itu kali ini saya ingin berbagi beberapa Tips dan Trik Berburu Diskon di bulan Ramadhan.

Kenali Jenis Toko


Beberapa penjualan online bersifat Marketplace, yang lain memang online shop. Kenali dulu dan pelajari mana toko yang menawarkan harga murah sungguhan, dan mana toko yang menyembunyikan biaya-biaya tambahan. Walaupun terkadang toko-toko online itu menawarkan diskon besar dan harga yang murah, tapi ini biasanya belum termasuk biaya jasa pengiriman, biaya transfer atau pembayaran atau biaya asuransi tambahan bagi barang-barang beresiko saat pengiriman/penghantaran.



Belanja Online VS Belanja Langsung


Bandingkan harga belanja online dan belanja langsung di beberapa toko. Ingat! Dengan berbelanja langsung, pelanggan bisa memeriksa barang secara langsung, sementara belanja online hanya melalui foto. Walaupun bisa membayar di tempat, tapi kadang-kadang pelanggan lupa memeriksa keadaan barang dan kalaupun ditemukan saat akan membayar, belum tentu pihak Seller mau menerima retur. Jadi untuk belanja online, perhatikan baik-baik aturan pembelian.



Menjadi Pelanggan Setia


Mendaftarlah sebagai pelanggan setia dengan subscribe melalui email untuk mendapat pemberitahuan diskon, barang promosi, atau sale yang ditawarkan pihak toko offline, online maupun marketplace. Kalau perlu, pelanggan bisa menanyakan pada pihak toko apabila ada kemungkinan pemberian diskon khusus.
Jangan segan untuk mem-follow toko-toko favorit baik di Facebook Fan Page, Instagram maupun Twitter-nya. Biasanya menjelang hari-hari raya atau libur nasional, toko-toko tersebut menawarkan harga-harga spesial untuk para pelanggan setia.



Gunakan Penawaran atau Reward dari Pihak Ketiga


Seringkali ada pihak ketiga yang menawarkan diskon-diskon atau reward untuk pembelian di toko-toko online dan marketplace seperti dari Bank melalui kartu debit/kredit, kartu belanja, kartu diskon, kartu anggota VIP atau pelanggan setia toko dari grup perusahaan yang sama, provider telepon atau internet, dan provider tv kabel.



Satu Merk Banyak Harga


Di aplikasi Marketplace seringkali ditemui satu merk barang, harganya bisa berbeda-beda. Tapi perlu diingat, walaupun lebih mahal biasanya toko yang menawarkan adalah toko dengan kode ‘trusted’. Jangan tergiur dengan harga murah atau diskon besar, tanpa melihat reputasi dari toko bersangkutan.



Review Pelanggan Lain Sebagai Perbandingan


Review pelanggan dianggap sebagai cara lain untuk mengetahui reputasi dan cara penanganan pihak toko terhadap pelanggan. Sayangnya, pelanggan juga harus berhati-hati karena ada trik toko online yang membuat para pelanggan terpaksa meninggalkan jejak bintang 5 dan review positif. Kalau ini terjadi pada pelanggan yang ingin menukar barang atau retur karena kondisi barang, maka lakukan saja tapi laporkan kepada provider Marketplace melalui customer service-nya beserta bukti pembicaraan (pesan WhatsApp atau obrolan melalui aplikasi yang tersedia) Hal ini juga untuk memelihara kredibilitas Marketplace bersangkutan.


Untuk Review lain, pelanggan juga bisa mencari informasi tambahan dengan mencari di pencarian umum seperti Yahoo atau Google dengan mengetik kata kunci yang berhubungan dengan toko tersebut. Biasanya kalau tidak bisa memberi review jujur di wall toko bersangkutan, pelanggan yang kecewa akan memposting melalui media sosial umum lainnya seperti Instagram, Facebook atau Twitter.



Gunakan Kupon Ganda


Jika memungkinkan gunakan dua kupon atau lebih dalam satu pembelian. Jika tidak bisa, maka lakukan transaksi sebanyak kupon diskon yang dimiliki pelanggan. Misalkan ada 2 kupon, maka lakukan 2 transaksi selama syarat dan ketentuan yang berlaku terpenuhi agar diskon tetap diperoleh. Perhatikan batas waktu pemakaian kupon diskon ya.



Review Sahabat atau Kerabat


Tak ada yang lebih dipercaya selain sahabat dan kerabat dekat. Gunakan hal ini dengan menanyakan toko-toko yang mereka rekomendasikan. Banyak toko-toko online maupun offline menawarkan program keuntungan untuk pelanggan lama yang merekomendasi pelanggan baru, dan keduanya sama-sama mendapat diskon spesial. Jangan segan menanyakan harga termurah atau diskon yang ditawarkan pada teman-teman atau kerabat. Rekomendasi dari orang-orang terdekat biasanya benar-benar sesuai dengan informasi yang disampaikan.



Diskon Abal-abal


Hati-hati terhadap diskon abal-abal. Diskon ini biasanya dilakukan pihak toko untuk menyingkirkan barang-barang apkir atau berkualitas rendah dari stok. Kalau memang ada bagian yang rusak atau kondisi barang tidak sempurna, pastikan pelanggan memang masih bisa menggunakannya. Jika masih bisa bernegoisasi dan kondisi ini diketahui pelanggan, mintalah diskon tambahan atau harga spesial agar kedua pihak sama-sama puas.



Pembayaran


Sebelum melakukan pembayaran, perhatikan biaya-biaya tambahan yang mungkin muncul seperti fee kartu kredit, biaya pengiriman, asuransi dan lain-lain. Juga hitunglah baik-baik jika memilih sistem pembayaran cicilan. Hindari pembelian dengan utang apabila sudah mendapat diskon. Diskon akan menjadi sia-sia karena pembelian cicilan biasanya dikenakan biaya tambahan lagi.



Demikian 10 Tips Berburu Diskon, terutama di Bulan Ramadhan. Diskon memang menggiurkan, tapi bukan berarti membuat kita lupa diri saat berbelanja. Gunakan kesempatan di bulan ini dengan penuh perhitungan dan jangan lupa belilah barang yang benar-benar akan digunakan.

05 Juni 2017

Minuman Segar Untuk Berbuka Puasa, Tradisi Penuh Variasi

Minuman Segar Untuk Berbuka Puasa, Tradisi Penuh Variasi


Setiap tahun minuman segar untuk buka puasa menjadi salah satu menu wajib yang sering dicari oleh umat Islam yang sedang berpuasa. Setelah seharian berpuasa, minuman segar menjadi salah satu cara untuk mengembalikan tenaga dan menghilangkan dahaga yang paling efektif. Apalagi jika minuman segar itu disajikan dingin, mengingat cuaca tropis di Indonesia.


Namun, meski banyak sekali variasi minuman segar terutama yang disajikan dingin, sebenarnya berawal dari beberapa minuman tradisional yang kemudian dimodifikasi sesuai selera penikmatnya.


Apalagi Indonesia adalah negara yang memiliki beraneka ragam suku bangsa dan daerah. Berkat perkembangan zaman dan kemudahan interaksi antar daerah, banyak jenis minuman dan makanan yang berkembang menjadi varian makanan atau minuman lain. Ada pula minuman yang sama dengan berbagai nama berbeda menurut daerah masing-masing.

Es Kelapa


Sebagai sebuah negara kepulauan, kelapa tersedia hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Karenanya sajian es kelapa merupakan sajian minuman yang paling mudah sekaligus paling umum di negara tropis ini.


Seiring perkembangan zaman, kini tersedia beragam variasi Es Kelapa. Ada yang dicampur dengan susu, sirop, bahkan buah-buahan dan menjadi varian minuman yang lain. Namun, es kelapa yang disajikan secara tradisional yang paling umum adalah air kelapa yang diseduh dengan gula atau gula merah cair dan diberi tambahan es. Isi kelapa dikerok atau diserut sebagai isian.


Minuman segar berbahan dasar kelapa ini antara lain: Es Doger, Es Degan, Es Kopyor, dan Es Kelapa Muda.


Beberapa minuman segar yang diolah dari bahan utama lain seperti Es Selendang Mayang dan Es Cendol juga menggunakan santan sebagai campuran. Santan berasal dari perasan kelapa yang telah diparut.


Foto : kamarbayiku.com


 

Es Campur

Es campur adalah nama dari es yang dicampur dengan potongan aneka jenis buah, puding atau agar-agar, cincau, kolang-kaling, tape, ketan dan lain sebagainya, yang kemudian ditambah susu dan sirup atau pemanis lainnya.


Es campur merupakan nama yang lazim dan umum digunakan masyarakat di Indonesia. Pada perkembangannya, es campur memiliki banyak varian yang berkembang sesuai dengan selera masyarakat di daerah seperti Sop Buah, Es Teler, dan Es Oyen.


Foto : makanajid.com


Es Cendol atau Dawet


Es Cendol mulai dikenal di dalam masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah. Masyarakat Sunda, penduduk Jawa Barat, menyebutnya ‘Cendol’, sementara masyarakat Jawa Tengah menyebutnya ‘Dawet’. Namun, baik sebutan ‘cendol’ ataupun ‘dawet’ telah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia secara umum.


Cendol yang menjadi bahan utama es ini dibuat dari tepung beras yang biasanya diberi pewarna hijau, atau pewarna alami dari daun pandan atau daun suji. Setelah direbus dengan teknik khusus agar menghasilkan bentuk lonjong panjang kecil-kecil, disajikan bersama gula merah cair dan air santan lalu ditambah dengan es.


Foto : masakanharian.com

Es Cincau


Es Cincau dibuat dari campuran cincau hijau atau hitam dengan pemanis cair seperti gula merah cair, susu atau sirup. Varian Es Cincau telah banyak bermunculan dengan aneka pilihan, tak hanya berbahan cincau tapi juga ditambah potongan buah, dicampur dengan air kelapa dan bahkan sekarang ada juga yang menggunakan kopi dan teh. Ada juga Daluman, minuman dari Bali yang berbahan dasar cincau.


Sekarang gerai-gerai minuman modern juga menambahkan cincau sebagai salah satu bahan dalam produk mereka.



Minuman Segar Jahe


Sebagai salah satu rempah khas Indonesia dengan manfaat untuk kesehatan, jahe pun diolah menjadi aneka jenis minuman bahkan menjadi ciri khas daerah tertentu. Dengan wangi yang khas, rasanya yang hangat membuat jahe menjadi pilihan bagi masyarakat yang berada di daerah bersuhu rendah atau saat musim hujan tiba. Selain itu, minuman berbahan jahe dapat memberi rasa hangat dan nyaman pada tubuh yang lelah atau untuk mengembalikan stamina tubuh yang menurun setelah berpuasa.


Minuman yang berbahan dasar jahe antara lain Wedang Jahe, Sarabba dari Makassar, Bir Pletok dari Betawi, Bandrek dari Jawa Barat dan minuman yang diberi tambahan jahe seperti Sekoteng, Bajigur, Air Guraka dari Halmahera. Terakhir yang paling modern adalah minuman STMJ atau Susu Telur Madu Jahe.


Minuman dari Pisang


Sebagai salah satu buah yang mudah tumbuh di Indonesia, pisang menjadi salah satu bahan utama minuman yang juga banyak digunakan. Banyak minuman khas daerah diolah dari pisang. Bahkan dari luar negeri salah satu minuman khas yaitu Banana Split, menjadi minuman segar yang mendunia.


Dari Makassar kita mengenal Es Palu Butung dan Es Pisang Ijo, yang berbahan utama pisang. Kini juga ada Banana Smoothies, Setup Pisang dan jus pisang yang diolah dengan bahan lain.


Minuman dari Aneka Jenis Tanaman atau Buah-Buahan Lain


Banyak minuman yang berasal dari berbagai tanaman yang ada di Indonesia. Sebut saja yag paling diminati seperti Es Jeruk, Es Lidah Buaya, Es Rumput Laut, Es Legen, Es Durian dan Es Tebu. Ada yang harus diolah terlebih dahulu sebelum menjadi minuman, tapi ada yang hanya cukup diperas seperti tebu. Tebu yang mengandung kandungan gula tidak diolah dengan campuran pemanis lagi. Ada juga yang berasal dari rempah-rempah seperti Kunyit Asam. Yang paling khas tentu saja Es Blewah. Di Jakarta sendiri, Es Blewah selalu hadir setiap bulan Ramadhan.




Tentu masih banyak sekali jenis minuman segar untuk berbuka puasa di Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk yang dominan muslim, ditambah perbedaan budaya dan jenis tanaman yang tumbuh di daerah masing-masing, telah membuat ratusan jenis minuman segar khas daerah. Beberapa olahan minuman segar ada yang namanya beda tapi sebenarnya sama. Ada pula yang hampir mirip namun disesuaikan dengan lidah penikmat lokal, yang suka manis atau yang suka rasa yang lebih gurih.


Itulah nikmatnya berpuasa di negeri Bhinneka Tunggal Ika, tak hanya kaya ragam budaya, tapi juga kaya akan rasa. Mumpung di bulan puasa, coba beberapa resep berbeda dari biasanya, siapa tahu menambah daftar minuman segar favorit untuk berbuka puasa.



*****

02 Juni 2017

Fantasi, Genre Rating Tinggi Drama Korea

Sepanjang akhir tahun 2016 hingga awal 2017, kita disajikan dua Drama Korea dengan unsur Fantasi, yaitu Guardian : The Lonely and Great Goblin, dan The Legend of The Blue Sea.

[caption id="attachment_800" align="aligncenter" width="341"]250px-golbin_poster pic source[/caption]

Rating untuk drama Goblin menembus angka tertinggi stasiun televisi Korea Tvn, mengalahkan Reply 1988. Hal ini tidak hanya membuat seluruh pemainnya mendapatkan berbagai penawaran iklan dan pekerjaan yang melimpah, tapi juga meningkatkan penjualan merchandise pendukung film mulai dari boneka maskot,handuk, gantungan kunci, perhiasan, soundtrack hingga DVD drama tersebut.

Genre Fantasi yang ditampilkan Goblin memang luar biasa, karena didukung oleh sound effect, lighting hingga picture effect yang berkualitas tinggi. Yang lebih mengagumkan, pohon sakura dan bunga buckwheat yang hanya tumbuh di musim semi tampil segar di tengah film yang mengambil masa syuting tepat di musim dingin yang membeku. Jelas sekali bahwa usaha untuk membawa unsur fantasi menjadi nyata sangat optimal dilakukan oleh para pendukung produksi ini.

Hal yang sama juga terjadi pada My Love From The Star yang diproduksi SBS juga pada musim dingin tahun 2013-2014. Dengan bantuan efek dinamis, genre fantasi yang ditampilkan berhasil membawa jutaan penontonnya menikmati percintaan dua orang berbeda asal itu hingga episode ke-20.

[caption id="attachment_799" align="aligncenter" width="250"]250px-you_who_came_from_the_stars_cover pic source[/caption]

Namun, tak semua genre fantasi bisa berhasil meraih rating tinggi. Jika tidak didukung dengan kualitas efek yang baik, serta usaha untuk menampilkan fantasi itu senyata mungkin maka kemungkinan untuk gagal justru lebih besar. Memang sangat mudah berfantasi dalam membuat sebuah cerita drama, tapi membuat fantasi itu senyata mungkin jauh lebih penting.